Mekah di Abad Keenam Masehi

Mekah, pada abad keenam masehi merupakan imperium penting di Arabia. Ia terletak pada jalur persimpangan perdagangan dan perniagaan internasional. Muatan-muatan yang datang dari India, seperti rempah-rempah, buah-buahan, gandum, keramik dan tekstil, dibongkar di pelabuhan Yaman, dan dari sana, bersama bersama dengan hasil bumi dari wilayah Saudi Arabia sendiri, seperti kopi, ramuan obat-obatan, wangi-wangian, serta parfum, diangkut oleh kafilah unta menuju Mekah, dan kemudian ke Syria, dan melalui Syria menuju Mediterania.

Mekah sendiri menjadi tujuan banyak kafilah dari “jalur Dupa” Arabia serta “Jalur Rempah” dari India. Kafilah-kafilah lainnya melewati Yatsrib dalam perjalanan mereka ke utara, dimana mereka melakukan hubungan bisnis dengan kafilah-kafilah di “Jalur Sutra”, Cina.

Para kafilah yang datang dari Utara juga berhenti di Mekah. Mereka mengganti kuda-kuda dan unta-unta, mengisi perbekalan dan kemudian beriringan menuju pelabuhan-pelabuhan di wilayah selatan jazirah, Laut Arab.

Mekah juga menjadi pusat pertukaran berbagai barang serta komoditi, baik untuk suku Arab yang menetap maupun nomaden, dan Mekah merupakan tempat distribusi produksi pertanian dan barang-barang manufaktur pedalaman Hijaz. Berbagai suku datang dari tempat sejauh Arabia tengah dan bahkan Arabia Timur untuk membeli barang-barang tersebut yang tidak ada di wilayah mereka. Kebanyakan perdagangan antara suku ini dilakukan dengan menggunakan sistem barter.

Kaum Quraisy Mekah adalah suku paling penting di Arab Barat. Seluruh anggotanya adalah pedagang. Dengan menyediakan pengangkutan baik sutra dari Cina, hasil bumi dari Afrika Timur serta perbendaharaan dari India-kaum Quraisy mendominasi perdagangan antara peradaban di Timur dan Mediterania. Tidak hanya barang-barang mewah saja yang diperdagangkan, akan tetapi barang-barang umum juga diperjualbelikan, seperti kain, pakaian yang sederhana, disulam atau ditenun dengan emas, safron, katun, jubah-jubah, berbagai macam selimut, ikat pinggang, wewangian, anggur dan tepung.

Dengan cara ini, produksi, pedagangan, pertukaran, dan distribusi barang-barang menyebabkan Quraisy cukup kaya. Tapi masih ada satu lagi yang membuat mereka kaya. Mereka mempunyai Ka’bah dengan Hajar Aswadnya yang masyur. Bangsa Arab berdatangan ke Mekah untuk menunuaikan haji ke Ka’bah. Bagi mereka, Mekah memiliki kesucian yang sama sebagaimana Yerusalem bagi bangsa Yahudi dan kaum Kristiani.

Ka’bah merupakan tempat penyembahan bagi berhala-berhala milik berbagai klan maupun suku bangsa Arab. Para jemaah haji membawa serta sajian-sajian yang indah untuk berhala-berhala yang mereka sembah tersebut. Ketika meninggalkan Mekah untuk kembali ke kampung halaman, para imam mereka mengambil seluruh pemberian tersebut untuk diri mereka sendiri. Lalu lintas haji adalah pemasukan yang sangat menguntungkan bagi penduduk Mekah.

Seandainyapun kaum Quraisy Mekah tidak menyibukkan diri dengan berdagang, mereka akan masih tetap kaya dengan menyediakan jasa berskala luas, yang mereka lakukan sepanjang tahun, kepada para kafilah baik dari utara maupun dari selatan dan kepada para jemaah haji. Akan tetapi kebanyakan dari mereka menjalankan perdagangan sebagaimana telah dicatat di atas, dan membawa banyak harta ke Mekah dari wilayah-wilayah tetangganya.

Walaupun para pedagang Mekah hanya satu kafilah yang menuju Syria dan satu lagi ke wilayah Yaman pada sepanjang tahunnya, terdapat sejumlah kecil kafilah lain yang berniaga sepanjang tahun ke berbagai tempat di semenanjung Arab. Kebanyakan dari mereka berdiam di Mekah atau hanya lewat. Karena itu, lalulintas kafilah dagang di Mekah cukup sibuk dan ramai.

Kafilah-kafilah tersebut bervariasi ukurannya. Mereka bertingkat-tingkat dari kafilah “lokal” yang berjumlah sepuluh ekor unta, hingga kafilah “internasional” sebanyak seribu ekor unta. Pengorganisasian para kafilah dagang merupakan industri yang utama di tanah Arab.

Sumber : Cinta Abadi Nabi Muhammad SAW Oleh Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman binti asy-Syathi’, dkk

Valentine = Paganisme

Tadinya saya tidak berniat menulis tentang Valentine Day karena saya yakin berbagai media sudah tumpah ruah menjelaskan tentang sejarah hari “cinta-cintaan” ini. tapi tadi sore, sepulang dari kantor saya bertemu dengan rekan kerja di sebuah minimarket dan terjadilah percakapan diantara kami. Berikut cuplikannya :

Saya : Lagi nyari apa Mbak?

Rekan kerja Saya : Ini, nyari coklat. Anak saya minta dibeliin coklat buat dibawa kesekolah besok. Disuruh gurunya buat bagi-bagi sama temen-temen.

Saya : Bawa coklat kesekolah? Dalam rangka apa emangnya?

Rekan kerja Saya : itu, Valentine…

Sekian.

NB : anak si Rekan Kerja saya ini baru duduk di bangku Sekolah Dasar.

Jadilah akhirnya saya menggebu-gebu untuk menyebarluaskan fakta ini karena saya yakin anak-anak yang minta dibeliin coklat karena Valentine Day tidak hanya anak rekan kerja saya ini. maka sebelum semakin banyak korban berjatuhan, mari kita lindungi anak, saudara, adik, kakak, dan keluarga kita dari racun Valentine Day ini.

Banyak yang baru tahu bahwa Valentine Day berasal dari kebudayaan pagan Romawi. Pagan atau paganisme merupakan kepercayaan diluar agama samawi (Islam, Kristen, Yahudi). Budaya ini dipenuhi dengan ritual penyembahan terhadap berhala, patung, dan benda-benda yang dianggap Tuhan. Valentine Day pada masa itu sangat memuja kenikmatan badaniyah semisal sex dan nuditas. Asalnya Valentine Day adalah perayaan pagan Lupercalia yang diselenggarakan untuk memuja Lupercus sang dewa kesuburan Romawi, dirayakan 13-18 Februari tiap tahunnya. Lupercus dikenal juga dengan Dewa Pan yang digambarkan berkepala kambing, persis Baphomet sesembahan Yahudi.

Baphomet

Perayaan Lupercalia selain memuja Dewa Pan (Lupercus) juga sebagai persembahan pada Dewi Juno (Hera) yang merupakan dewi pernikahan dan kesuburan, karena inti perayaan Lupercalia ini ialah KESUBURAN, maka aktivitas SEX menjadi hidangan utamanya. Pada bentuk klasiknya Lupercalia Festival dilakukan dengan memasang-masangkan lelaki dan wanita, lalu mereka semalaman bercinta. Jadi festival Lupercalia (13-18 Feb) ini identik dengan bersenang-senang seperti ialah mabuk, wanita, dan kenikmatan sex. Perayaan ini berlangsung bertahun-tahun, mendarah daging dan sulit dihentikan hingga Kristen dijadikan agama negara Romawi. pada 496 M Paus Gelasius mengesahkan Lupercalia ini menjadi hari raya gereja, karena tak sanggup menghapuskan tradisi pagan ini. Sehingga diperkenalkanlah nama baru Festival Lupercalia, yaitu Valentine’s Day, dan dikaranglah cerita St. Valentinus yang mati demi cinta.

Festival Lupercalia muncul dengan nama baru Valentine Day, namun esensi perayaan itu tetap bertahan, KESUBURAN yang dilambangkan dengan sex. Baru pada 1969 M gereja kembali melarang perayaan Valentine Day, karena dianggap hanya pembenaran dari perayaan Lupercalia. Namun telat bagi pengikut Kristiani, cerita St. Valentinus lalu melegenda , dan maksiat mulai dilegalkan Valentine Day atas nama cinta.

Pertanyaannya bagi kamu yang Muslim, asal mula Valentine Day jelas Festival Lupercalia yang nyata-nyata pagan, masih ikutan? Bagi kaum yang Muslim, nyata-nyata Valentine Day itu pernah jadi perayaan kaum Nasrani juga, masih mau ikutan juga?

“Aaaah, itu kan zaman dulu! sekarang mah hari kasih sayang!”, ohya?, yuk kita simak dulu fakta-fakta berikut :

  • Di Inggris, Amerika, Eropa dan Dunia pada umumnya, terdapat lonjakan hubungan seks seminggu sebelum dan sesudah tanggal 14 Februari.
  • Tiap 14 Februari di Inggris diperingati sebagai “The National Impotence Day” , yang menghimbau muda-mudi tidak hubungan seks seminggu itu.
  • Di USA tiap 14 Feb diperingati “National Condom Week”, karena mereka tahu persis bahwa Valentine Day samadengan SEXDAY

“Aaaah, itu kan luar negeri! Indonesia beda dooong!”, ohya? alasanmu!, perhatikan beberapa fakta berikut :

  • Dari 413 orang disurvei 26,4% merayakan Valentine Day sama gebetan atau kekasih dengan jalan-jalan, makan-makan, ciuman lalu seks (Koran PR, 2005).
  • 22. 54% remaja bandung pernah hubungan seks , kota lain seperti Jakarta (51%), Medan (52%) Surabaya(47%) (Kompas, 2006).
  • Dan hampir di tiap daerah penjualan kondom menjelang Tahun Baru dan Valentine meningkat 40-80% , tidak jarang yang sold out.

Bukti berita semisal ini banyak, yang sudah-sudah terlalu berserakan di internet untuk dicari, dan tahun ini akan sama pula.

Bagi kamu yang Muslimah, RENUNGKAN, kondom yang ludes saat Valentine Day itu siapa yang beli? dan buat siapa? untuk apa?

Bagi yang di KTPnya tertulis “Agama : Islam”, coba ingat-ingat lagi kita ini umatnya siapa? Nabi Muhammad SAW!. Lalu Rasulullah pernah nyuruh merayakan Valentine Day g? g pernah! Jadi kesimpulannya? Tuh pinter…

By : Ust Felixsiauw

 

Kondisi Bangsa Arab Menjelang Kelahiran Islam

1. Kondisi Keagamaan

Bangsa Arab pernah didera kemunduran dalam aspek keagamaan. Praktik penyembahan berhala yang mereka lakukan sampai pada taraf yang tidak masuk akaldan tak tertandingi. Selain itu juga telah terjadi penyimpangan moral dan sosial, serta kekacauan dibidang politik dan hukum. Mereka tidak mau mencoba memperbaiki kondisinya dengan mengikuti Imperium Persia dan Romawi. Hati mereka buta, mereka hanya mengagung-agungkan warisan nenek moyang mereka dan mengikuti jejak para pendahulu mereka dalam hal penyimpangan, penelewengan, dan kesesatan. Mereka menyembah berhala-berhala. Bahkan setiap kabilah memiliki berhala masing-masing. Ada berhala Suwa, Wadd, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Isaf, Na’ilah, Manat, Lata, dan Uzza. Berhala yang terakhir inilah yang paling besar dikalangan kabilah Quraisy. Selain itu ada juga berhala-berhala kecil yang selalu dibawa kemanapun mereka pergi atau diletakkan di rumah ketika tidak dalam perjalanan.

Beberapa ajaran yang tersisa dari agama Ibrahim juga telah terjadi penyimpangan, perubahan, dan pergantian. Di satu musim mereka berhaji hanya sekedar untuk membanggakan dan menyombongkan diri atas derajat yang mereka miliki. Akidah agama Ibrahim diselewengkan dari sifat kehanifannya dan menggantinya dengan akidah yang berbau klenik dan mitos. Sebagian pengikut agama Ibrahim ada yang masih berada di jalur yang benar. Mereka menolak untuk memuja berhala, menolak ritual-ritual dan ajaran yang berhubungan dengan berhala. Diantara mereka adalah Zaid bin Amr bin Nufail. Dia tidak mau menyembelih binatang untuk sesembahan dan tidak mau makan bangkai dan darah

Diantara orang yang masih setia dengan syariat Nabi Ibrahim adalah Qus bin Sa’idah Al-Iyadi, ia adalah seorang orator bijaksana dan sangat cerdas. Dia memiliki kepandaian dan keistimewaan yang luar biasa. Dia mengajak orang lain untuk mengesakan Allah, beribadah kepadaNYA, dan meninggalkan berhala. Dia juga mempercayai adanya kebangkitan setelah kematian. Dia mengabarkan berita gembira akan hadirnya seorang Nabi. Qus bin Sa’idah sempat bertemu dengan Muhammad, namun dia terlebih dahulu meninggal sebelum beliau diutus menjadi Nabi.

Sebagian orang Arab menganut agama Nasrani dan sebagian yang lain menganut agama Yahudi. Akan tetapi mayoritas mereka menyembah berhala dan patung.

2. Kondisi Politik

Penduduk jazirah Arab terbagi menjadi dua : penduduk kota dan penduduk badui. Aturan yang berlaku disana adalah adat kesukuan yang bahkan berlaku hingga ke lingkungan kerajaan yang notabene merupakan lingkungan kota di Jazirah Arabia. Seperti kerajaan Yaman di Arab bagian selatan, kerajaan Hairah di Arab bagian timur laut, dan kerajaan Ghassasanah di Arab bagian barat laut. Mereka tidak melebur menjadi satu golongan, akan tetapi terpecah menjadi beberapa kabilah dan setiap kabilah fanatik dengan kabilahnya masing-masing. Kabilah Arab terdiri dari sekelompok orang yang diikat dengan hubungan satu darah, satu nasab, dan satu golongan. Prinsip solidaritas dan kesetiakawanan sangat dijunjung tinggi oleh mereka dalam menjalankan hak dan kewajibannya.dan undang-undang adat inilah yang kemudian mereka pegang teguh dalam mengatur kehidupan politik dan sosial mereka.

Pemimpin kabilah harus pemberani, berwibawa, karismatik, dan lain sebagainya. Hak pemimpin kabilah adalah mendapatkan seperempat dari harta rampasan perang, dan sebelum harta rampasan perang dibagikan, dia juga berhak mendapatkan sebagiannya atas nama pribadi. Selain itu dia juga berhak mendapatkan harta yang didapat dari musuh sebelum perang dimulai. Dan setelah harta rampasan perang dibagikan, dia juga berhak mendapatkan kelebihannya. Pada masa damai, dia dituntut untuk bersikap dermawan dan murah hati, pada saat perang dia berada di barisan terdepan, dia juga memiliki tugas untuk memutuskan gencatan senjata dan mengadakan perjanjian.

Masyarakat Arab sangat menjunjung tinggi kebebasan, menolak praktik penindasan dan penghinaan. Siapapun yang termasuk anggota kabilah harus dibela, tanpa melihat apakah dia dalam posisi benar atau salah, bahkan slogan mereka berbunyi, “bantulah saudaramu baik dia zalim maupun terzalimi.” Setiap kabilah saling membangun aliansi, salah satu yang terkenal adalah persekutuan Al-Fudhul. Selain peperangan antar kabilah, keributan antar kabilah juga sering terjadi. Mereka merampok harta atau makanan anggota kabilah yang lain.

3. Kondisi Ekonomi

Secara geografis, hampir seluruh kawasan Jazirah Arab terdiri dari daratan sahara yang terhampar luas. Kondisi ini menyebabkan tidak tersedianya ladang perkebunan, kecuali hanya sebagian kecil, yaitu di daerah pinggiran seperti Syam dan Yaman. Beberapa sumber mata air atau oase yang tersebar di kawasan jazirah Arab biasanya dihuni masyarakat Arab Badui. Disitu mereka menggembala onta atau kambing ternak mereka. Mereka hidup nomaden. Masyarakat Arab sangat buta dalam bidang industri dan menyerahkannya untuk dikuasai oleh bangsa non Arab. Bahkan ketika bermaksud untuk membangun ka’bah, mereka meminta bantuan seseorang yang beragama kristen koptik yang kebetulan selamat dari kapalnya yang karam di Jeddah dan kemudian menetap di Mekkah. Kawasan jazirah Arab sangat strategis, yaitu sebagai jalur persimpangan antara Afrika dan Asia Timur. Pada waktu itu kawasan ini sangat strategis untuk menjadi sentra bisnis tingkat internasional yang sangat maju. Kota Mekkah menjadi pusat perdagangan yang luar biasa. Dissamping itu juga dalam pandangan masyarakat Arab, kawasan ini merupakan tanah haram, jadi tidak ada alasan untuk tidak meliriknya, karena memang dari kacamata bisnis, kawasan ini sangat menguntungkan.

Salah satu kabilah terbesar yaitu suku Quraisy memiliki dua musim perjalanan bisnis yaitu musim dingin ke Yaman dan musim panas ke Syam. Selain itu mereka juga melakukan perjalanan dagang ke negeri lainnya. Kafilah-kafilah dagang biasanya membawa aneka macam parfum, dupa, sejenis karet, susu, rempah-rempah, kurma, pewangi, jenis kayu-kayuan, gading, kayu hitam, manik-manik, kulit, permadani Yaman, kain sutra, senjata, dan barang-barang lainnya yang ditemukan di semenanjung Arab, atau barang-barang yang diimpor dari luar. Barang-barang tersebut dibawa menuju Syam dan negeri lainnya. Kemudian mereka kembali dengan membawa gandum, biji-bijian, kismis, zaitun, kain khas Syam, dan masih banyak lagi. Penduduk negeri Yaman dikenal dengan pebisnis handal yang sering melakukan perjalanan ke negeri Afrika, India, Indonesia, Sumatra, dan daerah lainnya di Asia, yang mana nantinya hal ini memiliki andil besar dalam penyebaran Islam ke daerah-daerah tersebut.

Sebelum kemunculan Islam, praktik riba telah menyebar seantero Arab, barangkali virus riba ini menular dari bangsa Yahudi. Terkadang riba yang mereka tetapkan bisa mencapai lebih dari 100 persen. Penduduk jazirah Arab memiliki beberapa pasar yang terkenal diantaranta adalah pasar Ukazh, Majinnah, dan Dzul Majaz. Pada masa itu pasar juga berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para penyair, sastrawan, dan orator. Disana mereka saling unjuk kepandaian dan membanggakan nasab masing-masing dan kehebatan para pendahulunya.

4. Kondisi sosial kemasyarakatan

Berikut adalah beberapa sifat dan kondisi sosial masyarakat jazirah Arab :

  1. Masyarakat Arab cenderung saling membanggakan dan mengutamakan keturunan dan nasabnya masing-masing.
  2. Mereka cenderung membanggakan kelihaian beretorika, terutama melalui syair-syairnya
  3. Wanita ditengah-tengah masyarakat Arab tak ubahnya bagaikan sampah. Ia bisa diwariskan kepada anak laki-lakinya, dan anak laki-laki yang paling besarlah yang berhak mengawini ibunya sendiri setelah ayahnya meninggal. Islam kemudian datang dan mengharamkan seseorang mengawini ibunya sendiri.
  4. Ada beberapa jenis pernikahan yang terjadi masa jahiliyah. 1) pernikahan dengan sistem melamar. 2) pernikahan istibdha’ dimana suami rela istrinya bersetubuh dengan laki-laki lain untuk mendapatkan bibit unggul. 3) beberapa laki-laki datang menyetubuhi seorang wanita, setelah wanita itu hamil dia akan menunjuk satu orang yang ia sukai diantara mereka, dan yang ditunjuk tidak boleh menolak, setelah itu nama bayi itu akan disandarkan pada laki-laki tersebut. 4) beberapa laki-laki datang silih berganti menyetubuhi seorang wanita layaknya pelacur, setelah wanita itu hamil, didatangkanlah seorang ahli genealogi (Al-Qafah) untuk melihat siapa diantara lelaki itu yang mirip dengan bayi wanita tersebut. 5) pernikahan Al-Khadan dimana seorang wanita menikahi lelaki yang sudah beristri untuk kemudian ia dijadikan sebagai gundik. 6) pernikahan mut’ah atau nikah kontrak, 7) pernikahan dengan cara saling tukar istri. 8) pernikahan Asy-Syigar yakni sang ayah menikahkan putrinya dengan si fulan dengan syarat si fulan tersebut mau menikahkan putrinya dengan sang ayah, sebagai konsekuensinya mereka berdua terlepas dari kewajiban mas kawin. Masyarakat Arab boleh menikahi wanita dalam jumlah yang tak terbatas dan mereka tidak diwajibkan untuk berbuat adil. Kemudian Islam datang dan membebaskan wanita dari ketidak adilan.
  5. Suami diperbolehkan mentalak istri dalam jumlah yang tak terbatas.
  6. Seringkali terjadi peperangan, perampokan, dan penyergapan.
  7. Masyarakat Arab dikuasai oleh sistem jahiliyah, kebodohan, kejumudan, dan taklid buta pada tradisi lama. Mereka tidak bisa menulis dan berhitung. Padahal mereka dikenal cerdas, cerdik, brilian, hatinya mudah tersentuh, instingnya tajam, sigap, dan mudah menerima ilmu pengetahuan, arahan dan nasehat. Oleh karena itu ketika Islam datang kebodohan hilang seketika.
  8. Kondisi moral masyarakat Arab yaitu pandai dan cerdik, dermawa, , pemberani, ksatria, mereka tidak mau diberlakukan hina dan zalim, suka menepati janji, terbuka, terus terang dan jujur, sabar menghadapi musibah, tabah menghadapi cobaan, rela walaupun hanya mendapatkan sedikit, berjiwa kuat dan memiliki raga tangguh.

Sumber : Sejarah Lengkap Rasulullah By Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi

 

 

Peradaban dan Agama yang Berkuasa Menjelang Kelahiran Islam

  1. Imperium Romawi Timur (Byzantium)

Imperium Romawi Timur dikenal dengan imperium Byzantium. Imperium ini dulu sempat menguasai beberapa negeri, diantaranya : Yunani, Balkan, Asia, Syria, Palestina, Laut Tengah, Mesir, dan seluruh Afrika Utara. Ibukotanya Konstatinopel. Ia dikenal dengan imperium tiran yang sangat kejam. Rakyat dibawah kekuasaannya diberlakukan dengan sangat kejam, zalim, dan keji. Pajak yang dibebankan kepada mereka sangat tinggi. Pertikaian dan kerusuhan kerap terjadi. Secara umum, pola kehidupan mereka hanya dipenuhi dengan hura-hura, hedonisme, mengumbar nafsu, kemewahan, dan kesenangan belaka.

Mesir menjadi sasaran intimidasi agama dan kesewenang-wenangan politik. Mesir dijadikan sapi perah yang susunya bebas dinikmati para penguasa Imperium Romawi. Sedangkan di Syria, pratik kezaliman dan perbudakan merajalela. Para penguasa Imperium Romawi memberlakukan rakyat Syria dengan menggunakan kekuatan dan pemaksaan. Yang berlaku disana adalah hukum rimba, sama sekali tidak ada belas kasihan terhadap rakyat kecil.banyak penduduk Syria yang menjual anak-anaknya demi melunasi hutang mereka.

Kehidupan sosial masyarakat Romawi sangatlah kontradiktif. Disatu sisi, kecendrungan hidup beragama dikalangan mereka sangat menonjol, banyak diantara mereka yang lebih memilih menjadi biarawan, bahkan kecendrungan ini menjalar hingga ke pedalaman negeri. Banyak dari kalangan rakyat biasa yang ikut terjun dalam kajian keagamaan yang cukup intens dan tak jarang mereka terlibat dalam diskusi-diskusi keagamaan. Namun disisi lain mereka gila kemewahan, senang berhura-hura, dan suka bermain-main. Disana ada berbagai arena permainan yang bisa menampung hingga 8000 penonton. Tontonan yang disuguhkan berupa adu kekuatan antara manusia atau manusia dengan hewan. Mereka menyukai keindahan fisik, tapi disisi lain mereka cinta kekerasan dan kebiadaban. Permainan mereka tak jarang menumpahkan darah dan bernuansa kebuasan. Gaya hidup para pembesar dan penguasa Byzantium hanyalah berkelakar, berfoya-foya, berkomplot, basa-basi yang berlebihan, berbuat jahat, dan terbiasa dengan praktik kotor.

  1. Imperium Persia (Sasanide)

Imperium Persia atau Kisra lebih besar dan lebih megah dibandingkan Imperium Romawi Timur. Disana banyak sekali aliran agama yang sesat, seperti Zoroaster dan Al-Maniyah, salah satu keagamaan yang didirikan Al-Mani di permulaan abad ketiga Masehi. Kemudian ada lagi Mazdakisme yang muncul pada permulaan abad kelima Masehi. Diantara ajaran Al-Muzdakia adalah para penguasa berhak berbuat apapun, yang mana menimbulkan protes dari rakyat kecil. Perampokan kerap terjadi dimana-mana. Para penguasa—dengan dalih ajaran ini—menangkap dan memenjarakan kaum wanita.mereka menguasai seluruh kekayaan dan tanah milik rakyat. Kursi para penguasa imperium kala itu didapatkan secara turun-temurun (Monarki). Para petani dan rakyat jelata dijadikan umpan di setiap peperangan mereka yang ganas melawan imperium romawi, musuh bebuyutannya yang sudah bertahun-tahun.

  1. Hindu

Para sejarawan sepakat, bahwa masa terjadinya degradasi dan dekadensi, baik dari aspek keagamaan, moral, sosial, maupun politik, terjadi mulai abad keenam Masehi. Praktik asusila nyaris merata dimana-mana, bahkan hingga ke tempat-tempat ibadah. Kaum wanita tidak memiliki harga diri dan dipandang sangat rendah. Disana juga terdapat tradisi membakar seorang wanita tatkala dia ditinggal mati suaminya. Dalam struktur masyarakatnya, India sangat dikenal dengan tradisi perbedaan kelas atau kasta. Pembagian kasta tersebut berkiblat pada undang-undang sipil politik-agama yang dibuat oleh para pakar hukum India yang cukup mumpuni di bidang agama. India lebih senang hidup terisolir dengan tradisi dan adat kebiasaan mereka yang dipraktikkan secara kaku dan radikal.mereka bangga dengan kasta yang disandangnya. Mereka bangga dengan hubungan darah dan garis keturunan yang dimilikinya. Kehidupan masyarakat India stagnan dan jumud. Struktur masyarakatnya dibedakan oleh kelas. Mereka juga membedakan antara keluarga yang memiliki aib dengan keluarga yang bersih dari aib. Kaum laki-lakinya tidak diperbolehkan menikahi para janda. Kemudian dalam hal makanan dan minuman mereka membatasi diri dengan sangat radikal. Adapun nasib anak-anak hasil perzinahan hidup miskin dan diasingkan dari komunitas mereka dan dari kota mereka.

Masyarakat India terbagi menjadi empat kasta :

  1. Kasta Brahmana : para pendeta dan pemuka agama
  2. Kasta Ksatria : korps militer dan angkatan bersenjata
  3. Kasta Waisya : para petani dan pedagang
  4. Kasta Sudra : merupakan kasta paling rendah yang terdiri atas pelayan, pembantu, dan para buruh.

Kasta Brahmana adalah milik orang-orang yang dianggap suci. Mereka tetap mendapatkan ampunan sebesar apapun kesalahan mereka. Mereka sepeserpun tidak dipungut pajak dan kebal hukuman mati. Adapun yang  tergolong kasta sudra tidak berhak memiliki uang, menimbun harta, duduk bersama orang-orang yang berkasta Brahmana dan menyentuh mereka, serta tidak memiliki hak untuk mempelajari kitab suci.

Sumber : Sejarah Lengkap Rasulullah By Prof. DR. Muhammad Ali Ash Shalabi

Baca juga Artikel keren lainnya :

 

 

Peradaban yang Berkembang di Jazirah Arab

Di negeri Arab, sejak dahulu telah tumbuh beberapa kebudayaan dan peradaban kuno yang masih asli, di antara yang terkenal adalah :

  1. Peradaban Saba’ di Yaman. Di dalam Al-Quran Allah telah menyinggung mengenai peradaban ini. Penduduk Yaman mencoba mengambil keuntungan dari air hujan dan air bah yang terbuang sia-sia hingga bermuara ke laut. Mereka kemudian membangun tempat-tempat penampungan dan bendungan dengan teknik yang sangat maju kala itu. Dan salah satu bendungan yang terkenal adalah bendungan Ma’rib. Air yang menggenang di bendungan tersebut lalu digunakan untuk mengairi ladang dan tanah perkebunan yang isinya tanaman indah dan buah yang menggiurkan. Dalam Al-Quran surat Saba’ :15-17 disebutkan bahwa ternyata pada zaman dahulu telah terjalin ikatan antar negeri, mulai dari Yaman hingga ke negeri Hijaz, bahkan ke negeri Syam. Karafan-karafan dagang dan para musafir keluar masuk dari Yaman menuju Syam. Mereka sama sekali tidak merasa kekurangan apapun. Makanan, minuman, dan tempat berteduh semua mudah didapat.
  2. Peradaban ‘Ad di Ahqaf. Peradaban ini tumbuh dan berkembang di Hadhramaut bagian utara dan disinilah Nabi Hud diutus. Kaum ‘Ad memiliki rumah-rumah yang kukuh, bangunan bervariasi, kebun-kebun, ladang-ladang, dan banyak mata air.
  3. Peradaban Tsamud di Hijaz. Al-Quran menegaskan keberadaan peradaban ini, tepatnya di negeri Hijr. Al-Quran juga menjelaskan keahlian mereka membuat rumah di pegunungan dengan cara memahatnya. Di kawasan tersebut beberapa mata air, perkebunan, dan ladang.

Bangsa-bangsa ini sudah musnah sejak dahulu. Kini yang tersisa hanya jejak-jejak dan puing-puing reruntuhannya. Kawasan perkampungan dan kotanya pun sudah luluh lantak. Bangunan dan istana-istana sudah hancur, mata air sudah kerontang, pohon-pohon sudah mengering, perkebunan dan ladang sudah ditelan bumi.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Pengaruh Kebudayaan Non-Arab Terhadap Hijaz Menjelang Kelahiran Islam

Keistimewaan dan kedudukan Hijaz dalam percaturan global mulai mencuat sejak tahun kedelapan Hijriah ketika Islam merebut kota itu dan ketika ayat ke-28 surat ke-9 diturunkan. Pada abad pertama setelah Muhammad SAW wafat, muncul sejumlah dokter, musisi, serta pedagang kristen dan Yahudi di kota kelahirannya. Pengaruh Saba atau Arab Selatan terlihat dari beberapa penggunaan kata-kata seperti Rahman yang diambil dari nama salah satu dewa tertua di Arab selatan. Al-Rahim juga muncul sebagai nama dewa dalam tulisan-tulisan pra-Islam dan tulisan orang-orang Saba. Tulisan Arab selatan lainnya menggunakan kata syirk yang diasosiasikan dengan politeisme, jenis syirk yang sangat ditentang keras dalam dakwah nabi Muhammad SAW.

Kebudayaan lain yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Hijaz adalah kebudayaan Abissinia. Orang-orang Abissinia membentuk suatu bagian penting dalam aktifitas perdangangan internasional, yang ketika itu dimonopoli oleh orang-orang Saba-Himyar, khususnya dalam komoditas rempah-rempah, yang jalur utamanya melintasi Hijaz. Selama sekitar 50 tahun sebelum kelahiran Nabi, orang-orang Abissinia telah membangun kekuasaannya di Yaman, dan pada tahun kelahiran Nabi, mereka telah berada di gerbang kota Mekah dan mengancam hendak menghancurkan bangunan suci Ka’bah. Bilal adalah seorang kulit hitam dari Abissinia. Selain itu terdapat hubungan transportasi laut yang aktif antara Hijaz dan Abissinia. Ketika masyarakat Islam yang baru lahir mendapat tekanan keras dari orang-orang Quraisy, Abissinia menjadi tempat perlindungan mereka.

Kebudayaan Persia turut mewarnai keadaan penduduk Hijaz dan perkembangannya pada masa-masa berikutnya. Budaya ini mulai memasuki tanah Arab pada abad menjelang kemunculan agama Islam. Persia yang menganut agama zoroaster, bersaing dengan Abissinia untuk memperoleh supremasi di Yaman. Pengetahuan seni militer Persia diwariskan kepada orang-orang Arab dari sebelah selatan dan utara melalui orang Arab Persia, yang beribu kota di Hirah. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Salman dari Persia adalah orang yang mengusulkan pembuatan parit kepada Nabi sebagai strategi pertahanan kota madinah sewaktu perang parit. Pada masa pra-Islam, Hirah merupakan jalur utama penyebaran pengaruh budaya Persia dan Nestor Aramaik ke dunia Arab. Kelak orang-orang Nestor menjadi penghubung utama antara budaya Yunani dan Islam, saat itu mereka menjadi media utama penyebaran gagasan-gagasan budaya utara, yaitu Aramaik, Persia, Hellenik, ke tengah-tengah masyarakat pagan Arab.

Sementara orang-orang kristen Nestor dari Hirah telah mempengaruhi orang-orang Arab di perbatasan Persia, para penganut gereja Monofisit dari Gassan mulai menyebarkan pengaruh mereka pada orang-orang Hijaz. Selama empat abad sebelum Islam, keturunan Arab yang telah menjadi orang Suriah ini memungkinkan terjadinya persentuhan antara dunia Arab, tidak hanya dengan Suriah, tetapi juga dengan Byzantium.

Ringkasnya kita bisa mengatakan bahwa Hijaz pada abad kelahiran Muhammad SAW dikelilingi oleh berbagai pengaruh yang berbeda, baik dari segi intelektual, keagamaan, maupun material, baik yang datang dari Byzantium, Suriah (Aramaik), Persia, dan Abissinia, maupun yang datang melalui kerajaan Gassan, Lakhmi, dan Yaman. Walaupun demikian, kebudayaan asli masyarakat pagan Arab tidak berubah dan tampaknya telah mencapai antiklimaks karena ia tidak dapat memenuhi tuntutan spiritual masyarakat dan terkalahkan oleh kelompok yang mengembangkan ajaran monoteis yang masih samar, salah satu anggotanya adalah Warqah ibn Nawfal (sepupu Khadijah) dan Umayyah ibn Abi al-shalt (sepupu kedua Nabi dari jalur ibunya). Dari sisi politik, kehidupan nasional terorganisir yang berkembang di Arab selatan kini benar-benar terganggu. Akibatnya muncul anarki dalam bidang politik dan keagamaan. Sebuah panggung telah dibuat dan saat-saat yang kondusif secara psikologis telah siap untuk menyambut datangnya seorang pemimpin besar agama dan bangsa.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Kota-Kota Utama Hijaz : Taif, Mekah, dan Madinah

Hijaz, sebuah dataran tandus yang berfungsi seperti penghambat antara dataran tinggi Nejed dan daerah pesisir yang rendah yaitu Tihamah, hanya memiliki tiga kota yaitu Taif, Mekah, dan Madinah. Kota Taif terletak disekitar wilayah yang ditumbuhi pepohonan lebat dengan ketinggian sekitar 6.000 kaki diatas permukaan laut dan digambarkan sebagai “sepotong tanah Suriah” merupakan tempat penginapan musim panas  bagi kalangan aristokrat Mekah sejak dulu hingga saat ini. Burckhardt, yang mengunjungi kota ini tahun 1814, menggambarkan pemandangan dan rute perjalanannya sebagai wilayah yang paling memberikan inspirasi dan mengagumkan yang pernah ia lihat sejak kunjungannya ke Libanon. Buminya yang subur menghasilkan sejumlah komoditas seperti semangka, pisang, ara, anggur, kenari, persik, delima, dan madu. Dari semua tempat di semenanjung Arab, Taif adalah tempat yang paling mendekati gambaran Al-Quran tentang surga, seperti yang terdapat dalam QS. 47: 15.

Kota berikutnya yaitu Mekah. Nama Mekah disebut Macoraba oleh Ptolemius, diambil dari bahasa Saba, Makuraba yang berarti tempat suci. Kata itu menunjukkan bahwa kota itu didirikan oleh suatu kelompok keagamaan, sehingga bisa dikatakan bahwa—jauh sebelum kelahiran Nabi—Mekah telah menjadi pusat keagamaan. Mekah berada sekitar 48 mil dari Laut Merah, disebuah lembah gersang dan berbukit yang tidak dapat ditanami, jauh berbeda dengan Taif. Panasnya suhu udara di Mekah hampir tak tertahankan. Mekah sejak lama telah menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan antara Ma’rib dan Gazza. Orang-orang Mekah yang progressif dan memiliki jiwa dagang berhasil mengubah kota itu menjadi pusat kemakmuran.

Kota penting ketiga yaitu Madinah. Dulunya dikenal dengan sebutan Yatsrib (dalam tulisan orang-orang Saba disebut YTHRB, dan dalam tulisan Ptolemius disebut Jathrippa). Kota ini terletak pada jalur rempah-rempah yang menghubungkan Yaman dengan Suriah. Tanah di wilayah ini sangat cocok ditanami pohon kurma. Di tangan penduduk Yahudi, tepatnya Banu Nadhir dan Banu Quraidzah, kota itu menjadi pusat pertanian yang terkemuka. Dilihat dari namanya dan kosakata Aramaik yang digunakan dalam aktifitas pertanian mereka, orang-orang Yahudi ini merupakan suku Arab keturunan Aramaik yang telah menganut agama Yahudi. Meskipun intinya adalah orang-orang Israel yang lari dari Palestina saat ditaklukkan Romawi pada abad pertama masehi. Kemungkinan orang-orang Yahudi penutur Aramaik tersebut telah mengubah nama Yatsrib kedalam bahasa Aramaik, Madinta, yang menjadi asal usul nama Madinah yang berarti “kota” (nabi). Dua suku utama non Yahudi di kota itu adalah Aws dan Khazraj, yang berasal dari Yaman.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Hijaz dan Ka’bah Menjelang Kelahiran Islam

Ditengah masyarakat perkotaan Hijaz, yang jumlahnya hanya sekitar 17 persen dari masyarakat Hijaz, tahap pemujaan terhadap benda-benda langit muncul sejak lama. Al-‘Uzza, al-Lat dan Manat—tiga anak perempuan Allah—memiliki tempat pemujaannya masing-masing yang disakralkan di daerah yang kemudian menjadi tempat kelahiran Islam. Al-Lat (dari kata Ilahah, yang berarti Tuhan perempuan) memiliki tempat pemujaan suci di dekat Taif tempat berkumpul orang-orang untuk beribadah haji dan menyembelih binatang korban. Disekitar daerah itu tidak diperbolehkan menebang pohon, memburu binatang dan menmpahkan darah. Hewan dan tanaman disekitarnya tidak boleh diganggu karena disanalan Tuhan yang diagungkan tinggal. Al-Uzza (yang paling agung, venus, atau bintang pagi) dipuja di Nakhlah, sebelah timur mekah. Manah (berasal dari maniyah, pembagian nasib) adalah dewa yang menguasai nasib dan dengan demikian merepresentasikan tahap kehidupan keagamaan yang lebih awal. Tempat suci utamanya adalah sebuah batu hitam di Qudayd, disebuah jalan antara mekah dan madinah. Dewa nasib ini sangat populer dikalangan suku Aws dan Khazraj, yang memberikan dukungan kepada nabi ketika hijrah dari mekah ke madinah. Ka’bah pra-Islam yang kemudian menjadi tempat suci Islam, adalah bangunan berbentuk kubus sederhana yang awalnya tidak beratap yang menjadi tepat penyimpanan batu meteor hitam yang diagungkan sebagai benda sakral. Pada masa kemunculan Islam, bangunan itu dipugar tahun 608 oleh orang-orang Abissinia memanfaatkan bahan-bahan material dari sisa-sisa kapal Byzantium atau Abissinia yang hancur di laut merah.

Tradisi Islam menyebutkan bahwa Ka’bah awalnya dibangun oleh Adam meniru bentuk aslinya di surga, dan setelah banjir besar, Ka’bah dibangun kembali oleh Ibrahim dan Ismail. Setelah itu pemeliharaan Ka’bah tetap berada di tangan keturunan Ismail hingga akhirnya Banu Jurhum, dan kemudian Banu Khuza’ah yang memperkenalkan penyembahan berhala mulai menguasainya. Lalu datang suku Quraisy yang melanjutkan jalur keturunan Ismail. Ketika sedang melakukan renovasi, Ismail diberi batu hitam oleh jibril yang kini masih ditempatkan disudut sebelah tenggara Ka’bah dan termasuk dalam rangkaian ibadah haji. Praktik ziarah ke beberapa tempat suci masyarakat perkotaan Arab menjadi praktik ibadah yang paling penting bagi masyarakat nomad. Bulan Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram dikhususkan untuk pelaksanaan ritual agama, dan bulan Rajab untuk melakukan aktifitas dagang. Karena posisi sentralnya, keterbukaan dan lokasinya di jalur utama kafilah dari utara ke selatan, Hijaz menawarkan sebuah kesempatan yang baik untuk aktifitas keagamaan dan perdagangan. Oleh karena itu muncul festival di Ukaz dan Ka’bah.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Ciri Khas Badui Menjelang Kelahiran Islam

Nilai-nilai kebajikan tertinggi orang Arab seperti yang tercermin dalam puisi-puisi kaum pagan diungkapkan dalam istilah muru’ah, kewibawaan, dan kehormatan. Muru’ah berarti keberanian, loyalitas, dan kedermawanan. Dilihat dari puisinya orang Badui pagan pada masa Jahiliyah hanya memiliki sedikit agama. Mereka kurang antusias atau bahkan bersikap tidak peduli terhadap nilai-nilai religius spiritual. Penerimaan mereka terhadap praktik-praktik keagamaan mengikuti kebekuan suku mereka dan didasarkan atas penghormatan terhadap tradisi. Disamping puisi, sumber informasi utama kita tentang kekafiran pra-Islam ditemukan dalam sisa-sisa paganisme pada masa Islam. Fenomena itu dapat kita lihat dalam sejumlah anekdot dan tradisi yang terdapat dalam literatur Islam belakangan dan dalam karya al-Kalbi yang berjudul al-Ashnam (berhala). Orang-orang Arab pagan tidak mengembangkan sebuah mitologi, teologi, atau kosmologi seperti yang dikembangkan oleh orang-orang Babilonia.

Agama orang Badui, seperti halnya berbagai bentuk keyakinan prmitif, pada dasarnya adalah kepercayaan animisme. Roh pemilik tanah yang subur kemudian dipandang sebagai dewa yang memberi karunia, sementara roh pemilik yang gersang dipuja sebagai dewa jahat yang harus ditakuti. Bahkan setelah konsep tentang dewa itu terbentuk, benda-benda alam seperti pohon, sumur, gua, batu, tetap dipandang sebagai objek yang sakral, karena mereka menjadi media bagi para pemujanya untuk berhubungan dengan dewa. Selain mempercayai sejumlah dewa dan Tuhan, masyarakat Arab juga mempercayai keberadaan jin atau roh halus.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

 

Perkembangan Bahasa Arab Menjelang Kelahiran Islam

Tidak ada satupun bangsa di dunia ini yang menunjukkan apresiasi demikian besar terhadap ungkapan bernuansa puitis dan sangat tersentuh oleh kata-kata, baik lisan maupun tulisan, selain bangsa Arab. Kita sulit menemukan bahasa yang mampu mempengaruhi pikiran para penggunanya sedemikian dalam selain bahasa Arab, Ritme, bait syair, dan irama bahasa itu memberikan dampak psikologis kepada mereka, layaknya hembusan “sihir yang halal” (sihr halal). Menurut peribahasa Arab, “keelokan seseorang terletak pada kefasihan lidahnya”. Menurut peribahasa yang muncul belakangan, “kebijakan muncul dalam tiga hal : otak orang perancis, tangan orang cina, dan lidah orang Arab. Berdasarkan struktur bahasa yang unik, bahasa Arab memiliki ungkapan kalimat yang padat, efektif dan singkat. Islam memanfaatkan secara maksimal karakteristik bahasa itu dan watak psikologis penuturnya. Dari sanalah muncul kemukjizatan gaya dan susunan kalimat Al-qur’an yang dijadikan argumen utama umat islam untuk membuktikan kemurnian agama mereka. Seiring dengan perkembangan karismanya, seorang penyair memainkan berbagai peran sosial. Dalam pertempuran, lidahnya sama efektifnya dengan keberanian masyarakatnya. Pada masa-masa damai, kecamannya yang pedas merupakan ancaman bagi ketertiban publik. Seorang penyair dapat membuat sebuah suku mengambil tindakan tertentu, dipengaruhi leh puisi-puisinya yang mirip dengan hasutan seorang demagog dalam sebuah kampanye politik modern. Sebagai agen pembuat berita atau jurnalis pada masanya, ia banyak mendapat hadiah untuk pemberitaannya, seperti yang terlihat dalam catatan-catatan istana Hirah dan Gassan, puisinya yang dilestarikan lewat ingatan dan ditransmisikan secara lisan, merupakan sarana publisitas yang tak ternilai. Ia adalah pembentuk opini publik.

Disamping menjadi dukun, penuntun, orator, dan juru bicara kaumnya, seorang penyair juga merupakan sejarawan dan ilmuwan. Orang-orang badui mengukur kecerdasan seseorang berdasarkan puisinya. Sebagai seorang sejarawan dan ilmuwan sukunya, seorang penyair sangat memahami geneologi dan dongeng-dongeng rakyat, mengenal prestasi dan pencapaian sukunya di masa lalu, mengetahui dengan jelas hak-hak mereka, serta mengenali padang rumput dan batas-batas wilayah mereka. Lebih jauh lagi, sebagai seorang pemerhati kelemahan psikologis dan kegagalan historis suku-suku lawannya, ia berkewajiban untuk mengungkapkan secara luas kekurangan itu dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Disamping nilai sastra dan keindahannya, puisi-puisi kuno memiliki signifikansi historis, yaitu sebagai bahan utama untuk mengkaji perkembangan sosial yang terjadi saat puisi-puisi itu disusun.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Periode Sejarah Bangsa Arab

Secara umum, sejarah Arab terbagi menjadi tiga periode utama :

  1. Periode Saba Himyar, yang berakhir pada awal abad keenam masehi
  2. Periode jahiliyah yang dalam satu segi dimulai dari penciptaan Adam hingga kedatangan Muhammad SAW, tetapi lebih khusus lagi—seperti yang akan dibahas berikut ini—meliputi kurun waktu satu abad menjelang kelahiran Islam.
  3. Periode Islam sejak kelahiran Islam hingga masa sekarang.

Istilah jahiliyah, yang biasanya diartikan sebagai “masa kebodohan” atau “kehidupan barbar”, sebenarnya berarti bahwa ketika itu orang-orang Arab tidak memiliki otoritas hukum, nabi,  dan kitab suci. Pengertian itu dipilih karena kita tidak bisa mengatakan bahwa masyarakat yang berbudaya dan mampu baca tulis seperti masyarakat Arab Selatan disebut sebagai masyarakat bodoh dan barbar.

Berbeda dengan orang-orang Arab Selatan, sebagian besar masyarakat Arab Utara, termasuk Hijaz dan Nejed adalah masyarakat nomad. Sejarah orang-orang Badui pada dasarnya dipenuhi dengan kisah peperangan gerilya, yang disebut dengan ayyam al-‘Arab (hari-hari orang Arab). Selama periode itu sering terjadi perampokan dan serangan tanpa pertumpahan darah. Masyarakat yang bermukim di Hijaz dan Nejed tidak dikenal sebagai pemilik peradaban yang maju. Karenanya, keadaan mereka berbeda dengan tetangga dan kerabat mereka, yaitu orang-orang Nabasia, Palmyra, Gassan dan Lakhmi. Kajian mengenai periode Jahiliyah pada pembahasan berikut dibatasi pada analisis tentang berbagai pertempuran antara suku-suku badui utara sekitar satu abad sebelum hijrah, dan pada catatan mengenai pengaruh budaya-budaya luar terhadap kehidupan penduduk Hijaz menjelang kedatangan Islam.

Orang-orang Arab Utara baru mengembangkan budaya tulis menjelang masa Muhammad SAW. Istilah orang-orang Arab dalam pengertiannya yang luas meliputi semua penduduk di semenanjung Arab. Dalam pengertian sempit merujuk pada orang-orang Arab Utara, yang tidak menonjol dalam percaturan internasional hingga munculnya kekuatan Islam. Sama halnya yang disebut bahasa Arab adalah bahasa Himyar-Saba, juga dialek Hijaz sebelah utara, tetapi karena yang terakhir menjadi bahasa agama Islam dan sepenuhnya menggantikan dialek Yaman sebelah selatan, maka ia menjadi bahasa Arab par excellence. Karena itu ketika kita menyebut orang-orang Arab dan bahasa Arab, maka yang kita maksudkan adalah orang-orang Arab Utara dan bahasa Arab Al-Quran. Salah satu fenomena sosial yang terjadi di Arab menjelang kelahiran Islam adalah apa yang dikenal dengan sebutan “Hari-hari orang Arab” (Ayyam al-‘Arab). Hal ini merujuk pada permusuhan antar suku yang secara umum muncul akibat persengketaan seputar hewan ternak, padang rumput, atau mata air. Persengketaan itu menyebabkan seringnya terjadi perampokan dan penyerangan, memunculkan sejumlah pahlawan lokal, para pemenang dai suku-suku yang bersengketa, serta menghasilkan perang syair yang penuh kecaman diantara para penyair yang berperan sebagai juru bicara setiap pihak yang bersengketa. Berkat Ayyam al ‘Arab itulah pertarungan antar suku menjadi salah satu institusi sosial keagamaan dalam kehidupan mereka.

Beberapa perang antar suku Badui yang terkenal yaitu perang Basus yang terjadi pada akhir abad kelima antara Banu Bakr dan keluarga dekat mereka dari Banu Taghlib di Arab sebelah timur laut. Perang itu berlangsung selama 40 tahun dan berakhir sekitar 525 setelah Al-mundzir III dari Hirah turun tangan, dan setelah kedua belah pihak lelah berperang. Perang lainnya yaitu perang Dahis dan al-Ghabra yang menjadi salah satu peristiwa paling terkenal dari periode Jahiliyah. Peperangan itu pecah pada paruh kedua abad keenam, tidak lama setelah tercapainya perdamaian Basus dan berhenti selama beberapa dekade hingga masa Islam.

Sumber : History of the Arabs By Philip K. Hitti