Perkembangan Bahasa Arab Menjelang Kelahiran Islam

Tidak ada satupun bangsa di dunia ini yang menunjukkan apresiasi demikian besar terhadap ungkapan bernuansa puitis dan sangat tersentuh oleh kata-kata, baik lisan maupun tulisan, selain bangsa Arab. Kita sulit menemukan bahasa yang mampu mempengaruhi pikiran para penggunanya sedemikian dalam selain bahasa Arab, Ritme, bait syair, dan irama bahasa itu memberikan dampak psikologis kepada mereka, layaknya hembusan “sihir yang halal” (sihr halal). Menurut peribahasa Arab, “keelokan seseorang terletak pada kefasihan lidahnya”. Menurut peribahasa yang muncul belakangan, “kebijakan muncul dalam tiga hal : otak orang perancis, tangan orang cina, dan lidah orang Arab. Berdasarkan struktur bahasa yang unik, bahasa Arab memiliki ungkapan kalimat yang padat, efektif dan singkat. Islam memanfaatkan secara maksimal karakteristik bahasa itu dan watak psikologis penuturnya. Dari sanalah muncul kemukjizatan gaya dan susunan kalimat Al-qur’an yang dijadikan argumen utama umat islam untuk membuktikan kemurnian agama mereka. Seiring dengan perkembangan karismanya, seorang penyair memainkan berbagai peran sosial. Dalam pertempuran, lidahnya sama efektifnya dengan keberanian masyarakatnya. Pada masa-masa damai, kecamannya yang pedas merupakan ancaman bagi ketertiban publik. Seorang penyair dapat membuat sebuah suku mengambil tindakan tertentu, dipengaruhi leh puisi-puisinya yang mirip dengan hasutan seorang demagog dalam sebuah kampanye politik modern. Sebagai agen pembuat berita atau jurnalis pada masanya, ia banyak mendapat hadiah untuk pemberitaannya, seperti yang terlihat dalam catatan-catatan istana Hirah dan Gassan, puisinya yang dilestarikan lewat ingatan dan ditransmisikan secara lisan, merupakan sarana publisitas yang tak ternilai. Ia adalah pembentuk opini publik.

Disamping menjadi dukun, penuntun, orator, dan juru bicara kaumnya, seorang penyair juga merupakan sejarawan dan ilmuwan. Orang-orang badui mengukur kecerdasan seseorang berdasarkan puisinya. Sebagai seorang sejarawan dan ilmuwan sukunya, seorang penyair sangat memahami geneologi dan dongeng-dongeng rakyat, mengenal prestasi dan pencapaian sukunya di masa lalu, mengetahui dengan jelas hak-hak mereka, serta mengenali padang rumput dan batas-batas wilayah mereka. Lebih jauh lagi, sebagai seorang pemerhati kelemahan psikologis dan kegagalan historis suku-suku lawannya, ia berkewajiban untuk mengungkapkan secara luas kekurangan itu dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Disamping nilai sastra dan keindahannya, puisi-puisi kuno memiliki signifikansi historis, yaitu sebagai bahan utama untuk mengkaji perkembangan sosial yang terjadi saat puisi-puisi itu disusun.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s