Hijaz dan Ka’bah Menjelang Kelahiran Islam

Ditengah masyarakat perkotaan Hijaz, yang jumlahnya hanya sekitar 17 persen dari masyarakat Hijaz, tahap pemujaan terhadap benda-benda langit muncul sejak lama. Al-‘Uzza, al-Lat dan Manat—tiga anak perempuan Allah—memiliki tempat pemujaannya masing-masing yang disakralkan di daerah yang kemudian menjadi tempat kelahiran Islam. Al-Lat (dari kata Ilahah, yang berarti Tuhan perempuan) memiliki tempat pemujaan suci di dekat Taif tempat berkumpul orang-orang untuk beribadah haji dan menyembelih binatang korban. Disekitar daerah itu tidak diperbolehkan menebang pohon, memburu binatang dan menmpahkan darah. Hewan dan tanaman disekitarnya tidak boleh diganggu karena disanalan Tuhan yang diagungkan tinggal. Al-Uzza (yang paling agung, venus, atau bintang pagi) dipuja di Nakhlah, sebelah timur mekah. Manah (berasal dari maniyah, pembagian nasib) adalah dewa yang menguasai nasib dan dengan demikian merepresentasikan tahap kehidupan keagamaan yang lebih awal. Tempat suci utamanya adalah sebuah batu hitam di Qudayd, disebuah jalan antara mekah dan madinah. Dewa nasib ini sangat populer dikalangan suku Aws dan Khazraj, yang memberikan dukungan kepada nabi ketika hijrah dari mekah ke madinah. Ka’bah pra-Islam yang kemudian menjadi tempat suci Islam, adalah bangunan berbentuk kubus sederhana yang awalnya tidak beratap yang menjadi tepat penyimpanan batu meteor hitam yang diagungkan sebagai benda sakral. Pada masa kemunculan Islam, bangunan itu dipugar tahun 608 oleh orang-orang Abissinia memanfaatkan bahan-bahan material dari sisa-sisa kapal Byzantium atau Abissinia yang hancur di laut merah.

Tradisi Islam menyebutkan bahwa Ka’bah awalnya dibangun oleh Adam meniru bentuk aslinya di surga, dan setelah banjir besar, Ka’bah dibangun kembali oleh Ibrahim dan Ismail. Setelah itu pemeliharaan Ka’bah tetap berada di tangan keturunan Ismail hingga akhirnya Banu Jurhum, dan kemudian Banu Khuza’ah yang memperkenalkan penyembahan berhala mulai menguasainya. Lalu datang suku Quraisy yang melanjutkan jalur keturunan Ismail. Ketika sedang melakukan renovasi, Ismail diberi batu hitam oleh jibril yang kini masih ditempatkan disudut sebelah tenggara Ka’bah dan termasuk dalam rangkaian ibadah haji. Praktik ziarah ke beberapa tempat suci masyarakat perkotaan Arab menjadi praktik ibadah yang paling penting bagi masyarakat nomad. Bulan Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram dikhususkan untuk pelaksanaan ritual agama, dan bulan Rajab untuk melakukan aktifitas dagang. Karena posisi sentralnya, keterbukaan dan lokasinya di jalur utama kafilah dari utara ke selatan, Hijaz menawarkan sebuah kesempatan yang baik untuk aktifitas keagamaan dan perdagangan. Oleh karena itu muncul festival di Ukaz dan Ka’bah.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s