Kota-Kota Utama Hijaz : Taif, Mekah, dan Madinah

Hijaz, sebuah dataran tandus yang berfungsi seperti penghambat antara dataran tinggi Nejed dan daerah pesisir yang rendah yaitu Tihamah, hanya memiliki tiga kota yaitu Taif, Mekah, dan Madinah. Kota Taif terletak disekitar wilayah yang ditumbuhi pepohonan lebat dengan ketinggian sekitar 6.000 kaki diatas permukaan laut dan digambarkan sebagai “sepotong tanah Suriah” merupakan tempat penginapan musim panas  bagi kalangan aristokrat Mekah sejak dulu hingga saat ini. Burckhardt, yang mengunjungi kota ini tahun 1814, menggambarkan pemandangan dan rute perjalanannya sebagai wilayah yang paling memberikan inspirasi dan mengagumkan yang pernah ia lihat sejak kunjungannya ke Libanon. Buminya yang subur menghasilkan sejumlah komoditas seperti semangka, pisang, ara, anggur, kenari, persik, delima, dan madu. Dari semua tempat di semenanjung Arab, Taif adalah tempat yang paling mendekati gambaran Al-Quran tentang surga, seperti yang terdapat dalam QS. 47: 15.

Kota berikutnya yaitu Mekah. Nama Mekah disebut Macoraba oleh Ptolemius, diambil dari bahasa Saba, Makuraba yang berarti tempat suci. Kata itu menunjukkan bahwa kota itu didirikan oleh suatu kelompok keagamaan, sehingga bisa dikatakan bahwa—jauh sebelum kelahiran Nabi—Mekah telah menjadi pusat keagamaan. Mekah berada sekitar 48 mil dari Laut Merah, disebuah lembah gersang dan berbukit yang tidak dapat ditanami, jauh berbeda dengan Taif. Panasnya suhu udara di Mekah hampir tak tertahankan. Mekah sejak lama telah menjadi tempat persinggahan dalam perjalanan antara Ma’rib dan Gazza. Orang-orang Mekah yang progressif dan memiliki jiwa dagang berhasil mengubah kota itu menjadi pusat kemakmuran.

Kota penting ketiga yaitu Madinah. Dulunya dikenal dengan sebutan Yatsrib (dalam tulisan orang-orang Saba disebut YTHRB, dan dalam tulisan Ptolemius disebut Jathrippa). Kota ini terletak pada jalur rempah-rempah yang menghubungkan Yaman dengan Suriah. Tanah di wilayah ini sangat cocok ditanami pohon kurma. Di tangan penduduk Yahudi, tepatnya Banu Nadhir dan Banu Quraidzah, kota itu menjadi pusat pertanian yang terkemuka. Dilihat dari namanya dan kosakata Aramaik yang digunakan dalam aktifitas pertanian mereka, orang-orang Yahudi ini merupakan suku Arab keturunan Aramaik yang telah menganut agama Yahudi. Meskipun intinya adalah orang-orang Israel yang lari dari Palestina saat ditaklukkan Romawi pada abad pertama masehi. Kemungkinan orang-orang Yahudi penutur Aramaik tersebut telah mengubah nama Yatsrib kedalam bahasa Aramaik, Madinta, yang menjadi asal usul nama Madinah yang berarti “kota” (nabi). Dua suku utama non Yahudi di kota itu adalah Aws dan Khazraj, yang berasal dari Yaman.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Advertisements

2 thoughts on “Kota-Kota Utama Hijaz : Taif, Mekah, dan Madinah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s