Pengaruh Kebudayaan Non-Arab Terhadap Hijaz Menjelang Kelahiran Islam

Keistimewaan dan kedudukan Hijaz dalam percaturan global mulai mencuat sejak tahun kedelapan Hijriah ketika Islam merebut kota itu dan ketika ayat ke-28 surat ke-9 diturunkan. Pada abad pertama setelah Muhammad SAW wafat, muncul sejumlah dokter, musisi, serta pedagang kristen dan Yahudi di kota kelahirannya. Pengaruh Saba atau Arab Selatan terlihat dari beberapa penggunaan kata-kata seperti Rahman yang diambil dari nama salah satu dewa tertua di Arab selatan. Al-Rahim juga muncul sebagai nama dewa dalam tulisan-tulisan pra-Islam dan tulisan orang-orang Saba. Tulisan Arab selatan lainnya menggunakan kata syirk yang diasosiasikan dengan politeisme, jenis syirk yang sangat ditentang keras dalam dakwah nabi Muhammad SAW.

Kebudayaan lain yang cukup berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Hijaz adalah kebudayaan Abissinia. Orang-orang Abissinia membentuk suatu bagian penting dalam aktifitas perdangangan internasional, yang ketika itu dimonopoli oleh orang-orang Saba-Himyar, khususnya dalam komoditas rempah-rempah, yang jalur utamanya melintasi Hijaz. Selama sekitar 50 tahun sebelum kelahiran Nabi, orang-orang Abissinia telah membangun kekuasaannya di Yaman, dan pada tahun kelahiran Nabi, mereka telah berada di gerbang kota Mekah dan mengancam hendak menghancurkan bangunan suci Ka’bah. Bilal adalah seorang kulit hitam dari Abissinia. Selain itu terdapat hubungan transportasi laut yang aktif antara Hijaz dan Abissinia. Ketika masyarakat Islam yang baru lahir mendapat tekanan keras dari orang-orang Quraisy, Abissinia menjadi tempat perlindungan mereka.

Kebudayaan Persia turut mewarnai keadaan penduduk Hijaz dan perkembangannya pada masa-masa berikutnya. Budaya ini mulai memasuki tanah Arab pada abad menjelang kemunculan agama Islam. Persia yang menganut agama zoroaster, bersaing dengan Abissinia untuk memperoleh supremasi di Yaman. Pengetahuan seni militer Persia diwariskan kepada orang-orang Arab dari sebelah selatan dan utara melalui orang Arab Persia, yang beribu kota di Hirah. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Salman dari Persia adalah orang yang mengusulkan pembuatan parit kepada Nabi sebagai strategi pertahanan kota madinah sewaktu perang parit. Pada masa pra-Islam, Hirah merupakan jalur utama penyebaran pengaruh budaya Persia dan Nestor Aramaik ke dunia Arab. Kelak orang-orang Nestor menjadi penghubung utama antara budaya Yunani dan Islam, saat itu mereka menjadi media utama penyebaran gagasan-gagasan budaya utara, yaitu Aramaik, Persia, Hellenik, ke tengah-tengah masyarakat pagan Arab.

Sementara orang-orang kristen Nestor dari Hirah telah mempengaruhi orang-orang Arab di perbatasan Persia, para penganut gereja Monofisit dari Gassan mulai menyebarkan pengaruh mereka pada orang-orang Hijaz. Selama empat abad sebelum Islam, keturunan Arab yang telah menjadi orang Suriah ini memungkinkan terjadinya persentuhan antara dunia Arab, tidak hanya dengan Suriah, tetapi juga dengan Byzantium.

Ringkasnya kita bisa mengatakan bahwa Hijaz pada abad kelahiran Muhammad SAW dikelilingi oleh berbagai pengaruh yang berbeda, baik dari segi intelektual, keagamaan, maupun material, baik yang datang dari Byzantium, Suriah (Aramaik), Persia, dan Abissinia, maupun yang datang melalui kerajaan Gassan, Lakhmi, dan Yaman. Walaupun demikian, kebudayaan asli masyarakat pagan Arab tidak berubah dan tampaknya telah mencapai antiklimaks karena ia tidak dapat memenuhi tuntutan spiritual masyarakat dan terkalahkan oleh kelompok yang mengembangkan ajaran monoteis yang masih samar, salah satu anggotanya adalah Warqah ibn Nawfal (sepupu Khadijah) dan Umayyah ibn Abi al-shalt (sepupu kedua Nabi dari jalur ibunya). Dari sisi politik, kehidupan nasional terorganisir yang berkembang di Arab selatan kini benar-benar terganggu. Akibatnya muncul anarki dalam bidang politik dan keagamaan. Sebuah panggung telah dibuat dan saat-saat yang kondusif secara psikologis telah siap untuk menyambut datangnya seorang pemimpin besar agama dan bangsa.

Sumber : History of the Arabs By Phillip K. Hitti

 

Advertisements

2 thoughts on “Pengaruh Kebudayaan Non-Arab Terhadap Hijaz Menjelang Kelahiran Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s