Penaklukan Bangsa-Bangsa Arab Pasca Meninggalnya Muhammad SAW

Setelah Nabi Muhammad wafat, masalah kekhalifahan adalah masalah pertama yang harus dihadapi umat islam. Nabi tidak meninggalkan anak laki-laki. Hanya anak perempuan yaitu Fatimah, istri Ali yang menjadi ahli warisnya. Meski demikian, kepemimpinan bangsa Arab tidak diwariskan tapi dipilih berdasarkan senioritas dalam suku. Jadi meski seandainya anak laki-laki Muhammad tidak meninggal lebih dulu darinya, persoalan tentang penerus kekuasaan tidak akan terpecahkan begitu saja. Nabi Muhammad juga tidak menunjuk dengan jelas siapa yang akan menjadi penggantinya. Dalam ungkapan seorang sejarawan agama terkemuka, al-Syahrastani (wafat pada 1153), “Tidak pernah ada persoalan yang lebih berdarah kecuali tentang kekhalifahan (Imamah)”. Ketika masalah kekhalifahan muncul, maka muncullah sejumlah pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda yang mengajukan klaim bahwa pihak mereka berhak mendapatkan tampuk kekhalifahan pengganti Muhammad. Diantaranya yaitu kelompok Muhajirin yang mengklaim bahwa mereka adalah kelompok pertama yang mengakui kenabian Muhammad dan berasal dari suku yang sama dengan nabi. Golongan Anshar yang menegaskan bahwa jika mereka tidak memberikan perlindungan kepada Muhammad dan Islam yang masih lemah, maka islam sudah musnah dari dulu. Meskipun demikian kedua kelompok ini (Muhajirin dan Anshar) sepakat untuk membuat persekutuan. Golongan Legitimis yang berpendapat bahwa Allah dan Muhammad tidak akan membiarkan umat Islam dalam kebingungan soal kepemimpinan. Kerenanya mereka yakin bahwa persoalan itu telah jelas dengan penunjukan orang tertentu yang akan menggantikan Muhammad. Dan orang yang mereka maksud adalah Ali, menantu sekaligus saudara sepupu Muhammad, dan salah satu dari dua atau tiga orang yang pertama masuk Islam. Sedangkan tentang pemilihan khalifah mereka beranggapan kekuasaan untuk menentukan hal itu ada di tangan Allah. Golongan terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah aristokrat Quraisy, yang dimotori oleh Bani Umayyah. Mereka termasuk keluarga yang memiliki otoritas, kekuatan, dan kekayaan pada masa pra-Islam (tapi menjadi kelompok terakhir yang masuk Islam). Abu Sufyan pemimpin mereka adalah tokoh yang memimpin perlawanan kepada nabi hingga peristiwa jatuhnya kota Mekkah. Akhirnya kelompok pertama berhasil menduduki kekhalifahan. Abu Bakr menerima sumpah setia (Bay’at) dari para pemimpin dewan persekutuan. Tiga khalifah berikutnya setelah Abu Bakr yaitu Umar, Ustman, dan Ali. Masa ketika keempat khalifah itu masa ketika teladan kehidupan nabi masih berpengaruh besar pada sikap dan prilaku para pemimpin muslim. Selain itu mereka juga sahabat dekat dan kerabat nabi. Mereka semua tinggal di Madinah kecuali Ali yang memilih kufah di Irak sebagai ibu kota kepemimpinannya.

Masa kekhalifahan Abu Bakar yang sangat singkat (632-634) sarat akan peperangan Riddah (pembelotan, murtad). Semua kawasan Arab diluar Hijaz, yang diklaim telah menerima Islam dan mengakui kepemimpinan Nabi, ternyata menyatakan keluar dan memisahkan diri dari negara yang baru terbentuk itusetelah Muhammad wafat. Kemudian mereka menegaskan kemandirian mereka sambil mengikuti nabi-nabi palsu. Hal ini karena kurangnya sarana komunikasi, tidak adanya metode dakwah yang terorganisir, dan terlampau singkatnya waktu. Bahkan Hijaz baru sepenuhnya memeluk Islam setelah satu atau dua tahun sebelum wafatnya Nabi Muhammad.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, suku-suku di Yaman, Yamamah, dan Oman tidak mau membayar zakat ke Madinah, alasannya karena Nabi telah wafat dan kecemburuan terhadap bangkitnya hegemoni Hijaz. Namun Bau Bakar hanya memberikan dua pilihan : tunduk tanpa syarat atau diperangi hingga binasa. Khalid bin Walid menjadi pahlawan dalam perang tersebut. Dalam kurun waktu enam bulan, dibawah kepemimpinannya pasukan Islam berhasil menundukkan beberapa suku di dataran Arab Tengah. Pertama pasukan muslim menundukkan suku Thayyi, Asad, Thulayhah, dan Banu Hanifah di Yamamah, yang menjadi pengikut setia nabi palsu yaitu Musaylamah. Sekalipun Khalid berhasil memneangkan pertempuran itu, banyak para penghafal Quran yang syahid sehingga hal ini membawa kekhawatiran akan musnahnya orang-orang yang menghafal Al-Quran. Peperangan lainnya juga dilancarkan di Bahrain, Oman, Hadramaut, dan Yaman, markas Al-Aswat yang mengaku nabi. Jadi kebanyakan perang Riddah diarahkan bukan untuk menaklukkan kembali para pembelot, tapi lebih untuk menarik kedalam Islam berbagai suku yang hingga saat itu masih kafir.

Semenanjung Arab kini disatukan dibawah kekuasaan Abu Bakar melalui pedang Khalid. Semangat dan energi berlimpah yang muncul dari peperangan internal ini telah mengubah semenanjung Arab menjadi barak militer.

Dua peristiwa penting pada akhir abad klasik adalah migrasi bangsa Teutonik (rumpun bangsa yang berbahasa Jerman) yang mengakibatkan kekacauan di kerajaan Romawi dan penaklukan Arab yang telah menghancurkan kerjaan Persia (Sasaniyah / Sasanide) dan mngguncang pilar kekuatan Byzantium. Dari dua kejadian itu, penaklukan Arab yang berpuncak pada jatuhnya Spanyol menandai awal Abad Pertengahan. Setelah Nabi wafat, semenanjung Arab menjadi tempat kelahiran para pahlawan yang jumlah dan kualitasnya sulit ditemukan di tempat lain. Peperangan yang dilancarkan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash di Irak, Persia, Suriah, dan Mesir termasuk diantara perang yang paling brilian dalam sejarah.

Di bawah pengaruh Islam, bangsa Timur kini bangkit dan menegaskan dirinya setelah selama seabad barada dibawah dominasi Barat. Lebih jauh lagi, pungutan pajak para penakluk baru ini jauh lebih kecil dibanding pajak penguasa lama, rakyat yang ditaklukkan kini dapat melaksanakan ajaran agama mereka dengan lebih leluasa dan terbebas dari campur tangan penguasa. Bagi orang-orang Arab sendiri, penaklukan dan penyerangan itu merepresentasikan munculnya generasi baru Arab, yang segar dan bersemangat , dibakar oleh antusiasme baru, dipenuhi keinginan untuk menaklukkan, serta didorong oleh ruh jihad yang ditanamkan oleh Islam. Tapi kita tidak bisa melewatkan faktor penting lain yang mendukung keberhasilan ekspansi umat Islam ke berbagai wilayah, yaitu penerapan teknik militer padang pasir Asia Barat dan Afrika Utara yang menggunakan pasukan berkuda dan berunta, suatu kecakapan militer yang tidak dikuasai oleh pasukan romawi.

Penyebaran Islam menandai tahap akhir dari proses panjang migrasi orang-orang Arab dari gurun yang gersang secara bertahap ke wilayah tetangga mereka di kawasan Bulan Sabit Subur (wilayah Timur Tengah yang membentang dari Israel hingga teluk Persia, termasuk didalamnya sungai tigris dan elfrat di Irak sekarang), sebuah migrasi besar bangsa Semit. Pandangan Teologis yang menyatakan bahwa perluasan Islam merupakan kehendak Tuhan, tidak memiliki landasan filosofis yang kokoh. Istilah “Islam” bisa digunakan dalam tiga pengertian: awalnya merupakan sebuah agama, kemudian menjadi negara, dan akhirnya budaya. Tidak seperti agama Yahudi dan Buddha, Islam terbukti merupakan agama yang ekspansif dan agresif seperti kristen. Karena itulah pada perkembangan selanjutnya, Islam mewujud menjadi sebentuk negara. Lama setelah Islam politik dan Islam agama mapan, Islam budaya muncul dan berkembang mengiringi penaklukan-penaklukan militer dengan memasukkan khasanah peninggalan peradaban Suriah-Aramaik, Persia, dan Yunani yang telah ada sebelumnya. Berkat Islam, kawasan Timur Jauh bukan saja telah memperoleh kembali seluruh kekuasaan politik yang pernah mereka miliki, tetapi dalam bidang budaya pun mereka berhasil meraih kembali kejayaan intelektual klasik mereka.

Sumber : History of the Arabs 

By : Phillips K. Hitti

Baca juga Artikel keren lainnya :

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s