Sosok “Al-Faruq” (Part 3) Ketika Islam Menyapa

Pada suatu hari yang sangat panas, Umar bin Khaththab keluar dari rumahnya membawa tekad yang membara. Dengan pedangnya terhunus, ia mengayunkan langkahnya menuju rumah Arqam, dimana Rasulullah SAW dan beberapa shabatnya melakukan dzikir dan beribadah kepada Allah SWT.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nua’im bin Abdullah, sekilas ia bisa menangkap roman wajah Umar memancarkan kebengisan dan kemarahan, lalu ia mendekatinya dengan sedikit gemetar, lalu ia bertanya kepadanya, “Kemanakah engkau akan pergi, wahai Umar?”

Umar mejawab, “Kepada seorang bocah yang telah memecah belah kaum Quraisy dan mencampakkan mimpi-mimpinya, mencela agamanya serta mencaci maki Tuhannya, aku akan membunuhnya!”

Mendadak enyap rasa takut dalam diri Nua’im atas sikapnya dan bahaya yang terpancar jika ia menentang Umar, lalu ia berkata kepadanya, “Sungguh langkah yang paling buruk adalah apa yang engkau upayakan dan perjalanan yang paling buruk adalah apa yang sedang engkau jalani!”

Mendengar itu Umar merasa khawatir, jangan-jangan Nua’im telah masuk Islam. Lalu ia berkata, “Sepertinya engkau telah berpaling, jika benar demikian, demi Latta dan Uzza, engkau pasti menyesal!”

Nua’im segera mengakhiri percakapannya dengan Umar dengan sesuatu yang lebih menarik perhatian Umar, karena ia tampak tidak bisa menguasai kemarahannya.

“Tahukah engkau, bahwa saudara perempuanmu dan suaminya Sa’id bin Zaid telah masuk Islam dan meninggalkan agama yang engkau anut?”

Saudarinya??? Fathimah binti Khaththab??? Apa gunanya ia pergi ke rumah Arqam, sedang bahaya telah mulai merasuki rumah dan tempat tinggalnya? Demikianlah Umar merubah perjalanannya, kini ia menuju rumah iparnya Sa’id bin Zaid ra!

Di dalam rumah, Sa’id bin Zaid dan istrinya Fathimah binti Khaththab, Khubab bin Arts memegang lembaran berisi wahyu Allah. Mereka membaca dan mempelajarinya dengan penuh takzim. Tiba-tiba pintu digedor dengan sangat keras…

“Siapa?”

“Umar”

Khubab langsung sembunyi sambil memohon pertolongan dan perlindungan Allah dari amukan Umar. Sedangkan Sa’id dan istrinya segera menuju ke arah pintu, mereka menyambut Umar dengan rasa kaget bukan kepalang akan kedatangannya yang tiba-tiba. Meski dilanda kepanikan yang luar biasa, Fathimah binti Khaththab tidak lupa akan lembaran berisi wahyu Allah, ia lantas menyembunyikannya dibalik bajunya.

Dengan mata memancarkan kemarahan, Umar berkata, “Suara apa yang aku dengar tadi?”

Keduanya menjawab, “Tidak ada, itu hanya sekedar percakapan dan obrolan biasa saja.”

Umar kemudian berkata, “Aku dengar kalian telah berpaling dari agama kalian!”

Sa’id menjawab, “Hai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran itu ternyata berada di luar agamamu?!”

Umar tidak memberikan Sa’id kesempatan untuk menuntaskan kata-katanya. Ia lantas menerkam Sa’id dengan kekuatan yang dahsyat. Lalu ia menjambak kepalanya dan menariknya lalu membantingnya ke tanah. Dengan cepat Umar kemudian menindih dadanya. Ketika Istrinya mencoba membela suaminya, Umar lantas memukulnya hingga wajahnya berdarah dan membuatnya berteriak kesakitan. Jeritan yang terdengar bagai sangkakala langit, berdengung dan gemerincing.

“Wahai musuh Allah, apakah engkau berani memukulku karena keimananku kepada Allah yang esa? Jika benar demikian, lakukanlah!! Aku tetap akan bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!!”

Dan sekarang…lihatlah baik-baik, saat-saat menentukan mulai mengetuk, menyerukan untuk segera berubah, membuka hakikat yang bersih dan terjaga yang membentuk fitrah laki-laki besar ini. Ketika ia berada dalam puncak kemarahannya, kebenaran datang menghadapinya dengan suara lantang, Umar mendadak menjadi melembut da terduduk.

Kata-kata yang meluncur dari teriakan Fathimah mengandung semua kidung kemurnian. Kidung yang bisa diketahui dan dibedakan oleh semua orang yang memiliki fitrah. Persis seperti seorang penunggang kuda sejati akan mengetahui kemurnian keturunan seekor kuda hanya dari ringkikannya!

Jika energi Umar adalah energi kekerasan dan pembangkangan, niscaya ia akan terus dengan keganasannya, hingga tercapai kepuasan yang diinginkannya.

Hanya saja energi Umar adalah energi keunggulan dan kepahlawanan, karena itu ia langsung menjawab kebenaran yang tampak di hadapannya dengan segera. Di hadapan kepala yang tegak terangkat, kepala Fathimah binti Khaththab yang beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW. Di hadapan kalimat yang dipenuhi cahaya kebenaran, kalimat yang dilantunkan dengan penuh kemurnian.

Tiba-tiba Umar bangkit dari dada Sa’id dan membentangkan tangannya ke arah Fathimah meminta lembaran yang ia lihat terjatuh dari balik pakaiannya. Akan tetapi saudarinya menjawab, “Tidak! Karena sesungguhnya ‘tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan’ (QS. Al-Waqi’ah 79) Pergilah engkau mandi dan bersuci!”

Pergilah Umar bagai jiwa yang penurut dan patuh, padahal sebelumnya ia sangat keras dan bengis, lalu ia kembali dengan janggut yang masih basah. Saudarinya kemudian memberikan lembaran itu dan Umarpun tenggelam membacanya…

“Dengan nama Allah yang maha Pengasih dan Penyayang.

Thaahaa, Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). Yang diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang Tinggi (yaitu) Tuhan yang Mahapemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy

Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang diantara keduanya dan semua yang dibawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.

Dialah Allah, , tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thaahaa: 1-8)

Umar berhenti sejenak, lalu ia meneruskan bacaannya dengan penuh kekhusykan:

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.” (QS. Thaahaa: 9-16)

Umar kemudian memeluk lembaran itu dan menciumnya. Ia kemudian bangkit dan berkata, “Pemilik ayat-ayat ini tidak mungkin Zat yang memiliki sekutu yang disembah bersama-Nya. Tunjukkanlah aku kepada Muhammad!”

Dari sini, keluarlah Khubab bin Arts dari persembunyiannya dan berteriak, “Selamat wahai Umar, sungguh Allah telah mengabulkan doa Rasulullah SAW untukmu!”

Lalu Umar kemudia berjalan menuju bukit shafa dimana rumah Arqam berdiri, disana, di hadapan Rasulullah SAW Umar memeluk agama yang haq dan bergemuruhlah takbir dari kaum muslimin sehingga mengguncang seisi kota mekkah! AllahuAkbar!!!

Sumber : 5 Khalifah Kebanggaan Islam

By : Syaikh Khalid Muhammad Khalid

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s