Perang Mu’tah 629 M (Sebuah Perang Mukaddimah)

Siapa yang menyangka bahwa imperium terbesar kala itu yakni Byzantium bisa tumbang oleh Islam yang notabene merupakan agama baru dan jumlah pengikutnyapun masih sedikit. Tetapi Dialah Allah yang telah memberikan kemenangan atas umat Islam dengan niat suci menegakkan panji “Laailaahaillallah…” diseluruh jagat raya dan menyebarkan agama Islam ke seluruh umat manusia. Diawali dengan perang Mu’tah (629 M), dan berakhir pada perang penaklukkan konstantinopel (1453 M), suatu masa yang dipenuhi dengan tokoh-tokoh Islam yang rela mengabdikan jiwa raganya hanya untuk Allah SWT. Suatu masa dimana kita dapat belajar bahwa pernah hidup di muka bumi ini para pembela Islam yang bahkan nafasnya hanya untuk bersujud kepada Allah dan jauh dari hedonisme duniawi. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah berikut :

Kekaisaran Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium adalah wilayah timur Kekaisaran Romawi yang terutama berbahasa Yunani pada Abad Kuno dan Pertengahan. Penduduk dan tetangga-tetangga Kekaisaran Romawi Timur menjuluki negeri ini Kekaisaran Romawi atau Romania (Yunani:Ῥωμανία, Rōmanía). Kekaisaran ini berpusat di Konstantinopel, dan dikuasai oleh kaisar-kaisar yang merupakan pengganti kaisar Romawi kuno setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat. Tidak ada konsensus mengenai tanggal pasti dimulainya periode Romawi Timur. Beberapa orang menyebut masa kekuasaan Diokletianus (284-305 M) dikarenakan reformasi-reformasi pemerintahan yang ia perkenalkan, yang membagi kerajaan tersebut menjadi pars Orientis dan pars Occidentis. Pihak lainnya menyebut masa kekuasaan Theodosius I (379-395 M), atau setelah kematiannya pada tahun 395 M, saat kekaisaran terpecah menjadi bagian Timur dan Barat. Ada juga yang menyebut tahun 476 M, ketika Roma dijajah untuk ketiga kalinya dalam seabad yang menandakan jatuhnya Barat (Latin), dan mengakibatkan kaisar di Timur (Yunani) mendapatkan kekuasaan tunggal. Bagaimanapun juga, titik penting dalam sejarah Romawi Timur adalah ketika Konstantinus yang Agung memindahkan ibukota dari Nikomedia (di Anatolia) ke Byzantium (yang akan menjadi Konstantinopel) pada tahun 330 M. Imperium Bizantium berdiri selama lebih dari ribuan tahun. Selama keberadaannya, Bizantium merupakan kekuatan ekonomi, budaya, dan militer yang kuat di Eropa, Yunani, Balkan, Asia, Suriah, Palestina, Laut Tengah, Mesir, dan seluruh Afrika Utara. Berikut merupakan peperangan-peperangan yang terjadi dalam rangka penaklukan Bizantium oleh kaum muslimim

Perang Mu’tah :

Pertempuran berdarah ini terjadi pada bulan Jumadil Awal tahun 8 H, bertepatan dengan tahun 629 M. Mu’tah sendiri adalah nama sebuah perkampungan yang berada di wilayah Balqo’, Syam. Perang ini berawal dari kepergian Haris bin Umair al Azdi menuju Syam. Ia mendapat tugas khusus dari Rasulullah sebagai seorang delegasi untuk menyampaikan sebuah surat penting kepada Raja Gassan di Bushra. Di tengah perjalanan yang panjang dan melelahkan ini, tanpa diduga ia bertemu dengan Syurahbil al Ghossani -seorang yang menjabat sebagai penguasa setempat dibawah Kekaisaran Romawi- ketika sedang melewati sebuah kawasan yang bernama Mu’tah.

“Hendak pergi kemana kau..?” Tanya orang Syurahbil al Ghossani kepada delegasi Rasulullah itu.

“Menuju Syam!” jawab Haris.

“Jangan-jangan kau ini adalah orangnya Muhammad..??” Tanya Syurahbil dengan nada curiga kepada Haris.

“Ya..!” jawab Haris spontan.

Begitu mengetahui bahwa Haris bin Umair al Azdi salah satu delegasi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tanpa membuang-buang waktu lagi ia segera menangkap dan mengikatnya kemudian menghadapkannya kepada Kaisar. Tidak lama setelah itu, nyawa sahabat ini pun berakhir dibawah tebasan pedang sang musuh.
Kabar kematian Haris bin Umair menyulut kemarahan Rasulullah. Sebelumnya, tidak pernah ada delegasi Rasulullah yang dibunuh ketika menjalankan tugasnya sebagai delegasi. Pembunuhan kepada delegasi –yang seharusnya dijamin keamanannya sekalipun dalam kondisi perang- merupakan bentuk kriminal yang paling keji dan secara langsung merupakan bentuk penghinaan kepada pihak yang mengutusnya.

Untuk memberi mereka pelajaran atas perbuatan keji mereka, Rasulullah segera menyiapkan bala tentara berjumlah 3000 orang. Pasukan ini membawa tugas khusus dari beliau untuk mendatangi daerah terbunuhnya Haris bin Umair dan menyeru terlebih dahulu penduduknya untuk menerima ajaran Islam. Jika mereka menolak, maka mereka wajib diperangi.

Tidak seperti biasanya, Rasulullah mengangkat tiga komandan pasukan sekaligus dalam satu pasukan sebelum diberangkatkan,

“Zaid bin Haritsah lah pemimpin kalian.  Apabila Zaid bin Haritsah terbunuh, maka yang memegang kepemimpinan pasukan adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dan bila Ja’far terbunuh, maka kepemimpinan beralih ke Abdullah bin Rowahah. Dan bila Abdullah bin Rowahah terbunuh, maka hendaklah kaum muslimin memilih sendiri salah seorang di antara mereka untuk dijadikan pemimpin pasukan…”. Beliau kemudian menyerahkan panji perang kaum muslimin yang berwarna putih kepada Zaid bin Haritsah.
Di perjalanan, pasukan yang dikomandoi Zaid bin Haritsah ini singgah di Ma’an, sebuah kawasan di negeri Syam. Disini mereka mendapat informasi yang membuat bulu kuduk berdiri. Para mata-mata mengabarkan mereka bahwa Kekaisaran Romawi ternyata sudah mengendus pergerakan militer kaum muslimin dan telah menyiapkan bala tentara untuk menyambut kedatangan mereka. Yang membuat suasana menjadi mencekam adalah jumlah pasukan yang telah disiapkan Romawi untuk menghadapi kaum muslimin, tidak tanggung-tanggung sebanyak 100.000 prajurit lengkap dengan persenjataannya. Ditambah lagi adanya dukungan personil dari beberapa kabilah yang ingin memerangi Islam sebanyak 100.000 prajurit. Itu berarti total keseluruhan dari lawan yang harus dihadapi umat Islam saat itu berjumlah 200.000 orang.
Kebimbangan lalu melanda pasukan Islam dengan segera setelah mereka mendengar informasi yang mengejutkan itu. Tidak pernah terlintas di benak mereka sebelumnya akan menghadapi pasukan musuh dengan jumlah yang amat besar. Mungkinkah pasukan yang hanya berjumlah 3000 orang ini mampu menghadapi pasukan lawan yang berjumlah hingga 200.000 prajurit bersenjata lengkap? Itulah yang menjadi pikiran kaum muslimin saat itu. Mereka bimbang harus berbuat apa, akhirnya pasukan ini tertahan tidak bergerak di Ma’an sambil terus berpikir, langkah apakah yang harus dijalankan.

Selama tinggal di Ma’an, musyawarah dan tukar pikiran terus terjadi di antara para sahabat dalam mencari solusi permasalan ini. Apakah tetap nekat maju berperang ataukah mundur saja?

“Bagaimana kalau kita mengirim pesan kepada Rasulullah menginformasikan kepada beliau jumlah lawan kita. Entah setelah itu beliau mengirimkan bala bantuan tambahan atau memerintahkan kita dengan suatu perintah yang akan kita kerjakan…” usul salah seorang Shahabat kepada yang lainnya.

Namun usulan ini ditolak oleh Abdullah bin Rowahah, ia malah balik berkata dengan penuh semangat,

“Wahai Kaum! Demi Allah! Sungguh apa yang kalian benci itulah justru tujuan kalian berperang yaitu mencari mati syahid. Kita tidak memerangi lawan karena jumlah, kekuatan dan banyaknya jumlah mereka! Tidaklah kita memerangi mereka kecuali karena agama ini (Islam) yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka marilah kita berangkat. Kemenangan atas musuh atau mati syahid lah salah satu dari dua kebaikan yang pasti akan kita dapatkan…!”

Mendengar ucapan itu, para sahabat lainnya yang sebelumnya ragu-ragu, kembali membara semangat jihadnya. Akhirnya, usulan inilah yang diamini oleh seluruh pasukan Islam.
Setelah dua hari berdiam diri di Ma’an, pasukan kemudian bergerak menuju arah musuh yang sebelumnya telah lama menunggu kedatangan mereka. Hingga di suatu tempat yang bernama Masyarif, pasukan musuh melihat keberadaan mereka dan mulai bergerak mendekat ke arah pasukan Islam. Kaum muslimin kemudian menarik diri ke arah Mu’tah lalu membuat kamp di sana sambil menyiapkan diri untuk menghadapi lawan. Quthbah bin Qatadah al Adzri dipercaya memimpin pasukan di sayap kanan sedangkan untuk pasukan sayap kiri kepemimpinannya diserahkan kepada Ubadah bin Malik al Anshori.

Sebelum pertempuran pecah, Abu Hurairah yang saat itu turut serta dalam pasukan ini sempat ‘tidak pede’ ketika melihat kelengkapan persenjataan dan fasilitas yang dimiliki oleh musuh. Mengetahui hal itu, Tsabit bin Arqom lalu menegurnya,

“Abu Hurairah, ada apa denganmu? Sepertinya engkau sedang memperhatikan jumlah musuh yang banyak ya…” kata Tsabit bin Arqom.

“Betul sekali…” jawab Abu Hurairah

“Ingatkah engkau pada saat perang Badar? Kita meraih kemenangan saat itu bukan karena disebabkan jumlah pasukan!” ujar Tsabit memberi motivasi kepada sahabatnya sebelum pecahnya pertempuran.
Di kawasan bernama Mu’tah inilah, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Islam yang berjumlah tiga ribu orang melawan dua ratus ribu pasukan musuh yang disokong oleh kekaisaran Romawi untuk mengenyahkan kaum Muslimin. Zaid bin Haritsah yang menjadi komandan pasukan sekaligus pembawa panji perang umat Islam, maju ke arah musuh dengan gagah berani sambil mengayun-ayunkan pedangnya. Ia bertempur dengan penuh semangat meski luka mulai memenuhi tubuhnya. Akhirnya, setelah berjuang beberapa lamanya, ia roboh dan gugur di medan tempur setelah pasukan musuh berulangkali melancarkan serangan ke arah tubuhnya.

Gugurnya sang komandan bukan berarti menjadikan pertempuran selesai saat itu juga. Ja’far bin Abi Thalib langsung mengambil alih panji perang dan memimpin pasukan memerangi musuh. Ja’far akhirnya gugur di medan jihad akibat tubuhnya ditebas dan kedua tangannya dipotong oleh musuh. Panji perang segera diambil alih oleh Abdullah bin Rowahah. Beliau lalu melanjutkan pertempuran hingga akhirnya ikut menyusul kedua orang temannya yang terlebih dahulu gugur di medan jihad.

Otomatis dengan gugurnya Zaid, Ja’far dan Abdullah, terjadi kekosongan jabatan komandan pasukan Islam. Hal ini tidak boleh didiamkan lama-lama begitu saja, harus segera ada yang mengisi posisi ini. Jika tidak segera diangkat pemimpin yang baru, keadaan akan semakin memburuk.

Panji perang kaum muslimin yang lepas dari tangan Abdullah bin Rowahah segera dibawa oleh Tsabit bin Arqom.

“Wahai kaum muslimin sekalian! Tentukan salah seorang dari kalian untuk menjadi pemimpin pasukan..!!”  kata Tsabit.

“Engkau saja!” jawab orang-orang di sekitarnya.

“Tidak, aku tidak pantas untuk memegangnya..” balas Arqom.

Para sahabat kemudian merekomendasi agar komandan pasukan dipegang oleh Khalid bin Walid -yang saat itu turut serta dalam pasukan Islam- dan akhirnya beliau menerima mandat dari kaum muslimin sebagai pemimpin pasukan lalu memimpin kembali pertempuran.

Tatkala panji perang dipegang oleh beliau, ia kembali berperang dengan dahsyatnya. Dalam suatu riwayat beliau mengisahkan, “Pada saat pertempuran Mu’tah, ada Sembilan buah pedang yang patah di tanganku kecuali lempengan (pedang) buatan Yaman”. Hal ini mengisyaratkan betapa hebatnya pertempuran saat itu.
Strategi jitu Khalid Bin Walid

Awalnya Khalid bin Walid berhasil memimpin pasukannya bertahan di hadapan pasukan Romawi sepanjang siang hari. Pada hari pertama pertempuran, ia merasakan perlunya melakukan siasat perang yang mampu menyusupkan rasa takut di hati pasukan musuh sehingga mampu menarik mundur pasukan Islam dari medan tempur tanpa diikuti aksi pengejaran dari pasukan lawan. Beliau sadar betul bahwa melepaskan diri dari cengkeraman mereka sangat sulit bila kondisi kaum muslimin berada di medan terbuka dan musuh melakukan pengejaran jika mereka mundur.

Karena itu pada hari kedua pertempuran beliau mengubah formasi pasukannya dan mengatur strategi baru. Front pasukan terdepan beliau pindah ke belakang, dan yang belakang beliau tarik ke depan. Pasukan sayap kanan dipindah ke sayap kiri dan pasukan sayap kiri menempati posisi baru yaitu di sayap kanan. Sehingga nampak seolah-olah ada pasukan baru yang terlihat di mata lawan.

Ketika kedua belah pasukan berhadapan kembali di medan pertempuran, bala tentara Romawi kaget bukan kepalang melihat perubahan yang ada di pasukan Islam. Seolah-olah mereka telah mendapat pasukan tambahan dari Madinah. Rasa takut segera memasuki hati prajurit Romawi yang berhadapan dengan kaum muslimin.

“Mereka mendapatkan bala bantuan..!!” ujar salah seorang dari mereka kepada temannya.

Kedua belah pihak ini kembali terlibat bentrok lagi. Tetapi pada momen kali ini, pasukan Romawi berperang dengan rasa gentar menghadapi kaum muslimin. Setelah beberapa saat terjadi gesekan-gesekan, Khalid bin Walid sang komandan pasukan Islam mulai memainkan strategi keduanya. Secara bertahap sedikit demi sedikit beliau mulai menarik mundur pasukannya dari arena pertempuran sambil terus menjaga formasi tempur anak buahnya. Sesuai perkiraan, pasukan Romawi tidak melakukan aksi pengejaran karena beranggapan bahwa kaum muslimin ingin melakukan siasat tipu daya terhadap bala tentara Romawi dengan berusaha menjalankan siasat tertentu untuk menggiring mereka masuk lebih dalam lagi ke padang pasir.

Demikianlah, akhirnya pasukan musuh kembali ke negerinya tanpa berpikir akan melakukan pengejaran terhadap kaum muslimin. Sementara Khalid bin Walid beserta para sahabat berhasil mundur dengan selamat hingga kembali ke Madinah.

Dampak Pertempuran Mu’tah

Pertempuran Mu’tah memang berakhir seri. Namun dampak yang ditimbulkannya sungguh luar biasa bagi perkembangan dakwah Islam dan reputasi kaum muslimin di mata dunia. Berikut adalah kutipan pernyataan Syeikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri di bukunya yang berjudul ar rachiqul al makhtum:

“Walaupun dalam pertempuran ini kaum muslimin belum mampu melakukan pembalasan, namun pertempuran ini memiliki dampak yang besar bagi reputasi kaum muslimin, di mana seluruh bangsa Arab tercengang dan heran karenanya. Pasukan Romawi merupakan negara “super power” di muka bumi pada saat itu. Bangsa Arab mengira bahwa pertempuran yang dilakukan kaum muslimin itu sama saja dengan aksi bunuh diri dan mencari mati. Pertemuan pasukan kecil yang berkekuatan 3000 personil melawan pasukan besar yang berkekuatan 200.000 personil, lalu kepulangan mereka dari pertempuran tersebut tanpa mendapat kerugian yang berarti merupakan keajaiban. Ini menegaskan betapa kaum muslimin adalah manusia yang memiliki tipikal sendiri, tidak seperti yang sudah biasa dan diketahui bangsa Arab saat ini. Yaitu bahwa mereka dibantu dan ditolong oleh Allah dan bahwa pemimpin mereka (Nabi Muhammad SAW) adalah benar-benar utusan Allah. Karena itu setelah peperangan ini, kita melihat kabilah-kabilah Arab yang selama ini menjadi musuh bebuyutan dan selalu mengadakan pemberontakan terhadap kaum muslimin menjadi bersimpati terhadap Islam. Sehingga kabilah-kabilah; Bani Sulaim, Asyja’, Ghathafan, Dzubyan, Fuzarah dan lainnya menyatakan masuk Islam.

Perang Mu’tah ini merupakan permulaan pertemuan berdarah dengan bangsa Romawi dan mukaddimah serta persiapan bagi ekspansi penaklukan terhadap negeri-negeri Romawi dan pembebasan oleh kaum muslimin terhadap bumi yang amat jauh tersebut.

*Diambil dari berbagai sumber

Baca juga Artikel keren lainnya :

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s