How Deep is Your Love?

how deep is your love

Di sebuah institusi pendidikan di sebuah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia :

A : “Happy Valentine, Say…”

B : “Thanks ya…”

A : “Sebagai ungkapan cintaku padamu, ini aku kasih coklat…”

C : (kebetulan lewat dan melihat adegan diatas) “Woi…!! Kite pan orang muslim. Ngapain loe pade palentinan??”

A + B : “Masalah buat loe???”

Bagi yang hobi menonton sinetron, akan lebih terasa feelnya sewaktu baca script adegan diatas.

Valentine Day. Dua kata ini akan menjadi top browsing di hampir seluruh search engine  di dunia seperti G****e, dan menjadi top video di hampir seluruh video search engine seperti Y*****e, dan lain-lain. Apa sih itu Valentine? Bagaimana sejarahnya? Tulisan ini tidak akan membahas dua pertanyaan diatas karena setiap tahun selalu dibahas dan kalau pengen tau silahkan browsing, Anda akan menemukan jawabannya.

“Love”, empat huruf ini yang berkaitan erat dengan Valentine day akan menjadi topik dalam tulisan ini. Dijamin empat huruf ini adalah kata yang tidak pernah bosan dibahas bahkan sejak ada kehidupan di muka bumi ini hingga nanti di keabadian (lebaitisme). Sesuai dengan judul diatas yaitu “How Deep is Your Love” atau “Seberape Dalem Cinte Loe”, merupakan judul dari sebuah top hits international yang dinyanyikan pertama kali oleh Bee Gees. Sampai saat ini ada banyak penyanyi yang me-resong lagu tersebut. Berikut cuplikan liriknya :

I believe in you

You know the door to my very soul

Youre the light in my deepest darkest hour

Youre my saviour when I fall

How deep is your love

I really need to learn

Kalimat yang dicetak tebal adalah seuntaian kata-kata “hope” atau harapan yang ditujukan dari seseorang untuk seseorang. Sebuah harapan agar selalu dicintai dalam kondisi dan situasi apapun, bahkan ketika terjatuh dalam lubang keterpurukan sekalipun. Logikanya, ketika kita berharap maka ada hukum timbal balik yang terjadi disini. Ketika kita berharap kita diberikan sesuatu, maka seharusnya terlebih dahulu kita harus membuktikan bahwa kita layak mendapatkan sesuatu tersebut. Ada sesuatu yang harus kita berikan (baca : korbankan) sehingga harapan kita tercapai. Ketika kita ingin disayangi oleh oleh orang-orang disekitar kita, maka kita terlebih dahulu harus menyayangi mereka. Bagaimana caranya? (yang tau jawabannya ngacung!)

A : Dengan menunjukkan cinta kita minimal setahun sekali, apalagi kalau diwadahi oleh suatu event, contohnya valentine, akan semakin semarak. (deng! Jawaban yang salah)

B : Just saying I love You every day (boleh juga sih, tapi klo tidak diikuti dengan tindakan? Tong kosong nyaring bunyinya dong…)

C : Dengan tindakan (yang ini baru benar!)

Nb : A, B, dan C adalah pemeran yang sama dengan adegan pembuka. (thanks to them)

Mari kita bahas satu persatu jawaban mereka. Si A yang notabene seorang valentinefreak mengatakan bahwa cinta adalah pembuktian. Itu benar. Harus dibuktikan! Setahun sekali? Betapa dangkalnya cintanya kalau begitu. Apalagi kalau diwadahi oleh suatu event yang sama sekali asing di dunia peradaban Islam. Si A sejauh ini dapat dikategorikan sebagai follower peradaban non Islam. Sekarang mari sejenak kita simak hadist dibawah :

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Meniru-niru ini mengandung beberapa arti, yaitu menyerupai, mengikuti, menuruti atau bersesuaian. Didalam hal ini, islam memiliki ciri khas tersendiri yang berasal dari Allah SWT yang membedakan umatnya dari umat-umat lainnya, baik didalam aqidah, ibadah maupun akhlak. Karena itu, Rasulullah saw melarang setiap umatnya untuk mengambil atau meniru-niru prilaku yang menjadi ciri khas orang-orang diluar islam, sebagaimana disebutkan didalam hadits diatas.

Al Qori mengatakan bahwa maknanya adalah barangsiapa menjadikan dirinya meniru orang-orang kafir, seperti dalam berpakaian atau yang lainnya, atau meniru orang-orang fasiq, pelaku kejahatan, ahli tashawwuf, orang-orang shaleh atau orang-orang baik maka dia termasuk dari mereka, yaitu didalam dosa dan kebaikan.

Al Qomiy mengatakan bahwa barangsiapa yang meniru orang-orang shaleh maka dia akan mulia sebagaimana mereka telah dimuliakan. Dan barangsiapa yang meniru orang-orang fasiq maka dia tidak akan mulia. Barangsiapa terdapat pada dirinya tanda-tanda kemuliaan maka dirinya mulia walaupun kemuliaan itu belum terwujud padanya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan didalam “ash Shiroth al Mustaqim” bahwa Imam Ahmad dan yang lainnya telah berargumentasi dengan hadits ini. Hadits ini paling tidak menunjukkan pengharaman tasyabbuh (meniru-niru) mereka sebagaiamana didalam firman-Nya :

Artinya : “Dan barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al Maidah : 51)

Senada dengan perkataan Abdullah bin ‘Amr bahwa barangsiapa yang membangun suatu bangunan di tanah orang-orang musyrik lalu membuat perayaan hari raya mereka dan meniru-niru mereka hingga dirinya meninggal dunia maka dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka.”

Kembali ke TKP

Kalau begitu jawaban si A kita tolak saudara-saudara? (setuju…..!!!!!)

Sekarang kita bahas jawab si B. katanya “Just saying I love You every day

Yang ini juga dangkal, kalau si A tingkat kedangkalannya 96,67%, kalau si B 86,67% (mohon untuk tidak mempermasalahkan darimana datangnya angka-angka ini!). karena satu dan lain hal, jawaban si B tidak perlu dibahas.

Kita lanjutkan ke jawab si C : Dengan tindakan!. Tepat sekali.

So, “How Deep is Your Love” harus dibuktikan dengan tindakan, karena harapan kita hanya bisa tercapai dengan menerapkan hukum timbal balik. Terutama perkara cinta. Lalu, kepada siapakah harapan itu kita labuhkan? Orang yang kita cintai alias manusia. Dilihat dari segi statistika, jika kita berharap pada manusia, maka peluang untuk harapan itu terkabul pasti kurang dari 100 persen. Mengapa? Karena yang baca tulisan ini orang-orang cerdas maka pasti tau jawabannya. Lalu kepada siapa kita berharap? Siapa lagi kalau bukan kepada Sang Maha Pemberi Harapan, Maha pengabul doa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Allah Azza wa Jalla. Dia yang menciptakan kita, Dia yang memiliki kita, maka pasti Dia Maha Tau apakah dalam harapan yang kita sampaikan padaNya terselubung kebaikan atau keburukan untuk kita.

Kepada siapakah cinta itu kita hadiahkan? Siapa yang paling berhak memperoleh segenggam cinta yang kita miliki? definitely, totally, surely, always and forever Allah Azza wa Jalla. Kenapa harus Allah? Karena ketika kita mencintai Allah, maka cinta kita tidak akan bertepuk sebelah tangan. Jika kita ingin dicintai oleh Allah Sang pemilik cinta sejati, maka kita harus membuktikan diri kita layak mendapatkan cinta dariNya.

So, bagaimana caranya membuktikan How Deep is Your Love to Allah?

mencintaiNya berarti mencintai hukum yang telah ditetapkanNya, mencintai kekasihNya yaitu Nabi Muhammad SAW, dan mencintai kebiasaaan para hamba yang dicintai olehNya. Buka hati kita untuk melihat bagaimana Rasulullah mencintai Allah dengan menegakkan panji Laailaahaillallah dimuka bumi sehingga beliau rela dicaci maki, dihina, diinjak-injak harga dirinya oleh para penentangnya, bagaimana Abu Bakar mencintai Rasulullah sehingga beliau adalah sahabat pertama yang mempercayai apa yang dikatakan Nabi sementara semua orang menganggapnya gila, bagaimana Ali begitu mencintai Rasulullah hingga ia merelakan dirinya untuk dibunuh kafir Quraisy, bagaimana Abdurrahman bin ‘Auf begitu mencintai agamanya hingga ia rela menginfakkan setengah hartanya demi kepentingan islam, bagaimana Bilal begitu mencintai Tuhannya hingga ia rela dianiaya oleh kaum kafir, bagaimana Asiyah mencintai Rabbnya hingga ia rela menentang suaminya Firaun, bagaimana Ibrahim mencintai Allah hingga ia rela meninggalkan anak dan istrinya ditengah gurun pasir yang panas, dan masih banyak lagi kisah yang dapat kita teladani hingga kita dapat memetik satu kesimpulan dari kisah-kisah tersebut bahwasanya :

Cinta sejati tidak sekedar ucapan atau perayaan tahunan semata.

Cinta sejati adalah cinta tertinggi yang kita anugrahkan kepada Dia Sang Khalik,

Allah Azza wa Jalla, Sang pemilik jagat raya serta penghuninya

Dan cinta sejati itu bermuara pada satu tempat terindah di keabadian bernama surga

So, How Deep is Your Love to Allah?

Baca juga artikel keren lainnya :

Fatih 1453 & Fatih 2013 “Cintai Kecintaannya pada Allah SWT”

Detik Detik Kepergian Sang Kekasih Allah

Cinta, Sebuah Kata Kerja

Mencintai sejantan Ali

 

 

Advertisements

2 thoughts on “How Deep is Your Love?

  1. Tentang Valentine emang gak ada matinya.Sudah ribuan tulisan dan nasihat dari ustadz maupu tiap tahun tapi tetap aja seperti kata pepatah “Anjing menggonggong Khalifah tetap berlalu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s