Sosok “Al-Faruq” (Part 4) Tebusan

Kekuatan dan kemurnian yang sama bekerja dalam karakter unik seorang Umar setelah Islam resmi menjadi agamanya. Akan tetapi setelah keislamannya, karakter ini jauh lebih terasah dan lebih bersinar daripada sebelum masa keislamannya. Bidangnya bukan lagi patung-patung yang membisu di sekeliling Ka’bah, atau urusan-urusan tak bernilai yang berkembang di kota Mekkah, akan tetapi sekarang karakter ini berkaitan dengan langit dan bumi. Titik sentral perjuangannya kini adalah agama yang ia pahami dengan kecerdasannya yang cemerlang bahwa ia tidak akan berhenti di daerah pasir, unta, dan gandum, akan tetapi agama ini akan terus merayap ke Timur dan Barat hingga seluruh jagat tenggelam di dalamnya.

Dari sinilah muncul kecemasan dalam pribadi Umar sejak pertama ia memeluk islam, lalu ia berkata kepada Rasulullah SAW, “Bukankah kita berada diatas kebenaran, baik hidup atau mati?”

Rasulullah SAW menjawab, “Ya, engkau benar Umar. Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, kalian semua berada diatas kebenaran; hidup atau mati.”

“Kalau begitu mengapa kita harus sembunyi? Demi Zat yang mengutus engkau, marilah engkau keluar dan kami akan keluar bersamamu.”

Maka, keluarlah Rasulullah SAW beserta kaum muslimin dalam dua baris. Satu baris di dalamnya terdapat Umar dan barisan yang lain diisi Hamzah ra.

Dengan langkah yang diprakarsai Umar inilah langkah-langkah panjang yang penuh berkah dimulai dan terus berlangsung sampai seribu empat ratus tahun dan tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun…

Sesungguhnya seorang lelaki yang datang menghunus pedangnya untuk membunuh Rasulullah SAW, telah berubah dalam hitungan detik yang membahagiakan menjadi seorang yang beriman kepada Allah. Sekarang, setelah terbuka penutup hatinya, dengan lantang ia akan berkata, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan satu tempatpun dimana aku pernah duduk disitu dengan kekufuran, kecuali aku mendudukinya dengan keimanan!”

Setiap tempat yang pernah ia singgahi dengan menyebutkan kebesaran patung-patung kaum Quraisy, harus dihapuskan dengan mengagungkan kalimat syahadat “Tiada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ia akan membersihkan semua duri yang ditaburkan untuk menghalangi Rasulullah SAW dan para sahabatnya, diganti dengan lautan bunga yang ia tanam dengan rasa cinta dan pengorbanan. Sungguh ia akan membeli keamanan agama ini dengan hidupnya, seluruh hidupnya!

Untuk itulah, ia pergi ke tempat-tempat dimana ia pernah duduk disana dengan kekufuran untuk kemudian ia mendudukinya dengan keimanan. Apakah hal itu cukup? Tidak. Banyak pekerjaan besar yang kelak dilakukan Umar sampai ia merasa bahwa ia telah bersih dari kotoran-kotoran jahiliyah.

Ia menyebutkan bahwa keteguhannya memeluk agama kaum Quraisy adalah sebab terpenting mengapa ia melakukan intimidasi kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Sekarang setelah ia beriman, keislamannya mesti menjadi faktor utama kekerasannya melawan kaum yang memusuhi islam. Ya, jika kemaren kemusyrikan Umar menjadi salah satu sebab larinya kaum muslimin-yang ketika itu berjumlah sedikit-kerumah Arqam untuk beribadah secara sembunyi-sembunyi, sekarang keislamannya mestilah menjadi faktor penentu dilakukannya dakwah secara terang-terangan dan menghapuskan cara lama; berdakwah dibawah tanah dan bergerilya.

Dan Umarpun pergi menghadap Rasulullah SAW, lalu berkata, “Ya Rasulullah, apa yang menghalangi tuan? Demi Allah aku tidak meninggalkan satu majelispun dimana aku pernah duduk disana dalam keadaaan kafir, kecuali aku datangi untuk kemudian aku tunjukkan disana keislamanku tanpa rasa khawatir dan takut. Bisakah kita tidak menyembah Allah secara sembunyi-sembunyi lagi…?”

Lau Rasulullah setuju akan hal itu dan mulailah dakwah secara terang-terangan dibumi Allah yang luas.

Apakah Umar puas dengan hal itu? Tidak. Masih banyak langkah yang sangat mencengangkan akal. Umar senantiasa teringat bahwa dulu, ketika ia menjadi salah satu kafir Quraisy, berlaku sangat congkak. Ia pernah memukul sahabat Rasulullah dengan tangannya, maka hari ini ia ingin memberikan keangkuhan serupa bagi kaum muslimin. Jika sekarang ia belum berkesempatan untuk melemparkan kepala dan punggung pemuka Quraisy dengan kepalannya, maka ia ingin meninggikan gengsi siksaan yang diterima kaum muslimin dengan cara ia sendiri ikut tersiksa di dalamnya, agar mereka mendapatkan kebanggaan bahwa manusia raksasa nan kuat dan menakutkan ikut pula merasakan siksaan sebagaimana mereka merasakannya. Dengan demikian penyiksaan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang hina dan membuat jiwanya patah, meruntuhkan kemuliannya. Dengan hal itu pula Umar ingin menyempurnakan keislamannya dengan berdiri sejajar dengan kaum muslimin lain dalam membayar harga mempertahankan panji-panji Allah…!

Akan tetapi, bagaimana hal ini bisa terjadi…? Ia yang selalu ditakuti, dihindari sampai-sampai untuk membencinya dalam hati saja merupakan perjudian yang merugikan? Jika Umar ingin menjadi seorang pemenang, maka itu bukanlah sesuatu yang sulit. Akan tetapi jika ia ingin menjadi seseorang yang kalah dan tersiksa, maka ini adalah masalah besar yang membutuhkan kesabaran. Siapakah di antara seluruh kaum Quraisy yang berani memukul Umar??

Akan tetapi, Umar telah memutuskan dan berkehendak, maka ia harus mewujudkannya, harus ada jalan untuk mencapai keinginannya.

Lalu ia menggambarkan rencananya. Dimulai dari kunjungannya kerumah Abu Jahal. Ketika ia pergi kesana dan mengetuk pintu rumahnya, keluarlah Abu Jahal. Belum sempat Umar berkata-kata, Abu Jahal cepat-cepat menutup kembali pintu rumahnya. Gagal dari situ, Umar kemudian berjalan berkeliling ke rumah-rumah pembesar kaum Quraisy, ia menantang mereka dengan harapan salah satu diantara mereka berani menghadapi Umar. Akan tetapi mereka smeua takut dan mnghindar. Akhirnya pergilah Umar ke Ka’bah. Biasanya mereka berkumpul disana.

Mari kita mendengarkan ketika ia menceritakan sendiri apa yang terjadi:

Waktu itu orang-orang ramai memukulku dan akupun memukul mereka. Lalu pamanku datang dan berkata, “Ada apa ini?”

Mereka lantas menjawab, “Ini akibat perbuatan Ibnu Khaththab!”

Lalu pamanku memberikan jaminannya kepadaku seraya berkata, “Ketahuilah bahwasanya aku telah menjamin anak saudariku ini.”

Bubarlah manusia yang tadi mengerubutiku. Tidak satupun memukuliku, akan tetapi kaum muslimin yang lain masih dipukuli. Akupun datang menghadap pamanku, “Aku kembalikan jaminanmu kepadamu”

Ia berkata, “Jangan lakukan itu anak saudariku!”

“Tidak, aku kembalikan jaminanmu.”

“Jika begitu sudahlah. Terserah apa yang engkau lakukan.”

Setelah jaminan dari pamanku dicabut, akupun kembali berbaku hantam, memukul dan dipukul sampai kemudian Allah memuliakan kami dengan Islam.

Inilah perangai yang tampak dari seorang Umar. Sebuah karakter yang keikhlasannya terhadap sebuah tanggung jawab tidak bisa diusik oleh apapun dan tidak seorangpun yang bisa menutupi kecemerlangan jati dirinya. Lelaki yang mampu bersikap seperti ini pada masa awal keislamannya, adalah seorang lelaki yang akan kita temui nanti sebagai Amirul Mukminin yang meruntuhkan kekuatan Kisra dan Caesar.

Sumber : 5 Khalifah kebanggaan Islam oleh Syaikh Khalid Muhammad Khalid

Baca juga artikel keren lainnya :

Sosok Umar bin Khaththab “Al-Faruq” (Part 1)

Sosok Umar bin Khaththab “Al-Faruq” (Part 2)

Sosok Umar bin Khaththab “Al-Faruq” (Part 3)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s