Sang Kekasih dan Negeri Jahiliyah

Akan adanya seorang nabi penutup merupakan sebuah rencana besar yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kemuliaan itu telah dipersiapkan untuk menyambut sang kekasih sejak generasi awal Bani Hasyim lahir di muka bumi. Sebuah suku yang terpandang, memiliki derajat yang tinggi karena kebaikannya di mata masyarakat, hal ini akan menjadi naungan bagi nabi kelak. Sepeninggal Ibunda, Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Setelah kakeknya meninggal, hak asuhpun jatuh ke tangan Abu Thalib. Meskipun miskin, Abu Thalib dianggap termulia di antara saudara-saudaranya dan memiliki kedudukan paling terhormat di mata kaum Quraisy. Di samping itu, Abu Thalib adalah saudara sekandung Abdullah. Hal ini semakin menambah kuatnya hubungan darah dengan Muhammad Saw. dan juga memperkuat tali kasih sayang dan cinta kepadanya.

Abu Thalib menerima tanggung jawab ini dengan penuh bangga dan mulia. Istrinya yang baik, Fatimah bin Asad, turut pula membantunya. Mereka berdua lebih mendahulukan Muhammad dalam nafkah dan pakaian daripada diri mereka, bahkan anak-anak mereka sekalipun. Nabi Saw. telah mengungkapkan hal itu saat meninggalnya Fatimah binti Asad. Beliau berkata: “Hari ini ibuku meninggal.” Nabi Saw. mengkafaninya dengan pakaiannya dan meletakkan di liang lahatnya. semenjak masa kecilnya. Abu Thalib membela dan menolongnya dengan tangan dan lisannya sepanjang hidupnya, sehingga Muhammad Saw. tumbuh dan menerima wahyu serta  menjelaskan risalah (agama) secara terang-terangan

Kaum Quraisy terbiasa bepergian ke Syam sekali setahun untuk berdagang. Sebab hal itu merupakan sumber utama untuk mendapatkan pekerjaan. Abu Thalib berencana untuk bepergian. Namun dalam perjalanan ini beliau tidak berpikir untuk mengajak Muhammad Saw, karena beliau khawatir perjalanan tersebut akan melelahkannya dan berbagai bahaya yang biasa ditemui saat melewati padang pasir. Namun di saat hendak berangkat, Abu Thalib mengubah keputusannya, karena beliau mendapati kemenakannya sangat mendesaknya untuk ikut dan air matanya berlinangan lantaran berpisah dengan pamannya. Akhirnya, inilah perjalanan pertama Muhammad Saw. ke Syam bersama pamannya. Dalam perjalanan ini Muhammad mengenal ihwal bepergian melewati padang pasir dan mengetahui jalan-jalan yang dilalui kafilah-kafilah.

Di perjalanan, mereka bertemu dengan pendeta Buhaira. Tatkala mereka melihat sang pendeta, merekapun menurunkan barang bawaannya sembari membukanya. Sang pendeta kemudian menghampiri mereka. Sebelumnya sang pendeta tidak berpaling kepada mereka saat mereka masih berjalan diatas kendaraan. Setelah mereka menurunkan barang bawaan, sang pendeta menghampiri mereka. Tiba-tiba dia menggandeng tangan Muhammad dan berkata,

“Ini adalah pemimpin semesta alam. Ini adalah utusan Tuhan semesta alam. Allah telah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta.”

“Bagaimana mungkin engkau bisa mengetahui hal tersebut?”

Sang pendeta menjawab, “Tatkala kalian sampai di Aqabah, tidak ada satupun pepohonan atau bebatuan kecuali mereka sujud kepadanya. Mereka tidak akan sujud kecuali kepada seorang Nabi. Sesungguhnya aku mengetahui Nabi terakhir dari tulang muda bahunya yang seperti buah apel.”

Kemudian sang pendeta pergi dan membuatkan jamuan untuk mereka. Setelah itu sang pendeta datang sambil membawakan makanan. Tiba-tiba beliau melihat Nabi sedang menggembalakan untanya diluar. Lalu sang pendeta berkata, “Pergi dan temuilah dia. Kalian akan melihat dia dipayungi oleh awan.” Merekapun keluar dan berlindung dibawah pohon karena panas. Tetapi saat Muhammad duduk dibawah pohon tersebut, bayangan pohonpun beralih untuk melindungi Muhammad dari terik matahari. Sang pendeta memohon untuk tidak membawa Muhammad kepada penguasa Romawi, karena jika sampai penguasa Romawi mengetahui sifat-sifat yang dimiliki oleh Muhammad, pasti dia akan membunuhnya. Sang pendeta mendesak agar membawa Nabi pulang. Abu Thalib pun kembali ke Mekkah bersama kemenakannya, Muhammad SAW.

Memasuki masa remaja, Rasulullah mulai berusaha menarik rejeki dengan menggembalakan kambing. Rasulullah pernah bertutur tentang dirinya,”Aku dulu mengembalakan kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath.”  Selama masa mudanya, Allah telah memeliharanya dari penyimpangan yang biasanya dilakukan oleh 20 pemuda seusianya, seperti berhura-hura dan permainan nista lainnya. Bertutur Rasulullah SAW tentang dirinya :

“Aku tidak pernah menginginkan sesuatu yang biasa mereka lakukan di masa jahiliyah, kecuali dua kali. Itupun kemudian dicegah oleh Allah SWT. Setelah itu aku tidak pernah menginginkannya sampai Allah memuliahkan aku dengan risalah. Aku pernah berkata kepada seorang teman yang menggembala bersamaku di Mekkah,“Tolong awasi kambingku, karena aku akan masuk ke kota Mekkah untuk begadang sebagaimana para pemuda.”Kawan tersebut berkata “lakukanlah.” Lalu aku keluar. Ketika aku sampai pada rumah pertama di Mekkah, aku mendengar nyanyian, lalu aku berkata ,”Apa ini ?” Mereka berkata,“Pesta”. Lalu aku duduk mendengarkannya. Tetapi kemudian Allah menutup telingaku, lalu aku tertidur dan tidak terbangun kecuali oleh panas matahari. Kemudian aku kembali kepada temanku, lalu ia bertanya padaku, dan aku pun mengabarkan. Kemudian pada malam yang lain aku katakan kepadanya sebagaimana malam pertama. Maka aku pun masuk ke Mekkah, lalu mengalami kejadian sebagaimana malam terdahulu. Setelah itu aku tidak pernah lagi menginginkan keburukan.”

Ketika berusia sekitar 14 atau 15 tahun, Muhammad pernah ikut serta dalam perang Fijar. Dinamakan perang Fijar karena telah terjadi pelanggaran terhadap kesucian-kesucian Tanah suci Makkah yang dianggap suci oleh orang Arab. Nabi Muhammad mengomentari perang Fijar tersebut, “Aku membantu dengan memberikan beberapa batang anak panah kepada paman-pamanku yang dilemparkan oleh para musuh. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammad adalah sosok pemberani, satria, dan pantang mundur. Muhammad juga pernah mengahdiri persekutuan Hilful Fudhul yang diadakan untuk memperjuangkan kemuliaan dan merebut hak orang yang terzalimi. Beliau bersabda, “Aku menyaksikan persekutuan yang diselenggarakan oleh orang-orang mulia dari suku Quraisy, aku hadir bersama pamanku dan kala itu aku masih kecil. Sungguh onta berwarna merah tidak lebih aku sukai dibandingkan persekutuan itu.”

Perlahan tapi pasti Allah mendidik Nabi semenjak kecil untuk menjadi pemuda yang tangguh secara fisik dan mental yang kelak akan menerima wahyu dan menegakkan panji Allah di bumi jazirah Arab. Dan sungguh, setiap langkah perjalanan sang KekasihNya ini, Allah beserta alam semesta akan melindunginya dari segala bahaya.

Sumber :

Sirah Nabawiyah By Ibnu Hisyam

Sejarah lengkap Rasulullah By Prof.Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi

Baca juga artikel keren lainnya :

Kelahiran dan Masa Kecil Nabi Muhammad SAW

Kronologi Sejarah Peradaban Islam Part 1 (Kelahiran – Wafat Nabi Muhammad SAW)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s