Sosok “Al-Faruq” (Part 5) Hidup Matinya Untuk Tuhan

Apa yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu esok?

Dalam ungkapan ini terbentuk agama dan jalan hidup Umar. Dari ungkapan ini ia mengambil standar dan pertimbangan hidupnya. Di dalamnya terdapat jaminan keselamatan untuk menyeberangi dunia dan jaminan mengalirnya dunia dengan segala kenikmatannya kepadanya.

Di hadapan setiap asupan yang lezat, minuman yang dingin menyegarkan atau pakaian yang baru, air matanya bercucuran. Air mata yang membuat garis-garis hitam di bawah bola matanya sembari menggemakan kata-kata ini di dalam hatinya, “Apa yang hendak engkau katakan kepada Tuhanmu esok?”

Inilah ia Amirul mukminin yang panjinya berkibar di seluruh pelosok dunia, dimana manusia selalu menyambut pasukannya seolah pembawa kabar gembira. Inilah manusia yang ketika mengimami sholat, suara tangisannya terdengar hingga barisan paling belakang.

Inilah ia berlari-lari kecil mengejar seekor unta yang hilang dari kandangnya. Lalu ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib ra, dan Ali pun bertanya kepadanya, “Hendak kemana engkau Amirul mukminin?”

“Seekor unta sedekah lari dan aku pergi untuk mencarinya.”

Lalu Ali berkata kepadanya, “Sungguh engkau membuat kesulitan bagi orang-orang setelahmu.”

Kemudian Umar menjawab dengan suara gemetar, “demi Zat yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, jika seekor kambing lari ketepian Eufrat, niscaya Umar akan diminta pertanggung jawabannya kelak di akhirat.”

Apakah Umar takut kepada Allah seperti seorang budak yang takut akan ketukan tongkat atau bunyi pecut? Tidak, ketakutannya adalah ketakutan seorang yang merdeka yang percaya akan kebesaran Allah, tunduk kepadaNya dengan penuh penghormatan akan keagungan dan kebesaranNya, serta merasa malu jika menemuiNya dalam keadaan kekurangan, serba kekurangan…!!

Inilah ungkapan yang sering diulang-ulangnya :

Dahulu engkau amatlah rendah, lalu Allah tinggikan kedudukanmu. Dahulu engkau sesat, lalu Allah memberimu petunjuk. Dahulu engkau hina, lalu Allah memuliakanmu. Maka apakah yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu esok (di akhirat)?”

Akan tetapi, darimana datangnya kepribadian yang tegas, dan rasa malu yang hebat ini?

Sesungguhnya Umar telah dididik langsung melalui tangan Rasulullah dengan sebaik-baiknya pendidikan, ia senantiasa mengikuti jejak Rasulullah tanpa ada penyelewengan sejengkalpun, ia adalah seorang yang memiliki ketekunan beribadah yang luar biasa, memiliki corak tersendiri terhadap kesederhanaan, kedekatan dengan Allah, kezuhudan dan ketakwaannya. Apakah semua itu cukup memberikan ketenangan terhadap jiwanya yang senantiasa cemas?

Pada suatu hari ia duduk bersama Abu Musa al-Asy’ari, ia kemudian bertanya, “Hai Abu Musa, apakah engkau merasa senang jika keislaman kita bersama Rasulullah SAW, hijrah kita bersamanya, kesyahidan kita dan semua amalan yang telah kita lakukan dikembalikan Allah kepada kita hanya sekedar untuk menebus keselamatan kita. Kita tidak diberikan pahala apapun dan tidak ditimpa siksaan apapun?”

Abu Musa menjawab, “Tidak, demi Allah, hai Umar. Kita telah berjihad, shalat, puasa, mengerjakan berbagai kebaikan dan di tangan kita banyak sekali orang yang masuk Islam, kami mengharapkan pahala dari semua itu.”

Kemudian Umar berkata dengan air mata bercucuran, “Adapun aku, demi Zat yang jiwa Umar berada dalam genggamannya, aku berharap semua itu dikembalikan kepadaku hanya sekedar untuk menebus keselamatanku, tidak kurang, tidak lebih.”

Lihatlah!! Sejauh itu Umar merasa takut dan malu akan kebesaran Allah!! Padahal Rasulullah sudah mengabarkan jaminan surga untuknya.

Bagaimana Umar tidak berlaku demikian, sedang ia melihat Rasulullah sendiri menghabiskan malam-malamnya untuk beribadah dan bertahajud, sedangkan siangnya dipenuhi dengan puasa dan jihad. Jika dikatakan kepada beliau, “Mengapa engkau melelahkan diri dengan semua itu, bukankah Allah telah mengampuni semua dosamu yang sudah lalu dan yang akan datang?” akan tetapi beliau malah menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi seorang hamba yang gemar bersyukur?”

Inilah penghormatan kepada Allah dengan sebaik-baik penghormatan, rasa syukur kepada Allah dengan sebaik-baik rasa syukur. Inilah madrasah yang telah menempa Umar bin Khaththab, dari sinilah ia diwisuda. Sebuah madrasah yang jika penghuninya-diasumsikan-tidak merasa takut  kepada Allah, mereka tetap tidak akan berfikir untuk mengerjakan maksiat. Jika Allah akan membiarkan semua dosa berlalu begitu saja tanpa ada sanksi dan siksaanya, mereka juga tidak akan berfikir untuk melakukannya. Bahkan jika Allah berfirman, “Kerjakanlah apapun yang kalian sukai, sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian”, mereka tetap tidak akan berbuat hal-hal kecuali yang diridhai Allah SWT!

Suatu hari, hafshah bin Abil Ash mengunjunginya, saat itu Umar sedang menghadapi makanannya, lalu Umar mengundang Hafshah untuk makan bersamanya. Akan tetapi ketika melihat makanan yang disantap Umar adalah dendeng kering dan keras, ia tidak ingin merepotkan dirinya untuk menelan makanan itu, ia juga tidak ingin merusak lambungnya karena makanan yang susah dicerna. Iapun menolak tawaran Umar dan berterimakasih.

Amirul mukminin tahu mengapa ia menolak makanannya, lalu ia mengangkat pandangannya seraya berkata, “Apa yang membuatmu menolak makanan kami?”

Tidak ada pilihan lain bagi Hafshah kecuali berkata jujur, itu adalah makanan yang kasar dan keras, aku akan pulang kerumah dan makan makanan yang lembut dan telah disediakan untukku.”

Umar lalu berkata, “Apakah kau pikir aku tidak mampu menyuruh seseorang menyediakan kambing muda yang dikuliti bulu-bulunya. Lalu aku menyuruhnya untuk menyediakan biji gandum yang lembut dan membuat roti yang lunak darinya dan satu sha’ anggur kering yang kemudian diletakkan di dalam minyak samin, hingga ia berubah seperti mata burung puyuh, lalu disiram air diatasnya, sehingga ia seperti darah rusa, kemudian aku makan dan minum darinya?”

Lalu Hafshah berkata sambil tertawa, “Engkau memang ahli dalam makanan yang lezat!”

Umar pun menjawab, “demi Zat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, jika aku tidak takut kebaikanku akan berkurang, niscaya aku akan menyertai kalian dalam kenikmatan hidup. Dan jika aku ingin, maka aku akan menjadi orang yang paling lezat makanannya diantara kalian, paling mewah kehidupannya diantara kalian. Aku adalah orang yang paling mengerti makanan yang lezat ketimbang mereka yang memakannya. Akan tetapi kami tinggalkan semua itu untuk hari (kiamat), karena aku pernah mendengar Allah berfirman tentang kaum-kaum :

Kalian telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya…” (QS. Al-Ahqaf : 20)

Demikian rasa malunya terhadap Allah telah menjauhkannya dari kemewahan dunia, bahkan dari semua ketenangan dunia. Ia dan keluarganya tidak mau makan kecuali makanan pokok untuk kesehatan tubuh, tidak pulan menginginkan kehidupan kecuali sekedarnya saja.

Keinginan terbesar Umar adalah tetap menjadi Umar bin Khaththab, bukan Khalifah, bukan pula Amirul mukminin. Angin khilafah telah datang menghampirinya persisi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Ketika Abu Bakar membentangkan tangannya pada peristiwa Tsaqifah dan berkata, “Mana tanganmu hai Umar. Aku akan berbaiat  kepadamu.” Akan tetapi Umar tidak mau mengulurkannya, Umar dengan cepat membaskan dirinya dari tugas itu dengan berkata, “Engkaulah yang akan aku baiat . Engkau lebih utama dari padaku.”

“Tapi engkau lebih kuat daripadaku!”

“Seluruh kekuatanku aku persembahkan unutkmu dengan keutamaanmu.” Lalu Umar dengan cepat mengulurkan tangannya untuk membaiat Abu Bakar dan kemudian diikuti oleh seluruh manusia yang hadir pada saat itu.

Ketika Abu Bakar berpisah dengan dunia, dan berpesan agar posisi khalifah jatuh ketangan Umar, akan tetapi Umar menerimanya dengan terpaksa dan penuh keengganan untuk memimpin kaum muslimin. Seandainya pengunduran dirinya dari kursi kekhalifahan pada saat genting seperti itu tidak akan dianggap sebagai bentuk pelarian dari tanggung jawab yang akan dipertanyakan Allah kelak, niscaya ia akan menolak kekuasaan itu dan lari terbirit-birit…

“wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku kini menjadi pemimpin atas kalian, seandainya tidak ada harapan bahwa aku akan menjadi yang terbaik bagi kalian, yang paling kuat atas kalian, yang paling memperhatikan urusan kalian, niscaya aku tidak akan menerimas jabatan ini dan cukuplah Umar menantikan hisabnya…

Demi Allah betapa takutnya ia kepada Allah, betapa bersihnya, betapa shalehnya dan betapa suci hatinya…!!

Ia menolak segala bentuk kenikmatan duniawi karena ia takut lidahnya menjadi gagap di hadapan Allah SWT. Ia merasa enggan menerima jabatan kekhalifahan meski ia terkenal sangat adil, brilian, dan jujur, karena ia merasa takut lidahnya akan terbata-bata di hadapan Allah SWT.

Umar pernah berkata kepada Abdurrahman bin Auf, “Hai Abdurrahman, aku telah berlaku lembut kepada manusia ketika aku merasa takut kepada Allah, kemudian aku berlaku keras ketika aku merasa takut kepada Allah. Demi Allah aku adalah orang yang sangat besar rasa cemas dan takutnya terhadap Allah, dimanakan jalan keluar?”

Umar berkata demikian dengan menangis tersedu-sedu. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata setelah ia menyaksikan pemandangan yang luar biasa ini :

“Sungguh engkau memberatkan orang-orang sesudahmu.”

Dialah Umar yang dijuluki “Al-Faruq” oleh Rasulullah setelah Allah memisahkan antara haq dengan bathil, antara sembunyi dengan terang-terangan dengan keislamannya.

Sumber : 5 Khalifah kebanggaan islam Oleh Syaikh Khalid Muhammad Khalid

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s