Berhala Kekhusyu’an

Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, penat, pegal, dan pening. Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah ramai, dan asing di tengah khalayak. Di Masjid itu ia menemukan ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. Ketika air itu menyapu, ia seperti bisa melihat noktah-noktah hitam dosanya luntur berleleran, mengalir hanyut bersama air. Dalam shalatnya ia benar-benar merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta. Tiap bacannya seolah dijawab olehNya. Ia merasakan getar keagungan. Ini pertama kalinya ia bisa terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya diselimuti perasaan tentram, sejuk, penuh makna. Dia merasakan sebuah ekstasi.

Saat lain ia lewat di Masjid itu. Ia memang sengaja ingin shalat disana. Ia rindu kekhusyu’annya. Masjid ini memancarkan keagungan. Pilar-pilarnya tegak kokoh, berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah lingkarannya manis dengan ukiran geometris. Lampu-lampunya remang dibingkai logam mengilat bersegi delapan. Lantainya lembut menyambut setiap sujud, dingin menyejukkan khas granit hitam.

Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang berukir ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini ia tak menemukan getar itu. Ia kehilangan kekhusyu’annya. Benar. Ia kehilangan semua perasaan itu. Tak ada ekstasi. Tak ada kelezatan ruhani. Tak setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia menguluk salam. Ke kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di dinding selatan. Terbaca olehnya, “Barang siapa mencari Allah, ia mendapatkan kekhusyu’an. Barang siapa mengejar kekhusyu’an, ia kehilangan Allah.

Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an. Khusyu’ menjadi tujuan, bukan sarana menuju Allah SWT. Maka perhatian utama dalam shalatnya terletak pada bagaimana caranya agar khusyu’, atau setidaknya terlihat khusyu’. Aduhai, andai kau tahu bagaimana Sang Nabi dan para sahabatnya shalat. Mereka khusyu’ karena shalat benar-benar perhentian dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para pejuang. Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang melilit melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati.

Seperti para penyembah Al-Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan, berhala kehusyu’an juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya mengutip kisah bahwa Ali bin Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika beliau shalat, agar sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. Tak salah juga meneladani ‘Abbad bin Bisyr yang tetap melanjutkan shalat meski satu demi satu anak panah mata-mata musuh menancap di tubuh. Tapi apakah hanya itu yang disebut khusyu’?

Sang nabi adalah manusia yang paling khusyu’. Dan alangkah indah kekhusyu’annya. Kekhusyu’an yang seringkali mempercepat shalat ketika terdengar olehnya tangis seorang bayi. Atau memperpendek bacaan saat menyadari kehadiran beberapa jompo dalam jama’ahnya. Kehusyu’an yang tak menghalanginya menggendong Umamah binti Abil ‘Ash atau Hasan bin Ali dalam berdirinya dan meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyu’an yang membuat sujudnya begitu panjang karena Husain bin Ali main kuda-kudaan di punggungnya.

Sahabat, inilah jalan cinta para pejuang. Khusyu’ dan gelora kenikmatan ruhani hanyalah hiburan dan rehat, tempat kita mengisi kembali perbekalan dan melepas penat. Ini adalah jalan cinta para pejuang. Bukan jalan para pengejar kenikmatan ruhani, hingga harus mengulang-ulang takbiratul ihram sampai sang imam ruku’. Ini bukan jalan para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam saja menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah yang kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya yang selalu terkunci. Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. ada yang merasa diri mukmin yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa terharu saat membagi zakat, bisa berdzikir hingga hilang kesadaran saat berpuasa, atau berhaji setahun sekali; terbuta mereka dari dunia Islam yang serak memanggil-manggil.

Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai urusan pribadi. Urusan pribadi untuk menikmati kesyahduan spiritual. Bagi mereka alangkah nikmatnya shalat khusyu’ di atas sajadah mahal, dalam ruanagn berpendingin, dengan setting pemandangan yang bisa di atur berganti-ganti. Khusy’ adalah menikmati bacaan imam bersetifikat dari audio premium, dalam hembusan harum parfum aromaterapi. Jauh disana di jalan cinta para pejuang, Sang Nabi shalat di sela-sela jihad menegakkan syari’at. Dengan debu, dengan darah, dengan lelah, dengan payah.

Yang lain, mencari pelariang dari tekanan dunia yang menghimpit. Menikmati rasa tentram karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya, rasa syahdu karena gigil tubuhnya. Ia bertapa menjadi makhluk paling dicintai Allah. Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika syari’at Allah dilecehkan. Tak pernah ia merasa terluka melihat kezhaliman. Dialah si burung unta yang merasa aman saat membenamkan kepalanya ke dalam pasir. Padahal tubuhnya terguguk tepat di depan pelupuk pemburu.

Ekstasi. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an. Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan tuhanmu. Dan tak hanya seorang muslim yang bisa mendapatka ekstasi macam itu. Tanyakan pada seorang Budha, penganut Zen, Tao, atau praktikan Yoga. Merekapun mengalaminya lewat meditasi dan serupa puja. Seorang Nasrani dari Ordo Fransiskan yang melarat merasakannya dalam pengembaraan bertelanjang kaki ala kemiskinan kristus. Seorang Nasrani dari Ordo Benedktin yang mewah menikmatinya dalam mengoleksi relik-relik suci peninggalan para bapa gerejawi.

Bukan. Bukan itu yang kita cari. Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja besar da’wah dan jihad. Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban walaupun dengan cara terlemah sekalipun berupa do’a, menyeru pada iman. Larilah hanya menujuNya. Walau duri merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah telapak. Sampai engkau lelah. Sampai engkau payah. Sampai keringat dan darah tumpah. Maka kekhusyu’an akan datang kepadamu ketika engkau beristirahat dalam shalat saat kau rasakan puncak kelemahan diri di hadapan Yang Maha Kuat. Lalu kau pun pasrah, berserah…

Saat itulah, engkau mungkin akan melihatNya, dan pasti Dia melihatmu…

Sumber : Jalan cinta para pejuang Oleh Salim A. Fillah

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Berhala Kekhusyu’an

    1. terimakasih sudah membaca artikel ini, dan link yang disarankan,,,
      berhala kekhusyu’an ini kalau dari sudut pandang saya pribadi ini tentang cara pandang sebagian orang mengenai cara berislam. bagi mereka, islam adalah milik mereka sendiri, orang-orang ini sangat mementingkan kedekatannya dengan Allah, dan tidak terlalu mempedulikan dakwah. yang penting dia islam dan dia dekat dengan Allah. Sementara Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah dimuka bumi. “menyebarkan kebaikan walaupun hanya satu ayat”

      Wallahu alam….

  1. maaf saya bisa minta penjelasan lebih lanjut tentang balasan di atas. yang pertama, saya belum faham apa maksudnya “islam adalah milik mereka sendiri”, dan mengapa sampai muncul kesimpulan bahwa orang tersebut tidak terlalu mempedulikan da’wah, tentu ada deretan fakta atau bukti yang memunculkan kesimpulan tersebut.

    1. izinkan saya menyampaikan beberapa poin terkait jawaban saya…
      1. ada beberapa orang yang hanya fokus pada ubudiyah sehingga interaksi sosial kurang maksimal. tidak bermaksud mengeneralisisr. sebagaimana Allah berfirman “iyya kana’budu waiyya kanasta’iinn” Hanya kepadaMu kami beribadah sebagai sebagai bentuk ibadaha Maghdho (murni sholat, puasa, zakat), dimana tujuan utama adalah ridho Allah
      2. dari konteks tulisan diatas. khusyu bukan tujuan utama, melainkan ibadah. namun apabila khusyu menjadi tujuan, dalam pandangan mahabbah dianggap belum sesuai. karena tujuan utama adalah Allah
      3. islam adalah miliknya sendiri maksudnya adalah memahami islam dengan keyakinan singkat. yang utama bagi pemilik keyakinan ini adalah mengingat Allah. sehingga tata cara diabaikan. termasuk ibadah maghdho. hal ini yang tidak diperbolehkan. hal tersebut yang dimaksud dengan “islam miliknya sendiri”
      4. bahkan demi mendapatkan cintaNya, tujuan kita pun harus selalu dievaluasi: apakah benar Allah tujuannya atau “title” semata.

      Nb: hasil konsultasi dengan “guru” saya

    2. kita bisa belajar dari salah satu pejuang islam yakni Khalid bin Walid yang dijuluki “Sang pedang Allah”. beliau pernah ditegur oleh Rasulullah karena membantai penduduk Bani jadzimah. saat itu Rasulullah memerintahkan beliau kesana untuk berdakwah bukan untuk berperang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s