Baghdad : Metropolis Intelektual Abad Pertengahan

MCS1985008K101

Layaknya New York di Era Modern, Baghdad boleh dibilang sebagai Ibu kota dunia pada abad pertengahan. Ketika Eropa dicengkeram kegelapan, Baghdad justru telah menjelma sebagai pusat peradaban terbesar dan menjadi tanah impian yang begitu memikat. Dibawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah, kota metropolis intelektual itu mencapai masa keemasannya dan telah mewariskan peradaban bagi dunia.

Kota yang diberi julukan 1001 malam itu berada di dataran subur, pusat pertanian Irak yang dilalui Sungai Tigris. Baghdad terletak di sebelah utara Sungai Eufrat dan sebelah barat laut Teluk Persia. Sebelum mencapai puncak keyajaannya pada abad ke-8 M, Baghdad telah dijelajahi dan ditempati manusia pada tahun 4000 SM. Persia, Romawi serta Yunani silih berganti menguasai Baghdad.

Baghdad yang berarti hadiah dari Tuhan itu mulai memasuki babak baru, ketika Islam menaklukan wilayah Irak. Pada 634 M, atas perintah Khalifah Umar bin Khattab, panglima tentara Islam, Khalid bin Walid menaklukan Persia. Islam pun disambut penduduk setempat. Awalnya, Baghdad belum begitu diperhitungkan, sebab umat Islam justru menjadikan Kufah dan Basrah sebagai basis pertahanan.

Kota Baghdad mulai memegang peranan penting , ketika Dinasti Abbasiyah menggulingkan Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus. Di bawah kekuasaan Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur, pusat kekuasaan beralih ke Baghdad. Khalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah itu, pada 762 M, menyulap perkampungan kecil itu menjadi sebuah kota baru.

Pemilihan Baghdad sebagai pusat pemerintahan didasarkan pada berbagai pertimbangan, seperti politik, keamanan, sosial serta geografis. Kufah dan Basrah yang lebih dulu berkembang tak dijadikan pilihan, lantaran kedua kota itu adalah basis lawan politik Abbasiyah. Kejian ilmiah pun dilakukan Khalifah Al-Mansur sebelum mendaulat Baghdad sebagai sentral pemerintahan.

Sebanyak 100 ribu ahli bangunan, mulai dari arsitek, tukang batu, tukang kayu, pemahat dan sebagainya dikerahkan untuk membangun Baghdad. Para pekerja itu didatangkan dari berbagai wilayah, seperti Suriah, Mosul, Kufah, Basrah hingga Iran. Dana yang dihabiskan untuk membangun Baghdad mencapai 3,88 juta dirham.

Uniknya, tata kota Baghdad dirancang berbentuk bundar. Sehingga, Baghdad pun dijuluki sebagai kota Bundar. Bak sebuah benteng pertahanan, sekeliling Baghdad dipagari tembok sebanyak dua lapis tembok yang besar dan tingginya mencapai 90 kaki. Di luar tembok dibangun parit. Seakan terinspirasi dengan perang Khandaq pada zaman Rasulullah SAW, parit itu digunakan sebagai saluran air dan benteng pertahanan.

Selain itu, di tengah kota bertengger Istana Khalifah nan megah bernama Al-Qasr Az-Zahabi (istana emas). Keindahan dan kemegahannya menunjukkan kehebatan Dinasti Abbasiyah. Untuk mempertegas keislaman, di samping istana berdiri Masjid Jami Al-Mansur seluas 100×100 meter. Kubahnya menjulang setinggi 130 kaki.

Kota Baghdad juga dilengkapi bangunan pengawal istana, polisi, tempat tinggal Khalifah, pasar dan tempat belanja. Untuk menuju pusat kota Baghdad, para pengunjung bisa melalui empat gerbang. Di sebelah barat daya ada gerbang Kufah, di arah barat laut terdapat gerbang Syam, di tenggara disediakan gerbang Basrah dan gerbang Khurasan yang terletak di arah timur laut.

Di setiap pintu gerbang terdapat menara pengawas dan tempat beristirahat yang dihiasi ukiran-ukiran nan indah. Sebelum tutup usia, Al-Mansur juga sempat membangun Istana Ar-Rufasah. Sebagai pendiri Baghdad, Khalifah menyebut kota itu sebagai Madinah As-Salam (kota perdamaian). Pada 800 M, Baghdad telah menjelma menjadi pusat peradaban, pendidikan, ilmu pengetahuan, perdagangan, ekonomi dan politik.

Baghdad mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan Khalifah Al-Ma’mun (813-833 M). Baghdad begitu termasyur, karena kekayaan peradaban dan kebudayaan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat. Baghdad pun begitu semarak dengan aktivitas keilmuan, bisnis dan pusat kekuasaan.

Kota baghdad yang indah dan megah telah melahirkan sejumlah ilmuwan besar di abad ke-9 hingga ke-13 M. Transfer pengetahuan dari yunani juga telah membuat Baghdad menjadi pusat pengembangan ilmu kedokteran, matematika, astronomi, kimia, literatur dan berbagai peradaban lainnya.

Sebagai sebuah metropolis intelektual, Baghdad juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas publik, seperti museum, rumah sakit, perpustakaan, pusat bisnis serta masjid. Kondisi Baghdad, pada era keemasan begitu kontras dengan keadaan Eropa yang tercengkeram dalam masa kegelapan. Baghdad telah menjadi jantung yang menggerakkan peradaban di seantero jagad.

Era keemasan Islam di Baghdad ditandai dengan berkembangnya ilmu agama, filsafat dan ilmu pengetahuan. Khalifah mendorong para ulama dan sarjana untuk berlomba-lomba mengkaji ilmu. Dengan tawaran gaji, fasilitas dan hadiah yang besar, para sarjana Islam menerjemahkan sederet karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia, Syria dan Koptik ke dalam bahasa Arab.

Kekuatan penuh kebangkitan Timur mulai tampak setelah Baitulhikmah yang didirikan Khalifah Harun Ar-Rasyid sebagai lembaga penerjemah berkembang menjadi perguruan tinggi, perpustakaan dan lembaga penelitian pada era Khalifah Al-Ma’mun.

Kehadiran Baitulhikmah mendorong Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan, filsafat, ilmu kesusasteraan dan syariat Islam di seluruh kerajaan Islam-termasuk dunia. Prestasi yang menonjol yang dihasilkan para sarjana di lembaga itu adalah penemuan susunan peta bumi. Pada masa itu juga diketahui cara menentukan arah kiblat bagi umat Islam untuk melaksanakan sholat. Ghirah ilmu pengetahuan dan agama di era keemasan Dinasti Abbasiyah tiu telah melahirkan sederet sarjana dan ilmuwan besar yang berpengaruh, seperti Al-Kindi.

Setelah 500 tahun berkuasa, kejayaan Dinasti Abbasiyah perlahan mulai meluntur. Pertentangan dan friksi yang terjadi di kalangan umat Islam mulai melemah. Cerita kebesaran dan keagungan berakhir tragis setelah Baghdad luluh lantak dihancurkan bangsa Mongol pimpinan Hulagu Khan pada 1258 M.

Ribuan sarjana dan 100 ribu warga Baghdad dibantai, perpustakaan, saluran irigasi, serta gedung-gedung bernilai sejarah dibumihanguskan. Peristiwa kelam yang terjadi tujuh abad lalu itu kembali menimpa Baghdad. Tahun 2003 lalu, lagi-lagi ibu kota Irak itu kembali dibumihanguskan tentara sekutu pimpinan AS.

Sumber : Menyusuri Kota Jejak Kejayaan Islam Oleh Tim Penulis Harian Republika

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s