Khalid bin Walid “Sang Pedang Allah” Part 1

Jenderal militer nan jenius yang memiliki gabungan kualitas Alexander Agung, Genghis Khan, dan Napoleon Bonaparte, Khalid-yang dijuluki “Saifullah” (Pedang Allah)-berhasil menaklukan Persia dan Bizantium, dua imperium terbesar dalam sejarah di zamannya tanpa bantuan siapapun.

Alexander Agung adalah seorang komandan militer besar; Genghis Khan adalah seorang prajurit yang sangat sukses, dan Napoleon Bonaparte adalah seorang ahli strategi berbakat. Namun, hanya satu jenderal militer yang memiliki semua kualitas tersebut dalam sejarah peperangan. Orang itu adalah Khalid bin Walid, “Sang Guntur dari Arab”. Seorang militer jenius tiada banding yang secara sendirian menaklukan dua imperium terbesar di zamannya. Seorang pria yang tidak banyak bicara, Khalid membiarkan prestasi unggulnya di medan perang yang berbicara untuknya. Ketika dia meledak keluar dari Arab, namanya menyebar bak api liar dan tak ada lawan yang lebih ditakuti musuh-musuhnya melebihi dirinya.

Putra Walid ini memiliki bakat alamiah sejak lahir, seorang jenius militer yang membaca kelemahan musuhnya bak tulisan di dinding, dan mampu mengilhami anak buahnya menuju kemenangan, meski sebelumnya nyaris kalah. Prestasi luar biasa dan sukses tiada dua yang dicapai Khalid ini menjadi cerita rakyat Islam. Bahkan sampai hari ini, seluruh anak di dunia Islam tumbuh besar dengan mendengarkan prestasi-prestasi heroiknya.

Khalid bin Walid bin Mughirah lahir di Makkah dari suku Quraisy yang terhormat. Dia berusia sekitar 24 tahun ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertamanya. Ayah Khalid, Walid bin Mughirah dikenal sebagai tokoh yang sangat dihormati dan dianggap sebagai salah satu orang yang paling bijaksana dan cerdas di generasinya.

Seperti ayahnya, sang putra tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat berprestasi. Dianugerahi bakat alamiah dan kekuatan fisik, Khalid meminati seni berperang dari usia sangat muda. Bahkan dia telah menguasai strategi, taktik, dan perencanaan perang kala masih remaja. Saat berusia 20 tahun, dia punya reputasi cukup bagus dalam hal keahlian memanah, menombak, serta berkuda. Dengan kata lain, dia seorang pemuda yang sangat tangkas, kuat secara fisik, dan cerdas.

Setelah Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun 622, para musuhnya di Makkah terkejut ketika mendengar Rasulullah dan para pengikutnya tidak hanya memikat masyarakat Madinah untuk memeluk Islam. Namun mereka juga berhasil menyatukan para penduduk Madinah atas dasar kesetaraan, persahabatan, dan persaudaraan manusia sebagaimana digambarkan oleh Islam.

Keberhasilan Rasulullah membuat orang-orang Makkah ketakutan, sehingga mereka memutuskan untuk mengambil tindakan langsung terhadap komunitas Islam yang baru lahir tersebut. Ketika bala tentara Makkah yang besar bergerak untuk melenyapkan para Muslim, Rasulullah dan para pengikutnya bertemu lawannya dari Makkah di Badar dan menang telak.

Akan tetapi, kemenangan gemilang ini secara dramatis berbalik tatkala orang-orang Makkah bertekad membalas kekalahan mereka sebelumnya dengan menyerang Muslim pada tahun 625 M. Berkat kecerdikan Khalid, pasukan Muslim menderita kerugian yang sangat besar dalam pertempuran ini. Intervensi Khalid-yang berusia 41 tahun-di menit-menit terakhir benar-benar membalik hasil pertempuran sehingga memberi kemenangan kepada orang-orang Makkah. Ini menandai awal karir militer yang mengagumkan dan tak tertandingi dalam sejarah peperangan.

Pada tahun 630 M, tahun kedelapan hijrahnya Rasulullah ke madinah, Khalid yang berusia 46 tahun menerima surat dari sudaranya Al-Walid bin Walid, yang telah masuk Islam. Surat itu berbunyi, “Dengan nama Allah yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Aku belum melihat sesuatu yang lebih mengejutkan daripada dirimu yang menjauhi Islam, meskipun dirimu adalah pria bijaksana. Tak seorang pun sekaliber dirimu seharusnya tetap tidak mengindahkan Islam. Rasulullah juga bertanya kepadaku, ‘Dimana Khalid?’ Beliau berkata, ‘Bagaimana bisa seorang pria seperti Khalid tidak tahu tentang Islam? Alangkah baiknya jika dia mengabdikan kemampuannya demi kepentingan umat Islam. Kita akan lebih menyukainya daripada orang lain.’ Saudaraku! Gantilah kerugian sekarang atas kesalahan yang telah kamu lakukan dalam pertempuran (melawan Islam).”

Surat ini mengejutkan Khalid sampai ke relung hatinya dan mendadak sinar Islam mulai berpendar di seluruh tubuhnya. Bersama seorang jenderal Muslim hebat lainnya, Amr bin Ash, Khalid pergi meninggalkan Makkah menuju Madinah dan memperkenalkan dirinya kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah!” tangis Khalid, “Aku ingat semua adegan pertempuran denganmu, serta perlawananku terhadap kebenaran. Tolonglah berdoa kepada Allah untuk memaafkanku.” Rasulullah menjawab, “Islam menghapus semua dosa yang dilakukan seseorang sebelum dia memeluk Islam.”

Pada kesempatan lain, Rasulullah bersabda, “Yang lebih baik dari kalian pada saat menolak Islam adalah yang lebih baik dari kalian dalam Islam ketika mereka memahami (iman).”  Kata-kata Rasulullah menyimpulkan kualitas Khalid sebagai seorang Muslim yang baru; sebelum menerima Islam, dia menjadi duri yang tajam bagi Rasulullah dan para sahabatnya. Namun setelah memeluk Islam, dia menjadi palu Yang Maha Kuasa yang membantu menghancurkan musuh-musuh Islam. Menyebutkan namanya saja mampu menggetarkan tulang belakang lawan-lawannya.

Mengingat kemampuan Khalid sebagai seorang tentara dan ahli siasat militer, Rasulullah memintanya menyertai pasukan Muslim dan menghadapi gerakan bawah tanah Bizantium yang berkemah di sepanjang perbatasan utara Arabia. Dipimpin tiga komandan Muslim terkemuka, Khalid sudah cukup gembira bisa menyertai pasukan ke medan perang sebagai prajurit biasa. Kala itu, tiga ribu Muslim berjuang melawan lebih dari lima puluh ribu tentara terlatih Bizantium yang bersenjatakan sangat lengkap.

Dalam pertempuran itu, ketiga komandan Muslim tumbang satu demi satu. Kala gelombang pertempuran mulai berbalik melawan pasukan Muslim, Khalid mengambil alih tombak kepemimpinan dan menyelamatkan hari itu. Sampai titik itu, pihak Muslim berada di ambang kekalahan. Namun kemudian, di tengah konflik yang berkecamuk, Khalid berhasil membalik peruntungan pasukannya dengan melancarkan serangan dari belakang, sehingga terkesan seolah-olah pasukan Muslim mendapat bala bantuan segar. Padahal Khalid hanya menarik sejumlah prajuritnya dari medan perang dan memerintahkan mereka menyerang dari belakang guna mengalihkan perhatian musuh. Kejeniusan Khalid ini memungkinkan pasukan Muslim menciptakan zona netral di antara mereka dan musuh mereka.

Rasulullah menerima berita kematian ketiga komandan Muslim melalui wahyu dan berkata, “Kemudian Saifullah (Pedang Allah) berhasil mempertahankan bendera dan membawa kemenangan pada hari itu.” Ini sebuah referensi atas prestasi heroik Khalid di medan perang. Sejak hari itu, Khalid dikenal sebagai “Saifullah”

Setelah Rasulullah wafatpada 632 M, kelompok-kelompok pembangkang pimpinan sejumlah oportunis dan penipu (seperti Musailamah, Tulaiha, dan Sajah) muncul dan membuat kekacauan di seluruh Arab. Penerus Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, bertekad memberikan sedikit pelajaran kepada para penjahat tersebut. Khalid berperan penting dalam mengakhiri semua kegiatan subversif di semenanjung Arab, sehingga dia menjadi penyelamat Islam di salah satu periode paling kritis dalam sejarah Islam itu.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s