Khalid bin Walid “Sang Pedang Allah” Part 2

Dengan tinjauan masa depannya yang besar dan pemahaman mendalam tentang kemampuan militer Khalid yang tidak biasa, Khalifah Abu Bakar mengirimkannya untuk menghadapi pasukan Persia dalam pertarungan sengit pada tahun 633 M. Persia melihat kemunculan Islam di negara-negara tetangga Arab sebagai ancaman bagi kepentingan mereka, sehingga mereka mulai memicu aktivitas bawah tanah melawan Negara Islam yang baru berdiri.

Karena tidak mentolerir gangguan Persia dalam urusan Islam, Khalifah Abu Bakar memanggil Khalid dan mnyuruhnya pergi memberi pelajaran perang kepada orang-orang Persia. Khalid beranjak keluar dari Arab dan berhadapan langsung dengan tentara Persia.

Dia kemudian menulis surat kepada jenderal militer Persia yang terkenal, Hurmuz, dan menjelaskan tujuannya, “Tujuan kami bukanlah untuk berperang melawanmu. Terimalah Islam dengan jalan damai maka kalian akan aman. Jika tidak, bukakan jalan kami kepada rakyat, sehingga kami dapat menjelaskan jalan hidup yang indah kepada mereka…jika kalian tidak menerima satupun syarat ini maka alternatif satu-satunya adalah menggunakan pedang. Sebelum menetukan alternatif ketiga, kalian harus ingat bahwa aku akan membawa orang-orang yang mencintai kematian melebihi kecintaan kalian pada kehidupan kalian.”

Hurmuz membuang surat Khalid dan menantangnya bertarung satu lawan satu. Khalid menerima tantangan itu dan menewaskan jenderal Persia paling terkenal itu dengan pedangnya, bahkan sebelum lawannya itu bisa bergerak. Pertempuran sengit kemudian terjadi.

Pasukan Muslim yang tak bersenjatakan lengkap dan tidak teratur, dipimpin oleh seorang militer jenius yang benar-benar tidak tertandingi, mengalahkan salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah. Tidak heran para sejarawan menganggap kemenangan Khalid atas Persia sebagai salah satu pencapaian terbesarnya. Secara total, Khalid berperang melawan Persia sebanyak lima belas kali dan selalu menang. Orang-orang Persia pun takut kepada Khalid melebihi apapun.

Setelah mengalahkan Persia, Khalid mengalihkan perhatian pada tindakan-tindakan infiltratif pasukan Bizantium. Mereka juga merasa takut dengan kekuatan negara Islam yang terus membesar. Secara tidak langsung mereka mendorong negara-negara tetangga untuk bangkit melawan Islam. Khalifah Abu Bakar memutuskan untuk menghadapi bahaya teror yang dimunculkan pihak Bizantium.

Khalifah Abu Bakar menciptakan empat batalion berbeda yang masing-masing dipimpin seorang komandan. Di bawah komando Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Amr bin Ash, Yazid bin Abu Sufyan, dan Shurahbil bin Hasanah, keempat batalion ditempatkan di berbagai arah. Karena Bizantium mengutus kontingen pasukan yang sangat besar, sang khalifah memerintahkan Khalid meninggalkan garnisum Persia dan bergabung dengan pasukan yang akan menghadapi Bizantium.

Pada Juli 634, Khalid bertemu dengan pasukan Muslim di Ajnadayn. Dia mengadakan pertemuan dengan semua komandan Muslim dan menyarankan salah satu dari mereka untuk mengambil alih komando tentara secara keseluruhan. Pasukan Muslim terdiri dari empat puluh lima ribu orang, sementara bala tentara Bizantium berjumlah sekitar seratus lima puluh ribu orang. Pertempuran Yarmuk yang menentukan, kini membumbung di cakrawala.

Seperti halnya pihak Persia, orang-orang Bizantium juga dibuat terpesona oleh kejeniusan Khalid. Mereka begitu menggebu ingin melihat pria yang dijuluki oleh para Muslim sebagai “Pedang Allah”. Setelah pertimbangan matang, pasukan Muslim (di bawah pusat komando Khalid) bertemu dengan tentara kekaisaran Bizantium yang bersenjata lengkap, dilatih secara profesional, dan punya motivasi tinggi. Peperangan sengit pun terjadi.

Di tengah pertempuran, Khalid menerima surat dari Madinah yang mengabarkan tentang wafatnya Khalifah Abu Bakar. Surat yang ditandatangani Khalifah Umar itu menginstruksikan Khalid untuk menyerahkan pusat komando tentara Muslim kepada Abu Ubaida bin Jarrah. Namun, Khalid memutuskan tidak mengungkapkan isi surat itu selama pertempuran berlangsung demi menghindari terjadinya kebingungan di kalangan tentara Muslim. Khalid melakukan langkah amat cerdas, karena memastikan tentara Muslim tidak kehilangan semangat atas berita wafatnya sang Khalifah.

Di bawah kepemimpinan Khalid yang cakap, empat puluh lima ribu tentara Muslim menghancurkan keperkasaan pasukan Bizantium. Begitu pertempuran selesai, Khalid menyampaikan berita wafatnya Khalifah Abu Bakar kepada tentara Muslim dan bersedia diposisikan di bawah komando Abu Ubaida bin Jarrah seperti halnya instruksi Khalifah Umar. Bagi Khalid, si militer jenius yang hebat, tidak masalah siapa yang memimpin. Yang terpenting baginya adalah Islam meraih kemenangan atas musuh-musuhnya.

Khalid hidup dengan amat sederhana, saleh, dan keras. Hidupnya didedikasikan untuk melayani Islam dan kaum Muslim. Mengenai Khalid, Khalifah Abu Bakar pernah berkata, “Wahai Quraisy! Sesungguhnya singa kalian, singa Islam, telah menerkam singa Persia, dan menghancurkan mangsanya. Para wanita tidak akan melahirkan manusia seperti Khalid untuk kedua kalinya.”

Sebagai seorang jenderal militer, Khalid memang sangat menonjol. Dalam sejarah perang, tidak ada jenderal militer yang meraih begitu banyak prestasi dalam waktu singkat seperti Khalid. Meskipun Khalid baru memeluk Islam beberapa tahun sebelum penaklukan Makkah pada tahun 630, dia menjadi salah seorang pendukung terbesar Islam segera memeluk keyakinan baru tersebut.

Keteguhan komitmennya, dedikasi tanpa pamrih, dan pengorbanan besarnya untuk Islam membuatnya menjadi simbol kebanggaan dan sukacita bagi seluruh umat Islam. Oleh tentara Muslim, dia dianggap sebagai karunia terbesar dan berkah dari Allah. Suksesnya yang tak tertandingi di medan perang meyakinkan banyak Muslim bahwa sepanjang Khalid bersama mereka, mereka tidak akan kalah.

Persepsi tentang Khalid yang tak terkalahkan di antara prajurit Muslim jelas mengganggu Khalifah Umar. Dia segera melengserkan Khalid dari tugas-tugasnya sebagai komandan tentara Islam. Keputusan ini bertujuan untuk mengingatkan para Muslim bahwa Allah-lah yang memberikan kemenangan. Lebih dari itu, Umar berpendapat bahwa Khalid tidak akan mampu mengalahkan Persia dan Bizantium tanpa dukungan dan bantuan dari Allah. Khalifah Umar melengserkan Khalid bukan karena cemburu atau dendam pribadi seperti pendapat beberapa sejarawan. Justru dia sangat menyukai Khalid dan menganggapnya sebagai salah seorang putra Islam terbesar.

Khalid meninggal dunia pada usia lima puluh delapan tahun karena sakit yang berkepanjangan dan dimakamkan di Him, Suriah. Keinginannya untuk menggapai kesyahidan tidak terwujud. Namun, Khalid mengerti mengapa dia tidak bisa mati di medan pertempuran, karena itu berarti kekalahan bagi “Pedang Allah”. Saat berita wafatnya Khalid disampaikan kepada Khalifah Umar, dia berkata, “Kematian Khalid telah menciptakan kehampaan dalam Islam yang tidak dapat diisi kembali.” Itulah kebesaran seorang pria yang secara sendirian menaklukan dua imperium terbesar dalam sejarah.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s