Abu Bakar As-Shiddiq

Satu-satunya orang yang ditetapkan Nabi Muhammad SAW untuk memimpin shalat selama beliau masih hidup, Abu Bakar-yang dijuluki As-Shiddiq (orang yang membenarkan)-memimpin pemerintahan demokratis pertama yang terlatih dan berpengalaman dalam sejarah Islam sebagai khalifah pertama Islam.

Jika kesalehan, kebajikan, dan kecintaan kepada Islam merupakan satu-satunya kriteria pilihan maka setelah Nabi Muhammad SAW, Abu Bakarlah yang pastinya akan memimpin jalan tersebut. Dalam sejarah Islam, tak ada orang yang dapat dibandingkan dengannya bila berbicara tentang kebenaran, wawasan ajaran-ajaran Islam, serta pengabdiannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sejak Awal, komitmen, ketulusan, dukungan sepenuh hati, dan bantuannya kepada Rasulullah sangat luar biasa dan unik. Sampai-sampai khalifah Umar mengakui tidak bisa melebihi Abu Bakar bila berbicara tentang pengabdian total dan dedikasi tulus demi kepentingan Islam. Jika pemimpin yang luar biasa seperti Khalifah Umar terhitung langka dalam sejarah manusia maka seseorang dengan kesalehan yang luar biasa, kebijakan yang mendalam, dan wawasan yang tidak lazim tentang ajaran-ajaran agama seperti Abu Bakar bahkan lebih langka lagi.

Abdullah bin Abi quhaifah-atau yang lebih dikenal dengan nama Abu Bakar-dilahirkan dalam klan Taym dari suku Quraisy. Beliau berusia dua tahun lebih muda dibanding Rasulullah. Tidak hanya menjadi teman dekat saat tumbuh remaja, keduanya juga punya kesamaan dalam banyak hal. Ini memperkuat persahabatn mereka saat tumbuh dewasa, bersama-sama saat melakukan ekspedisi perdagangan, serta sama-sama tidak menyukai penyembahan berhala dan praktik-praktik tidak adil lainnya di kalangan masyarakat Makkah kala itu.

Meskipun Abu Bakar seorang saudagar kaya, dia bersuara lembut, baik hati, dan sangat murah hati, di tengah masyarakat yang mementingkan materialisme dan keserakahan. Saat itu situasi Makkah begitu tak bermoral sampai-sampai masyarakat Arab mengubur bayi perempuan mereka hidup-hidup karena dianggap menjadi beban ekonomi keluarga. Seperti Muhammad muda, Abu Bakar membenci praktik-praktik menjijikkan seperti itu. Juga sering membantu kalangan yang membutuhkan, fakir, dan miskin semaksimal mungkin.

Setelah Muhammad menerima wahyu pertamanya dari Allah pada tahun 610 melalui Malaikat Jibril (saat dia sedang bermeditasi di Gua Hira’), dia berbagi berita dengan keluarga dekat sebelum memberi tahu sahabat baiknya, Abu Bakar. Hampir setiap orang yang diajak Rasulullah untuk masuk Islam mengajukan pertanyaan atau ragu-ragu, tetapi tak begitu dengan Abu Bakar. Begitu Rasulullah memberitahukan misi kenabiannya, Abu Bakar menerimanya tanpa keraguan sama sekali.

Waktu itu, jika ada orang yang mengaku mengenal Muhammad secara keseluruhan, orang tersebut adalah Abu Bakar. Sikapnya yang langsung menerima Islam adalah bukti kepercayaannya terhadap karakter, kepribadian, dan kejujuran Rasulullah. Sebaliknya, pengakuan Islam Abu Bakar menggembirakan Rasulullah karena Islam membantu memperkuat persahabatan mereka, yang selanjutnya menjadi pengabdian dan komitmen mereka seumur hidup.

Selama dua puluh tiga tahun, Abu Bakar memberi bantuan dan dukungan yang gigih kepada Rasulullah. Dia melibatkan diri dalam semua aktivitas yang Rasulullah lakukan. Juga menemani beliau dalam perjalanan menuju era baru dari Makkah ke Madinah demi Islam. Dalam proses tersebut, dia menderita kerugian dan penderitaan pribadi yang tak terhitung. Tetapi dia tak pernah ragu menggunakan kekayaannya yang berlimpah demi tujuan kebenaran. Karena Islam sudah menjadi modus vivendi (gaya hidup) dalam hidupnya. Kesejahteraan Rasulullah dan sekelompok kecil pengikutnya menjadi perhatian utama dan kegandrungan Abu Bakar.

Pada tahun kesepuluh kenabian terjadi satu peristiwa yang sangat penting, Isra’ Mi’raj (perjalanan satu malam dari Makkah ke Yerussalem, dan naik ke sidratul muntaha). Pada saat itulah shalat lima waktu ditetapkan. Sekembalinya dari perjalanan, Rasulullah menceritakan seluruh peristiwa itu kepada para sahabat dan para musuhnya. Akan tetapi, para pemimpin Makkah mengolok dan menertawakannya. Mereka lalu menemui Abu Bakar dan menceritakan ucapan Rasulullah kepada mereka. Orang yang serendah hati Abu Bakar pastinya tidak mempercayai kisah fantastis seperti itu, begitu pikir mereka.

Mereka bertanya kepada Abu Bakar, “Apakah kamu mendengarkan sahabatmu? Dia mengaku telah mengunjungi Yerussalem dan Sidratul Muntaha tadi malam, serta berbicara dengan Tuhan Yang Maha Esa? Apakah kamu percaya?” “Jika dia berkata seperti itu maka maka itu kebenaran mutlak,” jawab Abu Bakar tanpa ragu-ragu. Orang-orang Makkah sangat terkejut dengan keteguhan iman dan kepercayaan Abu Bakar kepada Rasulullah. Sejak hari tu, Abu Bakar dikenal sebagai “As-Shiddiq” (orang yang membenarkan).

Abu Bakar menonjol dalam segala hal dan tidak ada sahabat yang setara dengannya; dia melebihi harapan Rasulullah darinya dan melakukannya secara konsisten. Setelah hijrah Rasulullah ke Madinah pada tahun 622, Abu Bakar membeli sebidang tanah yang menjadi tempat peletakan fondasi Masjid Nabawi pada tahun 623. Abu Bakar juga memimpin haji pertama ke Makkah atas nama Rasulullah.

Abu Bakar lebih dari seorang sahabat, pendukung, serta orang dekat kepercayaan Rasulullah. Faktanya dialah orang satu-satunya yang ditunjuk Rasulullah untuk memimpin shalat selama beliau masih hidup. Di mata Rasulullah penilaiannya tak ada duanya. Meskipun tidak langsung menunjuk penggantinya sebelum meninggal, tetapi dengan menunjuk Abu Bakar untuk memimpin shalat harian, secara tersirat Rasulullah telah menunjukkan jalan masa depannya. Toh, Rasulullah meninggalkan keputusan akhir penetapan penggantinya pada kebijaksanaan sahabat-sahabatnya yang jumlahnya ribuan ketika itu di Madinah.

Dengan memilih untuk tidak mencalonkan penggantinya, Rasulullah menanamkan dan menggarisbawahi prinsip demokrasi dasar kepada masyarakat yang memiliki hak suara dalam memilih pemimpin mereka. Prinsip pemerintahan modern yang sangat maju seperti itu tidak pernah terdengar di abad ke tujuh. Namun Rasulullah sangat ingin memberikan hak suara kepada masyarakat dalam pemilihan pemimpin mereka.

Setelah Rasulullah wafat pada tahun 632, berita kematiannya menyebar begitu cepat di jazirah Arab. Ini mendorong banyak suku Arab yang baru memeluk Islam kembali memeluk kepercayaan lama mereka. Mereka mengira Islam akan habis setelah kepergian Rasulullah. Ini salah satu periode kritis dalam sejarah Islam. Komunitas muslim tidak bisa terlalu lama tanpa keberadaan pemimpin. Beberapa sahabat terkemuka Rasulullah termasuk Umar bin Khattab dan Abu Ubaida bin Al-Jarrah melihat potensi bahaya yang bisa terjadi dan memainkan peran penting dalam pemilihan pemmpin. Setelah diskusi dan perdebatan cukup panjang, para sahabat Rasulullah setuju untuk memilih Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah. Dia terpilih karena kemampuannya dalam hal kepemimpinan, wawasan mendalam mengenai ajaran-ajaran Islam, dan pengalamannya dalam masalah sosial politik. Dengan kata lain, dialah yang paling cocok memimpin negara Islam sepeninggal Rasulullah. Mari kita dengarkan kata-kata Abu Bakar ketika orang-orang membaiatnya sebagai khalifah :

“Amma ba’d…aku menerima kekhalifahan meskipun aku membencinya. Demi Allah aku lebih suka jika seseorang diantara kalian menempati kedudukan ini. sungguh kalian telah membebaniku untuk melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan Rasulullah padahal aku tidak layak mendudukinya. Rasulullah adalah hamba yang dimuliakan dan disucikan oleh Allah dengan wahyu, sedangkan aku hanyalah manusia biasa seperti kalian. Aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Karena itu dengar dan perhatikanlah. Jika kalian melihatku istikamah dalam kebenaran, ikutilah aku. Jika kalian melihatku menyimpang, luruskanlah aku.”

Setelah terpilih sebagai khalifah Islam pertama, Abu Bakar langsung pergi ke Masjid Nabawi untuk menyampaikan pidato pertamanya kepada masyarakat. Dia menyatakan, “Wahai rakyatku! Aku terpilih sebagai wali kalian, meskipun aku tidak lebih baik dari kalian semua. Jika aku benar, maka taatlah kepadaku. Jika ternyata aku salah, luruskanlah aku. Tentu saja kebenaran adalah kejujuran dan dusta adalah kebohongan. Siapa yang lemah diantara kalian sesungguhnya kuat disisiku sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya, InsyaAllah. Siapa yang kuat diantara kalian adalah yang terlemah disisiku sampai aku akan mengambil darinya hak orang lain yang diambilnya. Aku meminta kalian untuk mematuhiku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya. Jika aku mendurhakai Allah dan RasulNya, kalian bebas untuk tidak mematuhiku.”

Pidato ini merupakan tonggak penting dalam sejarah politik Islam, karena tidak hanya prinsip-prinsip konstitusional fundamental Islam diartikulasikan secara cakap, tetapi juga menggarisbawahi inti ajaran yang mengikat pemerintah yang sedang berkuasa dengan rakyatnya. Oleh karena itu pemerintahan khalifah Abu Bakar menjadi pemerintahan demokratis pertama yang terlatih dan berpengalaman dalam sejarah Islam, dimana pemimpinnya tidak hanya dipilih oleh rakyat, tetapi juga bertanggung jawab penuh terhadap mereka.

Khalifah Abu Bakar tidak memutuskan sesuatu secara sepihak. Dia membentuk sebuah dewan penasehat yang terdiri dari para sahabat terkemuka Rasulullah dan dia senantiasa berkonsultasi dengan mereka, sebelum menyetujui atau melakukan masalah penting apapun.

Segera setelah mengambil jabatan sebagai khalifah, Abu Bakar mulai mengambil tindakan terhadap suku-suku yang kembali pada praktik-praktik pra-Islam. Sikap tak kompromi khalifah Abu Bakar terhadap pemberontakan politik dan kerusuhan sosial membantu mengakhiri semua bentuk kejahatan politik dan sosial di Arab pada saat itu.

Setelah memulihkan perdamaian dan ketertiban di seluruh negeri, khalifah Abu Bakar mengalihkan perhatiannya pada musuh-musuh diluar negara Islam yang bersekongkol melawan kaum muslim dari wilayah-wilayah sekitarnya. Pada tahun 633, dia menunjuk Khalid bin Walid untuk menindak gerakan-gerakan subversif pasukan Persia. Tentara muslim mengalahkan Persia, serta membawa perdamaian dan ketertiban ke daerah itu.

Tahun berikutnya, elemen-elemen tentara Bizantium mulai melakukan serangan militer dan tindakan-tindakan provokatif lainnya ke wilayah Islam. Setelah berkonsultasi dengan dewan penasehat, khalifah mengambil tindakan tegas terhadap Bizantium. Ketika Heraklius mendengar berita tentang pergerakan tentara muslim, dia mengirimkan pasukan besar untuk menghancurkan lawannya. Dibawah kepemimpinan Khalid, 45 ribu orang muslim menumpas kontingen besar Bizantium yang berjumlah sekitar 150 ribu orang. Kepentingan penting dan luar biasa ini menjadi kisah Islam yang diceritakan sepanjang masa.

Hanya dalam waktu 2 tahun, khalifah Abu Bakar membantu mengubah nasib Islam. Lebih penting lagi, atas dorongan dan dukungan Umar, dia mengumpulkan semua perkamen (suhuf) Al-Quran yang dituliskan semasa Rasulullah masih hidup dan dijilid dalam bentuk satu buku (mushaf).

Pada tingkatan pribadi, Abu Bakar menjalani kehidupan dengan sangat sederhana, dia makan dengan sangat hemat dan senantiasa bangun di tengah malam untuk menangis di hadapan Tuhannya. Bagi Khalifah Abu Bakar, seorang pemimpin muslim terkemuka, negarawan besar, dan pemandu spiritual par excellence, kehidupan dunia ini hanyalah ilusi.kehidupan dunia hanya ada disini dan akan segera pergi. Hanya cinta dan kesenangan dengan Allah, sang Realitas Mutlak, yang penting baginya.

Hamba Islam yang mulia ini menghembuskan napas terakhir pada usia 61 tahun, dan dimakamkan di Madinah di samping Rasulullah. Sedemikian agungnya kebesaran khalifah Abu Bakar sampai-sampai Rasulullah pernah berkata, “Nama Abu Bakar akan dipanggil dari semua pintu surga, dan dia menjadi orang pertama dari golonganku yang akan memasukinya.” 

Sumber :

  • 100 Muslim paling berpengaruh sepanjang sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan
  • Abu Bakar Oleh Dr. Musthafa Murad
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s