Kairo : Kota Seribu Menara

Cairo City-tarih-22.03.2009.14.13.17

Kota seribu menara, itulah julukan yang disandang Kairo-salah satu kota penting dalam sejarah peradaban Islam. Pada abad pertengahan, ibukota Mesir yang berada di benua Afrika itu memainkan peranan yang hampir sama pentingnya dengan Baghdad di Persia serta Cordoba di Eropa.

Kairo yang terletak di delta sungai Nil telah didiami manusia Mesir Kuno sejak tahun 3500 SM. Mesir Kuno sempat mencapai kemakmuran dibawah penguasa Zoser, Khufu, Khafre, Menaure, Unas dan lainnya. Di masa itu, ibukota Mesir Kuno itu sudah menjadi salah satu kota yang berpengaruh di dunia.

Sejak 30 SM, Mesir dikuasai bangsa Romawi. Kekuasaan Romawi di Mesir akhirnya tumbang ketika Islam menjejakkan pengaruhnya pada tahun 641 M. Amar bin Al-Ash merupakan komando jenderal perang muslim yang pertama kali menancapkan pengaruh Islam di Mesir. Saat itu, Amar bin Al-Ash justru menjadikan Fustat-kini bagian kota Kairo-sebagai pusat pemerintahannya.

Di Fustat itulah, bangunan Masjid pertama kali berdiri di daratan Afrika. Fustat tercatat mengalami pasang surut sebagai sebuah kota utama di Mesir selama 500 tahun. Penjelajah dari Persia, Nasir-i-Khusron mencatat kemajuan yang dicapai Fustat. Ia melihat betapa eksotik dan indahnya barang-barang di pasar Fustat, seperti tembikar warna-warni, kristal dan begitu melimpahnya buah-buahan dan bunga, sekalipun di musim dingin.

Dari tahun 976 hingga 1075 M Fustat menjadi pusat produksi keramik dan karya seni Islami, sekaligus salah satu kota terkaya di dunia. Ketika Dinasti Umayyah digulingkan Dinasti Abbasiyah pada 750 M, pusat pemerintahan Islam di Mesir dipindahkan ke Al-Askar-basis pendukung Abbasiyah. Kota itu bertahan menjadi ibukota pemerintahan hingga tahun 868 M. sekitar 1168 M, Fustat dibumihanguskan agar tak dikuasai tentara perang salib.

Berdirinya Kairo sebagai ibukota dan pusat pemerintahan diawali gerakan penumpasan golongan Syiah yang dilancarkan penguasa Abbasiyah di Baghdad. Kongsi yang dibangun golongan Syiah dengan Bani Abbas untuk menjatuhkan Bani Umayyah akhirnya pecah.

Penguasa Abbasiyah mencoba meredam perlawanan golongan Syiah Ismailiyah dibawah pimpinan Ubaidillah Al-Mahdi. Setelah sempat ditahan, Ubaidillah akhirnya dibaiat menjadi khalifah bergelar Al-Mahdi Amir Al-Mu’minin (909). Pengganti khalifah Ubaidillah Al-Mahdi, Muizz Lidinillah mulai mengalihkan perhatiannya ke Mesir. Tahun 969 M, Mesir berada dalam kekuasaan Syiah Islamiyah. Sejak itu mereka membangun kota baru yang diberi nama Al-Qahirah atau kairo yang berarti “penaklukan” atau “kejayaan.” Pada 972 M, di Kairo berdiri Masjid Al-Azhar.

Kota Kairo tumbuh pesat setelah tahun 973, seiring dengan hijrahnya khalifah Mu’izz Lidinillah dari Qairawan ke Mesir. Sejak saat itu Kairo mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah. Dinasti itu menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Di masa itu Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, Pesisir laut merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz.

Kairo tumbuh dan berkembang sebagai pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudra Hindia. Kairo pun menggabungkan Fustat sebagai bagian dari wilayah administratifnya. Tak heran jika Kairo tumbuh semakin pesat sebagai salah satu metropolis modern yang diperhitungkan dan berpengaruh.

Pada era itu pula, Kairo menjelma menjadi pusat intelektual da kegiatan ilmiah baru. Bahkan pada masa pemerintahan Abu Mansur Nizar Al-Aziz (975-996) Kairo mampu bersaing dengan dua ibu kota Dinasti Islam lainnya yakni Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan Cordoba di bawah Dinasti Umayyah di Spanyol. Kini Universitas Al-Azhar menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka yang berada di kota itu.

Jika kedua dinasti lainnya mampu membangun istana, Bani Fatimiyah pun mampu mendirikannya. Selain itu ketiga dinasti yang tersebar di tiga benua itu juga berlomba membangun mesjid. Dinasti Abbasiyah di Baghdad bangga memiliki mesjid Samara, Dinasti Umayyah memiliki mesjid Cordoba, dan Fatimiyah memiliki mesjid Al-Azhar.

Fatimiyah mencapai kemajuan yang pesat dalam hal administrasi negara, karena pada ssat itu dinasti itu mengutamakan kecakapan dibanding keturunan dalam merekrut pegawai. Toleransi pun dikembangkan. Penganut Sunni yang profesional diangkat kedudukannya layaknya Syiah. Toleransi antar umat beragama begitu tinggi. Siapapun yang mampu bisa duduk di pemerintahan.

Diakhir masa kejayaan Fatimiyah, Kairo hampir saja jatuh ke tangan tentara Salib pada 1167 M. akan tetapi Salahuddin Al-Ayyubi bberhasil menghalaunya. Sejak itu Salahuddin kemudian mendeklarasikan kekuasaannya di bawah bendera Dinasti Ayubiyah-penganut Sunni. Dinasti itu hanya mampu bertahan 75 tahun.

Kairo kemudian diambil alih oleh Dinasti Mamluk. Sekitar tiga abad lamanya mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahannya. Ketika Baghdad dihancurkan bangsa Mongol pada 1258, pasukan Hulagu Khan tidak mampu menembus benteng pertahanan Kairo. Selama periode itu Kairo menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam dan gudang barang-barang dagangan untuk Eropa dan dunia timur. Kairo juga sempat dikuasai Turki. Sejak kekuasaan Turki berakhir pada 1517 M, kota itu sempat tenggelam dan mulai menggeliat lagi pada awal abad modern di bawah kepemimpinan Muhammad Ali. Kota itu menjelma menjadi pusat pembaruan Islam zaman modern. Demikianlah perjalanan panjang kota Kairo.

Jejak ilmu pengetahuan di bumi Kairo

Layaknya tiga metropolis intelektual abad pertengahan seperti Baghdad, Cordoba, dan Bukhara, Kairo juga melahirkan sederet ilmuwan muslim yang berpengaruh. Karena pada era kejayaan Dinasti Fatimiyah dan Mamluk Kairo telah menjadi kota tempat berkumpulnya para ilmuwan serta sarjana yang melakukan kegiatan ilmiah.

Memasuki abad modern, Kairo juga telah melahirkan sejumlah pemikir pembaruan Islam. Berikut adalah beberapa nama diantara sederet ilmuwan dan sarjana serta pemikir pembaru Islam yang muncul dari pusat peradaban Islam di benua Afrika itu :

1. Ibnu Al-Haytham

Dialah peletak dasar-dasar teori optik modern. Orang barat menyebutnya AL-Hazen. Lewat karya ilmiahnya, kitab Al-Manadhir atau kitab optik, ia menjelaskan berbagai ragam fenomena cahaya termasuk sistem penglihatan manusia. Selama lebih dari 500 tahun, kitab Al-Manadhir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik

2. Ibnu Al-Baytar

Nama lengkapnya Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Al-Baytar. Dia adalah ahli botani terkemuka di Arab sekaligus ahli obat-obatan yang banyak melakukan penelitian dan kegiatan ilmiah di Kairo. Dia berhasil mengumpulkan dan memberikan catatan terhadap lebih dari 1.400 jenis tanaman obat.

3. Jamaluddin Al-Afghani

Dia adalah seorang pemikir pembaruan Islam yang secara lantang menyuarakan pentingnya menegakkan solidaritas dan pertahanan terhadap imperialisme Eropa dengan kembali kepada Islam. Dalam perlawanannya terhadap penjajah imperialisme barat, Jamaluddin mengobarkan semangat persatuan Islam dengan jalan mengajak kembali kepada Al-Quran serta menghilangkan bid’ah dan khurafat.

4. Sayyid Qutub

Beliau lahir pada 1906 di sebuah desa bernama Qaha di wilayah Asyith, Mesir. Ideologi Islam dikemukakan sebagai ideologi alternatif. Baginya tak ada jalan lain selain menegakkan Islam. Dalam bukunya Haza Al-Din, dia menegaskan bahwa Islam satu-satunya agama wahyu dan dijamin kebenarannya dan dapat meningkatkan harkat manusia dan membebaskan dari berbagai ikatan daerah dan keturunan.

Sumber : Menyusuri kota jejak kejayaan Islam Oleh Tim Penulis Republika

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s