Apakah semua orang baik akan masuk surga?

Suatu hari salah seorang teman saya berkata,“I don’t know if I’m a good one or not”.

Lalu saya menjawab, “Baik atau tidak itu relatif, tergantung apa pembandingnya dan apa dasar hukumnya.”

Akhirnya lahirlah tulisan ini, sebuah susunan paragraf (tapi saya tidak yakin apakah susunannya sudah sistematis atau belum), tapi yang penting saya akan mencoba memaparkan ide saya tentunya berdasarkan dalil-dalil yang sumbernya tak diragukan lagi kebenarannya yaitu “Al-Quran & Hadits”

Apakah saya orang baik? dan apakah semua orang baik akan masuk surga?

Saya punya mantan bos di tempat saya bekerja. Kata orang dia orang baik. Kenapa dia dikatakan baik karena sebagai pemimpin dia orang yang bijaksana, pengertian, responsif, tegas, mau mendengarkan bawahannya, dan banyak lagi sifat lainnya yang ia miliki sehingga ia pantas mendapatkan gelar “orang baik”. Akan tetapi dia seorang nasrani. Sejak saya mengenal sifat-sifatnya yang katanya “orang baik”, saya jadi berharap mudah-mudahan suatu saat nanti Allah memberikan hidayah kepadanya hingga ia hijrah ke jalan Islam. Amiinn…

Saya pernah baca, di belahan negara lain dengan perbedaan waktu sekitar 12 jam dengan Indonesia, ada seseorang yang sangat dicintai oleh keluarganya. Ia adalah seorang ayah yang baik. Bertanggung jawab, lembut terhadap istri dan anak-anaknya, dan walaupun ia seorang workaholic, tapi dia selalu berusaha meluangkan waktu untuk keluarganya di akhir pekan. Lagi-lagi dia dikategorikan sebagai “orang baik”. Akan tetapi sayangnya dia adalah seorang yahudi.

Saya punya teman yang sempat sangat akrab dengan saya selama beberapa tahun. Dia seseorang yang humble, enak diajak ngobrol, anaknya sopan dan santun, mudah bergaul dengan semua kalangan. Yang jelas hampir tidak ada orang yang mengatakan bahwa dia bukan anak yang baik. Dia adalah “orang baik”. Dia muslim, tapi dia tidak menutup aurat.

Satu lagi teman saya, dia aktif di berbagai kegiatan sosial untuk membantu anak-anak homeless, anak-anak yatim, dia dan beberapa orang temannya juga memiliki sebuah perpustakaan untuk anak-anak kurang mampu. Di tengah kesibukannya bekerja dan sekolah, sebisa mungkin ia meluangkan waktu untuk mengajarkan anak-anak tersebut, sekedar membaca dan berhitung. Cita-citanya sangat mulia dan ia memiliki idealisme yang sangat tinggi, “agar anak-anak Indonesia semuanya tak terkecuali bisa membaca dan berhitung”. Kata orang-orang “he’s a perfect guy”. Dia seorang muslim, tapi sayangnya ibadahnya kurang sempurna. Bisa dibilang ia tidak pernah melaksanakan ibadah sunnah, bahkan ibadah wajib saja sering ketinggalan. Walaupun kata orang dia adalah “orang baik”

Setiap orang pastinya ingin mendapatkan surga. Ada yang ingin hidup di neraka?. Saya kira tidak ada. Selama kita 100% waras, pastinya kita menginginkan kehidupan abadi kelak di surga. Lalu, apakah semua orang baik akan masuk surga?. Seseorang yang berhak memasuki surga Allah tentunya adalah orang-orang yang dicintai Allah dan amalannya diterima disisiNya.

Ada beberapa syarat diterimanya amalan kita oleh Allah SWT, yaitu Tauhid (tidak menyekutukan Allah), ikhlas, dan ittiba’ kepada Rasulullah. Allah berfirman :

“Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin, maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan” (QS. An Nahl : 97).

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersetukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya. (QS Al Kahfi : 110)

Dalil lainnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dzat Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amal ibadahnya”.(QS : Al Mulk : 2). Fudhail bin ‘Iyaad rohimahullah seorang Tabi’in yang agung mengatakan ketika menafsirkan firman Allah, (yang artinya) “yang lebih baik amal ibadahnya” maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar (paling mencocoki Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kemudian beliau rohimahullah mengatakan, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Menurut istilah syar’I, ittiba’ yaitu meneladani dan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam keyakinan, perkataan, perbuatan dan di dalam perkara-perkara yang ditinggalkan. Beramal seperti amalan beliau sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.

Makna perkataan “sesuai dengan ketentuan yang beliau amalkan” adalah adanya kesamaan di dalam tujuan dan niat perbuatan itu – berupa keikhlasan dan pembatasan terhadap perbuatan itu dari segi wajib atau sunnahnya – karena tidak dapat dikatakan meneladani jika berbeda tujuan dan niatnya meskipun sama bentuk perbuatannya. Jika maksud melakukannya bukan untuk meneladani dan mencontoh maka tidak akan dikatakan sebagai ittiba’.

Ada banyak firman Allah yang memerintahkan kita untuk berittiba’ kepada Rasulullah.

 “Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah hendaklah kalian mengikutiku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

 “Pada hari ini telah telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maaidah: 3)

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (HR. At-Tirmidzi IV:149 dan Ibnu Majah II:1025)

Jadi, apakah semua orang baik akan masuk surga? Jawabannya adalah tidak.

Surga diciptakan untuk manusia yang berusaha setiap detik untuk Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan).

Surga diciptakan untuk manusia yang berusaha agar menjadi mukmin terbaik di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia, karena satu-satunya yang ia harapkan adalah keridhaan dan cinta Allah kepada dirinya.

Surga diciptakan untuk manusia yang mencintai Rabbnya, Allah SWT. Tiada Tuhan selain Allah.

Dan…

Mencintai Allah berarti…

Berusaha mentaati setiap perintahNya…

Berusaha menjauhi setiap laranganNya…

Mencintai hambaNya yang paling Ia cintai, Rasulullah SAW…

Karena sesungguhnya perjalanan manusia tidak lain merupakan sebuah rangkaian episode mengejar cinta Rabbnya…

Cinta tertinggi yang tiada satupun pembandingnya di jagat raya ini…

Tanpa cinta dariNya, maka manusia hanyalah seonggok daging dan tulang yang berjalan dimuka bumi…

Karena… CintaNya bukanlah cinta biasa…

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s