Mustafa Kemal Attaturk “Sang Pendiri Republik Turki Sekuler”

Ia lahir pada 1881, seorang pendiri negara Turki modern dan salah satu pemimpin politik paling berpengaruh pada masa modern. Mustafa Kemal dikenal dengan gelar kehormatan Attaturk (Bapak Bangsa Turki) dan ia muncul untuk menyelamatkan tanah airnya dari usaha pemecahbelahan oleh negara-negara Eropa.

Ketika mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16, Imperium Usmaniyah merupakan salah satu kekuatan politik dan militer besar pada waktu itu. Dari pintu gerbang Wina di Eropa sampai Yaman di semenanjung Arab dan dari Afrika Utara sampai Persia. Dinasti Usmaniyah melebarkan Supremasinya di Eropa, Asia, dan Afrika. Pada periode ini, para penguasa Usmaniyah berpengaruh seperti Muhammad (Fatih) II dan Sulaiman Agung memperluas batas-batas imperium mereka, serta mempromosikan seni, pengetahuan, dan arsitektur ke seluruh wilayah mereka. Dan dengan melakukan itu, mereka mengubah peruntungan Imperium Usmaniyah secara Radikal.

Pernah menjadi kekuatan politik, ekonomi, dan kultural yang luar biasa. Dinasti Usmaniyah tidak ayal mengalami kemunduran yang menyedihkan pada abad ke-17. Namun, manakala tanda-tanda kemunduran mulai terlihat jelas oleh semua orang, para penguasa Usmaniyah justru menganggap remeh situasi yang mereka hadapi. Ketika dinasti Usmaniyah melemah, kekuatan-kekuatan Eropa pun mulai meregangkan otot-otot mereka.

Mengahadapi kekacauan internal dan ancaman eksternal dari rival-rival Eropa, Dinasti Usmaniyah tidak lagi dalam posisi untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Bahkan pada abad ke-19 keseluruhan imperium berada dalam ambang kehancuran. Pada momen kritis dalam sejarah Usmaniyah ini, Mustafa Kemal yang merupakan salah satu pemimpin politik paling berpengaruh pada masa modern, muncul untuk menyelamatkan tanah airnya agar tidak dipermalukan oleh para pesaingnya dari Eropa.

Terkenal dengan gelar kehormatan Attaturk (Bapak Bangsa Turki), Mustafa Kemal dilahirkan di Salonika dari sebuah keluarga muslim kelas menengah ke bawah. Ayahnya, Ali Riza, merupakan seorang pegawai negeri junior, yang kemudian menjadi pedagang kayu yang cukup sukses. Semasa kanak-kanak, Mustafa dikirimkan ke sebuah madrasah Al-Quran oleh ibunya, tetapi dia segera berhenti dari sekolah itu setelah dihukum oleh gurunya. Dia kemudian bergabung dengan sebuah sekolah militer yang didanai pemerintah.

Meskipun tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menjunjung tinggi pendidikan Islam, Mustafa muda memilih pendidikan sekuler. Sebagai seorang pelajar yang pintar dan percaya diri, dia bercita-cita menjadi perwira militer ketimbang menjadi seorang ustadz seperti yang diharapkan ibunya. Setelah ayahnya wafat, beban menghidupi keluarga jatuh ke pundak ibunya yang masih muda. Sebagai orang yang sangat religius, dia mendorong putranya untuk meneruskan studinya.

Disekolah persiapan militer lokal, guru Mustafa (yang juga bernama Mustafa) menambahkan kata “Kemal” pada namanya untuk membedakan sang murid dari gurunya. Sejak itu dia dikenal dengan nama Mustafa Kemal. Sebagai seorang pelajar yang pandai, Mustafa sangat menonjol di sekolah (terutama dalam bidang matematika). Dia kemudian memasuki sekolah perang di Istanbul pada usia delapan belas tahun.

Di sekolah perang, Mustafa bekerja dengan amat keras dan mengombinasikan pendidikan militernya dengan aktivitas-aktivitas nasionalis. Dia menyelesaikan studinya pada usia dua puluh satu tahun dan ditawari bergabung dengan Sekolah Staf yang terhitung elite. Di sana para pelajar paling cemerlang dan berbakat dari seluruh negeri menerima pelatihan lanjutan dalam strategi dan taktik militer. Di Sekolah Staff inilah dia dan rekan-rekan sejawatnya menjadi sangat khawatir dengan problem-problem internal yang dihadapi masyarakat Turki Usmaniyah pada saat itu. Belum lagi ancaman-ancaman eksternal dari kekuatan-kekuatan Eropa yangs erakah.

Empat tahun setelah menyelesaikan pelatihan militer di Sekolah Staf, Mustafa menyaksikan sebuah pemberontakan massa terhadap kekuatan Sultan Abdul Hamid II, yang memuncak dalam bentuk revolusi Turki Muda pada tahun 1908 di bawah pimpinan Mayor Enver Pasya. Dipimpin oleh sekelompok perwira militer, gerakan Turki Muda menyerukan perlunya untuk segera melakukan reformasi politik-dari sistem politik otokratis menjadi sistem pemerintahan parlementer. Dengan begitu, kekuatan politik dapat dikelola dengan lebih efisien dan efektif, sembari menimbang tantangan-tantangan eksternal yang dihadapi Negara Usmaniyah pada saat itu.

Meski tujuan dan sasaran politik Turki Muda sangat penting dan patut dipuji, pemahaman mereka terhadap tantangan-tantangan internal dan eksternal yang dihadapi Negara Usmaniyah masih terlalu sederhana. Mereka sangat meremehkan ancaman-ancaman eksternal yang dihadapi negaranya saat itu. Keadaan ini membuat murka dan mengganggu Mustafa yang kala itu menjabat sebagai anggota Staf Jenderal Sekolah Staf di Salonika. Dia menjadi sangat kritis dengan kebijakan-kebijakan domestik dan luar negeri Turki Muda.

Sebenarnya, Mustafa merasa gerakan Turki Muda tidak serius menghadapi stautus quo dan bukannya melakukan reformasi politik yang berani demi menghentikan kebobrokan. Selain itu Mustafa juga marah dengan dekatnya ikatan-ikatan politik dan ekonomi mereka dengan Jerman. Sebagai sosok yang bangga menjadi orang Turki, dia ingin pemerintahan Usmaniyah bersikap mendiri dan mengatur negara mereka sendiri, tanpa interferensi kekuatan asing.

Kegagalan Sultan dan Turki Muda dalam melakukan reformasi radikal mendorong Mustafa untuk melontarkan ide-ide dan pemikirannya sendiri tentang cara menyelamatkan Negara Usmaniyah dari keruntuhan total. Kemudian pada tahun 1911, pihak Italian melancarkan serangan mendadak terhadap provinsi Usmaniyah, Tripoli dan Cyrenaica. Berhasrat mempertahankan negerinya, Mustafa ambil bagian dalam kampanye militer melawan Italia. Namun situasi kurang menguntungkan memaksa Usmaniyah menyerahkan Libya pada Italia.

Saat Negara Usmaniyah menghadapi tantangan-tantangan eksternal yang serius dari negara –negara besar Eropa, Mayor Enver Pasya mengundang angkatan bersenjata Jerman untuk datang dan membantu mereorganisasi angkatan bersenjata Turki. Mustafa sama sekali tidak menyukai keputusan ini. dia merasa Usmaniyah dapat melakukannya tanpa campur tangan asing dalam urusan-urusan dalam negeri mereka.

Yang membuat keadaan semakin buruk, pada tahun 1914, Usmaniyah terjun ke dalam Perang Dunia I sebagai sekutu Jerman. Keputusan ini benar-benar mengejutkan Mustafa. Sebagai ahli strategi militer yang berbakat, dia menganggap dasar keputusan ini sangat lemah dan yang diprediksinya akan membawa dampak besar bagi Negara Usmaniyah.

Sebagaimana yang diperkirakan, segera setelah perang berakhir, kekuatan Eropa yang menjadi pemenang membagi-bagi wilayah kekuasaan Usmaniyah di antara mereka sendiri. Pada masa krisis sejarah Usmaniyah ini, si pemberani Mustafa bertarung dengan gigih untuk mempertahankan wilayah-wilayah Usmaniyah. Setelah kembali ke Istanbul dari garis depan Arab, dia terkejut melihat bagaimana pasukan-pasukan Isnggris, Italia, dan Prancis-setelah meredam semua perlawanan Usmaniyah-memaksa Turki Muda untuk angkat kaki, sebelum mereka memasuki ibukota Usmaniyah.

Yang lebih mengenaskan, pihak sekutu mengizinkan Yunani, musuh bebuyutan Turki untuk ikut berperang dipihak mereka setelah menyerahkan kota Smyrna (Izmir). Ketika Mustafa diberitahu mengenai keputusan ini, dia tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Dia tidak siap membiarkan Yunani-bekas jajahan mereka-untuk menerapkan kekuatan dan otoritas pada sebuah wilayah Usmaniyah. Ini akan sangat memalukan dan merendahkan masyarakat Turki. Orang-orang Turki yang bangga dengan dirinya-kata Mustafa-tidak akan pernah bisa menerima keputusan semacam itu, apalagi hidup dibawah kekuasaan Yunani.

Tidak heran ketika pasukan Yunani mendarat di Smyrna, Mustafa mengabaikan Pemerintah Usmaniyah dan memobilisasi sebuah gerakan perlawanan untuk memerangi Yunani. Sudah dikenal sebagai seorang panglima militer dan ahli strategi yang cakap pada tahun 1915 (saat dia sukses mempertahankan Semenanjung Gallipoli dari Inggris dan sangat dipuji oleh kemiliteran Usmaniyah), tantangan yang kini dihadirkan oleh Turki di Smyrna merupakan sebuah proposisi yang benar-benar berbeda.

Namun, masyarakat Turki secara umum dan Mustafa secara khusus bertekad melawan pendudukan Yunani. Sebagai seorang orator yang menggugah dan motivator luar biasa, Mustafa mengunjungi desa-desa dan kota-kota di Turki, serta mengajak massa untuk bergabung dengan gerakan perlawanannya. Menurut Mustafa, tujuan dari gerakan massa ini adalah untuk menyelamatkan keutuhan wilayah Usmaniyah dan mendirikan pemerintahan pusat yang independen demi meraih kembali kedaulatan dan kehormatan nasional.

Kala Mustafa meminta pemerintah di Istanbul untuk mendukung kampanyenya, pihak penguasa tidak hanya mengabaikan seruan-seruannya, tetapi juga memintanya untuk kembali ke Istanbul. Dia menolak melakukan itu. Alih-alih, Mustafa sementara mengganti seragam militernya dengan pakaian sipil, serta mengorganisasi sebuah pertemuan rahasia di markasnya di provinsi yang dihuni orang-orang Kurdi, Sivas. Disana, seluruh delegasi-yang datang dalam selimut gelap malam- secra bulat memilih untuk membentuk sebuah pemerintahan tandingan dibawah kepemimpinan Mustafa.

Ini bukan hanya menandai awal dari berakhirnya pemeintahan boneka di Istanbul, melainkan juga menandai munculnya Mustafa sebagai pendukung gerakan kemerdekaan Turki. Setelah terpilih sebagai kepala pemerintahan tandingan, dia memutus hubungan Istanbul dengan wilayah-wilayah Turki lainnya. Langkah in secara otomatis mengisolasi pemerintah di Istanbul dan memaksa Sultan Muhammad VI untuk menghentikan kepemimpinannya dan memerintahkan pemilihan umum baru-yang sebagian besar dimenangkan oleh para pendukung Mustafa

Kekuatan-kekuatan Eropa yang membangun hegemoni mereka di seluruh wilayah Usmaniyah sangat waspada dan mulai mengamati dari dekat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Istanbul. Merasa jengkel terhadap ketidakmampuan pemerintah pusat untuk mengembalikan perdamaian dan ketertiban, pasukan Inggris memasuki Istanbul pada tahun 1920. Ibukota Negara Usmaniyah pun otomatis berada dalam penguasaan langsung kemiliteran Inggris.

Sebulan kemudian, Mustafa mengorganisisr Dewan Perwakilan Nasional Turki pertama di Ankara, di mana para delegasi memilihnya sebagai presiden. Sejatinya, jabatannya sebagai presiden hanyalah nama karena dia tidak memiliki kekuatan politik, uang atau bantuan eksternal. Bahkan pihak sekutu menilai dia dan pendukungnya tak ubahnya seperti para pemberontak yang layak ditangkap dan dihukum sebagai contoh bagi yang lain.

Namun, kegagalan mereka untuk menaklukkan semangat nasionalisme yang kini menyebar ke seluruh Turki akhirnya memaksa pihak sekutu untuk menyelenggarakan pertemuan penting di Paris. Disana mereka menyetujui syarat-syarat penarikan diri mereka dari Turki. Dalam pertemuan inilah Yunani diberikan lampu hijau untuk menginvasi Smyrna. Invasi Yunani atas kota tersebut semakin memperkuat posisi dan otoritas Mustafa sebagai pemimpin politik dan komandan militer. Jika kesuksesan mempertahankan Semenanjung Gallipoli meroketkan reputasi militer, prestasi luar biasa dalam menghadapi Yunani seketika menjadikannya sebagai pahlawan nasional. Dibawah kepemimpinan Mustafa yang cakap, pasukan Turki tidak hanya menumpas lawan mereka, Yunani, tetapi juga memaksa mereka angkat kaki dari Smyrna meninggalkan semua persenjataan mereka. Kemenangan di medan peperangan berhasil mengonsolidasikan posisinya sebagai pemimpin terbesar di Turki, sosok yang pernah memberontak terhadap Usmaniyah kini menjadi penyelamat Turki.

Setelah Turki membebaskan Smyrna dari tangan Yunani, Mustafa menuntut pihak sekutu untuk menarik diri dari Istanbul dan wilayah timur Thrace. Berkat kecerdasan dan keberaniannya, Turki selamat dari usaha pemecahbelahan negara-negara Eropa. Tindakannya juga mencegah penghancuran warisan dinasti Usmaniyah berusia enam ratus tahun, yang sekarang ini sangat dibanggakan oleh masyarakat Turki.

Sebagai pemimpin Turki yang merdeka dan independen, Mustafa menginisiasi reformasi total semua bidang politik, ekonomi, dan kultural di negara tersebut. Dia menghapuskan Kekhalifahan Usmaniyah, mengalihkan seluruh kekuatan politik kepada dirinya (Presiden Republik Turki), dan mengirim Abdul Majid, khalifah terakhir Usmaniyah, ke pengasingan di Swiss pada tahun 1924. Sebuah republik Turki yang sekuler pun muncul di peta dunia.

Dipengaruhi oleh ide dan pemikiran para pemikir pencerahan Eropa seperti Voltaire dan Rousseau, Mustafa ingin Turki menjadi sebuah negara modern dan sekuler seperti negara-negara Eropa lainnya. Namun, dia tidak mampu merekonsiliasi aspirasinya untuk menciptakan negara modern dan sekuler yang berkaitan dengan historis dan kultural Turki dengan Islam. Karenanya dia memunculkan reformasi total dalam bidang politik dan kultur guna mengedepankan visi masa depannya yang tidak jelas dan kontroversial. Mustafa melarang pakaian tradisional Turki-termasuk kopiah, mengganti kalender hijriah dengan kalender gregorian, melarang poligami dan pemakaian jilbab, serta memperkenalkan aksara latin di seluruh penjuru Turki. Dia juga mengampanyekan kesetaraan gender, tetapi gagal mempraktekannya sendiri. Mustafa sering memperlihatkan ketidaksukaannya pada simbol-simbol dan praktik-praktik keagamaan walaupun ia dibesarkan dalam keluarga muslim yang taat. Meski demikian tidak jelas apakah ia keluar dari Islam terutama karena dia sangat bersimpati terhadap basis-basis nasionalis Muslim. Seperti ketika dia menyediakan suaka politikbagi pemimpin Islam Sanusi yang saat itu diburu oleh pihak Italia.

Kontribusinya yang luar biasa dalam perang pembebasan diakui oleh semua orang, namun perilaku apatisnya terhadap agama dan reformasi kulturalnya yang diskriminatif kini menjadikannya seorang tokoh yang kontroversial, baik di Turki maupun seluruh pelosok dunia Islam. Bagaimanapun saat ini, tidak ada yang bisa menyangkal, dia dinilai sebagai salah satu pemimpin politik paling berpengaruh di abad ke-20. Terutama dampaknya terhadap perkembangan negara-bangsa yang modern di dunia Islam. Model pemerintahan sekuler ala Attaturk ini diikuti oleh para pemimpin lainnya seperti Reza Syah Pahlevi dari Iran (berkuasa 1926-1941)

Dikenal sebagai tukang minum berat, Mustafa Kemal Attaturk meninggal dunia akibat penyakit liver sitosis di Istana Dolmababce dalam usia lima puluh delapan tahun. Dia dimakamkan di Ankara, ibukota Turki modern.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah By Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s