Buah Cinta Muhammad SAW dan Khadijah

Rumah tangga Muhammad dan Khadijah berbalut kebahagiaan. Kegembiraan, kasih sayang, akhlak mulia, dan kejujuran menyelimuti kehidupan keduanya. Sebuah rumah tangga nan harmonis, penuh cinta dan rasa hormat.

Muhammad kini menjadi pedagang. Berbagai negeri ia kunjungi dengan membawa barang dagangan milik istrinya untuk dijual. Hasil penjualannya memberikan keuntungan berlipat ganda. Kekayaan Khadijah menjadi berlipat ganda namun mereka tetap hidup sederhana dan sering membantu orang miskin.

Kebahagiaan mereka kian lengkap dengan hadirnya enam anak dari rahim Khadijah. Mereka adalah al-Qasim, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah (julukannya adalah al-Thayyib dan at-Thahir). Semua anak Nabi memberikan keberkahan tersendiri. Mereka adalah anak-anak yang sopan, periang, cerdas, dan gemar menolong. Mereka sangat disukai teman-teman mereka.

Kebahagiaan Muhammad dan Khadijah tidak berlangsung lama. Mereka harus mengikhlaskan kepergian anak-anak mereka untuk selamanya. Semua putra mereka meninggal saat masih kecil, sedangkan putra-putri mereka hidup sampai masa Islam, memeluk dan ikut berhijrah. Namun, semuanya meninggal semasa beliau masih hidup kecuali Fathimah yang meninggal enam bulan setelah beliau wafat.

Di tengah keluarga Muhammad juga hadir dua anak asuh yaitu Zaid dan Ali. Kisah diasuhnya Zaid oleh Muhammad berawal saat ia diculik perampok yang beraksi di rumah pamannya. Saat itu Zaid yang berudia delapan tahun sedang bertamu di kediaman pamannya. Tak diduga datang perampok yang kemudian membawa Zaid.

Zaid lalu ditawarkan sebagai budak oleh para perampok di pasar-pasar. Saat itulah keponakan Khadijah yang bernama Hakim melihatnya. Ia segera membeli Zaid dan dibawa ke rumah Khadijah. Mulai saat itu Zaid menjadi budak di rumah Khadijah. Muhammad langsung menyukai Zaid, beliau lalu memutuskan mengangkat Zaid sebagai anaknya. Zaid sangat bahagia dan betah tinggal di keluarga tersebut, bahkan ketika keluarga kandungnya datang untuk menjemput Zaid, ia menolak untu pulang. Berbeda halnya dengan Ali. Muhammad tidak tega melihat kondisi pamannya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Abu Thalib tidak bisa lagi mengurus anak-anaknya secara maksimal. Muhammad tentu saja tidak pernah lupa dengan kasih sayang yang diberikan pamannya. Muhammad kemudian menawarkan diri untuk mengasuh salah satu anak pamannya yang bernama Ali. Tawaran tersebut diterima dengan senang hati, dan sejak saat itu Ali diasuh di tengah keluarga Muhammad. Ia tinggal di kediaman Khadijah bersama Zaid. Hari-hari penuh keceriaan memayungi keduanya selama berada dalam pengasuhan Muhammad dan Khadijah.

Sumber : The great story of Muhammad SAW Oleh Ahmad Hatta, dkk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s