Awal Mula Masa Kerasulan

Setelah peristiwa turunnya wahyu pertama di gua Hira’, Rasulullah bergegas pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Nabi segera menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid.

“Selimuti aku! Selimuti aku!”

Tubuh Nabi menggigil, raut wajahnya ketakutan. Khadijah heran melihat kondisi suaminya. Gerangan apa yang telah terjadi pada dirinya? Pikir Khadijah. Tanpa sempat bertanya, Khadijah segera menyelimuti tubuh suaminya. Beberapa saat kemudian, kondisi Rasulullah segera pulih. Khadijah lalu bertanya kepada Nabi SAW.

“Suamiku, apa yang terjadi pada dirimu?”

Rasulullah lalu menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Rasa takutnya belum juga hilang.

“Aku amat khawatir terhadap diriku!” kata beliau.

“Sekali-kali tidak! Allah sama sekali tidak akan menghinakanmu! Engkau adalah penyambung silaturrahim, pemikul beban orang yang mendapat kesulitan, penyantun orang yang papa, penjamu tamu, serta penolong setiap upayamenegakkan kebenaran.” Kata Khadijah memberi semangat.

Khadijah bersama Rasulullah kemudian berangkat menemui Waraqah sepupu Khadijah. Rasulullah kemudian menceritakan apa yang telah ia alami.

“Sungguh ini sama seperti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda pada masa itu! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!” ujar Waraqah setelah mendengar cerita Rasulullah.

“Benarkah mereka akan mengusirku?” tanya Rasulullah penuh keheranan.

“Ya, tidak ada seorangpun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan mereka akan dimusuhi. Jika aku masih hidup pada saat itu, niscaya aku akan membantumu sekuat tenagaku.” Tidak berapa lama setelah peristiwa itu, Waraqah meninggal dunia.

Setelah peristiwa itu, wahyu terhenti selama enam bulan. Rasulullah merasakan kerinduan yang mendalam akan datangnya wahyu. Terputusnya wahyu ini merupakan pelajaran Allah SWT agar Muhammad merasakan kerinduan untuk kembali mendapatkan wahyu setelah mengetahui bahwa dirinya telah diangkat menjadi seorang Nabi. Terputusnya wahyu menunjukkan bahwa wahyu bukan berasal dari diri Muhammad, tetapi dari Allah SWT. Logikanya, jika wahyu berasal dari Muhammad, kenapa harus terputus?

Wahyu kembali datang saat Muhammad berada di suatu lembah di Mekkah. Dia mendengar suara memanggil namanya. Beliau melihat ke kanan, tetapi tidak menemukan apa-apa. Nabi melihat ke kiri namun tidak melihat apapun, ketika melihat ke depan dan ke belakang, beliau juga tidak melihat apapun.

Rasulullah kemudian mendongakkan kepalanya ke langit. Saat itu juga beliau terkejut. Tubuhnya melonjak kaget tatkala melihat pemandangan di atasnya. Ternyata suara itu berasal dari malaikat yang dulu mendatanginya di gua Hira’. Malaikat itu tampak duduk di atas kursi di antara langir dan bumi.

Karena sangat terkejut, Nabi sempat tidak sadarkan diri beberapa saat. Setelah kembali siuman beliau pun pulang menemui Khadijah.

“Selimuti aku! Selimuti aku! Tetesi aku dengan air dingin!” kata Muhammad dengan suara bergetar.

Tanpa banyak tanya, Khadijah segera menyelimuti suaminya. Saat itulah turun wahyu,

Hai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bershkanlah pakainmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa. (Q.S Al-Mudatsir ayat 1-5). Peristiwa ini terjadi sebelum adanya kewajiban sholat, dan setelah itu wahyu turun secara teratur. Ayat-ayat tadi menandai awal mula masa kerasulan Muhammad SAW.

Sumber : The great story of Muhammad SAW Oleh Ahmad Hatta, dkk

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s