Al-Sabiqun al-Awwalun (Ali & Abu Bakar)

Keislaman Ali bin abi Thalib

Setelah mendapat perintah sholat, nabi Muhammad SAW dan Khadijah sering melakukan sholat di rumah. Hal ini dilihat Ali bin abi Thalib, yang kemudian bertanya kepada mereka.

“Apa yang kalian kerjakan tadi?” tanya Ali penuh keheranan.

“Ali, itu adalah sholat yang menjadi cara kami berdoa kepada Allah,” jawab lembut Rasulullah SAW. “Aku adalah Nabi yang diutus Allah untuk mengajakmu hanya beribadah kepada Allah.”

“Ali hanya diam. Ia tampak merenungi apa yang diucapkan sepupunya itu. Tidak lama berselang, ia menjawab, “Berilah aku waktu untuk berfikir,” kata Ali yang masih anak-anak.

Pada hari berikutnya, Rasulullah bertanya kembali kepada Ali.

“Bagaimana, Ali?”

“Ulangi apa yang engkau bicarakan kemarin, wahai Muhammad,” jawab Ali.

Rasulullah SAW mengulanginya dan akhirnya Ali bersyahadat, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau adalah utusan Allah.”

Para ulama menyebutkan, tiap kali waktu sholat tiba, Rasulullah mengajak Ali pergi ke lembah-lembah yang ada di pinggiran Mekkah. Dengan cara mengendap-endap, Ali mengikuti Rasulullah pergi ke tempat sunyi agar tidak terlihat oleh ayahnya, pamannya, dan kaumnya. Disanalah mereka berdua mengerjakan sholat. Baru menjelang sore, mereka kembali ke rumah untuk bergabung bersama keluarga yang disucikan oleh keimanan serta mendapatkan curahan kasih sayang yang melimpah.

Keislaman Abu Bakar As-Shiddiq

Abu Bakar adalah saudagar yang kaya raya, jujur, dan berakhlak mulia. Setelah nabi Muhammad SAW, ia adalah orang yang paling dipercaya di Mekkah. Kisah masuk islamnya berawal ketika dia mendapat kabar dari tetangga-tetangganya tentang Muhammad menjadi nabi.

Berita tentang dakwah Islam memang diketahui oleh orang-orang Quraisy meski nabi Muhammad SAW melakukannya dengan sembunyi. Itu terjadi setelah mereka melihat beberapa kejadian di sana-sini.

Menurut Muhammad al-Ghazali, meski kabar tentang dakwah Islam telah menyebar, orang-orang Quraisy tidak peduli. Mereka menduga bahwa Muhammad sama seperti Umayyah bin ash-Shallat, Qus bin Saidah, Amr bin Nufail, dan lainnya yang peduli terhadap urusan agama.

“Muhammad mengaku menjadi nabi. Dia meminta kita untuk tidak menyembah berhala lagi, tetapi kita tidak akan pernah meninggalkan berhala-berhala kita” kata para tetangga Abu Bakar.

Kemudian mereka meminta Abu Bakar untuk menemui Muhammad. Abu Bakar kemudian berangkat menemui sahabatnya Muhammad. Setiba disana ia disambut Rasulullah SAW dengan senyuman mengembang. Abu Bakar langsung mencecar beliau dengan pertanyaan.

“Wahai Abu Qasim, apa benar engkau telah mengaku sebagai nabi kepada orang-orang disini? Apa benar engkau tidak mau menyembah berhala dan tidak akan memeluk agama penduduk Mekkah?”

“Betul, Abu Bakar. Aku adalah nabi yang diutus untukmu dan semua manusia. Aku ingin semua manusia beriman dan menyembah Allah Yang Esa. Aku ingin engkau juga beriman,”

Abu Bakar menyimak dengan cermat apa yang diucapkan oleh Muhammad. Tak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya. Ia yakin, perkataan itu benar karena Rasulullah SAW tidak pernah berbohong. Tanpa banyak berbicara, Abu Bakar langsung bersyahadat.

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Rasulullah sangat gembira usai Abu Bakar berikrar. Beliau peluk dengan erat tubuh Abu Bakar. Jikalau dulu pertautan hati antara Rasulullah dan Abu Bakar didasari oleh rasa kasih sayang di antara keduanya, maka setelah Abu Bakar memeluk Islam ikatan tersebut berubah menjadi ikatan akidah yang sama-sama mengimani keesaan Allah serta rasa sepenaggungan dalam suka maupun duka.

Kini bertambah lagi manusia yang memeluk Islam dan itu adalah Abu Bakar, sosok yang sangat dihormati di Mekkah. Abu Bakar sangat bersemangat mendakwahkan Islam. Ia sosok yang ramah, luwes, dan berbudi luhur. Para tokoh dari kaumnya sering datang berkunjung untuk menemui Abu Bakar.

Setelah satu minggu Abu Bakar memeluk Islam, ada enam orang yang berhasil diislamkan olehnya. Mereka adalah enam dari 10 orang yang dijanjikan oleh Allah masuk surga, yaitu Usman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Islam semakin menyebar seantero Mekkah. Salah satu budak yang masuk Islam adalah Bilal bin Rabbah. Dr. Ramadhan Buthi dalam Fiqih as-Sirah menyebutkan dari 67 orang pertama yang masuk Islam, hanya 13 orang dari kaum budak, fakir miskin, hamba sahaya, dan orang-orang non Arab. Sisanya adalah dari orang-orang terpandang dan terhormat. Hal ini mengalahkan tuduhan kaum orientalis yang mengatakan bahwa sebagian besar pemeluk Islam pertama adalah para budak dan dhuafa dengan tujuan membebaskan diri dari status budak.

Sumber :

The great story of Muhammad SAW Oleh Ahmad Hatta, dkk

Sejarah lengkap Rasulullah Oleh Prof. DR. Muhammad Ali Ash-Shalabi

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s