Samarkand : Permata dari Timur

Samarkand

Naskah Arab kuno menjulukinya permata dari Timur”. Orang-orang Eropa menyebutnya “Tanah Para Saintis”. Kota nan megah dan indah itu sama tuanya dengan Romawi, Athena, dan Babilonia. Tanah legenda yang tahun ini berusia 2.757 tahun itu bernama Samarkand-kota terbesar kedua di Uzbekistan.

Keindahan Samarkand yang begitu terkenal sempat membuat kaisar Alexander Agung terpikat, tatkala menginjakkan kakinya pertama kali di tanah Samarkand, Alexander berkata, “Aku telah lama mendengar keindahan kota ini, namun tak pernah menyangka kota ini ternyata benar-benar cantik dan megah.”

Selain tersohor dengan keindahannya, Samarkand dikenal sebagai kota yang strategis. Kota legenda itu berada di tengah “Bayangan Asia”yang menghubungkan alur Sutera antara Cina dan Barat. Di era kejayaan Islam, Samarkand menjadi pusat studi para ilmuwan, itulah mengapa orang-orang Eropa mendaulatnya sebagai “Tanah Para Saintis”.

Samarkand merupakan salah satu kota tertua di dunia. Awalnya kota itu bernama Maracanda. Pada 329 SM, kota itu dtaklukkan Alexander Agung. Dua abad kemudian Samarkand menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Himyar (115 SM-33 M). Saat itu kota tersebut menjadi tempat bertemunya tiga kebudayaan yakni Barat, Cina, dan Arab.

Di abad ke-6 M Samarkand jatuh ke tangan Turki. Kota ini memasuki babak baru ketika ditaklukkan Islam pada abad ke-8 M. Dinasti Umayyah yang saat itu dipimpin khalifah Abdul Malik (685-705) menugaskan Qutaibah bin Muslim sebagai gubernur di wilayah Khurasan.

Ketika itu Samarkand dipimpin oleh Tarkhum yang telah melepaskan diri dari kekuasaan dinasti Cina. Qutaibah dan Tarkhum pun menjalin kesepakatan damai. Namun pengganti Tarkhun memaksa pasukan Muslim pimpinan Qutaibah untuk menaklukkannya. Pemerintahan Umayyah pun lalu menempatkan pasukannya di wilayah itu.

Perlahan tapi pasti ajaran Islan mulai diterima di Samarkand. Bahkan wilayah itu bersama dengan Bukhara sempat menjadi pusat islamisasi penting di Asia Tengah. Setelah Dinasti Umayyah digulingkan Abbasiyah, pasukan Islam dan Cina terlibat pertempuran yang dikenal dengan Perang Talas pada 751 M.

Umat Islam pada masa keemasan itu mulai mentransfer ilmu dan cara pembuatan kertas dari dua tahanan perang asal Cina. Tak salah bila Samarkand dijuluki sebagai kota tonggak revolusi budaya dunia. Sebab di kota itulah pertama kali industri kertas pertama muncul. Industri kertas pun akhirnya menyebar ke seluruh dunia Islam hingga Eropa.

Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah memberikan jabatan gubernur kepada putra-putra Asad bin Saman untuk memerintah Transoksania dari Samarkand. Keluarga Saman pada 875 M memproklamirkan berdirinya Dinasti Samanid dan menguasai Samarkand. Setelah itu Samarkand pun secara bergantian dikuasai dinasti-dinasti Islam.

Samarkand mencapai puncak keemasannya di era Islam, ketika Dinasti Timurid (1370-1506 M) berkuasa. Dibawah kepemimpinan Timur Lenk, dua penjelajah terkemuka Marco Polo dan Ibnu Batuta sudah melihat geliat kemajuan yang dicapai Samarkand.

“Samarkand merupakan salah satu kota tercantik dan terbesar di dunia,” ungkap Ibnu Batuta. Saat timur Lenk berkuasa, Samarkand berkembang sangat pesat. Hampir separuh dari aktivitas perdagangan di Asia berputar di kota Samarkand.

Pada masa itu di pasar Samarkand sudah bisa ditemui produk-produk yang terbuat dari kulit, linen, rempah-rempah, sutera, batu mulia, melon, apel, dan beragam barang lainnya. Di era itu Samarkand sudah memiliki monumen-monumen arsitektur yang megah.

Pengganti Timur Lenk, Sharukh memindahkan ibukota Timurid dari Samarkand ke Herat. Meski begitu hingga pemerintahan Ulugh Beg, masyarakat Samarkand hidup dalam kemakmuran dan kota ini menjadi pusat studi ilmu pengetahuan. Salah satu buktinya adalah dengan didirikannya Observatorium Ulugh Beg. Selain itu di kota ini banyak berdiri madrasah atau perguruan tinggi. Selama satu abad Dinasti Timurid berkuasa, Samarkand mencapai puncak kejayaannya.

Sekitar tahun 1500 M, kekuasaan Dinasti Timurid mulai rapuh. Kota itu akhirnya jatuh ke tangan bangsa Uzbek di bawah pimpinan Ozbek Khan Shaibani. Setelah itu Samarkand berada di bawah kekuasaan Bukhara. Pada 1868, Samarkand ditaklukkan Rusia dan menjadi bagian dari Uni Soviet hingga 1991. Sejak adidaya Uni Soviet pecah, Samarkand pun menjadi bagian dari negara Uzbekistan.

Sumber : Menyusuri kota jejak kejayaan Islam Oleh Tim Penulis Republika

Advertisements

One thought on “Samarkand : Permata dari Timur

  1. kota ini menjadi salah satu destinasi wisata saya. pertama kali mengenal saat duta besarnya hadir di kampus. lantas, karena ada tugas kuliah jadi terpincut sendiri dengan banyaknya peninggalan sejarah yang dimiliki kota ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s