Ethiopia : Negeri Penyelamat Para Sahabat

Ethiopia

Makkah, bulan Rajab tahun 7 sebelum hijriah (abad ke-7 M). Ditengah kegelapan malam yang mencekam, 11 pria dan empat wanita sahabat Rasulullah mengendap-endap meninggalkan Makkah. Dua perahu yang terapung di pelabuhan Shuaibah siap mengantarkan mereka menuju ke sebuah negeri untuk menghindari kebiadaban orang kafir Quarisy.

Negeri yang mereka tuju itu bernama Abessinia dan kini dikenal sebagai Ethiopia yang merupakan sebuah kerajaan di daratan benua Afrika. Para sahabat hjrah ke sana atas saran Rasulullah. Inilah proses hijrah pertama yang dilakukan kaum muslim, sebelum peristiwa hijrah ke Madinah. Diantara sahabat nabi yang hijrah itu adalah Ustman bin Affan beserta istrinya Ruqayyah serta sahabat dekat lainnya.

Perjalanan tersebut dipimpin oleh Ustman bin Maz’un. Setelah mengarungi ganasnya gelombang laut merah, ke-15 sahabat Rasulullah tersebut akhirnya terdampar di Ethiopia yang kala itu dipimpin oleh seorang raja bernama Najasyi – orang Arab menyebutnya Ashama Ibnu Abjar. Mereka disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Inilah kali pertama ajaran Islam sampai di benua Afrika.

Raja Ethiopia lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara provinsi Tigray. Wilayah itu lalu menjadi pusat penyebaran Islam di Ethiopia dan masuk dalam bagian Afrika Timur. Setelah tiga bulan menetap di Ethipia, para sahabat ingin kembali ke Makkah akan tetapi ternyata situasi di Makkah belum aman dari Quraisy. Rasulullah pun kembali menyuruh umat muslim hijrah ke Ethipia. Gelombang kedua ini terdiri dari 80 sahabat. Kaum Quraisy kemudian mengirim utusan ke Ethiopia untuk berpesan kepada raja Najasyi agar mengusir umat Islam. Permintaan tersebut ditolak. Para sahabat hidup dengan damai di sana, bahkan sebagian ada yang menetap dan menyebarkan Islam di “benua hitam” tersebut.

Islam mulai menyebar di Afrika walaupun tidak berjalan mulus karena mendapat perlawanan dari penganut nasrani seperti Amhara, Tigray serta Oromo. Namun hal ini tidak berhasil hingga sekarang Islam menjadi agama terbesar kedua setelah Nasrani di Ethiopia. Umat muslim mancapai kejayaan di negeri itu ketika berhasil mendirikan kesultanan muslim. Beberapa diantaranya adalah kesultanan Adal di timur Ethiopia yang berhasil menaklukkan dinasti Solomonic; kesultanan Aussa di timur laut Ethiopia yang merupakan pemerintahan Monarki terkenal di Afar; kesultanan Harar di timur Ethiopia yang sangat terkenal dengan kopinya, dan sempat membangun tembok setinggi empat meter yang mengelilingi Harar; kesultanan Ifat di timur Ethiopia yang memiliki kekuatan militer yang tangguh karena memiliki 15 ribu pasukan kuda dan 20 ribu personel infanteri. Pada masa ini Ifat sempat menjadi pusat perdagangan di Ethiopia; serta kesultanan Shewa di Ethiopia tengah.

Setelah meredupnya kejayaan kesultanan muslim tersebut, posisi umat Islam kian terhimpit. Kondisi mengenaskan tersebut mulai terjadi ketika di penghujung tahun 1890-an, Raja Yohanes IV mengeluarkan kebijakan untuk mengkristenkan Ethiopia. Akibat kebijakan yang diwarnai kekejian itu, banyak umat muslim yang akhirnya memiliki keyakinan ganda. Siang hari mereka berpura-pura mengaku kristen, sementara malam hari mereka melakukan ibadah agama Islam.prinsip ini dikenal dengan nama Taqiah atau menyembunyikan keyakinan untuk menyelamatkan diri.

Para ulama dan umat Islam pun bangkit menolak perlakuan Raja Yohanes IV. Ulama pertama yang angkat senjata melawan kebijakan penghapusan Islam dari Ethiopia adalah Ali Adam. Bersama pengikutnya, dia dihadang tentara Raja Yohanes IV di Wahelo, kawasan sebelah barat laut danau Hayk. Di tempat ini Syaikh Ali Adam dan pengikutnya syahid.

Setelah Ali Adam, kemudian muncul Thalha. Dia menentang permutadan dan pembangunan gereja. Kelompoknya juga berhasil mengalahkan pasukan kerajaan Yohanes yang dipimpin Ras Mikael. Hingga kini umat Islam Ethiopia tengah berjuang untuk menuntut hak hidupnya sebagai umat beragama.

Negara ini tidak pernah dijajah selama masa perebutan Afrika dan terus merdeka hingga tahun 1936 – saat pasukan Italia menguasai negara tersebut. Pasukan Britania Raya dan Ethiopia mengalahkan tentara Italia pada 1941, dan Ethiopia merebut kembali kedaulatannya setelah menandatangani perjanjian Britania – Ethiopia pada Desember 1944.

Kini, Ethiopia merupakan negara berbentuk republik dan mengambil bagian secara aktif dalam aktivitas kerjasama internasional. Ethiopia masih menggunakan kalender Julian yang ketinggalan sekitar tujuh tahun dibandingkan dengan kalender Gregorian yang lebih umum digunakan diseluruh dunia.

Sumber : Menyusuri kota jejak kejayaan Islam Oleh Tim Penulis Republika

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s