Tibet : Jejak Islam di Himalaya

Ketika raja Tibet yang bergelar Dalai Lama ke-5 berkuasa, Muslim Tibet mendapat perlakuan istimewa. Salah satunya muslim Tibet diizinkan menjalankan urusannya sesuai dengan Syariah. Meski Islam hanyalah agama minoritas di wilayah pegunungan Himalaya itu, secara historis bangsa Tibet dan Islam ternyata memiliki hubungan yang erat. Sejak abad ke-8 M, umat Islam telah menjalin hubungan politik, perdagangan, dan kebudayaan dengan Tibet.

Ajaran Islam mulai bersemi di Tibet pada era kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz I (717-720 M) dari Dinasti Umayyah. Umar mengirimkan utusannya ke pegunungan Himalaya setelah mendapat permintaan dari delegasi Tibet dan Cina untuk menyebarkan Islam di negeri itu. Khalifah pun lalu mengirimkan Salah bin Abdullah Hanafi ke Tibet. Ketika Dinasti Umayyah digulingkan Abbasiyah, para penguasa Baghdad tetap menjalin hubungan dengan Tibet. Orang muslim di Tibet mendapat julukan “Khachee” yang berarti orang Kashmir. Masyarakat Tibet menyebut bangsa Kashmir dengan panggilan “Kachee Yul”. Meski Kachee bukanlah orang Tibet asli, ternyata mereka lebih diakui sebagai bagian dari masyarakat Tibet, ketimbang muslim Hui yang berasal dari Cina yang biasa disebut Kyangsha. Muslim Tibet tersebar di seluruh negeri Tibet.

Muslim Tibet emiliki keunikan tersendiri. Sebagian besar dari penganut Islam berasal dari keturunan Kashmir, Persia, atau Arab melalui garis keturunan ayah. Darah Tibet mengalir melalui garis keturunan Ibu. Maka tak heran banyak dari mereka yang memiliki nama depan Tibet namun nama keluarganya Persia. Hal itu terjadi lantaran Tibet berbatasan dengan Kashmir dan Turkistan Timur. Konon, imigran muslim dari Kashmir dan Ladakh pertama kali memasuki wilayah Tibet sekitar abad ke-12 M. Secara perlahan, pernikahan dan interaksi sosial antara imigran mslim dengan masyarakat Tibet telah membuat populasi di sekitar kota Lhasa.

Ketika raja Tibet yang bergelar dalai Lama berkuasa, muslim Tibet mendapat perlakuan istimewa. Salah satunya muslim Tibet diizinkan menjalankan urusannya sesuai syariah. Pemerintah juga mengizinkan komunitas muslim untuk memilih lima anggota komisi yang dikenal sebagai “Ponj” untuk memperjuangkan aspirasi mereka. Selain itu muslim Tibet juga bebas mendirikan perusahaan dan menjalankan usaha serta bisnisnya. Tak hanya itu, mereka juga dibebaskan dari pungutan pajak. Ketika umat Budha menjalani bulan suci, umat Islam tak dibatasi dalam mengkonsumsi daging. Selain itu muslim Tibet juga diperbolehkan memiliki areal pemakaman muslim di kota Lhasa.

Masa-masa kedamaian dan kebebasan beragama umat Islam di Tibet akhirnya mulai dibatasi seiring dengan jatuhnya Tibet ke dalam kekuasaan Cina. Tibet menjadi salah satu provinsi Tiongkok setelah tentara merah menyerbu wilayah itu pada 1950. Setahun kemudian Cina berhasil menguasai ibu kota Lhasa dan mendongkel Dalai Lama dari kekuasaannya. Dalai lama pun membentuk semacam pemerintahan di pengasingan.

Ketika dunia Islam dipojokkan Barat, pemimpin Tibet dalai Lama yang beragama Budha tampil membela Islam. Dalam pertemuan puncak di San Fransisco pada April 2006, secara tegas Dalai Lama menyatakan Islam telah diperlakukan secara tidak adil. “orang-orang jahat tidak hanya ada dalam komunitas Muslim tetapi selalu ada dalam kehidupan agama lain, apakah itu Hindu, Budha, atau Kristen.” Katanya. “Saya sendiri menyebut diri saya sebagai orang yang penuh kasih sayang tetapi jika emosi saya tidak terkendali maka orang yang penuh kasih sayang itu bukan lagi menjadi orang yang penuh kasih sayang,” lanjut pemilik nama asli Tenzim Gyatso ini. ia mengajak seluruh umat beragama untuk bergandengan tangan membela Islam. “Dalam beberapa hal, saya adalah salah satu pembela tradisi Muslim,” tegas Dalai Lama.

Sejak Cina menguasai Tibet, posisi umat Islam yang minoritas semakin terjepit. Tak Cuma orang Muslim, umat Budah saja sebagai mayoritas mendapat tekanan dari pemerintahan komunis Republik Rakyat Cina (RRC). Para penguasa Cina pun mendesak Muslim Tibet untuk menjaul tanah dan bangunan yang mereka miliki. Kini tak ada yang tau pasti jumlah Muslim Tibet yang bertahan dan tinggal di kampung halamannya. Menurut sebuah laporan, jumlah Muslim Tibet yang berada di dalam negeri mencapai 3.000 orang. Sedangkan total Muslim Tibet yang memilih merantau di luar negeri mencapai 2.000 orang. Muslim Tibet benar-benar menderita sejak wilayah pegunungan Himalaya dikuasai Cina.

Sumber : Menyusuri kota jejak kejayaan Islam Oleh Tim Penulis Republika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s