Nabi SAW Sebagai Manusia Biasa

Dengan segala kemuliaan, kesucian, dan keagungannya itu, Nabi SAW tetaplah manusia biasa. Allah menegaskan hal ini dalam beberapa ayat Al-Quran.

“Katakanlah, “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanyalah manusia yang menjadi rasul?” (Q.S Al-Isra’ ayat 93)

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini menusia sepertimu, yang diwahyukan kepadaku, “Sungguh Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa.” (Q.S Al-Kahfi ayat 18)

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelummu.” (Q.S Al-Anbiya’ ayat 21)

Sisi kemanusiaan Nabi tampak jelas dari kata-kata, tindakan, sikap, dan perilaku. Bahkan terlihat pula dari kebiasaan yang sepele seperti buang hajat. Ketika dua orang yang berselisih menghadap, beliau mengingatkan bahwa keputusannya atas fakta pengaduan, yang mungkin saja salah. Nabi SAW bersabda, “Aku hanyalah manusia biasa. Jika kalian mengadukan perselisihan kepadaku, mungkin sebagian lebih kuat hujjahnya dari yang lain, sehingga aku memutuskan berdasarkan apa yang kudengar. Jika keputusanku ternyata merampas hak saudaranya yang lain (tidak sesuai kenyataan), jangan kalian ambil, karena itu berarti aku memberi sepotong api neraka kepadanya.”

Pernah suatu ketika seorang badui hendak menemui Nabi SAW. Namun saat melihat wibawa beliau, ia ketakutan sehingga beliau bersabda, “jangan takut. Aku hanyalah putera seorang perempuan yang makan (daging) dendeng di Makkah.”

Rasulullah serta para nabi dan rasul sebelumnya adalah manusia biasa, yang makan, minum, tidur, capek, berjalan di pasar, lapar, dan haus. Seperti manusia lain, beliau juga sakit, tetapi bukan sakit yang merusak citra kenabian, seperti lepra atau kusta. Ketika sakit, Nabi SAW berobat seraya memohon kesembuhan kepada Allah dengan obat-obatan yang umum digunakan orang Arab maupun non-Arab. Pernah beliau berbekam setelah mencicipi makanan yang dibubuhi racun oleh orang Yahudi di Khaibar. Untuk menajamkan pandangan, beliau bercelak.

Nabi SAW juga mengalami lupa. Pernah ketika melaksanakan sholat zuhur-versi lain, sholat ashar, baru dua rakaat beliau sudah bersalam. Setelah diingatkan beliau berdiri lagi, kemudian sebelum salam melakukan sujud sahwi. Peristiwa itu kemudian sebelum salam melakukan sujud sahwi. Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu ketetapan syariat.” (HR Bukhari Muslim dll).

Nabi SAW juga merasakan sedih dan gembira, tertekan, dan lega, sumpek dan lapang, marah dan gelisah, letih dan lelah, kedinginan dan kepanasan, dan tak luput dari bahaya. Beliau pernah terjatuh dari tunggangan hingga terluka, pernah dihantam musuh di perang Uhud hingga pahanya terkoyak dan giginya pecah, pernah dilempari batu oleh sejumlah pemuda dan orang tak tahu diri dari Thaif. Beliau juga kerap diancam.

Nabi SAW juga pernah disihir orang Yahudi, Labid Ibnu al-A’sham sehingga beliau tertegun seakan-akan hendak melakukan sesuatu yang tidak ingin beliau lakukan sampai akhirnya Allah menyembuhkan beliau. Jibril turun membawa dua surah perlindungan, al-Falaq dan an-Nas, serta membacakan mantera : “Dengan nama Allha aku melindungimu dari mantera ini dari segala sesuatu yang mengganggumu; dari kejahatan orang yang dengki dan dari kejahatan mata (‘ayn). Allah menyembuhkanmu.” Masalah ini dibahas lebih jelas oleh pakar bidang ini dengan segala pro dan kontranya.

Bukti lain bahwa Nabi benar-benar manusia biasa adalah beliau pernah salah ketika berpendapat tentang urusan dunia. Misalnya ketika melihat orang Madinah sedang melakukan penyerbukan kurma, beliau menyarankan sebaiknya jangan. Tapi, ketika saran beliau diikuti, mereka mengalami gagal panen. Ketika soal itu dilaporkan, Nabi SAW berujar, “Aku hanyalah manusia. Jika aku memerintahkan sesuatu tentang agama, ikutilah. Tetapi jika aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, sebenarnya aku hanaya seorang manusia. Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.” (HR Muslim).

Ketika berunding untuk mempersiapkan perang Badar, Nabi SAW menyarankan agar pasukan muslim mengambil posisi di tempat yang jauh dari sumur. Namun, Hubab Ibn al-Mundzir mengusulkan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan sumur, dan beliau menerima usulannya.

Itulah sifat-sifat manusia Nabi SAW yang sama sekali tidak menodai citra kenabian dan tidak mengganggu tugas kerasulannya. Tak hanya sekali beliau menegaskan agar kaum muslimin tidak menempatkannya melebihi kedudukannya, yaitu  sebagai manusia biasa yang mendapat wahyu dari Allah, “Jangan puji aku seperti Isa ibn Maryam. Cukup katakan: Hamba Allah dan Rasulnya.” (HR Al-Bukhari). Nabi SAW juga tidak suka para sahabat berdiri dan memberi hormat kepadanya.” (HR Daud).

Suatu ketika, di khutbah terakhirnya, Nabi SAW mengingatkan kaum mukmin agar tidak bersujud di kuburannya. Beberapa jam sebelum wafat, beliau berkata tegas, “Ingat, orang sebelum kalian suka menjadikan kuburan nabi dan orang saleh sebagai masjid. Maka kuingatkan pada kalian, jangan kalian jadikan kuburan sebagai masjid. Sungguh itu dilarang atas kalian.” (Sirah Ibn Hisyam).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Ya Allah, jangan jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Sungguh murka Allah atas suatu kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid.” (Sirah Ibn Hisyam).

Sumber : Pribadi Muhammad SAW Oleh Dr. Nizar Abazhah

Subhanallah…

Ingin rasanya diri ini bertemu denganmu kelak, Duhai Kekasih Allah…

Namun, akankah Dia mengizinkan hamba yang berlumur dosa ini bertemu dengan KekasihNya…?

Advertisements

2 thoughts on “Nabi SAW Sebagai Manusia Biasa

  1. “Katakanlah, “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanyalah manusia yang menjadi rasul?” (Q.S Al-Isra’ ayat 17)

    Bukankah ini QS Al-Isra’ 17 Ayat 93. Mari bersama berhati- hati dalam hal penulisan no.surat dan ayat. Menghindari kesalahan dalam penyebaran informasi tentang Al-Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s