Fisik dan Watak Rasulullah (part 3)

Nabi SAW sangat pemalu, lebih pemalu dibanding gadis pingitan. Rendah hati bukan rendah diri. Menjahit baju, memperbaiki sendal, duduk bersama orang miskin yang dianggap sebagai kebiasaan hina oleh kaum bangsawan. Bagi mereka duduk bersama orang miskin akan menurunkan martabat.

Nabi SAW menjenguk orang sakit, melayat jenazah dan memenuhi undangan sahabat. Bila ada yang menyalami, beliau biarkan tangannya sampai yang menyalaminya itu melepaskan lebih dulu. Tak ada perbedaan antara Nabi SAW dan para sahabat dalam urusan dunia. Beliau bekerja bersama mereka, ikut bekerja membangun masjid, menggali parit, dan memimpin perang. Tampak seperti salah seorang dari mereka sehingga jika ada orang badui atau orang asing datang ingin menemui Nabi SAW, sementara beliau sedang berada di tengah-tengah mereka, orang itu tidak akan mengenalinya sampai ia ditunjukkan.

Saat duduk maupun berdiri Nabi SAW selalu berzikir.. tempat membuat tempat khusus dan melarang umatnya membuat tempat khusus untuk berzikir. Jika datang ke suatu majelis beliau duduk di sisa tempat yang ada, dan memerintahkan begitu. Siapapun yang duduk bersama beliau dilayani sama sehingga tidak ada yang merasa ada yang diistimewakan. Siapapun yang duduk bersama beliau atau berdiri untuk suatu keperluan, beliau pasti penuhi. Atau jika sedang tidak punya, beliau menolaknya dengan lembut. Kedermawanan dan keluhuran budinya meliputi semua orang sehingga beliau menjadi ayah bagi mereka, dan mereka memiliki hak yang sama di sisi beliau. Mereka mendekat dan berebut keutamaan di sisi beliau dengan takwa.

Majelis Nabi SAW adalah majelis kemurahan hati, harga diri, kesabaran, dan amanah. Tak ada suara keras. Tak ada prasangka buruk. Tak ada kesalahan yang diungkit. Semua ambil peran dalam ketakwaan dan saling tawaduk. Di majelis Nabi, yang tua dihormati, yang muda dikasihi, yang punya keperluan dipenuhi.

Ketika Nabi SAW berbicara, semua yang duduk tutp mulut, seolah di atas kepala mereka ada burung. Baru ketika beliau diam, mereka angkat bicara. Mereka tak berani berbantah disisi beliau. Bila ada yang bicara di sisi beliau, yang lain diam sampai selesai. Bila mereka tertawa, beliau ikut tertawa. Ikut takjub bila mereka takjub. Beliau bersabar bila ada orang asing berbicara kasar. Sabdanya, “jika kau melihat orang sedang dalam kebutuhan, bantulah. Jangan menuntut pujian kecuali yang wajar. Jangan memotong pembicaraan seseorang sampai selesai yakni setelah ia mengakhiri atau berdiri.”

Nabi SAW selalu ceria, halus budi, lemah lembut, dan ramah. Tidak kasar, tidak keras, tidak suka teriak-teriak, tidak keji, tidak suka mencaci, dan tidak suka memuji.abai pada sesautu yang tidak disukai, dan tidak pernah merasa putus asa karenanya. Beliau berpantang dari tiga hal : riya, memperkaya diri, dan sesuatu yang tidak dibutuhkan. Berpantang pada manusia dari tiga hal : menghina dan mencaci mereka, mencari-cari kesalahan mereka, dan mengatakan sesautu yang tidak bermanfaat.

Nabi SAW diam dalam empat hal : merenung, bersikap hati-hati, atau mempertimbangkan sesuatu (biasanya untuk menyamakan persepsi), atau ketika berfikir tentang sesuatu yang kekal, bukan yang fana.

Kemurahan hati Nabi SAW terlihat nyata dalam kesabarannya. Beliau tidak marah karena hasutan. Kehati-hatian beliau tampak dalam empat hal : beliau selalu memilih yang baik agar dicontoh dan diikuti, meninggalkan ynag buruk agar dijauhi, berfikir keras untuk kebaikan umatnya, dan mengerjakan sesuatu yang memberi mereka keuntungan dunia-akhirat.

Nabi SAW adalah manusia paling lapang dada, paling jujur bicaranya, paling lembut wataknya, paling memenuhi tanggungan, dan paling mulia kelakuannya. Sebagai suami, Rasulullah adalah lelaku paling lembut kepada istri-istrinya, murah senyum, dan humoris.

Tak pernah beliau memukul istrinya, baik dengan tangan maupun tongkat. Nabi SAW tak pernah menghina budaknya atau memaki pembantunya. Tak pernah merendahkan pendapat seseorang atau mencelanya. Tak pernah berbicara jorok dengan siapapun. Memberi maaf kepada orang Badui yang berbicara keras, kasar, dan merendahkan. Mungkin ada dianatar mereka yang berhasil menahan diri untuk tidak mencaci, dan Nabi menyambut serta menyalaminya dengan hangat. Ada juga diantara mereka yang berlaku kasar kepada Nabi SAW dan membuat kesal para sahabat. Mereka menunggu isyarat atau perintah Nabi untuk menyerang orang itu, tetapi Nabi SAW tak pernah mengizinkan mereka membalas dengan keburukan. Mungkin ada dianatar orang badui itu yang ingin berbuat buruk kepada Nabi, tetapi keinginan mereka tak pernah terwujud. (bersambung ke part 4)

Sumber : Pribadi Muhammad SAW Oleh Dr. Nizar Abazhah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s