Muhammad SAW : Adil

Adil merupakan salah satu sifat Nabi yang sangat istimewa. Beliau adalah manusia paling adil secara mutlak. Beliau senantiasa menegakkan keadilan dan membela hak, hak si kuat maupun si lemah, si miskin maupun si kaya, pria atau wanita, si merdeka ataupun si budak.

Ketika seorang wanita Bani Makhzum mencuri, Nabi SAW memerintahkan agar ia dihukum. Sebagian orang keberatan, mengingat ia berasal dari kalangan terhormat. Maka mereka meminta bantuan Usamah ibn Zaid – yang oleh Nabi dipanggil al-Hib ibn al-Hib (orang kesayangan putra orang kesayangan) – untuk membujuk Rasulullah. Namun, saat Usamah datang, Nabi marah luar biasa dan menegurnya dengan keras, “Apakah kau akan menawar satu dari hukum Allah?”

Kemudian Nabi SAW bangkit dan berpidato, “Sesungguhnya orang sebelum kalian binasa karena jika jika ada orang terpandang mencuri, ia dibiarkan tanpa hukuman. Tapi jika yang mencuri orang kecil, ia dihukum. Demi Zat yang Muhammad ada dalam genggeman kekuasaanNya, andai Fathimah putri Rasulullah mencuri, niscaya kupotong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wujud sifat adilnya, Nabi tak pernah menindak seseorang karena kesalahan orang lain, tak pernah membenarkan seseorang di atas orang lain (HR Abu Daud). Lebih dari ini beliau bersabda, “Sampaikan hajat orang yang tak sempat menyampaikannya sendiri kepadaku. Barang siapa yang berbuat demikian, maka Allah akan membuatnya tenang pada hari ketakutan paling besar.” (HR Ath-Thabrani).

Sejak masa jahiliyah dan sebelum mendapat wahyu, Nabi SAW selalu memutuskan perkara dengan adil. Bahkan dalam kasus paling berat sekalipun putusan beliau memuaskan semua orang. Kasus Hajar Aswad ketika kaum Quraisy merenovasi Ka’bah dan hampir menimbulkan pertumpahan darah cukup menjadi bukti keadilan Nabi.

Salah satu fenomena yang sering dikemukakan sebagai contoh keadilan Nabi adalah pembagian hak yang sama kepada semua istrinya. Jika mendapat hadiah dan beliau sedang berada di salah satu bilik istrinya, beliau langsung memberikan semuanya kepada si pemilik bilik, tanpa membagi-bagikannya kepada istrinya yang lain, (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Thabrani) seraya berharap istrinya yang lain akan mendapat nikmat serupa. Nabi kerap menimbang-nimbang dan mengawasi kecendrungan hatinya, lalu merintih kepada Allah, cemas kalau-kalau ia memiliki perasaan yang terbilang sewenang-wenang. “Ya Allah, inilah pembagian yang bisa kulakukan. Maka jangan maki aku menyangkut hal yang Engkau mampu sedangkan aku tidak (HR At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Jika hendak bepergian, misalnya dalam perjalanan perang, Nabi mengundi istri-istrinya. Siapa yang undiannya keluar, ia yang ikut serta (HR Bukhari dan Abu Daud). Rasulullah SAW tidak merasa terganggu dengan kehadiran salah satu istrinya – siapapun yang mendapat undian – dalam perjalanan meskipun beliau dan para prajurit harus berhati-hati terhadap tipu muslihat musuh (HR Al-Bukhari dan al-Tirmidzi).

Sumber : Pribadi Muhammad Oleh Dr. Nizar Abzhah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s