Muhammad SAW : Jujur dan Terpercaya

Sifat ini termasuk sifat kenabian tertinggi. Beliau amat terpercaya dan orang-orang – sejak zaman jahiliyah –sudah mengakui kejujuran beliau. Penduduk Makkah menjuluki beliau al-Amin (orang yang jujur lagi terpercaya). Julukan itu terkenal luas, baik di kalangan lawan ataupun sahabat. Ini kata Abu Jahal suatu kali, “Sungguh, kami tidak mendustakanmu, tetapi mendustakan apa yang kau bawa.” Atas dasar inilah turun firman Allah :

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu. (Jangan bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakanmu, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah (Q.S Al-An’am ayat 33 dan HR Al-Tirmidzi).

Di kesempatan yang lain Abu Jahal mengatakan hal serupa. Waktu itu ia ditanya al-Akhnas ibn Syariq, “Apa pendapatmu tentang Muhammad? Dia orang yang jujur atau pembohong?”

Tanpa ragu, Abu Jahal menjawab, “Demi Allah, Muhammad itu orang yang jujur. Dia tak pernah berdusta sama sekali! (HR ibn Ishaq dan al-Baihaqi).

Hal senada dikatakan al-Nadhr ibn al-Harits, salah seorang yang sangat memusuhi kaum muslim, “Muhammad itu pemuda kemaren sore di tengah-tengah kalian. Tetapi ia paling disukai, paling jujur, dan paling amanah. Sampai bila kalian melihat di pelipisnya ada uban, dan ia datang kepada kalian membawa apa yang ia bawa sekarang, kalian lalu mengatakan ia tukang sihir. Tidak! Demi Allah, ia bukan tukang sihir!” kata al-Nadhr (HR ibn Ishaq dan al-Baihaqi).

Abu Sufyan pernah ditanya Heraklius, Raja Romawi, ketika ia diundang ke istananya bersama rekan-rekan sesama saudagar. Ia ingin tahu yang sebenarnya tentang Muhammad setelah menerima surat beliau yang dibawa Dihyah al-Kalbi.

“Apakah kamu pikir ia berdusta sebelum mengatakan sesuatu?”

“Tidak!”

Karena Nabi sangat jujur – baik berkaitan dengan dirinya, tata kehidupannya, maupun hubungannya dengan orang lain – maka beliau sangat membenci dan melarang keras segala bentuk dusta. Jika terlihat ada dusta terselip dalam diri seseorang, sekecil apapun itu, beliau langsung berpaling dan menjauhinya. Ini merupakan hukuman sehingga orang itu kembali ke jalan yang benar.

Nabi bersabda dalam sebuah hadits shahih, “Sesungguhnya jujur itu menuntun kepada kebaikan, kebaikan menuntun ke surga. Maka barang siapa jujur terus-menerus, ia akan dicatat Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menuntun pada kejahatan, kejahatan menuntun ke neraka. Maka, barang siapa berdusta terus-menerus, ia akan dicatat Allah sebagai pendusta (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Sumber : Pribadi Muhammad Oleh Dr. Nizar Abzhah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s