Muhammad SAW : Zuhud, Kanaah, dan Tak Berlebihan

Kezuhudan Nabi sudah dibahas gamblang dalam buku-buku biografi beliau. Watak zuhud sudah melekat pada diri Nabi SAW sejak beliau masih kanak-kanak hingga beranjak remaja dan sampai akhir hayatnya. Dan sikap serta perilaku zuhud Rasulullah SAW setelah menerima wahyu selayaknya menjadi rujukan bagi segenap Zahid.

Tak sekejap pun Nabi terpikat pada dunia. Tak selintas pun hasrat untuk bermegah-megah dengan dunia. Saat wafat, beliau tak meninggalkan apa-apa : dinar, dirham, kambing, ataupun unta. Hanya senjata dan bagal serta sebidang tanah yang kemudian disedekahkan (HR Al-Bukhari). Bahkan baju besinya tergadai tiga puluh sha’ gandum pada seorang Yahudi untuk menafkahi kaluarga. Aisyah berkata, “Rasulullah wafat, tak ada apa pun di rumah yang bisa dimakan kecuali sedikit gandum di rak.”

Betapa zuhudnya beliau! Saat Jibril datang menawarkan diri untuk mengubah kerikil Makkah menjadi butiran emas, beliau menjawab, “Tidak, ya Allah! Lapar satu hari, aku bersabar. Kenyang satu hari, aku bersyukur. Di hari aku merasa kenyang dan di hari aku merasa lapar, aku tetap bersyukur, menyanjung dan memujiMu.”

Kemudian beliau bersabda kepada sang pembawa wahyu, “Wahi Jibril, sesungguhnya dunia adalah rumah orang yang tak punya rumah, harta orang yang tak punya harta, ditumpuk orang tak berakal – terkadang.” (HR Al-Bukhari).

Beliau pernah berdoa, “Ya Allah, tak ada kehidupan selain kehidupan akhirat.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan al-Tirmidzi).

Atau, “Ya Allah, jadikan rezeki Muhammad pas tak melebihi hajat.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan al-Tirmidzi).

Para sahabat benar-benar dibuat tercengang dengan kezuhudan Nabi setelah beliau berhasil menguasai seluruh Jazirah. Pajak berdatangan, emas perak dituang di masjid, harta berlimpah, semua untuk beliau. Tapi tidak! Semua itu beliau bagi-bagikan tanpa sisa. Beliau tetap bertahan dengan makanan kasar dan pakaian di badan.

Suatu kali Umar masuk rumah beliau. Dijumpainya Nabi berbaring di atas tikar yang terbuat dari anyaman pelepah kurma hingga meninggalkan bekas di tubuhnya. “Wahai Nabiyullah, maukah aku buatkan yang lebih lembut dari tikar ini?” Umar menawarkan.

“Apa arti dunia bagiku? Perumpamaanku dengan dunia seperti pengendara yang tenga berjalan di tengah terik kemarau, kemudian berteduh di bawa pohon sebentar, lalu berangkat dan melanjutkan perjalanan,” jawab beliau (HR Al-Tirmidzi).

Banyak sahabat yang bercerita tentang kezuhudan Nabi yang luar biasa. Amr ibn al-Ash, misalnya, berkata kepada rekan-rekannya, “Pagi sore kalian memburu sesuatu yang dipantang Rasulullah. Pagi kalian memburu dunia padahal Rasulullah berpantang darinya. Demi Allah, setiap sepanjang hidupnya beliau lebih banyak sulitnya daripada lapangnya.”

Ketika mendirikan bilik-bilik istrinya, Nabi tak membedakannya dari bangunan masjid. Bahkan bilik-bilik itu hanya berupa susunan batu dengan atap pelepah kurma. Sempit, dengan pintu bisa diketuk kuku.

Nabi ingin keluarganya juga zuhud. Ketika memasuki rumah Fathimah dan melihat putrinya mengenakan gelang emas pemberian suaminya, Ali ibn Abi Thalib, beliau langsung menegur, “Hai Fathimah, apakah kamu senang orang mengatakan putri Rasulullah mengenakan gelang api neraka?”

Lalu Nabi keluar lagi, tanpa duduk. Maka Fathimah menjual gelang itu. Semua uangnya ia pergunakan untuk membeli budak yang kemudian dimerdekakan. Apa sabda Nabi? “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari neraka (HR Al-Nasa’i).

Hampir tak pernah ada harta tersisa di tangan beliau. Berkata Uqbah ibn al-Harits, “Waktu itu Rasulullah sholat ashar bersama kami. Tiba-tiba beliau mempercepat sholat lalu bangkit. Saking terburu-burunya beliau menyela orang lalu masuk ke rumahnya. Tak lama berselang beliau keluar lagi. “Aku ingat sebutir emas di rumah. Takut memenjarakanku, emas itu kubagikan,” sabda beliau (HR Al-Bukhari).

Dari situ kita tahu bahwa Rasulullah tak pernah menahan harta. Semua diinfakkan untuk jihad dan kebaikan. Sabda beliau, “Aku tak bahagia punya segunung Uhud emas, seratus dinar bermalam bersamaku; cukup satu dinar untuk persiapan bayar utang.”

Ketika suatu kali Nabi menerima sejumlah dinar dengan cepat beliau bagikan. Hanya disisakan enam dinar, yang lalu diserahkan kepada istri-istrinya. Tapi kemudian beliau tak bisa tidur hingga beliau bangkit dan membagikan semuanya. “Sekarang aku tenang,” ujar beliau. Harta dunia seakan-akan duri atau kotoran yang membuatnya tidak nyaman dan ingin segera menghilangkannya.

Pakaian Nabi pun sangat sederhana. Pakaian kasar tak masalah bagi beliau. Pakaian yang bagus-bagus diberikan kepada orang. Al-Miswar ibn Makhramah bercerita.

Ayahku berkata, “Miswar, aku mendengar Rasulullah mendapat kiriman pakaian. Antarkan aku menemui beliau!”

Kami pun berangkat dan menjumpai Nabi SAW di rumah beliau.

“Panggil beliau,” ayahku berkata.

Tentu saja aku keberatan.

“Anakku, dia tidak keras dan tidak akan marah.”

Akhirnya aku memanggil Rasulullah. Beliau keluar membawa pakaian sutra berhias emas.

“Hai Makhramah, kupilihkan ini untukmu,” sabda beliau sambil menunjukkan keindahan pakaian itu, lalu memberikannya. Beliau tampak senang melihat orang tua itu.

Tentang bagaimana zuhudnya Nabi dalam soal makanan sudah banyak diurai dalam buku-buku biografi beliau. Sudah biasa keluarga Muhammad sebulan bahkan lebih dapurnya tidak mengepul, karena yang ada hanya kurma dan air.

Begitu zuhudnya Nabi, begitu yakinnya kepada Allah, dan begitu dermawannya sampai-sampai beliau tak menyisakan untuk esok, baik makanan maupun minuman. Cukuplah sebagai contoh kezuhudan Nabi adalah ketika masuk Makkah sebagai penakluk dan seluruh Jazirah sudah bertuan kepadanya, beliau malah makan irisan roti kasar dibasahi sedikit cuka di rumah Ummu Hani.

Akhirnya, bagi Rasulullah, zuhud adalah pangkat kenabian. Sabdanya kepada Aisyah, “Wahai Aisyah, apa arti dunia bagiku? Saudara-saudaraku, para rasul yang bersemangat baja itu, tabah menghadapi sesuatu yang lebih parah dari ini, mereka tak surut menghadapi kesulitan. Mereka tetap mendahulukan Allah dan mendekat kepadaNya sehingga Dia memuliakan tempat mereka kembali kelak dan Dia gandakan pahala. Karenanya, aku malu jika hidup bermegah-megah. Tentu aku akan ditinggalkan tanpa mereka. Padahal, tak ada yang lebih kusukai kecuali menyusul saudara-saudara dan kawan-kawanku itu.”

Sumber : Pribadi Muhammad Oleh Dr. Nizar Abzhah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s