Muhammad SAW : Murah Hati dan Dermawan

Jika Nabi menjadi simbol kezuhudan, kemurah-hatian tentu masuk di dalamnya. Seorang zahid pastilah orang yang murah hati dan dermawan, memberi dengan jiwa yang bersih dan tanpa pamrih. Kedermawanan Nabi tiada tara. Ibn Abbas berkata, “Nabi adalah manusia paling dermawan, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Jika sudah bertemu Jibril, kedermawanannya lebih ringan dibanding hembusan angin (HR Al-Bukhari, Muslim, dan Thbaqat Ibn Sa’d). Saking cepatnya, siapapun yang datang memimnta tidak akan kembali dengan tangan hampa, dijanjikan akan diberi, atau ditolak dengan penuh kelembutan.

Kalau orang jahiliyah saja memuji kemurahan hati dan kedermawanan Nabi maka tak seorang pun menghina beliau, dari segi apapun, bahkan sebelum masa Islam. Dan, Khadijah, istri beliau, menjadi saksinya. Ketika wahyu pertama turun, Nabi cemas tertimpa sesuatu yang buruk, “Tidak! Demi Allah, Allah tidak akan menistakanmu. Engkau menyambung silaturrahmi, menanggung penderitaan orang lain, memberi kepada yang tak punya, menjamu tamu, dan membantu melawan pengganggu kebenaran,” ujar Khadijah (HR Al-Bukhari).

Kedermawanan ini terus melekat pada diri Nabi setelah Isla bahkan semakin kuat. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa seorang lelaki, Shafwan ibn Umayyah, datang meminta kepada Nabi, lalu beliau memberi kambing banyak sekali sampai memenuhi lembah antara dua bukit. Kemudian Shafwan pulang menemui kaumnya dan berkata, “Masuk Islamlah kalian semua! Sungguh Muhammad memberi seperti pemberian orang yang tak takut miskin.” (HR Muslim).

Usai memenangkan perang Hunain, Nabi SAW memberikan seratus ekor unta kepada beberapa orang Quraisy, termasuk Abu Sufyan dan dua putranya, Yazid dan Muawiyah. Memberi 40 uqiyah perak kepada satu dari setiap tiga orang. Memberi harta berlimpah kepada Hakim ibn Hizam dan al-Harits ibn Hisyam. Memberi 300 ekor unta kepada Shafwan ibn Umayyah, yang lalu berujar, “Rasulullah memberiku sebegitu rupa. Padahal ia orang paling kubenci. Tapi ia terus memberiku sampai ia menjadi orang yang paling kucintai.” Beliau juga memberi pamannya, Abbas ibn Abdil Muthalib, emas sampai ia tak kuat membawanya.

Pada akhir perang Hunain itu juga Nabi mengembalikan tawanan-tawanan perang dari Hawazin setelah sah menjadi milik beliau. Jumlahnya enam ribu wanita dan anak-anak. Juga mengembalikan kepada mereka 24 ribu unta. 40 ribu lebih kambing, empat ribu uqiyah perak, yang kesemuanya sudah menjadi milik beliau sebagai harta rampasan perang.

Beliau juga pernah dikirimi 90 ribu dirham, lalu beliau letakkan di atas tikar dan dibagi-bagikan kepada siapapun yang datang. Tak seorang pun ditolak sampai semua uang itu habis. Seseorang pernah datang meminta kepada Nabi. Beliau menjawa, “Aku tak punya apa-apa. Tapi, aku janji, jika kami dapat sesuatu nanti, aku akan memberimu.”

Lalu Umar berkata, “Allah tidak membebanimu dengan sesuatu yang kau tak mampu.”

Nabi tidak suka ucapan Umar itu. Lalu seorang Anshar berujar, “Wahai Rasulullah, beri saja, jangan pernah takut kekurangan dari sang pemilik Arsy.”

Nabi tersenyum. Tergambar di wajahnya rona bahagia. “begitulah aku diperintahkan!” sabdanya (HR Muslim).

Muhammad ibn al-hanafiyah berkata, “Rasulullah nyaris tak pernah berkata ‘tidak’ dalam hal apapun. Jika diminta dan bermaksud memenuhi permintaan itu, beliau berkata ‘ya’. Jika tidak ingin memenuhi, beliau bergeming.”

Seperti itu juga yang dikatakan Jabir ibn Abdillah. Jika membalas kebaikan seseorang, beliau suka memberi lebih. “Aku pernah memberi Nabi sebungkus kurma dan mentimun. Lalu beliau memberiku segenggam penuh emas dan perhiasan (HR Ahmad).

Abu Hurairah menuturkan, “Seseorang datang meminta sesuatu kepada Nabi. Kebetulan beliau tak punya apa-apa. Maka beliau berjanji kepada orang itu akan memberi setengah wasq. Kelak, orang itu datang lagi menagih janji. Nabi pun memberinya satu wasq, separuh bayar hutang, separuh lagi bonus.

Seorang perempuan datang membawa selembar kain tenun kepada Nabi. “Wahai Rasulullah, kain ini kutenun dengan tanganku sendiri, kubawa agar kau kenakan.” Nabi menerima kain itu karena memang sangat membutuhkannya. Saat beliau keluar menemui seorang sahabat, seorang lelaki menatap penuh takjub kain tenun Nabi sambil meraba-raba. “Wah, bagus sekali kain ini wahai Rasulullah! Berikanlah kepadaku!”

“Ya,” jawab beliau, lalu duduk sebentar setelah itu bangkit dan masuk kamar, melipat kain itu dan memberikannya kepada si lelaki itu.

Orang-orang berkata kepada si lelaki itu “Dasar tak tahu adab! Rasulullah mengenakan pakaianyang memang beliau butuhkan, tetapi kau memintanya. Padahal kau sendiri tahu, beliau tak pernah berkata tidak.”

Lelaki itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak memintanya untuk dipakai, tetapi untuk dijadikan kafan saat aku mati kelak.” Adakah kemurahan hati dan kedermawanan secantik ini?.

Sumber : Pribadi Rasulullah SAW Oleh Nizar Abzhah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s