Nge-Fans Boleh Aja, Asalkan…

Andai Rasulullah hidup di zaman ini, pastilah di tengah umat Islam saat ini hanya ada satu “fandom”, yaitu fans-nya Muhammad SAW. Tak satu pun manusia yang dapat menandingi kemuliaan akhlak beliau, kesucian hati beliau, kesempurnaan fisik beliau, ketampanan wajah beliau, dan pastinya poster beliau akan tersebar di seluruh penjuru dunia. Karena Rasulullah hidup di negeri Arab, maka semua orang akan berlomba-lomba mempelajari bahasa negara tersebut yaitu bahasa Arab dan pastinya Al-Quran yang diajarkan Rasulullah. Orang-orang akan berlomba-lomba agar bisa menempuh pendidikan di negeri Arab atau sekedar traveling agar dapat bertemu dengan idolanya yaitu Rasulullah.

Rasulullah akan menjadi top searching di seluruh mesin pencari di dunia maya, beliau akan menjadi orang nomor satu yang “siapa sih yang g kenal Muhammad SAW” dan mungkin rumah beliau akan dipenuhi oleh paparazi dari berbagai media cetak maupun elektronik untuk mengetahui kehidupan beliau sehari-hari. Andai beliau memiliki akun twitter, maka follower nya pun akan mencapai puluhan juta bahkan milyaran.

Impossible, right?, namanya juga angan-angan.

Kenyatannya Rasulullah hidup 14 abad yang lalu dan sosoknya saat ini tidak lagi berada di peringkat nomor satu di hati kaum muslimin.

Alih-alih, di tengah umat Islam saat ini banyak sekali “fandom-fandom” yang bertebaran dengan idolanya masing-masing. Fandom ini memang tidak  berdiri secara legal ataupun memiliki dasar hukum tertentu, akan tetapi keberadaannya bagaikan debu yang bertebaran di pelosok negeri. Mereka eksis dan tanpa mereka, sang idola mungkin tidak akan bertahan lama di dunia entertainment. Jumlahnya beraneka ragam. Semakin terkenal sang idola, biasanya jumlah anggota fandomnya juga besar. Puluhan, ratusan, ribuan, bahkan mencapai jutaan umat manusia. Keberadaan fandom dan sang idola ini bagaikan sebuah lingkaran yang tiada berujung. Mereka saling membutuhkan dan tak bisa berdiri sendiri. Tanpa fandom, sang idola akan kehilangan popularitas, dan tanpa sang idola pastinya tidak akan ada fandom.

Lalu siapakah sang idola? Pastinya dia adalah sang public figure.

Islamkah? Bisa jadi.

Nasranikah? Bisa jadi.

Yahudikah? Bisa jadi.

Atheiskah? Bisa jadi.

Agama bukanlah poin nomor satu yang dilihat dari sang idola.

Lalu bagaimana akhlaknya? Karena para fandom ini bukan orang yang “berada di samping sang idola” 24 jam sehari, jadi tidak ada yang tahu pasti seperti apa akhlak “aslinya”. Yang mereka tahu hanyalah akhlak sang idola saat berada di depan public. Poin ini sebenarnya juga bukan poin utama, tapi kadang jadi pertimbangan ketika memilih apakah dia layak menjadi sang idola.

Lalu bagaimana fisik dan wajahnya? Nah, ini dia yang menjadi kriteria utama apakah sang idola layak memiliki fandom atau tidak. Pastinya dia harus “stand out” dibanding manusia biasa. Wajahnya juga harus “stand out”. Fisiknya juga harus “stand out”. Sehingga layak dipasang sebagai “wallpaper” atau poster.

Lalu selain fisik dan wajah apalagi yang menjadi kriteria “you are my idol”? pastinya skill yang dia miliki. Jika dia seorang aktor, maka beragam penghargaan harus dikantongi olehnya, minimal rating film atau drama yang ia bintangi selalu meroket. Jika dia seorang penyanyi, maka suara dan performanya ketika berada di panggung harus mampu membuat para penonton berteriak histeris, menangis bahkan pingsan (saking terharunya).

Apa yang menjadi sejarah lahirnya fandom di dunia ini? kenapa ada idola? Kenapa ada fans? Karena…

Pada dasarnya “HUMANS ARE SOCIAL CREATURES

In most cases, it’s perfectly natural. Humans are social creatures, psychologists say, and we evolved — and still live — in an environment where it paid to pay attention to the people at the top. Celebrity fascination may be an outgrowth of this tendency, nourished by the media and technology.

“In our society, celebrities act like a drug,” said James Houran, a psychologist at the consulting firm HVS Executive Search who helped create the first questionnaire to measure celebrity worship. “They’re around us everywhere. They’re an easy fix.” (Oscar psychology, why celebrities fascinate us. By Stephanie Pappas, Livescience Senior Writer)

Artinya…

Harus diterjemahin?? Berhubung sekarang sudah ada teknologi yang bernama g****e translate, terjemahin sendiri aja ya…^_^

Intinya manusia itu adalah makhluk sosial yang hidup di lingkungan manusia. Setiap hari kita berinteraksi dengan berbagai manusia untuk menyerap nilai-nilai (baik maupun buruk). Manusia cenderung memiliki ekspektasi untuk menjadi “lebih” dibandingkan dirinya sendiri. Misalnya :

“Saya ngefans sama Barack Obama, pengen deh punya presiden seperti dia.”

“Saya ngefans sama Albert Einstein, jenius!”

“Saya ngefans sama Steve Jobs, gue banget deh!”

“Saya ngefans sama CR7, udah cakep, jago main bola, kaya, pokoknya keren deh.”

“Saya ngefans sama Johnny Depp, aktingnya keren banget.”

“Saya ngefans sama Exo, aahhhhh…mereka itu unyu unyu…!!!”

Apakah ngefans sama seseorang itu suatu hal yang jelek?

Nah, ini berdasarkan teori psikologi lagi…

Who among us hasn’t fallen victim to a little celebrity worship? Whether the object of our affections are movie stars, athletes, poets or politicians (just look at how many Americans are getting a buzz off Sarah Palin and Barack Obama), we’re hungry for information about them. We want to know what they’re saying, what they’re wearing, where they’re going and whom they’re with. Indeed, billion-dollar industries revolve around our indefatigable obsession with celebrities. And now new scientific research has found that celebri-crushes are not only common but maybe even healthy: a study published Sept. 10 suggests that the act of celebrity worship may be a boon to some people’s self-esteem.

Shira Gabriel, a psychologist at the University at Buffalo, conducted a series of three studies on celebrity worship, focusing specifically on how admiration from afar may affect the admirer’s self-esteem.

G penting lah ya metode penelitian atau penjelasan panjang lebar tentang penelitian si Shira Gabriel ini seperti apa, yang jelas kesimpulannya adalah :

Perhaps some people who don’t feel good about themselves and are not able to get what they want out of a real relationship because of a fear of rejection can feel a connection with a celebrity and get something positive out of that,” says Gabriel.

Because people form bonds in their mind with their favorite celebrities, they are able to assimilate the celebrity’s characteristics in themselves and feel better about themselves when they think about that celebrity,” says Gabriel. “And that is something these individuals can’t do in real relationships because their fear of rejection keeps them from getting close to people.”

A little can be good, but a lot can become harmful — as stalking and more obsessive behaviors prove. Recent research has even found that celebrity worship can decrease a person’s self-esteem because the endless admiration and yearning for a life and lifestyle that are out of reach may end up cementing one’s feelings of isolation and inadequacy.

There is a growing body of evidence that suggests that the human brain is not well equipped to distinguish between real relationships and — as psychologists call them — “parasocial,” or imagined ones. That means that some of the benefits people get from pseudo relationships with celebrities may be the same as those reaped from real friendships and real-life interactions. It’s just a matter of degree. So it’s O.K. to get caught up in Palinmania if her example makes you feel better about your chaotic life of juggling work and family — as long as you realize she won’t be there to talk you through your next family crisis. (sumber : http://content.time.com/time/health/article/0,8599,1841093,00.html)

Intinya, adanya perilaku ngefans sama selebriti atau public figure, dikarenakan manusia ingin menjadi seperti apa yang diidolakannya. Apabila hal ini dapat memberikan semangat kita untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan dalam hidup, memberikan hal positif bagi kita, ini bagus. Tapi apabila ngefans-nya ini berlebihan, justru tidak bagus bagi kehidupan kita, karena, come on…!!! they are not real. They have their own life, and so do you!.

bagi jiwa-jiwa labil, terkadang susah membedakan apakah perilaku mengidolakan seseorang ini tergolong normal dan masih dalam batas wajar atau sudah termasuk ke dalam kategori akut. Ini ada beberapa kriteria yang bisa menjadi pegangan.

Level 1 : sekedar tahu nama, hasil karyanya, perjalanan hidupnya hingga menjadi orang yang sukses, dan mengoleksi karya-karyanya.

Level 2 : level 1 + mengoleksi foto-fotonya, mengikuti berita terbaru tentang dia.

Level 3 : level 2 + follow semua media sosial yang ia miiki, jadi anggota fandom-nya, wallpaper gadget + dinding kamar all about dia.

Level 4 : level 3 + di alam bawah sadar pun, ada dia.

Level 5 : level 4 + dimana ada dia, disitu ada saya. (bayangan kaleee…)

Level 6 : level 5 + hidup matiku hanya untuknya…(<<<OMG>>>)

*klo Anda sudah merasa berada di level 4 apalagi level 6, waspadalah…!!.

Kehidupan manusia itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Sang idola pun seperti itu. Saat ini berada di puncak ketenaran dan keberhasilan, tapi suatu hari dia hanya akan tinggal kenangan. Saat ini kita mengidolakannya, tapi suatu hari nanti orang-orang yang berada di level 1 akan tersenyum mengenang dulu dia pernah mengidolakan “dia” dan mungkin karena “dia” lah orang-orang level 1 ini punya tekad untuk menjadi orang sukses. Sementara orang-orang yang berada di level 6 akan tersenyum miris mengingat betapa silly-nya dia dulu bisa habis-habisan hanya untuk idolanya. Tidak ada yang didapat kecuali wasting time, wasting money, wasting energy and they feel like stupid person.

Gimana klo kita mulai mencoba ngefans sama sosok yang nyata…

Nge-fans sama Rasulullah SAW.

Manusia yang T-O-P B-G-T ini tidak akan memberikan kesia-siaan kepada para fans-nya. Jangankan di dunia, di akhirat pun nantinya akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

“Ngefans sama Rasulullah mah udah pasti, sebagai umat muslim itu kudu wajib”, caranya dengan melaksanakan sunnahnya”.

Tapi…

Klo sekedar “melaksanakan” tanpa ada feelnya itu seperti zombi yang berjalan tanpa jiwa. Seperti anak SD yang disuruh ngafalin ini, itu, dan sebagainya. Seperti robot yang disetel untuk melakukan pekerjaan.

Lalu bagaimana caranya agar nge-fans sama Rasulullah ada feelnya…?

Jadilah fans level 6.

Cari dan resapi literatur yang menceritakan tentang beliau…

Tentang kemuliaan akhlak beliau…

Tentang kesederhanaan hidup beliau…

Tentang kecintaan beliau kepada Rabb-nya…

Tentang kecintaan beliau kepada umatnya…

Tentang keelokan rupanya…

Tentang kesempurnaan fisiknya…

Tentang kebiasaannya…

Tentang kepemimpinannya…

Rasulullah, yang di akhirat kelak hanya orang-orang yang mencintai Rabb dan Rasul sang kekasihNya yang akan berjumpa di surgaNya…

Perjumpaan yang hanya bisa dicicipi oleh jiwa-jiwa yang haus akan firmanNya…

Perjumpaan yang hanya akan dicicipi oleh raga yang senantiasa bersujud untukNya…

Perjumpaan yang tiada akan disesali, yang abadi lagi mambahagiakan.

So…

Nge-fans boleh aja, asalkan…

  1. Ngefans level 1.
  2. Inspiring to become a better person dan berfikir “ hebat ya dia, klo dia bisa jadi orang hebat, kenapa saya gak bisa?”

And…

It’s better become a fandom of Rasulullah SAW. It’s everlasting and happy ending.

What an amazing world if  in our heart, there is only one fandom, the ultimate idol, Muhammad SAW…

Oleh : IamProudToBeMuslim (@echyonghae)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s