Ketika Sangkakala Ditiup

Ketika Allah telah usai menciptakan langit dan bumi, Ia menciptakan sangkakala. Lalu sangkakala tersbut diserahkan kepada Malaikat Israfil dan ia meletakkan di mulutnya sambil matanya memandang ke arah ‘Arsy, Malaikat Israfil menunggu perintah untuk meniupnya. Sangkakala itu adalah tanduk besar yang kelak akan ditiupkan kepadanya tiga tiupan, yaitu :

  1. Tiupan pertama disebut tiupan faza’, yaitu makhluk di langit dan di bumi terkejut dan mati kecuali yang Allah kehendaki.
  2. Tiupan kedua adalah tiupan sha’q, yaitu berubahnya alam yang kita saksikan ini. Tiupan kedua menjadi akhir dari kehidupan dunia.
  3. Tiupan ketiga adalah tiupan al-ba’ts wa an-nusyur, yaitu tiupan untuk mengumpulkan yang mati dihadapan Rabb semesta alam.

Manusia akan keluar dari bumi seakan-akan mereka belalang yang berterbangan sambil menundukkan pandangan. Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu, yaitu Malaikat Israfil. Mereka tidak tahu kemana mereka akan menuju, sehingga mereka diibaratkan dengan belalang. Pada hari itu kita semua akan terdiam dan takut. Pada hari itu catatan amal manusia akan disebarkan.

Semua yang disembunyikan dan ditutup-tutupi akan ditampakkan, semua yang disimpan dalam hati akan disingkapkan. Orang-orang akan sibuk dengan urusan masing-masing hingga tidak akan ada yang sempat memperhatikan aurat orang lain. Hari itu adalah hari yang sangat mencekam. Allah ta’ala akan mengajaka bicara semua hambaNya tanpa penerjemah. Orang-orang akan dipanggil dengan namanya dan nama bapaknya. Allah ta’ala berfirman : Dan mereka akan dibawa ke hadapan Rabbmu dengan berbaris. “Sesungguhnya kalian datang kepada Kami, sebagaimana kami menciptakan kalian pada kali yang pertama; akan tetapi kalian mengatakan bahwa kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.” (QS. Al-Kahfi).

Berapa jarak antara dua tiupan? Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah SAW bersabda : “Jarak antara dua tiupan Sangkakala itu empat puluh.” Lalu para sahabat bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apakah 40 hari?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Apakah 40 bulan?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak tahu.” Mereka bertanya lagi, “Apakah 40 tahun?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak tahu.”

Kemudian turunlah hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Semua bagian manusia akan hancur kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Dari tulang ekor itulah manusia diciptakan pada hari kiamat.” (HR Al-Bukhari, no 4554 dan Muslim, no 5253).

Setelah sempurna susunan dan tubuh mereka, kemudian Allah SWT memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala lagi, sehingga ruh-ruh kembali kepada jasadnya, dan manusia pun bangkit berdiri menunggu keputusan Allah SWT. Demikianlah hari keluarnya mereka dari kuburnya. Dan tiulah prosesi kebangkitan.

Allah berfirman, Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.. yaitu pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi kami. (Qaaf ayat 41-44).

Kemudian manusia digiring ke Padang Masyar dalam keadaan tidak mengenakan penutup kaki maupun pakaian, dan dalam keadaan belum dikhitan. Allah berfirman : Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya (Al-Anbiya ayat 104). Rasulullah SAW memberitahu umatnya bahwasanya mereka akan dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan, lalu dikumpulkan di Padang Masyar. Beliau bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya kalian dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan tak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan” (HR Al-Bukhari no 3349 dan Muslim no 2860).

Aisyah bertanya, “Apakah wanita dan pria saling melihat satu sama lain?” Nabi menjawab, “Keadaannya jauh lebih berat dari sekedar melihat satu sama lain” (HR Muslim no 5102).

Sumber :@MuslimahOrId, @muslimindo, dan @almanhajindo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s