“Aku” (Iblis, Firaun, Qarun, Nabi Yusuf)

Yusuf bercerita pada ayahnya, tentang mimpi sang surya, bulan dan bintang. Sang ayah terkejut dan bimbang seketika. Kebimbangan sang ayah bukan karena mimpi yang dilihat Yusuf. Ia bimbang karena Yusuf menggunakan kata “aku” (inni ra’aytu, aku melihat). Setelah engkau gunakan kata “aku”, maka derita dan nestapa akan menyelimuti keluargaku.

Dahulu para malaikat menggunakan kata “kami”. Dan 70.000 dari mereka dihukum dan dibakar. Sisanya memohon ampun padaNya. Maka Allah SWT berfirman : jangan sesekali kalian gunakan kata “kami” di langit dan di bumi. Tak ada “kami” selain Dia.

Dahulu Qarun kerap berkata “milikku”, dan akibatnya dia mati tersungkur, terkubur bersama harta yang tak lagi menghidupkan.

Dahulu iblis menggunakan kata “aku” (ana) saat menatap Adam. Seketika pupus amal ibadahnya selama 700.000 tahun dan terkutuklah dia.

Fira’un menggunakan kata “milikku”. Bukankah tanah Mesir dan Sungai Nil milikku?. Saat tenggelam di laut merah, antara hidup dan mati, Fir’aun sadar bahwa dosa terbesarnya adalah mengucapkan kata tersebut.

Kini si kecil Yusuf mengadu pada ayahnya tentang mimpinya. Aku melihat…Inni ra’aytu…

“Yusuf, mengapa kau mengucapkan kata itu…”

Tetapi Tuhanmu masih mengasihimu, hukumanmu akan kau lalui dengan sabar. Ringan dibandingkan hukuman Iblis, Fir’aun, dan Qarun.

Dahulu ada seorang dari Bani Israil bermimpi bahwa Tuhan akan mengabulkan tiga permintaannya. Ketika terjaga ia berkonsultasi dengan istrinya. Langsung saja sang istri berkata, “Permintaan pertama agar aku menjadi perempuan tercantik.” Permintaannya dikabulkan oleh Tuhan. Sang istri menjadi perempuan tercantik. Raja pun melirik. Sang raja memaksa suami perempuan tersebut untuk menceraikan istrinya. Sang suami bahkan diancam oleh sang raja. Dan dengan berat hati, ia harus melepas sang istri ke pelukan penguasa.

Sang suami merasa dipecundangi. Ia marah dan cemburu. Ia lalu memohon kepada Tuhan agar sang istri diubah menjadi seekor anjing. Maka terkabullah permintaan kedua. Sang istri menjadi seekor anjing. Tak lagi memiliki tempat di istana, ia berlari kembali kepada sang suami. Si anjing pun menebus kesalahannya dan menjadi anjing yang sangat setia kepada sang suami. Lama kelamaan sang suami pun iba melihatnya. Ia pun memohon kepada Tuhan, “Kembalikan istriku seperti sedia kala. Si anjing pun kembali seperti sedia kala, namun tak ada yang berubah dengan kehidupan mereka. Yang ada justru “aku” dan rasa “keakuan” (ananiyah) yang hampir menggelincirkan.

Di pinggir kota Marv, ada seorang zahid (ascetic) yang hidup sebatang kara di atas bukit. Menjauhi dunia tuk menghadap Yang Kuasa. Setiap siang dilalui dengan puasa. Setiap malam dihabiskan tuk mendekat kepadaNya. Ia habiskan hidup selama 60 tahun tuk beribadah. Suatu hari saat ia keluar dari rumahnya untuk berwudhu, iblis kebetulan lewat di daerah itu. Terciumlah aroma kesucian di hidungnya. Iblis pun terkejut. Aroma kesucian mengingatkannya pada ibadahnya, sebelum ia dilaknat dan dibuang oleh Allah SWT.

Kerinduan iblis membawanya masuk kerumah sang zahid. Ia bersimpuh di tempat sang zahid beribadah dan menyentuh tasbihnya. Iblis mulai menangis. Ia luapkan segala derita dan keluh kesah kerinduannya. Dalam erangannya iblis berkata, “Tuhan, kau lukai aku dengan panah perpisahan yang menusuk seketika tanpa disangka. Engkau panah aku saat aku tak melihat, dan hancurlah segala keindahanku. Maka kini disaat aku papa, di saat perpisahan telah membawa kegelapan di wajahku, tolonglah aku. Hanya pertemuan dan kedekatan denganMu yang mampu mengobati keadaan ini.

Di saat yang sama, sang zahid kembali ke rumahnya. Dia melihat pintu rumahnya tertutup dan dipikir salah satu muridnya telah tiba. Sang zahid pun mengetuk pintu rumahnya. Di dalam iblis bertanya, “Siapa yang mengetuk?” Sang zahid menjawab, “Aku”. Mendengar jawaban sang zahid, Iblis menangis. Ia bertanya lagi, “Siapa yang mengetuk?” sang zahid menjawab kembali, “Aku”. Panasnya api perpisahan semakin membakar Iblis. Dibukanya pintu dan ditatapnya wajah sang zahid yang dibasahi tetesan air wudhu.

“Dengarlah kata-kataku,” Ujar Iblis. Jangan pernah ucapkan kata “Aku” jika engkau tak ingin menjadi seperti diriku. Aku telah hidup berzuhud melebihimu. Engkau berzuhud 60 tahun, aku telah berzuhud dan mendekat padaNya selama 700.000 tahun. Dan suatu ketika aku berkata “Aku” seperti yang tadi kau ucapkan. Dan kini lihatlah apa yang terjadi padaku!. Jangan sesekali ucapkan “Aku”, jika engkau tak ingin senasib denganku. Iblis pun pergi dari hadapan sang zahid. Pergi membawa penyesalan mendalam akibat perpisahan dengan RabbNya.

“Aku adalah dosa terbesar sang pecinta. Ketika ada “aku”, maka engkau telah ikrarkan perpisahan denganNya. Semoga saja amal, perbuatan, dan ibadah kita tidak justru menguatkan ke-“aku”-an kita. Jangan sampai ibadah kita menjadikan kita sombong, merasa paling benar dan paling suci dibanding orang lain. Jika mau tanding ibadah, tak ada yang bisa menandingi iblis. Tapi akhirnya dia sengsara hanya karena merasa sok suci dan sok mulia.

Semoga Tuhan melindungi kita dari sifat annaniyah, paling mulia, paling relijius, paling suci, lebih baik dan lebih pantas dari orang lain.

Sumber : @faiansyi’s

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s