(Part 1) Penaklukan Suriah (Damaskus)

Ekspansi Islam ke negara-negara di luar Makkah dan Madinah dimulai setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Terutama pada saat pemerintahan Umar bin Khattab, Islam mulai gencar melakukan penaklukan ke negara-negara yang berada di bawah kekuasaan Bizantium dan Persia.

Setelah terpilih menjadi pengganti Abu Bakar, Umar mengambil alih komando besar atas pasukan muslim. Mula-mula Umar mengganti Khalid ibn Walid dengan Ibnu Ubaidah ibn al-Jarrah. Umar memerintahkan mereka untuk menunda perhatiannya atas kota Pella – tempat sebagian pasukan Bizantium yang kalah perang bersembunyi – dan lebih terkonsentrasi untuk bergerak menuju Damaskus.

Permata Timur, demikian kota Damaskus dijuluki. Damaskus adalah salah satu kota tertua di dunia yang dihuni sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Kejayaan Damaskus memuncak pada tahun 1000 SM, saat kota itu jadi ibu kota kerajaan Aramaic – Suriah, bangsa yang kemudian menetap di mayoritas wilayah Suriah dan Mesopotamia, dengan nama Dar Misk – yang dalam bahasa Aramaic kuno berarti kota wewangi. Ibnu Jubayr, penyair dan sejarawan Arab, memberikan kesaksian tentang kota purba ini. “Jika surga itu ada di bumi, itulah Damaskus. Jika bumi itu ada di surga sana, maka damaskus adalah penjelmaannya.”

Karena letaknya yang strategis, yaitu di jalur utama dagang dunia, di dekat pesisir Levantina (Mediterania Timur), Damaskus pernah dikuasai berbagai Imperium dunia, seperti Akkadia, Ibrani, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, dan Arab-Islam. Kaisar Persia, Cyrus Agung, yang membebaskan Damaskus dan seluruh wilayah Suriah dan Palestina dari bangsa Babilonia (538 SM), menjadikan Damaskus sebagai ibu kota wilayah Suriah saat menjadi provinsi bagian Persia. Sementara pada masa kekaisaran Romawi (sejak 64 SM) dan penyebaran agama kristen (3M), Damaskus adalah salah satu kota terpenting di wilayah Suriah, selain Antiokia (sebagai kota terbesar), Palmyra, dan Busra. Kota Damaskus demikian megah dan makmur, dikelilingi tujuh pintu gerbang utama yang luas dan tinggi, yang dibangun pada masa pemerintahan Romawi, yaitu gerbang timur (Syarq), Jabiyah, Kisan, Shagir, Thomas (Thuma), Janic (Faraj), dan Faradis (Paradise). Tata letak kota Damaskus sangat indah. Rumah, istana, gereja, teater, akademi, dan kuil-kuil tertata dengan baik.

Dongeng tentang kemegahan dan keindahan Damaskus telah berkembang di kalangan orang Arab secara turun-temurun sejak sebelum Islam. Nenek moyang mereka terbiasa berdagang ke kota-kota Suriah pada musim panas (rihlah as-syita) dan ke kota-kota di Yaman dan Ethiopia pada musim dingin (as-shaif).

Pasukan Islam bergerak ke kota bergerbang tujuh itu. Mendengar kabar tersebut, Kaisar Heraklius mundur ke Emesa. Umar memerintahkan untuk mendahulukan Damaskus daripada Pella – sekalipun jarak Pella lebih memungkinkan untuk dijangkau terlebih dahulu – karena Damaskus adalah kunci utama untuk menaklukkan kota-kota Suriah lainnya, bahan juga ke kota Palestina dan Pesisir Levantina, sekaligus sebagai pintu gerbang menuju kota Emesa (Himsh) dan Antiokia dari arah selatan. Umar juga menempatkan pasukan di setiap pintu gerbang tersebut; pasukan Khalid bin Walid di gerbang timur, Amr bin Ash di gerbang Thomas, Abu Ubaidillah di gerbang Jabiyyah, dan Yazid bin Abi Sufyan di gerbang Faradis. Umar juga memerintahkan beberapa pasukan untuk ditempatkan di sebelah utara Damaskus yang menjadi jalan terusan menuju Emesa untuk berjaga-jaga jika Heraklius mengerahkan pasukannya secara tiba-tiba dari kota tersebut.

Setelah menjalani pengepungan kota selama enam bulan, Damaskus akhirnya dapat ditaklukkan, tepat pada Februari 635 M. Mula-mula Khalid yang pertama kali berhasil membuka pintu sisi timur benteng kota itu, kemudian disusul oleh Abu Ubaidillah di sisi gerbang yang lain. Tak ada perlawanan berarti dalam usaha penaklukkan kota itu. Kebanyakan masyarakat Damaskus justru lebih memilih berdamai dan menyerahkan sepenuhnya kota tersebut kepada otoritas Islam. Negosiasi antara penduduk kota dan pihak Islam pun berjalan lancar, beberapa perjanjian dan persyaratan dibuat. Pihak Islam pun memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk kota sebagai kompensasi dari Jizyah yang ditetapkan.

Sumber : Kisah hidup Umar ibn Khattab Oleh Dr. Musthafa Murad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s