(Part 5) Penaklukan Suriah (Antiokia)

Kaisar Heraklius dikabarkan telah meninggalkan  Antiokia dan mundur ke Edessa (Raha), untuk kemudian berabjak menuju ibu kota kekaisaran di Konstantinopel yang selama sepuluh tahun terakhir tidak pernah dikunjunginya. Sebelum meninggalkan Antiokia, Heraklius sempat bersujud dan menumpahkan air mata di hadapan gereja agung Antiokia. Ia berkata, “Kedamaian untukmu wahai Suriah”. Ini adalah perpisahan tanpa ada lagi pertemuan setelahnya. Tidak akan ada lagi seorang Bizantium yang kembali padamu, kecuali ia penuh ketakutan karena menjadi tawanan.” Heraklius meninggalkan Suriah dengan cucuran air mata dan hati yang remuk. Wilayah yang memiliki daerah dan kota-kota jelmaan surga itu jatuh satu persatu ke tangan pasukan Islam.

Antiokia adalah kota terbesar dan termegah di seluruh Suriah. Kota bebukitan itu memiliki kedudukan penting dalam sejarah peradaban manusia. Dinasti Seluicids (305-67 SM), dinasti penerus Kaisar Alexander the Great yang menguasai wilayah Suriah (ketika penerus Alexander di Mesir mendirikan dinasti Ptolemi), menjadikan Antiokia sebagai ibu kota kerajaan mereka. Sewaktu emperor Roma Julius Caesar (100-44 SM), menaklukan Suriah, Antiokia juga menjad ibu kota Romawi untuk wilayah kekuasaan Timur. Ibu kota tersebut akhirnya dipindah ke Konstantinopel (Qansthanthiniyyah/Istanbul) sejak masa didirikan oleh Kaisar Konstantin pada 330 M.

Dalam tradisi kristen periode awal, Antiokia menjadi salah satu pusat dakwah agama al-masih, bahkan menjadi kota suci kedua setelah Yerussalem. Petrus, salah seorang hawari al-Masih datang ke kota itu dan mendirikan gereja pada 34 M. Pada 290 M, seorang pendeta terkemuka bernama Lusianus mendirika sekolah Teologi Antiokia yang kemudian berkembang menjadi Mahzab teologi kristen yang khas, mahzab yang mengusung penafsiran harfiah atas kitab suci Injil, juga pemahaman al-masih sebagai manusia biasa bukan menjadi Tuhan yang menjadi cikal bakal lahirnya mahzab monofisit Ariusian dan Nestorian dalam tradisi Kristen abad pertengahan.

Kota Antiokia diserahkan secara damai oleh uskup agungnya kepada pihak islam. Kemegahan dan keindahan kota ini pun dapat terjaga dari akibat-akibat pertempuran. Pihak Islam memberikan jaminan keamanan kepada seluruh penduduk kota dan penduduk kota pun diwajibkan membayar jizyah, pajak keamanan yang terbilang ssangat sedikit.

Sumber : Kisah hidup Umar ibn Khattab Oleh Dr. Musthafa Murad

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s