Muhammad SAW : Gagah Berani

Jika teguh memegang kebenaran adalah sikap yang agung, pasti keberanian masuk di dalamnya. Dan, seperti itulah Rasulullah. Berani adalah kebulatan dan keteguhan hati menghadapi situasi genting dan kalut. Keberanian tidak ada kaitannya dengan tubuh yang kuat atau otot yang kekar. Keberanian bisa saja tumbuh dari orang yang bertubuh lemah. Nah bayangkan jika keberanian itu berpadu dengan kekuatan tubuh. Perpaduan itulah yang dimiliki Rasulullah.

Dalam hal keberanian, tak seorangpun dapat mengungguli Rasulullah. Hanya beliau yang bisa dicontoh. Tak hanya sekali dua kali beliau terjepit dalam situasi sulit dan ditinggalkan kawan, tetapi beliau tetap bertahan. Tak pernah sekalipun menyingkir apalagi melarikan diri. Pahlawan seberani apapun pasti pernah menyingkir menyelamatkan diri. Ali ibn Abi Thalib berkata, “Jika kami diguncang rasa takut, musuh sudah di hadapan, dan biji mata telah memerah, kami menghindar dan berdiri di belakang Rasulullah sehingga tidak ada di antara kami yang lebih dekat kepada musuh selain Rasulullah.

Al-Barra’ ibn Azib menambahkan, “Orang paling pemberani di antara kami adalah yang sebaris dengan Nabi.

Imran ibn Husain pernah berkata, “Setiap kami berhadapan dengan batalion musuh, pasti Rasulullah orang pertama yang menghajar mereka.

Di antara cerita yang beredar menyangkut keberanian Rasulullah adalah bahwa sebenarnya beliau ingin keluar diri untuk menghadapi musuh. Tetapi beliau hendak mengajari sahabat dan melatih mereka memimpin perang sehingga dikirimlah detasemen-detasemen. Sabda beliau, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman kekuasaanNya, seandainya tidak berat bagi kaum muslimin, pasti aku tidak akan tinggal diam di belakang detasemen yang berperang di jalan Allah, selamanya! Tapi, aku tak punya kekuatan untuk membawa mereka, dan mereka pun tak punya kekuatan serta merasa berat kalau tak ikut bersamaku. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam genggamanNya, aku benar-benar ingin berperang di jalan Allah lalu aku terbunuh, berperang lagi, terbunuh lagi, berperang lagi, terbunuh lagi.”

Tak pernah sekalipun Nabi melarikan diri di medan perang, sebagaimana pernah dialami siapa pun yang dikenal pemberani. Berkali-kali Nabi ditinggalkan sebagian besar orang yang menyertai, tetapi beliau tak pernah menepi. Contoh paling nyata adalah ketika kaum muslim terdesak dalam perang Hunain. Waktu itu orang-orang lari mencari selamat di bawah deras hujan anak panah kaum musyrik. Nabi bertahan. Tak ada pemberani hari itu seberani beliau. Beliau turun dari bagal, bersujud di atas tanah, lalu naik lagi sambil berseru, “Aku Nabi tidak berbohong! Aku putra Abdul Muthalib!”

Kemudian beliau menyuruh pamannya, Abbas yang memiliki suara lebih lantang, untuk menyeru pasukan muslim, “Hai kaum Anshar! Hai kaum kulit coklat! Hai kaum Surah al-Baqarah!”

Melihat Rasulullah bertahan, kaum muslim kembali dan bertempur dengan keberanian penuh hingga berhasil memukul mundur kaum musyrik dan menang!

Pada perang Badar Nabi dikepung sampai Ali ibn Abi Thalib berkata, “Kau lihat pada perang Badar aku berlindung kepada Nabi yang berada paling gagah saat itu.

Sama halnya, apa yang terjadi pada perang Uhud sungguh tak bisa diremehkan. Beliau terjatuh dalam lubang, giginya patah, wajahnya terluka, dan dua keping patahan zirah menembus bagian atas paha beliau. Tapi beliau pantang menyerah, tak gentar, dan terus memimpin pasukan hingga diselamatkan Allah dari kehinaan.

Dalam peperangan itu nyali sebagian besar prajurit sudah ciut. Namun, Nabi tetap berdiri seteguh karang dan berhasil menyelamatkan pasukan ke lereng bukit yang aman dari serangan musuh. Karenanya, selamatlah kaum muslim dari serangan musuh yang merangsek membinasakan. Keberuntungan berpihak pada mereka. Kaum musyrik meninggalkan medan perang tanpa berhasil memetik apa yang mereka targetkan.

Pada perang Dzatur Riqa, Nabi diam-diam didatangi Ghurats ibn Harits. Waktu itu beliau sedang duduk sendiri, jauh dari sahabat yang sedang beristirahat dan merasa aman dari musuh. Tanpa disadari Nabi, seorang lelaki tiba-tiba sudah berdiri dengan pedang terhunus tepat diatas kepala beliau.

“Siapa yang dapat mencegahmu dariku sekarang wahai Muhammad!”

Nabi tidak bergerak, tidak gentar, bahkan menjawab dengan mantap, “Allah!”

Sontak lelaki itu gemetar ketakutan. Pedangnya terjatuh, lalu dipungut Nabi dan bersabda, “Sekarang, siapa yang dapat mencegahmu dariku?”

Ghurats semakin ketakutan, lalu menjawab, “Hai Muhammad, balaslah aku dengan kebaikan!”

Nabi meninggalkan lelaki itu dan memafkan.

Jika terjadi suatu peristiwa yang meresahkan orang banyak, dengan cepat Nabi mencari tahu dan bertindak, apapun yang harus beliau hadapi. Anas menuturkan, “Suatu malam penduduk dikejutkan suara aneh dari pinggiran Madinah. Nabi segera mendatangi  suara itu. Orang-orang juga bergerak mencari tahu, tetapi segera bertemu dengan Nabi yang sudah kembali dan berujar, “Tak usah kalian merasa cemas, tak usah cemas! Hanya suara kuda!” sabda beliau dari atas kuda Abu Thalhah tanpa pakaian lengkap (HR Al-Bukhari, Ibn Majah).

Tak salah bila Umar berkata, “Tak pernah aku melihat orang sedermawan, segagah, seberani, dan secemerlang Nabi.”

Selama tinggal dan berdakwah di Makkah, seluruh Quraisy memerangi dan berkomplot menghabisi Nabi. Semua beliau hadapi. Meski ditentang dan dimusuhi dari berbagai penjuru, beliau tetap mendatangi Masjidil Haram hingga mencapai Ka’bah, sholat dan beribadah di tengah sorotan mata kaum musyrik, membaca Al-Quran dengan lantang hingga mereka mendengarnya. Setelah paman beliau sang penolong dan pelindung Abu Thalib wafat, makin genting dan berat situasi yang dihadapi beliau, akan tetapi Nabi tak pernah menyerah apalagi takut dan beranjak dari bumi Makkah.

Watak berani ini tentu tidak melekat begitu saja pada diri Nabi. Ada akar panjang yang dpaat ditelusuri dari masa kecil beliau. Ada proses yang terus berlangsung dari mulai sebelum masa kerasulan dan sejak masa pertumbuhan beliau. Di bawah umur 20 tahun, Nabi sudah bergabung dalam perang Fijar, membantu pamannya Abu Thalib mengumpulkan anak panah yang berserakan. Sejak remaja beliau dikenal pemberani tanpa rasa takut.

Di umur 17 tahun, Nabi ikut salah seorang pamannya ke Yaman dalam sebuah kafilah. Di tengah jalan beliau dihadang seekor unta jantan, beringas dan liar, tetapi beliau menghadapinya dan memegangi tali kekangnya dengan kuat dan tenang.

Nabi tidak hanya berani secara lahiriah, namun Nabi juga memiliki keberanian dalam berpendapat. Pernaha waktu itu Nabi disuruh bersumpah atas nama Latta dan Uzza. Beliau pun menjawab, “Jangan suruh aku melakukan apapun atas nama keduanya, sungguh tak ada yang paling kubenci selain keduanya.”

Ungkapan tegas itu diungkapkan Nabi ketika penduduk Quraisy tengah mengagung-agungkan tuhan mereka tersebut. Begitulah keberanian Nabi SAW. Tak ada yang beliau takuti selain Allah SWT.

Sumber : Pribadi Rasulullah SAW Oleh Nizar Abzhah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s