Salahuddin Al-Ayyubi

Setelah menjadi penguasa Mesir dan menyatukan negara-negara tetangga Muslim yang kerap bertikai, Salahuddin – yang bergelar Al-Malik An-Nasir (Pendukung Raja) – menghalau tentara Salib keluar dari Yerussalem dengan menunjukkan kemurahan hati dan belas kasih kepada lawannya di medan pertempuran.

Abad ke-12 merupakan salah satu periode paling sulit dan kacau dalam sejarah Islam. Persatuan komunitas Islam sedunia hancur akibat persaingan politik dan konflik internal tak berkesudahan. Di wilayah timur Islam, Dinasti Kekhalifahan Abbasiyah dan Seljuk yang dulu pernah begitu berjaya telah menjadi sangat lemah secara politik dan hanya berkuasa dari segi namanya. Begitu pula kerajaan Fatimiyah di Mesir yang dulu begitu perkasa. Selain itu, wilayah-wilayah Bulan Sabit Subur Islam terbelah dan kemudian terbagi-bagi lagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil, dimana para penguasanya sering bertikai satu sama lain demi supremasi politik dan militer.

Yang membuat keadaan semakin buruk, pada saat bersamaan umat Islam juga berada di bawah ancaman lawan asing yang tangguh bernama Tentara Salib yang berangkat dari Eropa untuk menaklukkan Islam Timur. Pihak muslim pun tidak siap menghadapi Tentara Salib yang mencaplok wilayah Islam yang cukup luas di perairan Mediterania. Mereka kemudian merengsek ke Al-Quds atau Yerussalem, kota suci Islam ketiga. Tentu saja para penguasa Muslim yang terpisah-pisah tidak sanggup menandingi kekuatan besar Tentara Salib yang mengalahkan mereka secara telak dan membantai para warga kota itu secara massal. Di saat umat Islam merasa kalah taktik dan kalah manuver menghadapi Tentara Salib, Sultan Salahuddin yang legendaris muncul untuk mengembalikan kebanggaan dan wibawa umat Islam yang tercabik-cabik.

Salahuddin Yusif bin Ayyub – yang dikenal di dunia Barat sebagai Saladin – dilahirkan di Tikrit, Irak Modern. Berdarah Kurdi, keluarganya datang dari Armenia, Asia Tengah. Setelah menetap di wilayah yang kini termasuk Irak utara serta sebagian Turki dan Suriah, para anggota keluarga Ayyub menjadi warga terkemuka di wilayah mereka. Ayah dan paman Salahuddin menjadi anggota ternama dalam administrasi politik dan sipil Sultan Imaduddin Zangi.

Pada tahun kelahiran Salahuddin, sang ayah Najmuddin Ayyub diangkat sebagai gubernur kota kuno Heliopolis (nantinya berganti nama menjadi Ba’alabek dan saat ini terletak di Lebanon). Salahuddin muda menghabiskan tahun-tahun awalnya di kota kuno tersebut. karena ayahnya seorang pengikut Sufi terpelajar, Salahuddin mendirikan sebuah pondokan Sufi (zawiyyah) untuk para sahabatnya yang berpengetahuan spiritual. Di tahun-tahun awalnya, Salahuddin memperlajari Al-Quran dan menerima pelatihan mendalam dalam bidang keilmuan Islam tradisional, serta juga tata bahasa, sastra, dan puisi Arab.

Jasa luar biasa Ayyub kepada Imaduddin – Monarki yang berkuasa kala itu – membuatnya memperoleh penghargaan yang cukup besar. Namun, menyusul kematian mendadak pelindungnya itu, kelurga Ayyub dipaksa bertahan menghadapi kesulitan politik dan ekonomi.

Situasi berubah manakala Ayyub dibujuk oleh saudaranya Asaduddin Syirkuh (saat itu ia menjadi pelayan putra dan penerus Imaduddin, Nuruddin Zangi), untuk bekerja sama dengan penguasa baru dinasti Zangid. Ayyub setuju membantu Nuruddin untuk mengonsolidasikan cengkeramannya pada kekuasaan. Sebagai penghargaan atas kerja samanya, Nuruddin mengangkat Ayyub sebagai gubernur Damaskus. Kala itu Salahuddin masih remaja dan menghabiskan satu dekade berikutnya (antara tahun 1154-1164) di rumah ayahnya di Damaskus.

Sebagai anak gubernur, Salahuddin dijunjung tinggi oleh semua orang. Salahuddin dijunjung tinggi oleh semua orang. Salahduddin sendiri sangat menyukai Nuruddin karena kesalehan pribadinya serta mengajarkan perilaku teladan. Terkesan oleh pengabdian gigih Nuruddin terhadap prinsip-prinsip dan praktik-praktik Islam, Salahuddin pun membangun karakter dan kepribadiannya sendiri sesuai ajaran-ajaran Islam. Bahkan penghormatannya terhadap prinsip-prinsip Islam, ditambah kebiasaan-kebiasaanya yang cermat dan kualitasnya yang luhur, nantinya membuatnya sangat dipuji di Timur dan di Barat. Bahkan para pengkritiknya mengagumi kesimpatikan, kemurahan hati, dan toleransinya yang tidak biasa.

Pada dasarnya Salahuddin tidak menyukai kemegahan dan konvoi arak-arakan. Dia justru menggunakan waktunya untuk sholat dan beramal sholeh. Seperti halnya Nuruddin, Salahuddin menjalani gaya hidup yang sederhana dan keras, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi.

Sampai usia 25 tahun, Salahuddin menjalani kehidupan normal, tanpa menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi orang besar. Setelah menjalani masa kanak-kanak dan dewasa yang tenang dan diharapkan memasuki masa tua secara mulus, Salahuddin tiba-tiba terseret ke dunia global politik yang keruh dan berbahaya.akibat menderita sakit, Sultan Nuruddin tergolek di tempat tidurnya. Pada saat inilah paman Salahuddin dan panglima tertinggi angkatan bersenjata Nuruddin, Syirkuh mendekati sang Sultan yang sedang sakit memohon izin melancarkan ekspedisi militer terhadap para penguasa subversi Kerajaan Fatimiyah di Mesir. Setelah sempat ragu-ragu, sang Sultan memberikan izin.

Selama ekspedisi tersebut, dibantu keponakannya Salahuddin, Syirkuh menaklukkan semua lawannya dan memegang kendali kerajaan Fatimiyah di Mesir. Segera setelah menaklukkan Mesir, Syirkuh wafat pada tahun 1169 tanpa mengonsolidasikan kendali kekuasaannya. Walaupun Salahuddin menyertai pamannya dengan agak ogah – dan membiarkan pamannya membuat semua keputusan penting – kini dia tak punya pilihan selain mengambil alih, dan mengukirkan namanya di tempat yang unik dalam catatan sejarah.

Tiga hari setelah Syirkuh wafat, khalifah Fatimiyah saat itu, Al-Adid meminta Salahuddin menggantikan pamannya dan menganugerahkan gelar al-Malik an-Nasir (pendukung Raja) kepadanya. Usianya beru tiga puluh tahun. Penunjukannya sebagai penguasa Mesir menjadikannya seorang operator politik yang lebih kuat, gigih dan bijaksana. Akan tetapi hal ini tetap membuatnya hidup sederhana yang jauh dari kenikmatan dan kesenangan hidup ala aristokrat. Menurut orang-orang sezamannya, kehidupan pribadi Salahuddin tetap sederhana dan mencurahkan waktunya untuk beribadah dan bermeditasi.

Selain sholeh dan cerdas, Salahudin juga bekerja tanpa kenal lelah untuk menyatukan kaum muslim di bawah bendera Islam. Dengan melakukan itu, dia mendirikan sebuah kerajaan yang kuat di Timur Islam dengan tujuan membebaskan kota suci Yerussalem dari cengkeraman Tentara Salib. “Kala Allah Yang Maha Kuasa memberikan Mesir kepadaku,” Salahuddin bercerita di kemudian hari, “Aku Yakin Palestina pun akan jatuh ke tanganku.”

Saat Salahuddin sibuk merencanakan pembebasan Yerussalem dari penguasa tentara Salib, para penguasa Muslim lainnya malah sibuk bertikai satu sama lain untuk meningkatkan kekuasaan dan kekayaan pribadi mereka. Orang-orang berbakat seperti Salahuddin tidak akan dilahirkan setiap saat. Mereka muncul pada saat genting dalam sejarah umat manusia. Berkat kekuatan karakter dan kepribadian yang dimilikinya, mereka mengubah arah sejarah dunia.

Setelah menjadi penguasa Mesir, tujuan utama politik Salahuddin adalah mengembalikan kehormatan Islam dengan mengusir Tentara Salib dari bumi Islam Yerussalem. Keberhasilan tak terduganya atas Tentara Salib mengokohkan reputasinya sebagai pendukung besar Islam. Dia juga menjadi salah satu raja – pejuang tersukses dalam catatan sejarah.

Sebagai “al-Malik an-Nasir,” Salahuddin melakukan reformasi menyeluruh di dalam eselon-eselon kekuasaan tertinggi di Mesir. Dengan mengubah ulang struktur sipil dan administrasi pemerintahannya, dia menggerus sebagian besar elemen yang korup, licik, dan berbahaya dan menggantikan mereka dengan orang-orang yang bersih, jujur, dan lurus.

Selanjutnya, Salahuddin mengirimkan undangan kepada ayahnya. Ayyub, yang saat itu tinggal di Damaskus, untuk bergabung dengannya di Mesir. Ayyub pun bermigrasi ke Mesir bersama seluruh keluarganya, termasuk saudara jauh dan teman-temannya. Pertama kalinya dikelilingi oleh keluarga dekat dan sahabat-sahabatnya, Salahuddin akhirnya menjadi penguasa Mesir sejati.

Tidak diragukan lagi, konsolidasi kekuasaan Salahuddin di Mesir membantunya melakukan reformasi lebih jauh. Itu termasuk penghapusan Dinasti Fatimiyah yang mulai merosot (hal ini tercapai setelah kematian Khalifah Fatimiyah terakhir, Al-Adid) dan redistribusi semua kekayaan dan properti yang ditimbun Dinasti Fatimiyah. Salahuddin membagi semua kekayaan itu menjadi tiga bagian. Sebagian untuk Khalifah Abbasiyah di Baghdad, sebagian untuk Sultan Nuruddin di Damaskus, dan sisanya dimasukkan ke kas negara (bait al-mal) untuk kesejahteraan rakyat Mesir. Salahuddin menolak menyimpan apa pun untuk dirinya sendiri atau keluarga.

Kebaikan dan kemurahan hatinya membuatnya dicintai rakyatnya karena menyirami mereka dengan banyak hadiah, sementara Salahuddin lebih memilih bergaya hidup sangat sederhana. Bahkan dia menolak tinggal di istana-istana megah khalifah yang dibangun Dinasti Fatimiyah. Salahuddin justru tinggal di kediamannya yang sudah agak tua di Kairo. Kala rumah ini menjadi terlalu kecil untuk kelancaran dan keefektifan pemerintahannya, dia secara mandiri membangun sebuah gedung yang sederhana nan elegan di Kairo, sehingga dapat melakukan tugasnya sebagai penguasa Mesir secara efektif dan efisien.

Tidak lama setelah mengonsolidasikan kekuasaannya di Mesir, Salahuddin menerima berita kematian Nuruddin pada tahun 1174. Dia memahami kegawatan situasi ini dan bergerak cepat untuk mencegah terjadinya konflik-konflik internal di Suriah. Dengan begitu, dia memegang kendali penuh atas negeri yang penting secara  strategis. Setelah mengambil alih Suriah, dia menunjuk keponakannya, Faruq Syah, sebagai gubernur wilayah tersebut.

Dalam usia yang masih 36 tahun, Salahuddin kini melaksanakan serangkaian kampanye militer dalam rangka memperkuat dan menyatukan negara-negara tetangga Islam yang saling bertikai. Selain Suriah dan Mesopotamia, dia sukses mencaplok sebagian besar Afrika Utara seperti Tunisia dan Libya, serta sebagian besar wilayah Arabia termasuk Yaman. Salahuddin dengan segera membentuk sebuah kerajaan besar dan menjadi pemimpin sejati dunia Islam pada saat itu.

Sebagai salah satu penguasa muslim terkuat di zamannya, Salahuddin bisa saja memilih menghabiskan sisa hidupnya dengan damai dan nyaman. Alih-alih, dia memusatkan perhatiannya pada kegiatan subversif tentara Salib yang saat itu mempertahankan cengkeramannya terhadap Palestina.

Setelah menduduki negara itu, Tentara Salib melampiaskan malapetaka di seluruh pelosok wilayah. Mereka bahkan sampai begitu dekat dengan Madinah dan mengancam akan menguasai kota itu. Ketika Salahuddin mendengar berita tentang perlakuan kasar Tentara Salib terhadap penduduk Madinah, dia bersumpah menghukum para kriminal itu dengan tangannya sendiri.

Sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata, Salahuddin meninggalkan Mesir dan memimpin pasukannya menuju Palestina untuk menghadapi ancaman tentara Salib. Pasukannya bertemu dengan lawannya di sebuah wilayah bernama Tiberlas di dekat danau Galilea pada 1187. Pertempuran sengit pun pecah. Pasukannya melancarkan serangan dahsyat dan terkoordinasi terhadap pasukan Frank yang dengan segera kehilangan semangat.

Dalam keputusasaan, beberapa jenderal pasukan Frank meninggalkan pasukan mereka dan menghadap langsung kepada Salahuddin. Mereka memohon Salahuddin mempercepat kemenangannya dan meringankan penderitaan mereka. Dalam perang bersejarah ini – dikenal sebagai perang Hitton (Hattin) – Salahuddin mengajarkan kepada tentara Salib pimpinan Frank bagaimana bersikap baik, murah hati, dan belas kasih. Sejak itu namanya menjadi simbol keberanian dan kepahlawanan, baik di Timur maupun Barat.

Kemenangan di Tiberias membuka pintu ke sisa pelosok Palestina. Salahuddin bergerak cepat sebelum pasukan Frank kembali menyusun kekuatannya. Salahuddin masih sempat menunaikan shalat jumat berjamaah di masjid yang selama tiga generasi sebelumnya diubah menjadi gereja oleh tentara Salib. Secara sendirian, Salahuddin menghadapi kekuatan Eropa bersatu dan memecah kekuatan itu menjadi berkeping-keping.

Salahuddin tak butuh waktu lama untuk menguasai sisa Palestina termasuk Yerussalem dan dia melakukannya tanpa menumpahkan darah orang-orang tak bersalah. Berbeda tatkala Tentara Salib pertama kali memasuki  Yerussalem dan membantai seluruh warganya, sehingga seluruh kota menjadi merah karena darah. Kebaikan dan kemurahan hati Salahuddin menyentuh hati dan pikiran seluruh penduduk Yerussalem. Para penulis sejarah kristen mengenai sejarah perang Salib pun sangat memuji sikap Salahuddin terhadap penduduk Yerussalem.

Berkat Salahuddin, al-Quds – kota suci ketiga umat Islam – kembali berada di bawah kekuasaan Islam. Setelah misinya tercapai, Salahuddin kembali ke Damaskus. Disana dia membangun banyak sekolah, masjid, dan rumah sakit. Dia meninggal dunia pada usia sekitar lima puluh tahun dan dikebumikan di halaman Masjid Umayyah yang bersejarah di kota itu.

Nama dan kemasyuran Salahuddin terus bergema di seluruh dunia Islam dan Barat sampai hari ini. Seorang pria yang memiliki karakter yang amat luar biasa dan sifat-sifat yang begitu menginspirasi. Tidak heran saat ini Salahuddin dianggap sebagai salah seorang Muslim paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s