Al-Bukhari

Berkat antologi mahsyurnya, Jami As-Sahih atau Sahih Bukhari yang berisi lebih dari tujuh ribu hadits Rasulullah paling otentik yang dipilih dari setengah juta hadits yang dihafalkannya, Al-Bukhari mencapai posisi puncak sebagai ulama hadits yang tidak mampu disaingi para ahli hadits sesudah dirinya.

Kehidupan dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW, merupakan sumber inspirasi, bimbingan, dan instruksi yang penting bagi satu miliar lebih umat Islam di seluruh dunia saat ini. Mulai dari cara melakukan transaksi bisnis triliunan rupiah di pasar internasional sampai rincian bagaimana cara meminum segelas air, seorang Muslim dapat mengambil bimbingan langsung tentang semua aspek kehidupan Rasulullah dari koleksi besar literatur hadits.

Dalam bahasa Arab, kata “hadits” mengacu pada “perkataan” atau “ucapan” Rasulullah. Tidak ada manusia lain yang diikuti secara cermat sebagaimana Rasulullah diikuti dan ditiru oleh umat Islam. Beliau dianggap sebagai lambang kebajikan, kebaikan, dan kemanusiaan. Oleh karena itu, umat Islam sangat teliti meniru dan meneliti tindakan beliau (sunnah) dalam setiap lini kehidupan mereka. Dalam sejarah Islam, ada satu orang yang sangat menonjol dibandingkan yang lain dalam hal mengumpulkan, mengedit, menganalisis, dan melakukan verifikasi perkataan dan ucapan-ucapan Rasulullah. Orang itu tidak lain adalah Imam Bukhari.

Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari lahir di Bukhara, kawasan Islam di Asia Tengah. Berasal dari Persia, nenek moyang Bukhari termasuk para petani yang dijadikan sebagai tawanan selama penaklukkan Islam di daerah tersebut pada masa awal Islam. Kakek buyutnya, Mughirah, mengenal Islam dari Gubernur Bukhara kala itu, Yaman al-Jufi.

Mughirah mempunyai putra bernama Ibrahim. Putra Ibrahim bernama Ismail merupakan ayah Bukhari. Ismail adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan ahli hadits yang terkenal di daerahnya berkat kebiasaan-kebiasaannya yang sangat detil dan kepatuhannya yang ketat terhadap praktik normatif Rasulullah. Dia memiliki dua putra, Ahmad dan Muhammad. Muhammad adalah si bungsu yang kemudian dikenal sebagai Bukhari.

Ismail meninggal dunia tatkala Bukhari masih anak-anak. Keluarganya pun jatuh dalam kemiskinan dan kemelaratan. Namun, ibu Bukhari yang masih muda adalah seorang wanita saleh dan tekun. Meskipun mengalami kesulitan ekonomi, dia memastikan putranya menerima pendidikan yang baik.

Bukhari seorang siswa berbakat yang punya ingatan fotografik dan kemampuan analisis yang hebat. Meski bertubuh kurus dan kerap terlihat lemah, dia menonjol dalam studi-studinya. Kemampuannya memahami argumen-argumen yang rumit dan menemukan jalan keluar dari pandangan-pandangan yang bertentangan – sebagian besar berkat kecerdasannya yang mengagumkan dan daya ingatnya yang luar biasa – mengangkatnya ke salah satu posisi tertinggi yang pernah dicapai oleh seorang ahli hadits.

Kecintaan Bukhari pada keilmuan Islam – terutama kegigihannya dalam menemukan sunnah-sunnah Rasulullah – sudah tampak sejak masa awal kehidupannya. Ibunda Bukhari memainkan peranan penting dalam pendidikan awalnya dan sang ibu pula yang menginspirasi Bukhari untuk menempuh studi bidang Hadist.

Setelah menyelesaikan pendidikan awal pada usia dua belas tahun, Bukhari mengejar pelatihan lanjutan dalam ilmu-ilmu keislaman dengan mengkhususkan pada literatur hadist. Kerja keras dan dedikasinya dalam pelajaran-pelajarannya terbayar kala Bukhari menyelesaikan studi bidang hadist di bawah bimbingan semua ulama terkemuka di Bukhara pada usia delapan belas tahun. Bahkan usinya belum mencapai dua puluh tahun ketika dia diakui sebagai salah satu ulama hadist terkemuka di daerahnya.

Setelah itu, penelitian, pengumpulan, dan verifikasi sunnah-sunnah Rasulullah menjadi keasyikan Bukhari seumur hidupnya. Dengan mengombinasikan usahanya dalam mengumpulkan dan mengodifikasi sunnah-sunnah Rasulullah, Bukhari memantapkan reputasinya sebagai salah satu otoritas Islam terbesar dalam bidang hadist. Kesemua itu secara umum mewakili kontribusi dan jasanya yang sangat besar dalam kesarjanaan Islam.

Tanda-tanda kebesarannya sudah terlihat jelas sejak awal. Itu terbukti ketika Bukhari yang baru berusia sebelas tahun pernah mengoreksi kesalahan gurunya sendiri. Ketika sang guru tidak menanggapinya dengan serius, Bukhari menantangnya untuk memeriksa fakta-fakta yang dia kemukakan. Setelah sang guru memeriksa naskahnya, Bukhari ternyata memang benar.

Setelah pendidikan di Bukhara selesai, Bukhari meninggalkan kota kelahirannya menuju Makkah bersama Ibu dan saudaranya untuk menunaikan ibadah haji. Bukhari menetap di Makkah dan Madinah selama beberapa tahun dan meneruskan pendidikan lanjutannya dalam literatus hadist di bawah bimbingan para ulama terkemuka saat itu. Dari Makkah, dia mengunjungi pusat-pusat keilmuan Islam terkemuka di Mesir, Suriah, dan Irak, sebelum permanen menetap di Basrah untuk melakukan penyelidikan lanjutan dalam bidang hadist.

Seperti halnya para ulama besar lainnya di zamannya yang suka mengembara, Bukhari menghabiskan hampir empat dekade untuk bepergian ke segala tempat demi mengejar pengetahuan dan kebijaksanaan. Dalam persinggahannya, dia bertemu dengan sejumlah ulama hadist terkenal pada waktu itu, termasuk Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar bin Abu Shaiba, Ishaq bin Rahawaih, ali bin Al-Madini, dan Yahya bin Ma’in. Para ulama hadist ternama tersebut berperan penting dalam pengembangan dan penyebaran ilmu hadist. Bukhari mempelajari dan menguasai ilmu hadist – seni menyaring, membedah, dan membedakan hadist-hadist otentik dari yang palsu – dari para pelopor pemikiran dan keilmuan Islam tersebut.

Untuk dapat menganalisa sebuah hadist secara sistematis, seseorang harus sangat terbiasa – dan menguasai – sejumlah prosedur dan teknik penelitian. Yang dimaksud adalah keterampilan dan kemampuan melakukan pengawasan ketat dan pengujian silang masing-masing hadist melalui sebuah perspektif multidimensi. Itu menjadi syarat mutlak untuk memastikan kebenaran teks hadist (matn); mata rantai periwayatan (isnad), latar belakang perawi hadist (al-asma ar-rijal), serta pengetahuan dan pemahaman mendalam mengenai Al-Quran. Dengan demikian bisa ditentukan apakah hadist tersebut sesuai dengan wahyu ilahi atau tidak.

Setelah sebuah hadist diselidiki secara ketat dan sistematis, para ahli hadist mengklasifikasikannya menjadi kategori yang berbeda-beda, seperti benar (shahih), baik (hasan), banyak (mutawatir), satu (ahad), lemah (dhaif), palsu (maudhu), dan seterusnya. Namun, karena jumlah hadist yang beredar pada masa Bukhari begitu banyak maka usaha memisahkan gandum dari sekamnya menjadi tugas yang teramat besar, bahkan bagi seorang cendekiawan berbakat seperti Bukhari. Meski begitu, ketekunan, dedikasi, dan kekuatan menyimpannya yang luar biasa memungkinkannya tidak hanya menguasai ilmu hadist, tetapi juga menghafal sekitar setengah juta hadist. Ini memantapkan reputasinya sebagai seorang ahli literatur hadist sejati dan ketenarannya segera menyebar ke seluruh wilayah Timur Islam.

Setelah empat dekade tanpa henti mencari pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan sunnah-sunnah Rasulullah, akhirnya Bukhari menjadi ulama hadist tertinggi yang tidak mampu ditandingi oleh ahli-ahli hadist sesudah dirinya.

Bagi Bukhari, mempelajari, mengumpulkan, dan menyebarluaskan hadist menjadi sebuah jalan hidup. Dia mengunjungi negeri-negeri yang jauh, mengorbankan seluruh waktu, energi, dan kekayaannya dalam rangka mengejar hadist Rasulullah. Dia juga seorang pria yang berkarakter sempurna, saleh, serta memiliki tata krama dan kebiasaan yang teliti. Dia makan dengan sangat hemat, serta mengajarkan gaya hidup yang sangat sederhana dan keras. Dia bersungguh-sungguh mengikuti setiap langkah Rasulullah, serta sangat bersemangat melestarikan perkataan dan perbuatan beliau demi generasi selanjutnya.

Bukhari menjadi sangat menguasai literatur hadist, beberapa kali pengetahuannya tentang hadist diuji oleh sejumlah ulama terkemuka di zamannya. Dalam satu kesempatan, sepuluh ulama terkemuka  di Baghdad mengujinya di depan umum. Mereka sengaja mengacak dan mengubah narasi mata rantai perawi (isnad) dari sekitar seratus hadist berbeda, dan kemudian membacakannya di depan Bukhari. Kemudian dia diminta untuk mengomentarinya. Bukhari mengaku dirinya tidak familiar dengan hadist-hadist tersebut. malahan dia membacakan semua versi asli dari hadist-hadist yang sama dengan rantai narasi yang benar. Lalu dia berkomentar bahwa para ulama yang membacakan keseratus hadist itu mungkin telah mengacaukan rantai narasinya. Kedalaman dan keluasan pengetahuan Bukhari membuat para penguji dan orang-orang yang menyaksikannya terkagum-kagum.

Pada kesempatan lain, sejumlah ulama hadist terkemuka yang dipimpin Abul Husain bin Asakiruddin Muslim bin Al-Hajjaj (lebih dikenal dengan Imam Muslim), menanyakan beberapa masalah yang berkaitan dengan ilmu hadist. Mereka menilai Al-Bukhari menguasai subjek tersebut secara menyeluruh. Singkatnya, nama Bukhari muncul dari ujian-ujian seperti ini sepanjang hidupnya sehingga reputasinya selalu meningkat.

Selain sebagai ahli dan penghafal hadist yang hebat, Bukhari juga dikenal sebagai seorang penulis  yang mumpuni. Setelah mengumpulkan lebih dari setengah juta hadist, secara sistematis dia menyelidiki dan memeriksa kesemua hadist tersebut untuk memastikan kebenarannya. Setelah itu dia mengklasifikasikan semua hadist menurut  derajat penilaian, sehingga memisahkan sunnah-sunnah yang benar dari yang palsu. Dengan metodologi yang maju dan ilmiah seperti  ini – yang dikembangkan oleh bukhari dan para sejawatnya – dia mampu mengumpulkan dan melestarikan hanya hadist-hadist Rasulullah yang otentik demi kepentingan generasi mendatang.

Bukhari sudah mulai menulis buku sejak usia dini. Dia menyusun buku pertamanya tentang hadist saat tinggal di Madinah kala baru berusia delapan belas tahun. Buku ini berisi kumpulan besar tentang perkataan dan nasihat yang dikaitkan dengan para sahabat Rasulullah (sahabat) dan para penerusnya (tabiin). Dia juga menulis buku tentang para perawi hadist di tahun-tahun pertamanya. Dengan kata lain, prestasi intelektual dan literaturnya saat masih menjadi pelajar benar-benar luar biasa. Semua gurunya mengakui dan memuji kemampuan intelektual dan pengetahuannya yang luas. Beberapa bahkan meramalkan masa depannya yang cerah.

Tidak bisa dipungkiri, Bukhari memberikan kontribusi pada pemikiran dan pengetahuan Islam melebihi sarjana-sarjana lain dalam generasinya. Sementara itu, antologinya tentang hadist saat ini dianggap sebagai salah satu yang paling otentik dalam bidang literatur hadist. Dari seluruh karyanya, kontribusinya yang paling penting adalah Jami as-Sahih yang lebih dikenal dengan Sahih al-Bukhari. Koleksi hadist ini merupakan produk seumur hidup yang semata-mata diperuntukkan untuk pengkajian, penelitian, dan pemeriksaan hadist-hadist Rasulullah. Sebagai karya monumentalnya, antologi Bukhari tersebut saat ini dianggap sebagai buku tentang ajaran-ajaran Islam paling otentik setelah Al-Quran.

Menurut riwayat, Al-Bukhari diminta menuliskan buku ini setelah seorang ahli hadist ternama, Ishaq bin Rahawaih. Dia pernah menyatakan harapannya di depan umum bahwa seorang ilmuwan hadist terkenal harus menyusun sebuah koleksi besar hadist otentik. Pernyataan ini rupanya memantapkan Bukhari untuk mengerahkan seluruh karya multivolume tentang hadist yang telah teruji oleh waktu dan tak ada tandingannya sampai hari ini.

Dengan kriteria yang ketat demi memastikan keaslian masing-masing hadist, Bukhari menyelidiki lebih dari setengah juta hadist dan memilih yang paling otentik untuk dimasukkan ke dalam Jami as-Sahih. Dia menyusun bukunya menurut pokok pembahasan dengan judul yang berbeda-beda – termasuk Kitab Ilmu (Kitab al-Ilmu) dan Kitab Wudhu (Kitab al-Wudhu). Dia akhirnya menyelesaikan harta karunnya tentang hadist setelah melakukan penelitian selama hampir empat dekade.

Terdiri dari 7.222 hadist Rasulullah, antologi hadist ini tidak hanya memantapkan reputasi Bukhari sebagai salah satu ulama paling terkenal dan berpengaruh di dunia Islam, tetapi juga mengabadikan namanya. Jami al-Sahih merupakan puncak prestasi dalam bidang literatur hadist dan sangat mustahil rasanya cendekiawan sekaliber Bukhari akan muncul kembali.

Setelah beberapa dekade melakukan perjalanan demi mengejar pengetahuan dan kebijaksanaan Islam, Bukhari kembali ke kawasan Islam Asia Tengah dan menetap di Nisyapur. Saat usianya sudah lima puluh empat tahun, penduduk di kota tersebut menerimanya dengan hangat, dan dia terus mempelajari, meneliti, dan mengajarkan hadist-hadist Rasulullah sampai gubernur setempat memaksanya pergi dari kota tersebut setelah Bukhari menolak memberikan ceramah di kediaman resminya. Bukhari kemudian menetap di sebuah kota kecil, dekat kampung halamannya Bukhara, dan meninggal dunia pada usia sekitar enam puluh satu tahun.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s