Abu Hanifah

Salah seorang ahli teori hukum Islam dan fikih terbesar, Abu Hanifah lahir pada tahun 700 M, diakui sebagai pembaharu dan visioner besar berkat konsep kebijaksanaan intelektual (ijtihad) yang berkembang menjadi salah satu sintesis hukum paling berpengaruh dalam sejarah Islam dan kemudian dikenal sebagai Mahzhab Hanafi.

Prinsip-prinsip syariat (hukum Islam) berasal dari Al-Quran dan praktik keseharian (sunnah) Rasulullah SAW. Generasi Muslim awal cukup beruntung bisa hidup dan dibimbing langsung oleh Rasulullah dalam urusan sehari-hari mereka. Setelah Rasulullah wafat, para sahabat terkemukanya, seperti Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, meneruskan tampuk kepemimpinan masyarakat Muslim dan memerintah Negara Islam yang meluas sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasulullah. Meskipun prinsip-prinsip dan praktik-praktik Islam menjadi landasan interaksi masyarakat Islam yang didirikan oleh Rasulullah dan para sahabatnya pada masa-masa awal Islam, syariat belum terkodifikasikan secara sistematis pada saat itu.

Setelah periode kepemimpinan para sahabat Rasulullah, wilayah kekuasaan Islam berkembang pesat dan umat Islam mulai bersentuhan dengan beragam budaya dan tradisi lain. Semakin banyak orang non-Muslim yang memeluk keyakinan yang dianut penakluknya. Para penguasa dan ulama Islam menghadapi tantangan-tantangan sosial, politik, budaya, hukum, dan ekonomi yang baru dan tidak terduga. Pada momen kritis dalam sejarah Islam inilah Abu Hanifah muncul untuk mengembangkan salah satu sintesis hukum paling berpengaruh dalam sejarah Islam.

Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mah – lebih dikenal dengan nama leluhurnya, Abu Hanifah – lahir di Kufah (Irak) pada masa pemerintahan khalifah besar Dinasti Umayyah, Abdul Al-Malik bin Marwan. Berasal dari Persia, Abu Hanifah dibesarkan dalam keluarga Muslim yang cukup kaya. Ayahnya yang bernama Tsabit merupakan pengusaha terkenal yang mendapat kehormatan bertemu Ali, Khalifah Islam keempat. Ali kabarnya pernah berdoa untuk Tsabit dan keluarganya. Seperti ayahnya, Abu Hanifah tumbuh menjadi pedagang sukses.

Karena ketika itu Kufah menjadi pusat utama pengetahuan dan aktivitas intelektual Islam, beberapa sahabat Rasulullah paling terkenal (seperti Abdullah bin Mas’ud) menetap di kota itu untuk menyebarkan pengetahuan dan kebijaksanaan Islam. Abu Hanifah sangat beruntung dapat bertemu sejumlah sahabat terkemuka, termasuk Anas bin Malik, Sahl bin Sa’d, Abu Al-Tufail Amir bin Jabir bin Watihilah, dan Jabir bin Abdullah. Itulah sebabnya Abu Hanifah menganggap dirinya sebagai penerus dari para sahabat Rasulullah.

Meski begitu, beberapa cendekiawan Muslim mempertanyakan apakah Abu Hanifah pernah benar-benar bertemu dengan satupun sahabat Rasulullah. Namun, menurut tokoh-tokoh terkenal, seperti Khatib Al-Baghdadi, Yahya Al-Nawawi, Syamsuddin Al-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Zainuddin Al-Irak, Abu Hanifah bertemu antara delapan sampai sepuluh sahabat Rasulullah.

Abu Hanifah menghabiskan tahun-tahun awalnya untuk mengejar urusan-urusan bisnis dan komersial. Karena sang tiran Hajaj bin Yusuf memerintah di Kufah pada saat itu, Abu Hanifah lebih suka berbisnis. Setelah Hajaj meninggal dunia pada tahun 713 M, kekacauan politik dan kerusuhan sosial mulai mereda di dalam maupun di sekitar Kufah. Kematian Khalifah Al-Walid setahun kemudian juga membantu memulihkan perdamaian dan ketertiban di seluruh dunia Islam. Khalifah Sulaiman, pengganti Al-Walid, merupakan penguasa yang cukup baik hati, serta mendorong pengetahuan dan keilmuwan. Suasana damai yang diciptakan oleh Sulaiman ini mungkin mendorong Abu Hanifah mencurahkan lebih banyak waktu untuk mengejar pengetahuan dan pendidikan.

Menurut riwayat, suatu hari kala Abu Hanifah melewati rumah Al-Sya’bi (ulama terkemuka waktu itu), Al-Sya’bi – yang salah mengira Abu Hanifah sebagai salah satu muridnya – bertanya kepadanya hendak pergi kemana. Abu hanifah menjawab dirinya hendak menemui seorang pedagang. Kemudian Al-Sya’bi mengatakan Abu Hanifah menampakkan tanda-tanda kecerdasan dan perlu mencurahkan lebih banyak waktunya untuk belajar. Kata-kata nasihat itu tampaknya membakar imajinasi Abu Hanifah, sehingga dia pun mulai mendedikasikan seluruh waktu dan energinya untuk mengejar pengetahuan dan kebijaksanaan Islam.

Abu Hanifah bisa dibilang terlambat memulai. Sebagian besar teman sejawatnya sudah jauh didepannya ketika dia memulai studinya. Akan tetapi, berkat energi yang tidak kenal lelah dan kecemerlangan intelektualnya, dia segera menjadi seorang pemikir dan ahli hukum Islam terkemuka. Dia mungkin mengawali proses ilmu dan pendidikan Islam dengan sikap ragu-ragu. Namun begitu memulai, dia bertekad mencapai puncak pengetahuan dan keilmuwan Islam. Dianggap sebagai “al-Imam al-A’zham” (Imam besar Islam), Abu Hanifah menjadi salah seorang intelektual dan ahli hukum terbesar dalam dunia Islam.

Sebagai seorang murid berbakat dan pekerja keras, Abu Hanifah dengan cepat mengejar ketertinggalannya dengan menceburkan diri dalam lautan pengetahuan dan kebijaksanaan Islam. Dia belajar pada tokoh-tokoh besar, seperti Al-Sya’bi, Salamah bin Kuhail, A’masy, Hammad, dan Amr bin Murrah – kesemuanya berada di Kufah waktu itu. Dia menerima pendidikan dan pelatihan mendalam dalam bidang ilmu tradisional Islam, termasuk tafsir Al-Quran, teologi Islam dan fiqih.

Selain itu Abu Hanifah juga cakap dalam tata bahasa, sastra, dan aspek-aspek sejarah, serta ilmu silsilah Arab. Dia kemudian menuju Basrah dan mengikuti perkuliahan-perkuliahan Qatada dan Syu’ba – keduanya secara langsung mempelajari hadist dari para sahabat Rasulullah.

Ketajaman intelektual dan dedikasi gigih Abu Hanifah dalam belajar memungkinkannya untuk memahami dan menyerap pengetahuan Islam dengan cepat. Sampai-sampai gurunya, Syu’ba, pernah mengatakan, “Sama seperti aku tahu bahwa matahari itu cerah, aku juga tahu bahwa belajar dan Abu Hanifah adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan.” Oleh karena itu, Abu Hanifah tidak hanya menjadi ahli dalam bidang hadist, tetapi Syu’ba juga mengesahkannya secara resmi untuk meriwayatkan ilmu hadist kepada orang lain.

Karena semakin diakui sebagai seorang cendekiawan terhormat, Abu Hanifah bisa saja mendirikan sekolah dan mulai mengajar. Namun, dia memutuskan untuk belajar lebih banyak lagi. Oleh karena itu, dia pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji, sekaligus tinggal di sana untuk belajar lebih lanjut mengenai hukum Islam dari para ulama Makkah dan Madinah terkemuka.

Abu Hanifah terdaftar sebagai murid di sekolah milik Ata bin Abu Rabah yang waktu itu dianggap sebagai salah satu raksasa pengetahuan dan kebijaksanaan Islam. Mengenai Ata, Abdullah bin Umar, seorang sahabat terkemuka Rasulullah pernah berkata, “Mengapa orang-orang datang kepadaku, sementara mereka bisa mendatangi Ata bin Abu Rabah di sana?”

Sebegitu hebatnya kebesaran Ata sebagai seorang cendekiawan dan gudang ilmu pengetahuan Islam sampai-sampai Abu Hanifah secara rutin menghadiri kuliah-kuliahnya sebelum menyempurnakan pengetahuannya tentang hadist dan fiqih di bawah bimbingan Ikrima. Ikrima sendiri merupakan murid terkenal dari sepupu Rasulullah, Abdullah bin Abbas.

Pada tahun 720, saat berusia 21 tahun, Abu Hanifah meninggalkan Makkah menuju Madinah dan belajar hadist dari Sulaiman dan Salim bin Abdullah. Sulaiman adalah pembantu “Ummul Mu’minin” (ibu orang-orang beriman) Maimuna, istri Rasulullah, sementara Salim adalah cucu Umar, Khalifah Islam kedua. Kala itu mereka dianggap sebagai ulama paling terpelajar di Madinah.

Setelah mengunjungi sejumlah pusat studi Islam terkemuka dan memperoleh pembelajaran menyeluruh dalam semua cabang keilmuan Islam (ulumuddin) di bawah bimbingan ulama-ulama Islam paling terkemuka di zamannya, Abu Hanifah menjadi gudang besar pengetahuan Islam yang hebat. Penguasaannya dalam bidang pemikiran Islam mengangkatnya ke tingkatan baru dalam cakrawala pengetahuan dan keilmuan Islam. Berkat pengetahuannya yang begitu luas, dia menjadi ulama yang sangat dikenal, bahkan semasa dia hidup. Ketika reputasinya menyebar luas, sejumlah oknum tak bermoral mulai menyebarkan informasi yang keliru dan kebohongan tentang dirinya. Mungkin mereka cemburu dengan kemampuan hebatnya dalam mempelajari ilmu.

Suatu ketika saat tinggal di Madinah, Abu Hanifah diperkenalkan kepada Imam Muhammad Al-Baqir oleh salah satu koleganya. Ketika Imam tersebut bertanya kepada Abu Hanifah mengapa dia menyangkal hadist Rasulullah melalui qiyas (kesimpulan berdasarkan analogi). Abu hanifah menjawab dirinya tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Dia lalu meminta Imam Al-Baqir untuk duduk agar dia bisa menjelaskan posisinya. Percakapan berikutnya memastikan:

Abu Hanifah, “Siapa yang lebih lemah, pria atau wanita?”

Imam Al-Baqir, “Wanita.”

Abu Hanifah, “Siapa diantara mereka yang memiliki hak lebih besar dalam warisan?”

Imam Al-Baqir, “Pria.”

Abu Hanifah, “Jika aku membuat kesimpulan berdasarkan analogi (qiyas) maka seharusnya aku mengatakan bahwa wanita seharusnya mendapat warisan lebih besar, karena pihak yang lebih lemah berhak untuk mendapat pertimbangan lebih. Tapi aku tidak berkata demikian. Dengan mengambil topik lain, tugas manakah yang Anda pikir lebih tinggi, sholat atau puasa?”

Imam Al-Baqir, “Sholat.”

Abu Hanifah, “Kalau begitu, seharusnya selama masa menstruasinya, seorang wanita meng-qadha sholatnya dan bukan puasanya. Namun, keputusan yang kuberikan adalah bahwa dia bisa meng-qadha puasanya dan bukan sholatnya.”

Mendengar ini, Imam Al-Baqir berdiri, tersenyum, dan mencium dahi Abu Hanifah. Dia pun mengakui bahwa Abu Hanifah bukan ilmuan biasa, melainkan salah satu pemikir hukum Islam terbesar.

Sebagai seorang pemikir Islam dan pelopor pemikiran hukum Islam. Abu Hanifah jauh melampaui zamannya. Pemahamannya tentang Islam sangat mendalam, komprehensif, dan otentik. Namun, dia juga sangat mengetahui bahwa hukum ditujukan untuk diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat, bukan untuk disimpan dalam buku. Oleh karena itu menurutnya hukum dan prinsip-prinsip hukum harus secara langsung relevan dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Karena manusia bersifat dinamis, masyarakat terus-menerus berubah, sehingga kerangka hukum yang terlalu lama statis akan dengan mudah menjadi tidak relevan dari waktu ke waktu. Kecuali selalu diperbaharui sesuai dengan perkembangan lingkup sosial, politik, ekonomi, dan teknologi yang baru. Abu Hanifah memahami proses perubahan sosial politik dan evolusi sejarah ini lebih baik daripada ulama lain pada generasinya.

Abu hanifah menafsirkan sumber-sumber kitab suci Islam (Al-Quran dan sunnah otentik Rasulullah) untuk merespon langsung kebutuhan-kebutuhan pada masanya. Itu, artinya, dia mempelopori sebuah metodologi interpretasi hukum baru berdasarkan dua sumber fundamental Islam. Selanjutnya dia memakai metodologi hukum yang segar, inovatif, dan dinamis ini untuk merumuskan jawaban-jawaban Islam  terhadap masalah dan tantangan yang dihadapi umat Islam pada masanya. Meskipun jawaban-jawaban yang diformulasikan Abu Hanifah didasarkan pada pemahaman literalis Al-Quran dan sunnah Rasulullah, dia tidak ragu menggunakan kebijaksanaan intelektual (ijtihad) manakala dia merasa ini langkah yang tepat.

Sebagai seorang ahli teori hukum Islam dan fiqih sejati, Abu Hanifah mampu menjembatani  kesenjangan yang tidak dilihat orang lain. Tidak heran, bahkan sejumlah ulama Islam terkemuka di zamannya awalnya salah memahami ide-ide dan pemikiran-pemikirannya. Itu sebabnya banyak yang menuduhnya sebagai seorang pembaharu dalam agama yang keras kepala, sementara yang lain menyebutnya telah salah arah. Bahkan seorang ulama besar seperti Imam Abu Amir Abdul Al-Rahman bin Amir Al-Awza’i gagal memahami pemikiran hukum dan metodologi Abu Hanifah.

Semua perintis besar menghadapi hambatan-hambatan yang diletakkan oleh para tukang fitnah, dan tak terkecuali Abu Hanifah. Dia seorang genius dan visioner besar. Tidak hanya memahami sumber-sumber Islam secara menyeluruh, tetapi juga mengembangkan satu wawasan tak biasa ke dalam sifat dasar manusia dan kelemahan-kelemahannya. Kumpulan besar tentang keputusan-keputusan hukum (fatwa) yang dikembangkan Abu Hanifah dan murid-murid kepercayaannya sebegitu besarnya sampai-sampai seiring berjalannya waktu – sebuah mazhab pemikiran hukum Islam dibuat atas nama Abu Hanifah.

Dikenal sebagai mazhab Hanafi, mazhab pemikiran hukum Islam ini merupakan yang paling banyak diikuti di dunia Islam saat ini. Mazhab ini dipelopori oleh Abu Hanifah dan murid-murid terkenalnya, seperti Zu’far bin Al-Hudhail, Abu Yusuf Yaqub bin Ibrahim, dan Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani. Paling banyak ditemukan di India, Pakistan, Bangladesh, Afganistan, Turki, Suriah, Irak, dan Mesir.

Menjelang akhir hidupnya, Abu Hanifah dipenjarakan oleh Khalifah Abbasiyah, Abu Ja’far Al-Mansur  karena menolak menerima jabatan qadhi atau hakim kerajaan Abbasiyah. Namun menurut pendapat lain, dia dimasukkan ke sel karena diduga mendukung Zaidiyah (sebuah faksi dari mazhab Syi’ah) yang begitu sering menetang Dinasti Abbasiyah.

Abu Hanifah meninggal dunia di dalam penjara pada usia sekitar enam puluh tujuh tahun dan dimakamkan di Baghdad. Di kemudian hari, untuk mengenang pencapaiannya, di kota tersebut dibangun sebuah “mausoleum” (kompleks makam yang besar dan indah) oleh Mimar Sinan seorang arsitek dan ahli bangunan ternama pada masa Dinasti Usmaniyah (Ottoman).

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s