Aisyah Binti Abu Bakar

Istri termuda Nabi Muhammad SAW yang dilihat Rasulullah dalam visinya berupa hadiah yang terbungkus dalam kain sutra, Aisyah dianggap sebagai salah satu wanita paling berpengaruh dalam sejarah Islam berkat kontribusinya sebagai ahli tafsir Al-Quran, hadist, dan fiqih terkemuka.

Banyak wanita memainkan peranan penting dalam sejarah Islam. Beberapa diantaranya menjadi terkenal karena keberanian dan pengetahuan mereka, sementara yang lain memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Islam sebagai sebuah agama, budaya, dan peradaban. Sejarah Islam penuh dengan aksi-aksi heroik yang dilakukan wanita-wanita muslim. Selain menjadi istri, ibu, dan saudara, mereka mengkhususkan diri sebagai penasehat bagi para khalifah, sultan, dan pemimpin militer, serta juga sebagai guru beberapa pemikir paling terkenal dan diakui dalam dunia Islam.

Dari semua wanita Muslim terkemuka yang memainkan peranan penting dalam kemunculan dan perkembangan Islam, ada satu orang yang paling menonjol. Wanita hebat itu adalah Aisyah binti Abu Bakar. Dia wanita yang benar-benar berbakat, kekuatan kepribadiannya yang multidimensi, semangat belajar, serta kemampuan intelektualnya yang luar biasa, membuatnya berada di posisi unik dalam sejarah Islam. Aisyah cakap dalam segala hal. Prestasinya begitu bervariasi dan mengejutkan sampai-sampai tidak ada wanita lain dalam sejarah Islam yang dapat menandinginya. Karena itulah, dia satu-satunya wanita paling berpengaruh dalam sejarah Islam.

Aisyah binti Abu Bakar bin Abu Quhafah dilahirkan dalam keluarga Bani Taym dari suku Quraish Makkah. Saat Nabi Muhammad mengumumkan kenabiannya pada tahun 610 M, Abu Bakar dan istrinya, Ummu Ruman adalah orang-orang pertama yang memeluk Islam sehingga Aisyah dibesarkan dalam keluarga Muslim.

Saat masih remaja, Aisyah dikenal karena kemampuan luar biasanya dalam mempelajari puisi dan ilmu silsilah yang menceritakan nenek moyangnya. Aisyah juga sangat cerdas. Satu ketika Rasulullah melewati rumah Abu Bakar dan melihat Aisyah sedang bermain dengan boneka-boneka dan kuda bersayap miliknya. Ketika Rasulullah bertanya sedang bermain apa, dia menjawab sedang bermain dengan kuda bersayap kesukaannya. Kala Rasulullah mengatakan bahwa kuda tidak memiliki sayap, cara berpikirnya yang begitu cepat, kecerdasannya yang tajam, dan kecepatannya dalam menjawab, membuat Rasulullah tersenyum ceria.

Lebih dari itu, Aisyah terkenal karena kualitas pribadi dan sifat-sifatnya yang luhur bahkan ketika masih remaja. Dia tidak hanya memiliki ingatan yang sangat tajam, dia juga wanita yang lembut dan berbudaya. Kekuatan ingatannya membuatnya mampu mengingat beberapa insiden paling jauh yang terjadi di awal-awal usianya. Misalnya, dia menyatakan bahwa ayat 46 surah Al-Quran dalam Al-Quran diwahyukan kepada Rasulullah kala dirinya sedang bermain dengan mainan-mainannya.

Jika pendapat umum mengatakan bahwa semua pernikahan diciptakan di surga itu benar maka tidak ada yang dapat menyalahkan Aisyah untuk merasa bangga karena pernikahannya secara harfiah ditetapkan oleh Allah. Menurut sebuah hadist dalam Mustadrak al-Hakim, suatu saat Rasulullah melihat sebuah visi dimana malaikat membawakan sebuah hadiah yang terbungkus dalam kain sutra kepadanya. Ketika ditanyakan kepada malaikat apa isinya, beliau diberitahu itu adalah istrinya. Setelah membuka bungkusan itu, Rasulullah mengetahui bahwa isinya tidak lain adalah Aisyah.

Aisyah menikah dengan Rasulullah ketika dia masih sangat muda, meskipun pada saat itu dia sudah dewasa melewati usianya, baik secara intelektual maupun fisik. Nantinya dia menyatakan bahwa mahar pernikahannya bernilai sekitar 500 dirham. Pernikahannya dengan Rasulullah memberikan dampak sosial budaya mendalam pada masyarakat Makkah waktu itu. Peristiwa itu secara langsung menghapus sejumlah adat kebiasaan dan pantangan dalam masyarakat Arab.

Sebagai contoh orang Arab menolak untuk menikahkan putri mereka dengan orang yang dianggap sebagai saudara mereka sendiri karena alasan budaya, walaupun mereka bukan saudara sekandung. Karena Abu Bakar biasanya menyebut Rasulullah sebagai saudaranya maka pernikahan tersebut menegaskan bahwa saudara dalam iman tidak sama dengan saudara sekandung.

Selain itu, orang Arab juga menganggap bulan Syawal (bulan kesepuluh dalam kalender Islam) sebagai saat yang tidak tepat bagi calon pengantin perempuan untuk pindah ke rumah suaminya. Pernikahan Aisyah dengan Rasulullah juga membuang larangan ini ke tempat sampah sejarah.

Setelah menikah, Aisyah menjadi istri termuda Rasulullah; dia juga yang paling bijaksana dan jauh lebih unggul secara intelektual dibandingkan istri-istri Rasulullah lainnya. dia satu-satunya istri Rasulullah yang perawan. Sebagai pribadi yang melek huruf, serta mempelajari sejarah Arab dan ilmu silsilah dari ayahnya, Aisyah menjadi seorang pakar yang sangat dihormati dalam subjek-subjek tersebut. singkatnya, dialah permata dalam mahkota Rasulullah.

Meskipun Rasulullah selalu memperlakukan istri-istrinya secara adil dan merata, beliau tidak dapat menyembunyikan kasih sayangnya terhadap Aisyah dikarenakan perasaan alamiahnya. Beliau berkata bahwa Allah telah menanamkan cinta dan kasih sayang ke dalam diri semua manusia dan kita semua merasakan perasaan-perasaan tersebut tanpa kita sadari.

Ketika berusia sekitar 13 tahun, Aisyah pindah untuk tinggal bersama Rasulullah di sebuah rumah kecil yang menempel dengan masjid Nabawi di Madinah. Namun menurut sumber lain, dia menikah dengan Rasulullah ketika berusia sekitar enam belas tahun dan tinggal bersama beliau pada usia sembilan belas tahun.

Kediaman Rasulullah jauh dari kesan mewah. Rasulullah menjalani kehidupan yang sangat sederhana, bersih, dan kaya secara spiritual tanpa kemewahan, kekayaan, atau kemegahan. Atap rumah kecilnya sering bocor karena air hujan, dindingnya terbuat dari tanah liat, dan rumahnya hanya memiliki satu pintu – yang lebih sering terbuka – dengan selimut tergantung dengan tirai.

Harta beliau hanyalah selembar tikar dari jerami, sebuah kasur tipis, sebuah bantal yang terbuat dari kulit, satu piring kecil, serta satu cangkir untuk air minum. Inilah “kemewahan” yang ditemukan Aisyah ketika dia pindah ke kediaman Rasulullah. Meskipun waktu itu Rasulullah merupakan orang paling kuat di Madinah dan bisa memilih tinggal di rumah besar jika beliau mau. Tetapi beliau sengaja memilih kehidupan yang sangat sederhana dan saleh.

Rasulullah tidak hanya menyibukkan diri dalam sholat dan meditasi, tetapi juga mengingatkan istri-istri, anak-anak, dan para pengikutnya untuk tidak terpikat oleh kekayaan dan kemegahan duniawi. Dia sering berdoa kepada Allah untuk mematikannya dalam kemiskinan dan dibangkitkan ke dalam golongan orang-orang miskin dan yang membutuhkan. Oleh karena itu, dia tidak menyukai segala bentuk kemegahan dan kekuasaan yang terkait dengan tampilan kekayaan yang mencolok dan cara hidup yang boros.

Dia menjelaskan betul kepada seluruh anggota keluarga dan para sahabatnya bahwa hidup ini fana sehingga terlalu sibuk dengan daya tarik dan iming-iming duniawi adalah perbuatan bodoh. Aisyah memahami hal ini lebih baik dari siapapun, dan sangat senang hidup di kediaman Rasulullah yang sederhana, tetapi bersih.

Aisyah tidak hanya sangat pintar dan berbakat, tetapi juga sangat berhati lembut dan sering menangis haru. Suatu ketika seorang wanita miskin muncul di depan pintu rumahnya bersama dua anaknya yang masih kecil dan meminta sesuatu untuk dimakan. Aisyah hanya punya tiga biji kurma di rumah yang diserahkannya kepada wanita itu. Dia memberikan satu kurma kepada masing-masing putrinya dan mengunyah satu lagi untuk dirinya sendiri. Sementara salah satu putrinya memakan bagiannya dengan cepat dan mulai menatap ibunya. Sang ibu segera berhenti mengunyah dan memecah bijinya jadi dua bagian, lalu memberikannya kepada putrinya. Karena tergerak oleh cinta dan kasih sayang sang ibu kepada kedua putrinya, Aisyah pun menangis.

Jika para murid dinilai dari kualitas guru mereka, maka Aisyah bisa disebut sebagai murid terbaik karena dia dibimbing oleh guru terbaik dari semua guru. Karena Rasulullah kerap mengunjungi Abu Bakar, Aisyah pun menjadi sangat mengenal beliau bahkan sebelum mereka menikah. Selama dekade berikutnya yang Aisyah luangkan bersama Raulullah sampai kematian beliau pada tahun 632 M, dia menjadi akrab dengan semua aspek kehidupan Rasulullah, baik perilaku maupun kebiasaannya. Tak ada orang yang bisa mengaku mengenal Rasulullah sebaik Aisyah.

Kecerdasannya yang luar biasa dan ingatannya yang kuat memungkinkannya untuk mempelajari ajaran-ajaran Islam dengan mudah. Dia menjadi salah satu gudang pengetahuan dan kebijaksanaan Islam paling terkenal, terutama yang berkaitan dengan kehidupan dan ajaran-ajaran Raulullah. Rasa ingin tahunya serta kemauannya untuk belajar dan menyebarkan pengetahuan membuatnya disayang Rasulullah.

Faktanya setiap kali Rasulullah bersiap menyampaikan khutbah di masjid, Aisyah selalu mewajibkan dirinya untuk mendengarkan beliau dengan penuh perhatian. Jika kurang yakin tentang masalah apapun, Aisyah tak pernah ragu untuk meminta penjelasan. Berkat Aisyah saat ini kita memiliki pemahaman yang jelas tentang sejumlah perintah Allah. Bahkan beberapa ayat Al-Quran termasuk yang berkaitan dengan tayamum, diungkapkan secara langsung berkat dirinya. Rasulullah sendiri mengakui keunggulan Aisyah atas istri-istrinya yang lain dengan berkata, “Terdapat banyak orang sempurna di antara para pria, tetapi tidak ada wanita yang sempurna kecuali dua orang; Maryam, putri Imran, dan Asiyah istri Firaun. Dan Aisyah memiliki keunggulan atas wanita lainnya seperti sebuah piring atas peralatan makan lainnya.”

Kontribusi Aisyah terhadap pengembangan hukum Islam (fiqih), ilmu-ilmu Al-Quran (tafsir), dan penjelasan tentang tradisi Rasulullah (hadist) – terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadi beliau – benar-benar unik dan belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan pengetahuannya yang luas, serta pemahamannya tentang Al-Quran dan ajaran Rasulullah, dia bisa menjelaskan pandangan-pandangan sejumlah sahabat Rasulullah yang kerap diperdebatkan mengenai ajaran-ajaran dan perintah-perintah Islam tertentu.

Aisyah merupakan seorang praktisi dedukasi analogis (qiyas) yang tak tertandingi dalam masalah hukum Islam. Penguasaannya tentang sumber dan pemikiran Islam sangat mengesankan sampai-sampai para sahabat Rasulullah menganggapnya sebagai hali tafsir Al-Quran, hadist, dan fiqih terkemuka. Seperti kata salah seorang sahabat Rasulullah yang juga ahli hukum terkemuka, Abu Musa Al-Asy’ari, “Kami para sahabat (Rasulullah) tidak pernah diberikan masalah yang tidak diberikan solusi yang memuaskan oleh Aisyah.” (HR Tirmidzi). Itulah sebabnya Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan berkonsultasi secara rutin dengan Aisyah, sebelum memutuskan masalah-masalah hukum yang rumit dan sulit diatasi semasa periode pemerintahan mereka.

Aisyah biasanya mengajar siswa laki-laki dan perempuan. Dia dikenal sebagai guru yang sangat murah hati dan mudah didekati. Menurut salah seorang murid terkemuka Aisyah, Urwa bin Zubair, pengetahuan, dan keluasan ilmunya tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama; dia sangat menguasai sejarah Arab, sastra, retorika, puisi, dan silsilah, serta akrab dengan aspek-aspke pengobatan tradisional. Dia menghafal lebih dari dua ribu hadist Rasulullah dan cukup berani memimpin pasukan ke medan pertempuran dan ikut berperang. Aisyah mengajar dan membimbing banyak tokoh Islam, termasuk Urwa bin Zubair, Masruq, dan Amrah binti Abdul Rahman.

Lebih dari itu, Aisyah seorang istri yang sempurna bagi suaminya, dan menjadi pendukung terbesarnya. Setelah kematian Rasulullah, dia meneruskan perjuangan risalah suaminya yang telah didakwahkan, sehingga dia memberikan kontribsi amat besar bagi perkembangan pemikiran dan budaya Islam demi generasi berikutnya.

Aisyah benar-benar wanita yang luar biasa dan berdaya intelektualitas yang sangat berpengaruh, sehingga nama dan reputasinya akan terus bergema sepanjang zaman. Meski lahir dan dibesarkan dalam masyarakat patriarki yang ganas, dia mencapai puncak keilmuan dan pengetahuan Islam tertinggi semata-mata karena kekuatan kepribadiannya dan kecerdasannya yang luar biasa.

Dia menyadari kualitas dan sifat uniknya yang telah diberikan oleh Allah. Satu ketika dia berkata, “Aku tidak bermaksud membanggakan diri, tetapi aku menyebutkan ini sebagai suatu fakta bahwa Allah menganugerahkan sembilan hal kepadaku, yang tidak Dia amugerahkan kepada orang lain di dunia. Para malaikat memperkenalkan figurku di hadapan Rasulullah di dalam sebuah mimpi; tidak ada istri Rasulullah yang perawan selain diriku; Al-Quran diturunkan bahkan saat beliau menempati tempat tidurku, aku adalah kesayangannya, beberapa ayat Al-Quran diturunkan berkaitan dengan diriku, aku melihat jibril dengan mataku sendiri, dan Rasulullah meninggal di pangkuanku.” (Mustadrak karya Al-Hakim dan Kitab al-Tabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad).

Dikenal secara terhormat sebagai “Ummul Mukminin” (ibu orang-orang yang beriman), Aisyah meninggal pada usia enam puluh tujuh tahun. Dia dimakamkan di Madinah setelah Abu Hurairah – yang menjabat sebagai gubernur kota pada waktu itu – melakukan doa pemakaman untuknya.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s