Usman Bin Affan

Menikahi dua putri Nabi Muhammad SAW sehingga dijuluki “Dzun Nurain” (orang yang memiliki dua cahaya), Usman mencatat prestasi tunggal terbesar sebagai khalifah ketiga Islam dengan mengodifikasi dan menstandarisasi Al-Quran berdasarkan salinan asli, sehingga ada seperti sekarang ini.

Sebelum kematiannya, Khalifah Umar menunjuk sebuah panel yang terdiri dari enam orang untuk mencalonkan penggantinya. Seperti Nabi Muhammad yang tidak mencalonkan penggantinya, Umar melakukan hal serupa. Alih-alih dia memerintahkan enam orang (terdiri dari tokoh-tokoh terkenal seperti Usman, Ali, Sa’d bin Abi Waqqas, Abdul Rahman bin Auf, Thalhah, dan Zubair), untuk memilih satu orang diantara mereka sebagai pemimpin negara Islam berikutnya.

Setelah pertimbangan yang cermat dan diskusi yang intens, akhirnya diputuskan untuk menunjuk Usman sebagai khalifah Islam ketiga, menantu Rasulullah dan pria yang memiliki kesalehan luar biasa. Dia juga seseorang yang sangat murah hati dan sederhana diantara para sahabat Rasulullah. Dia dicintai dan dikagumi semua orang dan dikatakan memiliki kualitas malaikat yang dipersonifikasikan dalam wujud manusia.

Rasulullah sangat menaruh hormat dan perhatian terhadap Usman sampai-sampai suatu ketika saat beliau sedang duduk-duduk bersama sekelompok sahabat-sahabatnya, jubah yang menutupi bagian bawah kakinya jatuh. Ketika diberi tahu bahwa Usman sedang dalam perjalanan untuk menemui beliau, Rasulullah cepat-cepat menutupi kakinya sembari berkata, “Bahkan malaikat pun mempunyai rasa hormat atas kesederhanaan Usman.

Usman bin Affan bin Abi Al-As dilahirkan dalam keluarga mulia Umayyah dari suku Quraisy Makkah. Sebagai anak kecil, dia menjalani pola pengasuhan yang istimewa. Seperti anggota keluarganya yang lain, dia menjadi pedagang kain yang sangat makmur.

Selain salah seorang dari segelintir orang yang melek huruf di Makkah, Usman dikenal memiliki hati yang amat lembut dan berbudaya dalam hal kebiasaan membantu kaum miskin dan yang membutuhkan, bahkan di masa-masa sebelum Islam. Pada saat-saat itu kegiatan amal dan kemanusiaannya mengangkat reputasi dan statusnya di Makkah.

Usman termasuk salah satu dari kelompok pertama yang memeluk Islam, setelah mendengarkan khutbah khalifah Abu Bakar. Meski terjadi persaingan yang kuat antara keluarga Rasulullah (Bani Hasyim) dan Usman (Bani Umayyah), dia berjanji setia kepada Rasulullah. Tidak seperti para anggota sukunya (yang menentang Rasulullah dengan alasan karena dia berasal dari Bani Hasyim), Usman mengabaikan persaingan antarsuku dan mengakui kebenaran Islam sebagaimana yang didengungkan Rasulullah.

Keputusan Usman memeluk Islam membangkitkan amarah anggota sukunya, sehingga mereka menentang dan memusuhinya. Mereka menuduhnya sebagai penghianat, serta melontarkan segala macam hinaan dan kritikan terhadapnya. Kala situasinya sudah tak tertahankan lagi, dia meminta izin kepada Rasulullah untuk mencari perlindungan di Habasyah (sekarang dikenal dengan Ethiopia) bersama sekelompok muslim lainnya yang dianiaya. Oleh sebab itu Usman menjadi salah seorang Muslim pertama yang berhijrah ke sebuah negeri asing bersama keluarganya demi Islam.

Saat itu Usman menikahi putri Rasulullah, Ruqayyah. Setelah beberapa bulan menetap di Habasyah, Usman dan istrinya kembali ke Makkah untuk menetap selama beberapa tahun, sebelum bergabung dengan Rasulullah di Madinah. Sayang, tak lama setelah kembali, istrinya meninggal dunia. Rasulullah kemudian menikahkan Usman dengan putri ketiganya, Ummu Kultsum. Alhasil Usman dikenal sebagai “Dzun-Nurain” (orang yang memiliki dua cahaya).

Usman juga bertindak sebagai juru tulis Rasulullah dari waktu ke waktu, serta mudah menghabiskan uang dan kekayaannya demi kepentingan Islam. Misalnya setibanya di Madinah, dia membeli sebuah sumur besar seharga 20 ribu dirham sehingga semua Muslim memiliki akses air secara gratis. Dia kemudian membeli sebidang tanah yang berdekatan dengan Masjid Nabawi sehingga masjid itu dapat diperbesar untuk menampung lebih banyak orang untuk sholat sehari-hari. kemurahan hati Usman tidak mengenal batas. Meskipun waktu itu terdapat banyak orang kaya lainnya, tetapi tak ada yang bisa menandinginya dalam hal mengeluarkan dana untuk kepentingan Islam.

Semasa Rasulullah hidup, Usman aktif membantu dan mendukungnya dengan segala cara. Setelah Rasulullah wafat, dia berada di belakang Khalifah Abu Bakar dan penggantinya, Khalifah Umar, dan bertindak sebagai penasehat dan asisten bagi keduanya. Usman menjadi terkenal karena jasanya yang tak ternilai untuk Islam dan dipuji begitu tinggi oleh semua Muslim.

Pelayanan Usman terhadap Islam tidak berakhir disitu. Kualitas pribadinya yang unik dan kontribusinya yang luar biasa bagi perjuangan Islam juga secara luas diakui oleh para sahabat Rasulullah. Itulah sebabnya Khalifah Umar yang sedang sakit memasukkannya ke dalam panel yang terdiri dari enam orang untuk mencalonkan penggantinya. Kala keputusan panel mengarah kepada Usman, dia menjadi Khalifah ketiga pada tahun 644 M.

Tidak seperti Khalifah Abu Bakar dan Ali, Usman sangat beruntung menjadi Khalifah saat dunia Islam kuat secara politik dan makmur secara ekonomi. Dibawah kepemimpinan Khalifah Umar, negara Islam menjadi sebuah kekuatan politik, ekonomi dan militer yang hebat pada masanya. Keputusan mencalonkannya sebagai pengganti Umar memastikan bahwa kontinuitas dan kelancaran transisi kepemimpinan lainnya telah tercapai.

Segera setelah menjadi Khalifah, Usman memperkuat dasar administrasi di seluruh wilayah Islam. Semasa kekhalifahan Umar, wilayahnya terdiri dari Suriah, Palestina, dan Yordania yang dianggap sebagai tiga provinsi terpisah. Namun, Khalifah Usman menggabungkan ketiganya untuk menciptakan satu provinsi yang kuat dan bersatu, serta menetapkan Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur wilayah besar tersebut.

Khalifah Usman juga menghapus dua tingkat administratif yang dikembangkan Khalifah Umar di Mesir dengan menunjuk seorang gubernur yang bertanggung jawab atas pemerintahan provinsi yang secara strategis dianggap penting. Usman mengambil langkah serupa untuk meningkatkan dan memodernisasi sistem-sistem sipil dan administrasi yang dibuat Khalifah Umar di Irak dan Iran.

Reformasi administrasi yang dilakukan Khalifah Usman dimaksudkan untuk menyederhanakan dan memperkuat akuntabilitas, serta menghapus birokrasi yang tidak perlu. Langkah-langkah yang diambil sang Khalifah membantu memperjelas peran dan tanggung jawab gubernur provinsi bila dibandingkan pemerintah pusat. Reformasi semacam ini akan membantu memperkuat dan mengonsolidasikan hukum Islam kala kekuasaan sang Khalifah mulai meluas.

Sementara Khalifah Usman sibuk mereformasi struktur politik Negara Islam yang meluas, tentara Islam melanjutkan ekspansinya, baik ke Timur maupun ke Barat, menaklukkan banyak wilayah baru. Selain menguasai Siprus, tentara Islam menyerbu daerah-daerah Persia dan Armenia. Setiap keberhasilan mendatangkan lebih banyak tanggung jawab bagi Khalifah Usman.

Saat Khalifah sibuk memikirkan arah masa depan Negara Islam yang meluas dengan pesat, Usman mendapat berita bahwa Kaisar Byzantium mengirimkan sebuah armada yang terdiri dari 500 kapal untuk menyerang Alexandria. Sebagai jawaban, dia mengirimkan satu armada Muslim untuk menghadapi serangan Byzantium. Salah satu pertempuran laut besar pertama dalam sejarah Islam itu terjadi pada tahun 651 M. Pasukan Muslim berhasil mengalahkan Byzantium yang melarikan diri ke pulau Sisilia. Strategi politik dan militer Usman bekerja sesuai rencana.

Namun kontribusi tunggal terbesar Khalifah Usman untuk agama Islam adalah kodifikasi dan standarisasi Al-Quran, berdasarkan salinan asli (mushaf) yang dibuat pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq. Jadi salinan Al-Quran yang kita miliki saat ini sama dengan teks asli Usmani. Bahkan menurut sejumlah ulama, dua salinan teks asli Usmani masih disimpan sampai hari ini. satu salinan di musium Topkapi di Turki, dan satu salinan lagi di Tashkent, Uzbekistan.

Tidak diragukan lagi bahwa paruh pertama kekhalifahan Usman begitu sukses. Ini sebagian karena Khalifah Umar mewariskan kesatuan politik dan kemakmuran ekonomi Negeri Islam kepada Usman, yang selanjutnya diperkokoh olehnya. Namun, pada paruh kedua pemerintahannya, gelombang sejarah mulai balik menyerangnya.

Kala kerajaan Islam berkembang dengan pesat, perpecahan internal dan kekacauan sosial mulai mengemuka di beberapa provinsi. Sekelompok pemberontak pimpinan Abdullah bin Saba (seorang Yahudi Yaman yang masuk Islam) mulai menabur benih-benih pertikaian politik dan ketidakharmonisan sosial di kalangan umat Muslim dengan cara menyusup ke dalam kelompok-kelompok Islam. Ibnu Saba dan para pengikutnya awalnya menargetkan Kufah, Basrah, Suriah, dan Mesir, kemudian mengubah provinsi-provinsi tersebut menjadi sentra pemberontakan politik.

Dengan berpura-pura menjadi seorang Muslim yang saleh, Ibnu Saba meminta bantuan sejumlah tokoh Muslim terkenal, menghasut penduduk setempat untuk memperinci keluhan, dan memanipulasi bukti terhadap sejumlah gubernur terkemuka dengan tuduhan kejahatan, kekerasan, ketidakadilan, dan merampas sumber daya negara. Akibatnya Ibnu Saba dan komplotannya berhasil menggeser gubernur-gubernur, seperti Abu Musa Al-Asy’ari dan Walid bin Uqbah dari jabatannya. Karena sasaran akhir Ibnu Saba adalah menghancurkan negara Islam yang luas dari dalam maka mengincar para pemimpin provinsi Islam (khususnya mereka yang menentang kegiatan pemberontakan mereka) menjadi salah satu strategi politik favorit mereka.

Pada satu kesempatan, mereka menuduh Gubernur Kufah, Walid bin Uqbah telah menenggak minuman keras dan memaksa sejumlah saksi untuk mengiyakan tuduhan tersebut. ini membuat Khalifah Usman memanggil Walid kembali ke Madinah dan menghukumnya atas tuduhan pelanggaran tersebut. begitu Khalifah melaksanakan apa yang dipinta Ibnu Saba dan pendukungnya, mereka balik menuduh Khalifah telah menghukum seorang muslim yang tidak bersalah. Kenyataannya, Walid tidak menenggak minuman keras dan dia tidak bersalah atas semua tuduhan itu.

Demikian juga ketika Abu Musa Al-Asy’ari digantikan oleh Abdullah bin Amir sebagai Gubernur Basrah. Ibnu Saba dan pengikutnya mulai menyebarkan desas-desus bahwa Khalifah menarik Abu Musa dan menggantikannya dengan Abdullah sebagai gubernur karena Abdullah memiliki hubungan saudara dengan Khalifah.

Mencari cara untuk menenangkan orang-orang munafik ibarat berperang di pertempuran yang jelas-jelas akan berakhir  dengan kekalahan. Bahkan, mereka bertekad mendatangkan malapetaka dalam Negara Islam. Namu, Khalifah Usman gagal memahami kegawatan situasi tersebut, dan meneruskan kebijakan konsolidasinya yang berbahaya, yang hanya akan membuat musuh-musuh Negara Islam menjadi lebih berani.

Dikenal sebagai sosok yang lembut hatinya dan penyayang, Khalifah Usman mencurahkan seluruh waktu, kekayaan, dan energinya demi kepentingan Islam. Namun tidak seperti Khalifah Umar, dia tidak tegas atau meyakinkan dalam menangani para pengacau yang bertekad menciptakan gangguan sosial politik dalam Negara Islam. Karena Khalifah Usman tidak ingin menumpahkan darah seorang muslim, dia berharap bisa mengalahkan para perusuh melalui cinta dan kasih sayang. Akan tetapi dalam situasi dimana musuh bertekad menghancurkan Negara Islam dari dalam, tindakannya itu adalah salah.

Sebagaimana yang terjadi, musuh-musuh Islam memanfaatkan pendekatan sang Khalifah yang “lembut” dan menggencarkan aksi-aksi mereka terhadap Negara Islam. Mereka pun mulai menciptakan dan memalsukan bukti untuk melancarkan tuduhan terhadap Khalifah. Meskipun Usman membantah semua tuduhan mereka di depan umum, tetapi para pengkritiknya tidak puas dengan penjelasannya.

Kala ketegangan antara Khalifah dan para pemberontak memuncak, sejumlah sahabat terkemuka Rasulullah mendesak Usman untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pemberontak, tetapi dia menolak untuk melakukannya. Dia berkata lebih baik mati daripasa menumpahkan darah sesama Muslim.

Khalifah Usman merupakan orang yang berprinsip. Dia memutuskan untuk tetap berpegang pada prinsipnya apapun yang terjadi. Para pemberontak pun tidak mau mengalah. Akhirnya mereka sama sekali tak tertarik untuk berdamai; tujuan utamanya adalah menurunkan sang Khalifah dari bangku kekuasaannya. Salah satu krisis besar pertama dalam sejarah Islam mulai terlihat di cakrawala.

Pimpinan kelompok pemberontak, Ibnu Saba, akhirnya berangkat ke Madinah dan terang-terangan mengepung kediaman Khalifah. Mereka menuntut Usman untuk mengundurkan diri atau mereka akan membunuhnya. Usman menjawab, “Aku tidak takut mati, tetapi aku tidak ingin menumpahkan darah Muslim.”

Lagi-lagi sejumlah sahabat terkemuka Rasulullah mendesaknya mengambil tindakan terhadap pemberontak. Sekali lagi, dia menegaskan tidak mau menumpahkan darah sesama Muslim. Para pemberontak pun menyerang rumahnya dan membunuhnya secara brutal tatkala Usman tengah membaca Al-Quran. Dia berusia delapan puluh tahun.

Kematian Khalifah Usman merupaka “noktah merah” dalam sejarah Islam. Pembunuhan atas dirinya telah mengirimkan getaran Ilahiah ke seluruh tulang punggung Islam, dan menandakan berakhirnya kesatuan politik Islam. Dunia Islam menjadi terbagi, tidak pernah bersatu lagi. Khalifah Usman memilih mengorbankan nyawanya ketimbang menumpahkan darah sesama muslim. Inilah yang diingat darinya; dia hidup berdasarkan prinsip-prinsipnya dan meninggal dunia demi imannya. Tentang Usman, Rasulullah pernah berkata, “Setiap Nabi memiliki seorang sahabat, dan sahabatnya adalah Usman.”

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s