Abu Hurairah

Ia lahir pada 601 M, nama panggilannya lebih dikenal daripada aslinya berkat kecintaan dan kasih sayangnya pada anak kucing peliharaannya. Abu hurairah dikaruniai daya ingat yang sangat kuat, sehingga mampu meriwayatkan lebih banyak hadist daripada Aisyah dan para sahabat Rasulullah lainnya.

Menurut Al-Quran, Nabi Muhammad SAW merupakan teladan terbaik (uswatun hasanah) bagi semua orang untuk sepanjang zaman. Al-Quran memberikan garis-garis besar tentang prinsip dan ajaran Islam, sementara praktik sunnah Rasulullah dianggap sebagai komentar mengenai Al-Quran yang paling dapat dipercaya. Oleh karena itu umat Islam selalu ingin merekam ucapan dan perbuatan Rasulullah guna lebih memahami Al-Quran, dan sebagai panduan bagi generasi-generasi mendatang.

Itu bukan tugas yang mudah. Faktanya pada abad ke tujuh, buta aksara tersebar luas di kawasan Arab dan sebagian besar orang sangat bergantung pada ingatan mereka untuk menjaga informasi dan menyampaikan data penting dari satu generasi ke generasi lainnya secara lisan. Meski begitu, orang Arab adalah komunikator lisan paling berbakat yang mengembangkan tradisi untuk memberikan informasi dari generasi ke generasi selama berabad-abad.

Dengan memanfaatkan metodologi serupa, kaum Islam periode awal mencatat setiap kata dan perbuatan Rasulullah untuk generasi mendatang. Diantara para sahabat Rasulullah, ada seseorang yang begitu menonjol bagaikan bintang yang bersinar karena pengabdian serta dedikasinya melestarikan hadist. Orang itu adalah Abu Hurairah.

Sebelum memeluk Islam, namanya adalah Abu Syams, namun setelah memeluk Islam, dia menggantinya menjadi Sakhr bin Abdul Rahman, walaupun lebih terkenal dengan nama panggilannya, Abu Hurairah (Ayah Anak Kucing) karena kecintaan dan kasih sayangnya terhadap anak kucing peliharaannya. Terlahir di dalam suku Daws di sebelah selatan Arab, Abu Hurairah kira-kira berusia dua belas tahun ketika Rasulullah menjadi nabi dan mulai berdakwah tentang Islam di Makkah.

Walaupun kehidupan awalnya tidak begitu diketahui – seperti halnya kebanyakan orang Arab pada masanya, dia dibesarkan di Arab Selatan tanpa mengenal pendidikan dan diketahui buta huruf. Anak lelaki pada masa itu biasanya bekerja  sebagai gembala, buruh, atau – jika beruntung – mendampingi para pedagang ke negara-negara tetangga untuk melakukan bisnis. Perjalanan-perjalanan yang panjang dan berlarut-larut dari dan menuju pusat-pusat perdagangan terkemuka seperti Makkah, Damaskus, dan Yaman, dianggap sangat menguntungkan. Hanya pedagang-pedagang kaya yang terlibat dalam usaha tersebut.

Abu Hurairah masih remaja ketika Rasulullah mulai memberikan pesan Islam kepada sahabat dan kerabat, yang kemudian diikuti dengan seruan terbuka kepada semua warga Makkah. Tentunya, Abu Hurairah muda tidak menyadari misi Rasulullah pada waktu itu.

Setelah berdakwah di Makkah lebih dari satu dekade, Rasulullah meninggalkan kota kelahirannya dn pindah ke Madinah dan menerima sambutan hangat di sana. Ketika itu Abu Hurairah berada di usia awal dua puluhan. Sebagai seorang pemuda yang cerdas dan suka merenung. Dia menjalani gaya hidup yang sangat sederhana bahkan sebelum memeluk Islam. Kalau saja dia tinggal di Makkah saat Rasulullah pertama kalinya memulai misinya, Abu Hurairah mungkin sudah memeluk Islam.

Tidak sampai tujuh tahun setelah hijrahnya Rasulullah ke Madinah, barulah Abu Hurairah mendengar tentang Rasulullah dan misinya. Dia segera berangkat ke Madinah untuk bertemu beliau. Setibanya di Madinah pada tahun 628 M, dia diberi tahu bahwa beliau berada di Khaibar untuk mengakhiri aktivitas anti-Islam yang dipelopori disana. Didorong keinginan kuat untuk bertemu Rasulullah, dia berangkat menuju Khaibar yang berjarak sekitar 160 kilometer dari Madinah.

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, dia secara resmi menjadi Muslim di hadapan Rasulullah. Abu Hurairah berusia sekitar tiga puluh tahun kala itu. Sejak itu Abu Hurairah menjadi rekan sejawat Rasulullah yang sangat dekat dan kerap menemani kemanapun beliau pergi. Alhasil, dia belajar serta menguasai semua aspek ajaran dan praktik Islam di bawah bimbingan Rasulullah.

Walau Abu Hurairah datang ke Madinah tanpa membawa kekayaan atau harta benda apapun, dia menerima sambutan hangat dari semua sahabat dekat Rasulullah. Sepulangnya dari Khaibar, dia menetap di Madinah dan mencari nafkah dengan bekerja sebagai buruh. Dengan begitu dia dapat membagi waktunya antara pekerjaan dan belajar langsung dari Rasulullah.

Persahabatan dan interaksinya dengan Rasulullah tidak hanya memperkuat imannya. Dia pun menjadi sangat mengagumi beliau. Karena ingin menghabiskan lebih banyak waktu menemani Rasulullah, Abu Hurairah memutuskan berhenti bekerja dan menjadi anggota “Ahl as-Suffah”. Ahl as-Suffah merupakan sekelompok Muslim imigran terkemuka yang dipaksa keluar dari Makkah oleh musuh-musuh mereka, serta meninggalkan semua harta dan kekayaannya.

Sampai saat di Madinah, mereka tidak punya tempat untuk dituju. Oleh karena itu Rasulullah membangun pondokan beratapkan jerami di sudut masjidnya untuk mereka yang rata-rata bekerja sebagai buruh. Karena bertanggung jawab langsung atas kesejahteraan Ahl as-Suffah, beliau memastikan mereka menerima pasokan makanan dan pakaian secara teratur.

Namun, para sejarawan berbeda pendapat soal jumlah orang yang diuntungkan dari pemondokan ini. Sebagian mengatakan sekitar dua puluh orang, yang lain mengatakan sekitar tujuh puluh orang. Sementara yang lain mengatakan jumlahnya mencapai empat ratus orang, termasuk sahabat-sahabat terkemuka, seperti Abdullah bin Umar, Abu Ubaida bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Salman Al-Farisi, dan tentunya Abu Hurairah sendiri. Oleh karena itu pemondokan tersebut menjadi pesantren pertama dalam sejarah Islam, di mana Rasulullah dan para sahabat terkemuka mengajarkan tajwid dan aspek-aspek Islam kepada para penghuninya.

Abu hurairah begitu serius mengejar pengetahuan Islam, khususnya hadist. Sebagai seorang individu cerdas yang diberkati daya ingat yang sangat kuat, dia menjadi salah satu yang paling terpelajar di antara para sahabat Rasulullah.

Ini terbukti dalam periode empat tahun atau lebih mendampingi Rasulullah sampai wafat beliau pada tahun 632 M. Abu Hurairah tidak hanya menjadi sahabat dekat Rasulullah, tetapi juga mengamati dengan cermat setiap perilaku, perangai dan kebiasaan sehari-hari beliau. Bahkan, dia menetap, makan, sholat, belajar, dan bepergian bersama Rasulullah.

Selain itu, tidak seperti para sahabat lainnya, Abu Hurairah melepas pekerjaannya agar bisa menjadi murid secara purnawaktu, sehingga dapat mempelajari dan menghafal semua ucapan Rasulullah dalam ingatannya. Sementara para sahabat lain bekerja di bidang pertanian, bisnis, dan aktivitas-aktivitas perdagangan lainnya. oleh karena itu, dia bisa belajar lebih banyak tentang Rasulullah dan ajaran-ajaran dalam tempo empat tahun dibandingkan mereka yang lebih awal memeluk Islam dan lebih lama mengenal Rasulullah.

Karena rasa ingin tahu dan haus akan pengetahuan, Abu Hurairah terinspirasi untuk belajar dan menguasai begitu banyak hal dalam waktu sesingkat itu. Dia tidak pernah takut bertanya kepada Rasulullah mengenai hal-hal yang menurutnya perlu dijelaskan lebih lanjut. Pada satu kesempatan, dia menanyakan sesuatu yang sangat kecil dan kurang penting sampai-sampai Rasulullah berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku yakin tak seorang pun kecuali dirimu yang akan menanyakan pertanyaan seperti itu kepadaku,” (Sahih Bukhari).

Karena bertekad menghafal dan menguasai sebanyak mungkin secepatnya, Abu Hurairah khawatir ingatannya tidak sanggup mengimbangi tekadnya tersebut. oleh karena itu, pada satu kesempatan, dia meminta kepada Rasulullah untuk mendoakan agar dirinya mampu menyimpan informasi dengan lebih mudah.

Dia bercerita, “Orang bertanya-tanya bagaimana aku bisa meriwayatkan begitu banyak hadist. Kenyataannya adalah saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin sibuk berdagang dan saudara-saudaraku dari kalangan Anshar sibuk bertani, sementara aku berada di antara kalangan Suffah. Aku tak pernah peduli untuk mencari nafkah; aku puas dengan makanan kecil yang bisa diberikan Rasulullah kepadaku. Aku kerap bersama Rasulullah ketika tidak ada orang lain di sana. Aku pernah mengeluh kepada Rasulullah tentang ingatanku yang buruk. Beliau berkata, ‘Bentangkan surbanmu!’ Aku melakukannya. Rasulullah membuat tanda-tanda di atas surban dengan tangannya sendiri dan berkata, ‘Sekarang bungkuslah tubuhmu dengan surban ini.’ Aku membungkus surban itu disekeliling dadaku. Sejak saat itu, saya tidak pernah lupa apapun yang ingin kuingat.” (Shahih Bukhari).

Zaid bin Tsabit, salah satu sahabat terkemuka dan sekretaris Rasulullah, berkata, “Suatu kali, ketika Abu Hurairah, seorang sahabat kami, dan aku sedang berdoa dan berzikir kepada Allah di masjid, Rasulullah datang dan bergabung dengan kami. Dia meminta kami untuk melanjutkan doa-doa kami. Sahabatku dan aku berdoa terlebih dahulu, kemudian Rasulullah berkata, “Amin.” Lalu Abu Hurairah berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepadaMu apa yang dimohonkan sahabatku, dan untuk diriku sendiri, yakni pengetahuan yang aku tidak akan pernah lupa.” Rasulullah berkata, “Amin.”

Abu Hurairah menjadi seorang legenda dalam sejarah Islam tidak hanya karena meriwayatkan begitu banyak hadist, tetapi juga karena keunikan daya ingatnya. Tidak urung kemampuannya menghafal begitu banyak hadist kerap diuji. Sejumlah rekan sejawatnya seperti Abdullah bin Umar mempertanyakan keandalannya sebagai perawi hadist. Namun, Abu Hurairah selalu bisa membalikkan anggapan salah pengkritiknya.

Pada satu kesempatan, Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadist yang mengacu pada tingkat manfaat yang didapat bila menghadiri sholat jenazah. Abdullah bin Umar – yang juga sangat mumpuni dalam literatur hadist – mempertanyakan keaslian riwayat Abu Hurairah tersebut. Abu Hurairah pun membawa Abdullah kepada istri Rasulullah, Aisyah, yang mengonfirmasi bahwa hadist versi Abu Hurairah sangat tepat. Abdullah meminta maaf dan mengakui superioritas Abu Hurairah dalam hal periwayatan hadist.

Di usia tuany, penduduk Madinah sering menguji daya ingatannya demi memastikan kebenaran riwayatnya. Seorang gubernur Madinah, Marwan bin Hakam, pernah meminta Abu Hurairah untuk meriwayatkan sejumlah hadist. Secara diam-diam, setiap perkataanya dicatat oleh salah satu sekretaris gubernur. Setahun kemudian, Marwan memanggil Abu Hurairah kembali dan memintanya meriwayatkan hadist yang sama. Marwan pun keheranan kala Abu Hurairah meriwayatkan setiap kata dalam hadist itu tanpa satu kesalahan pun. Dengan cara inilah, Abu Hurairah membungkam semua pengkritiknya.

Menurutnya para ahli hadist, otentisitas Abu Hurairah sebagai perawi hadist tidak tercela. Namun, ini bukan berarti tidak ada orang yang berniat memalsukan hadist-hadist dan mengaitkan hadist-hadist tersebut kepadanya. Reputasi Abu Hurairah sebagai perawi sejumlah besar hadist sangat membuka kemungkinan adanya pemalsu-pemalsu hadist. Itulah sebabnya semua ulama besar hadist – termasuk Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dan Muslim bin Hajjaj – menerapkan metodologi yang detail dan ketat untuk memastikan shahih tidaknya setiap hadist yang mereka kompilasikan dalam antologi terkenal mereka.

Fakta bahwa Abu Hurairah seseorang yang amat terpelajar, sangat saleh, dan sahabat Rasulullah yang sangat dihormati, yang mengabdikan seluruh hidupnya demi menguasai dan menyebarkan pengetahuan dan kebijaksanaan Islam, sudah diakui oleh mayoritas umat Islam. Akan tetapi, yang tidak diketahui secara luas adalah bahwa dia juga seorang guru yang sangat populer. Abu Hurairah mengajar dan membimbing lebih dari delapan ratus murid dan ahli hadist. Dan sebagaimana Rasulullah, dia membagi malam-malamnya menjadi tiga bagian: bagian pertama digunakan untuk tidur, kedua untuk beribadah, dan ketiga untuk belajar.

Menurut sejarawan dan tokoh tradisional Abdul Rahman bin Ali bin Al-Jawzi, secara keseluruhan Abu Hurairah meriwayatkan 5.374 hadist, lebih banyak daripada sahabat-sahabat Rasulullah lainnya, termasuk istri Rasulullah sendiri, Aisyah. Semasa pemerintahan khalifah Umar, Abu Hurairah menjabat sebagai gubernur Bahrain untuk satu periode dan sebagai gubernur Madinah untuk beberapa waktu pada awal periode Dinasti Umayyah.

Pengabdian tanpa pamrih Abu Hurairah untuk mempelajari Islam dan usahanya untuk menyebarluaskan hadist telah membuatnya menjadi sangat terkenal di dunia Islam. Sehingga kalimat, “Abu Hurairah, radhiy Allahu anhu Qala: Qala Rasulullahi sallallahu alaihi wa sallam…,” (Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: …) menjadi pernyataan pengantar paling terkenal dalam sejarah literatur hadist. Dia mengembauskan nafas pada usia tujuh puluh delapan tahun dan dimakamkan di Madinah, kota Rasulullah.

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s