Jihad Dalam Kubikel

“Dahulu, jihad mungkin mengakibatkan terenggutnya jiwa, hilangnya harta benda, dan terurainya air mata. Kini jihad harus membuahkan terpeliharanya jiwa, terwujudnya kemanusiaan yang beradab, serta memekarkan senyum.”

Konon, didepan pintu surga ada sedikit keributan. Ada lima orang yang rebutan masuk surga lebih dulu daripada yang lain. Masing-masing dari mereka sewaktu di dunia berprofesi sebagai dokter, mubalig, penulis, penyanyi, dan pengusaha.

Mendengar keributan itu, malaikat Ridwan, sang penjaga surga, akhirnya turun tangan. Ia menanyai amalan mereka satu persatu sewkatu di dunia.

Yang pertama dipanggil adalah dokter. Malaikat Ridwan bertanya, “Kamu dokter, apa amalan yang kamu lakukan selama di dunia sehingga kamu merasa lebih berhak masuk surga lebih dulu daripada yang lain?”

Si dokter pun dengan percaya diri menjawab, “Sewaktu di dunia saya dengan ikhlas mengobati pasien. Sedikitpun saya tidak peduli apakah pasien yang saya tangani itu miskin atau kaya. Saya tidak peduli apakah pasien saya akan membayar saya mahal, murah, atau bahkan tidak membayar sama sekali. Saya meniatkan pekerjaan saya sebagai pengabdian saya kepada Allah. Saya ingin membantu semua orang agar sehat sehingga mereka bisa dengan giat beribadah kepada Allah.”

Malaikat Ridwan manggut-manggut. “Sekarang giliran mubalig, apa amalan terbaikmu sewaktu di dunia?”

Sang mubalig pun menjawab dengan paras yang berwibawa, “Saya selama di dunia selalu mengabdikan diri dalam dunia dakwah. Saya nasihatkan kebaikan kepada umat. Saya perintahkan yang makruf dan saya larang kemungkaran. Sayalah yang lebih berhak masuk ke dalam surga.”

“Ooo…begitu!” kata sang malaikat. “Sekarang giliranmu penulis!”

“Minggir-minggir, penulis numpang lewat. Hehe…” si penulis pun maju, “Selama di dunia saya mengabdikan diri untuk berjuang menekuni dunia pena hanya untuk keperluan kemanusiaan. Segala yang terketik di keyboard adalah teriakan jiwa saya atas setiap fenomena yang menuntut jemari saya untuk bersuara. Saya tuliskan segala kebenaran yang saya yakini. Saya tuturkan segala kalimat yang bisa menginspirasi pembaca untuk berbuat kebaikan dalam hidupnya. Saya tidak pernah meniatkan menulis untuk mengejar royalti. Impian terbesar saya dari menulis adalah agar saat di Mahsyar saya terbelalak melihat catatan amalku, kemudian saya bertanya, “Ya Allah, bukankah timbangan amalku tak sebesar ini?” Saya menerima jawaban dariNya, “Ya, kau benar. Tapi ribuan orang telah tergerak beramal kebaikan setelah membaca tulisan-tulisanmu. Berantai amal sunah terkerjakan setelah ribuan manusia membaca karya dari jemarimu.”

“Benar, malaikat, itulah harapan tertinggiku dari menulis, saya merasa lebih berhak masuk surga duluan.”

“Dasar penulis,” kata malaikat,

“Panjang sekali jawabanmu! Sekarang giliranmu wahai penyanyi!”

Sang peyanyi pun berjalan maju dengan elegan. “Harap malaikat tahu, saya bukan sembarang penyanyi, saya khusus menyanyikan lagu-lagu yang inspiratif. Lagu-lagu saya seringkali membuat manusia sadar dan terinspirasi melakukan kebaikan. Bahkan banyak penikmat lagu saya yang langsung meneteskan air mata tiap mendengar lagu saya diputar. Saya selama di dunia berkomitmen hanya mau menyanyikan lagu-lagu yang tidak melenakan pendengar. Saya selalu berharap lagu-lagu saya selalu membuat pendengar ingat kepada Tuhan.”

“Wah, menarik-menarik! Kata si malaikat. “Sekarang giliranmu pengusaha, apa amalan yang kau kerjakan di dunia sehingga kau merasa lebih berhak masuk surga duluan?”

Sang pengusaha pun maju, “Sewaktu di dunia saya menjadi pengusaha yang berjiwa sosial. Setelah semua bisnis saya lancar dan mapan, saya gunakan hasilnya untuk membangun rumah sakit agar dokter-dokter bisa praktik. Saya bangun pesantren agar mubaligh bisa belajar agama. Saya buat penerbit agar para penulis bisa menerbitkan ide-idenya. Saya buat dapur rekaman agar para penyanyi bisa menelurkan karya terbaiknya. Nah, siapa menurut Anda yang lebih berhak masuk surga duluan?”

Malaikat Ridwan pun bertutur, “Pengusaha, silahkan masuk ke surga duluan!”

Sumber : Tuhan, maaf kami sedang sibuk Oleh Ahmad Rifa’i Rif’an

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s