Miskinnya Nabi Kita

“Tidaklah kefakiran yang aku takutkan atas kalian, tetapi yang aku khawatira pada kalian kalau dibentangkan dunia pada kalia sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang terdahulu lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana yang mereka lakukan lalu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah hadist shahih tentang kemiskinan dan kekayaan. Inilah hadist yang membuat Abdurrahman bin Auf menangis tatkala ia menikmati roti yang lembut. Maka, masihkah engkau bersandar pada hadist kadal (Kadal fakru ayakuna kufran, “Hampir-hampir kefakiran itu mendekati kekafiran”) yang sama sekali tidak dapat dijadikan sandaran? Diriwayatkan dari Hadis Ibnu Abbas, sebagaimana riwayat Abu Bakar Ath-Tharisi dalam Musalsalatnya : 127-131 dan hadisnya adalah maudhu’ (palsu). Syaikh Al-Albani men-dha’if-kannya dalam Takhrij Musykilah Al-Faqr.

Maka sesudah mengetahui rusaknya hadis ini sebagai dalil, tidak patut bagimu untuk berhujjah dengan hadis ini dan menyebarkannya kepada manusia agar bergegas memburu kekayaan. Jika kita menyebarkannya karena tidak tau, maka kita termasuk orang yang bodoh (semoga Allah Ta’ala mengampuni kita). Tetapi jika kita telah mengetahui dan secara sengaja menyebarkannya, sungguh ini merupakan tindakan yang sangat berani dan menistakan kemuliaan Nabi.

Sama kejinya dengan orang-orang yang berdusta atas nama Ali bin Abi Thalib R.A tatkala menisbatkan perkataan ini kepadanya, “Seandainya kemiskinan itu berwujud manusia, niscaya aku yang akan membunuhnya.”

Jika engkau bertanya, bukankah Nabi SAW sangat kaya raya? Maka izinkan pula aku bertanya, apa yang bisa engkau katakan tentang keadaan manusia mulia ini tatkala wafat? Bukankah tatkala wafat baju perang beliau masih tergadai kepada seorang Yahudi demi memperoleh 30 sha’ gandum? Maka apakah engkau akan menyembunyikan sejarah hanya karena ingin meraup harta yang banyak dari mereka yang terpukau kepadamu?

Mari kita kenang sejenak penuturan Zaid bin Tsabit, “Anas bin Malik, pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras yang dipatri dengan besi, lalu Anas berkata, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah’.” (HR. At-Tirmidzi) “Dengan gelas kayu itulah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu, dan susu.” (HR At-Tirmidzi dari Anas bin Malik)

Kita merindukan sosok semacam Abdurrahman bin Auf maupun Ustman bin Affan RA yang kaya raya tetapi mereka bukanlah yang haus harta dan sangat bersyahwat terhadap dunia. Mereka kaya sebagai akibat, bukan tujuan. Ataukah kita sebut-sebut mereka hanya sebagai pembenar terhadap syahwat kita kepada kekayaan? Kita menyebut nama mereka, tetapi tidak meneladani kehidupan mereka. Kita berbincang tentang apa yang bisa kita lakukan jika kaya raya, tetapi itu hanya sebagai pelengkap betapa manisnya kekayaan. Bukan karena merindukan amal saleh mereka.

Pertanyaanya, bukankah ini pula yang telah menggelincirkan Qarun?

Sumber : Mencari ketenangan di tengah Kesibukan Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s