Bekerja, Betapa Nikmatnya

Kedua tangan ini tercipta untuk bekerja, jika tak disibukkan dalam kerja ketaatan, ia kan tetap bergiat dalam kemaksiatan. (Umar bin Khaththab)

Selain Al-hasan kecil, mungkin dia satu-satunya lelaki dewasa yang diteguhkan gelar “Sayyid” bagi dirinya oleh Rasulullah SAW.

Kala itu, ia dipapah dalam keadaan yang sangat lemah. Nadi lengannya pecah terkena anak panah, ketika menjagai Khadaq dalam perang Ahzab. Berhari-hari dia dirawat dikemah dengan darah yang semula memancar, lalu mengalir, dan kemudian terus merembes dari lukanya. Tapi ada satu hal yang masih merisaukannya. “Ya Allah,” begitu dia berdoa, “tangguhkan untukku sampai kutuntaskan urusan hingga hatiku puas atas Bani Quraizhah.”

Namanya Sa’d ibn Mu’adz, pemimpin suku Aus di Madinah. Bani Quraizhah yang berkhianat, adalah sekutunya sejak zaman jahiliyah.

Dia pun datang ditandu dengan wajah pucat dan nafas satu-satu. Rasulullah dan Bani Quraizhah telah menyepakati bahwa Sa’d yang akan menjadi hakim atas pengkhianatan suku besar Yahudi terakhir di Madinah tersebut. “Sambutlah Sayyid kalian,” seru Nabi kepada khalayak. Sebagian sahabat yang amat bersemangat menjaga persamaan dan tak hendak memuja sosok pribadi berkata, “Bukankah Sayyid kita hanyalah Allah?”

Tapi Rasulullah menegaskan, “Sambutlah Sayyid kalian.”

Hari itu Bani Quraizhah yang mengira Sa’d ibn Mu’adz akan bermurah hati pada mereka mengingat hubungan masa lalu yang mesra, harus gigit jari.

Hari itu Sa’d ibn Mu’adz tersenyum, merasa telah menunaikan seluruh baktinya pada Allah dan RasulNya. Lalu, tak berapa lama kemudian ruhnya yang suci berangkat menjumpai Kekasih tertinggi, Allah SWT yang ridha padanya. “Arsya Ar-Rahman berguncang,” demikian Rasulullah bersabda dalam linangan air mata, “ketika ruh Sa’d ibn Mu’adz diangkat ke langit.”

Sepanjang hidupnya dia menjaga diri dalam kesucian, kerja keras, kemuliaan, dan kedermawanan. Ketika Mush’ab ibn Umair, sang Da’i dahsyat tiba di Yatsrib , dengan cara yang unik pula dia menjadi salah satu murid termula-mula. Dialah lapis-lapis keberkahan bagi kaumnya, sebab tak ada pemuka Thaibah yang keislamannya menjadi hidayah pula bagi para pengikut sebanyak dirinya.

Tapi ada satu lagi kemuliaannya yang harus ditekankan dan disebut di sini. Sa’d ibn Mu’adz adalah seorang yang amat tekun bekerja, hanya makan dari apa yang dihasilkan oleh tangannya sendiri meskin dia seorang pemimpin kabilah. Telapaknya menjadi kasar, berkapal, lagi pecah-pecah oleh kerasnya dia bergawai di ladang kurma.

Suatu hari Rasulullah SAW mencium tangan yang terampil dan kokoh itu dengan penuh kasih sayang serta pemuliaan. Dan beliau bersabda, “Inilah tangan yang dicintai Allah dan takkan disentuh api neraka.”

Cukup mengkhawatirkan juga, bahwa pembicaraan panjang kita berkait jaminan Allah akan rizqi dan kemuliaan yang tak terletak di dalam harta pada bab-bab sebelumnya menumpulkan semangat dan kegigihan kita dalam bekerja.

Semoga tidak demikian. Sekali-kali janganlah demikian.

Justru sebab rizqi kita telah dijaminkan, maka makna kerja kita adalah pengabdian seutuhnya kepada Allah SWT. Justru sebab kita tahu bahwa bekerjanya kita maupun karunia yang dilimpahkan melaluinya keduanya sama-sama anugerah Allah ‘Azza wa Jalla, maka bekerja sudah seharusnya ditunaikan dalam gembira. Justru sebab kita tahu bahwa kerja kita bukanlah penentu dari apa yang kita nikmati, maka bekerja sudah seharusnya merupakan bentuk luapan syukur kita pada Dzat Yang Maha Bijaksana.

Maka bekerja adalah ibadah sehingga bekerja sudah semestinya ditekunkan dengan ‘itqan, bahkan seyogyanya diperjuangkan sampai ihsan.

“Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba yang berkarya dan ‘itqan (tekun-terampil). Barang siapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang yang berjuang di jalan Allah.”

Penting untuk kita pahami bahwa lapis-lapis keberkahan bukan hanya terdapat pada rizqi yang Allah karuniakan pada kita. Lebih dari itu, ia justru teranugerahkan dalam kesungguhan kita menekuni pekerjaan hingga berketerampilan. Ialah berkah, sebab cinta Allah terjanji pada hamba yang demikian. Ialah berkah, sebab mencari nafkah adalah sebentuk ibadah. Ialah berkah, sebab susah payahnya bernilai jihad fi sabilillah.

Bukan hanya pada rizqinya, berkah itu lebih-lebih justru ada di dalam kerjanya.

“Wahai Hakim,” demikian Sang Nabi bersabda dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim,” sesungguhnya harta benda ini kelihatan hijau dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan cara yang baik, maka ia akan diberkahi. Dan barang siapa mengambilnya dengan berlebihan, maka ia tidak akan diberkahi, yaitu seperti orang yang makan dan tak pernah kenyang.”

Seperti Sa’d ibn Mu’adz, semoga Allah karuniai kita kekuatan untuk menjadi seorang Muslim yang ‘itqan dalam kerjanya. Hingga tangan yang kasar dan berkapal, terperisai dari sentuhan api neraka. Hingga dosa-dosa yang menghitamkan hati, luruh bersama tiap butir keringat yang mengucur.

Dan semoga kita dikaruniai kekuatan untuk menjadi seorang mukmin yang ihsan dalam kerjanya. Yang menjadikan Allah sebagai sumber semua tenaganya. Yang menjadikan Allah sebagai sumber semua tenaganya. Yang menjadikan Allah sebagai yang paling diharapi ganjaran dariNya. Dengannya, semoga kita mampu bekerja melampaui apa yang diharapkan manusia, baik atasan, rekan, maupun bawahan.

Sebab kita yakin, andaipun mata ini tak melihat Allah, sungguh dia senantiasa menyaksamai kita. Sebab kita yakin, andaipun tak ada manusia yang mengawasi kita mengerahkan daya dan mencurahkan tenaga, ada Allah yang lengkap catatanNya dan teliti perhitunganNya. Sebab kita yakin, andaipun ada jam kerja yang tak terhitung dalam gaji dan penghargaan manusia, balasan di sisi Allah jauh lebih kita harap dan kita suka.

Dengan ibadah sebagai kerja yang di dalamnya ruh ihsan menyala, kita menjadi insan dengan nilai tambah dalam karya yang insya Allah bermanfaat bagi sesama.

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibanding seorang mukmin yang lemah. Dan pada keduanya terdapat kebaikan. Senantiasa berusahalah untuk melakukan segala yang berguna bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau menjadi lemah. Dan bila engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, demikian, niscaya akan terjadi demikian dan demikian’, tetapi katakanlah: ‘Allah telah mentaqdirkan, dan apa yang Dia kehendakilah yang Dia lakukan’, karena ucapan ‘seandainya’ akan membukakan pintu godaan syaithan.” (H.R. Muslim)

Bekerja adalah ibadah. Di antara makna itu, kesyukuran adalah hikmah yang besar.

Bekerjalah kalian hai keluarga Dawud, sebagai kesyukuran. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (Q.S. Saba’ : 13).

Munajat malam Nabiyullah Dawud ‘Alaihis Salam adalah sebaik-baik munajat; dia tidur separuh malam dan bangun pada setengahnya. Demikian pula shiyam beliau adalah sebaik-baik puasa. Beliau bershaum pada satu hari dan berbuka di hari berikutnya. Semua diselang-seling dalam ketaatannya pada Allah. Saat menunaikan, beliau menghadap Allah dengan dirinya yang utuh dan kehadiran hatinya yang genap. Saat berjeda, beliau membebaskan jiwa, menyungguhkan kerja, membaktikan diri kepada umat yang dipimpinnya.

Dalam memenuhi nafkah bagi diri dan keluarganya, Nabi Muhammad SAW juga memujinya. Adalah Dawud, Raja Bani Israil dengan kekuasaan yang amat besar, wilayah yang luas, dan mu’jizat yang agung, rela berpayah-payah menempa besi untuk dijadikan zirah baja. Dengan membuat baju perang inilah, dengan tubuh berpeluh dan tangan yang cetakan, Dawud menafkahi diri dan keluarganya. Dari hasilnya ia makan, berpakaian, dan mencukupi penghidupan.

Keseluruhan amal ini, dari munajat malam, puasa, hingga tangannya yang sibuk menempa; semua dia tunaikan dalam rangka mensyukuri Allah Yang Maha Pemurah. Amat sedikit hamba yang pandai bersyukur. Amat sedikit hamba yang seperti Dawud; raja yang tetap bekerja karena tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebentuk kesyukuran terindah.

Bekerja adalah ibadah. Dan di antara makna itu, bekerja berarti menyempurnakan pengharapan kepada Allah. Sebab, tidak bekerja sering menjadikan seorang penganggur berharap-harap kepada makhluk. Mereka yang berharap hanya kepada Allah, bersandar padaNya, serta mengandalkan Dia, mewujudkan asanya dengan cara bekerja.

Adalah Sayyidina Umar bin Khattab, demikian Dr. Jaribah Al-Haritsi dalam Al-Fiqhul Iqtishad, menemukan ada tiga orang yang terus menerus berada di masjid Rasulullah. Mengikuti sholat berjamaah, tapi seusainya sama sekali tidak beranjak melainkan hanya duduk, berzikir, dan membaca Al-Quran. Seakan-akan, mereka terus-menerus dalam keadaan beri’tikaf.

Maka Al-Faruq RA mendatangi mereka dan menanyai halnya satu demi satu. “Apa yang kalian kerjakan disini?”

Nanti kita tahu, bahwa jawaban mereka semua sama, “Kami beribadah kepada Allah, wahai Amirul Mukminin.”

Maka Umar melanjutkan pertanyaannya. “Jika kamu terus-menerus berada di sini,” ujar beliau, “lalu siapakah yang menanggung nafkah dan keperluanmu sehari-hari?”

Orang pertama menjawab, “Wahai Amirul Mukminin. Allah, Dzat Yang Maha Kaya, menjamin rizqi seluruh makhlukNya. Maka janganlah engkau mengkhawatirkan kami, sebab Allah adalah sebaik-baik Dzat Yang Menjaga; Dialah Yang paling Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

Umar mengngguk dan beranjak dari orang yang menjawab dengan kalimat imam ini. Beliau pun pergi menuju orang kedua yang berdiam di sudut lain Masjid. Beliau pun menghardikkan pertanyaan yang sama.

“Wahai Amirul Mukminin,” demikian orang kedua ini menjawab dengan riang, “aku memiliki seorang saudara kandung yang amat kucintai dan dia pun mencintaiku. Tetapi kami memiliki kecenderungan yang berbeda. Dia amat menyukai perniagaan, serta dikaruniai keahlian untuk menanganinya. Adapun aku, beberapa kali mencoba berdagang pula, tapi semua nyaris berakhir dengan habisnya modalku. Lalu kami sepakat berbagi tugas. Aku terus-menerus akan bermunajat sebagai ahli ibadah di Masjid Rasulullah dan mendoakan kelancaran usahanya. Adapun ia akan bekerja keras di pasar. Hasil usaha itu kami bagi dua untuk menafkahi kami sekeluarga.”

Umar tertawa mendengarnya. “Ketahuilah,” ujar beliau, “boleh jadi saudaramu itu hakikatnya lebih ahli ibadah dibanding dirimu!” Namun, beliau tetap membiarkannya. Sebab memang shahih adanya. Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi dan Al-Hakim disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Boleh jadi seseorang mendapat rizqi bersebab ibadah anggota keluarganya.”

Saat menjumpai orang ketiga di sudut lain, ‘Umar melihat pria ini sehat dan kuat tubuhnya, tapi kurang sungguh-sungguh orangnya. “Siapa yang menyediakan kebutuhan hidupmu, hai hamba Allah?”

“Alhamdulillah,” jawab lelaki itu, “meski aku berdiam di Masjid, tapi setiap hari selalu saja ada orang yang memberikan kepadaku berbagai makanan dan uang. Padahal aku tidak memintanya. Maka sungguh inilah karunia Allah Yang Maha Kaya.”

Orang ketiga ini, diseret dan didorong Umar keluar Masjid sampai terhuyung. Umar pun mengulurkan tongkat pada dirinya dan berkata, “Pergilah! Dan bekerjalah di kebun milik Umar! Sungguh, demi Allah, kau telah membebani manusia dengan keberadaanmu di Masjid dan merusak dirimu dengan berharap-harap kepada mereka. Wahai hamba-hamba Allah, bekerjalah! Karena sesungguhnya anugerah Allah tidaklah diperoleh dengan duduk dan bermalas-malasan disertai berharap-harap pada pemberian sesama insan!”

Bekerja adalah mengukuhkan tawakal kita pada Allah sebagaimana orang yang meninggalkan unta di depan Masjid diperintahkan untuk mengikatnya terlebih dahulu. Bekerja adalah mengukuhkan kebersandaran dan pengandalan kita pada Allah, agar dapat menegakkan punggung dalam shalat dengan rizqi yang dikaruniakanNya. Agar dalam ibadah dan ketaatan di dunia yang sementara ini, kita tak berhutang bersandar, dan mengandalkan sesama makhluq. Agar kita mandiri dalam pengabdian kepadaNya.

Bekerja adalah ibadah. Dan diantara makna itu, bekerja adalah menata niat untuk menjadi jalan rizqi bagi diri dan sebanyak mungkin orang lain. Sebab kita tahu bahwa setiap makhluk dijamin rizqinya, dan bahwa jalan rizqi tak selalu melalui rencana-rencana diri, bahkan banyak kejutannya. Maka, melalui bekerja itu kita ingin berjuang untuk menjadi saluran Allah kala melimpahkan anugerah bagi siapa pun yang dikehendakiNya. Sebab, dengan menjadi jalan rizqi bagi diri dan sesama, ada pahala yang amat berharga.

Hakikatnya memang, tak semua yang datang sebagai karunia Allah melalui apa yang kita kerjakan akan kita nikmati sendiri. Seandainyapun ia tersalur pada kegunaan yang paling tingginilainya menurut agama; akankah ada pahala bagi kerja kerasnya selama ini dalam mengupayakannya?

Betapa sia-sia tulang yang dibantingnya, keringat yang diperasnya, tubuh yang diringkihkannya, dan umur yang dihabiskannya dalam kerja, jika niat tak tertata sejak semula. Betapa indahnya sekiranya sejak dia mengayun langkah, mencencang pikir, dan menyingsingkan lengan; niat dalam hatinya telah bulat, “Ya Allah hamba niatkan diri, kerja ini menjadi jalan rizqi, untuk diri, keluarga, dan makhluk-makhluk-Mu yang memerlukannya kapan pun dan dimanapun jua.”

Dengan begitu, semoga kita berkesempatan menjadikan apa yang ada di tangan kita sebagai pahala agung dengan menitipkannya pada berbagai hak seperti sabda Rasulullah: “Ada empat dinar. Satu dinar engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (H.R. Muslim)

Bekerja itu ibadah. Maka diantara maknanya adalah bahwa dalam payahnya ada rasa nikmat, dalam lelahnya ada rasa lezat. Sesuatu yang diperoleh dengan perjuangan, selalu punya nilai lebih bagi jiwa, jika dibandingkan dengan apa-apa yang datang sebagai pemberian tanpa usaha.

Mungkin bersebab itulah, Bani Israil yang dikaruniai Manna dan Salwa siap saji dari langit, masih meminta juga makanan yang harus terlebih dahulu tertumbuhkan di bumi, dipanen, dan diolah. Manna, demikian kata para mufassir, adalah makanan yang lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan sejuk dari salju. Sedang Salwa adalah daging burung panggang yang empuk lagi lezat.

“Musa berkata, ‘Pergilah kalian ke suatu kota’, demikian dikatakan Imam Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan, “sebab makanan yang kalian minta itu bukanlah pula makanan yang susah diperoleh. Hampir di seluruh dunia, ianya tersedia. Betapa tak sebandingnya permintaan kalian itu dengan karunia Allah yang diturunkanNya; yang lezat, sehat, lagi penuh manfaat. Betapa tak sebandingnya permintaan kalian pada Allah untuk menumbuhkan yang remeh-remeh, dari sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah; dengan Keagungan Dzat yang telah menganugerahkan pertolongan, pemuliaan, dan penghidupan pada kalian.”

Sungguh benar, payahnya pekerjaan adalah bagian dari nikmatnya karunia. Hatta bagi daerah di seputar Negeri Saba’ yang ramai perdagangannya dan aman perjalanannya, baik di siang maupun malamnya. Al-Quran mengisahkan bagaimana para penduduk negeri itu meminta agar jarak perjalanan mereka dijauhkan, waktu safar mereka dilamakan juga kendaraan dan diri mereka dilelahkan.

Sebab memang, sesuatu menjadi berharga karena nilainya yang langka. Sebab memang, dalam ketaatan kepada Allah berlaku sebuah kaidah. Bahwa nikmat itu hadir setelah payah, dan lezat itu terasa sebakda lelah. Di lapis-lapis keberkahan, bekerja adalah ibadah, dengan segala makna yang terkandung dalam kata itu.

Sumber : Lapis-Lapis Keberkahan By Salim A. Fillah

Advertisements

2 thoughts on “Bekerja, Betapa Nikmatnya

  1. Di dunia …..susah payah itu nikmat. Dia akhirat hanya sipendosa dan kafir akan hidup susah payah dalam neraka. Sebaliknya orang beriman dan beramal soleh hidup penuh nikmat selamanya. Semuga Allah memasukkan kita dikalangan mereka yang bersusah payah di dunia dan menuai nikmat di akhirat. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s