Romeo Majnun

“…Demi Allah, cintaku pada Layla tulus, jiwaku selalu merindu, pikiranku selalu mengenang, dan lidahku tak pernah kelu menyebut namanya. Layla laksana minuman yang menyegarkan dan menghilangkan dahaga kalbuku. Cintaku pada Layla adalah cinta suci, tidak tercampur dengan nafsu walau sebutir debu. Meskipun orang-orang mencela kami, mengusir, dan menyia-nyiakan diriku.”

-Nizami, Layla Majnun-

Romantis bukan? Selama ribuan tahun Layla Majnun menyebar dalam tuturan dari mulut ke telinga menjadi kisah indah dan syahdu dalam bahasa yang meliuk-liuk sendu. Ia konon menginspirasi banyak kisah dari penjuru lain. Tristan un Isolde yang ditulis oleh Gottfried von Strassburg dari Jerman, dongeng Perancis; Aucassin et Nicolette, dan bahkan Romeo and Juliet-nya William Shakespeare kabarnya sulit mengelak dari anggapan terinspirasi oleh Layla Majnun.

Kutipan melankolis diatas diambil dari seorang penyair Azerbaijin abad XII, Nizami Ganjavi yang pertama kali menuliskan Layla Majnun dari cerita tutur. Versi Nizami yang berbentuk syair berbunga-bunga ini kemudian menjadi yang paling masyhur.

Buya hamka menyebut kisah ini sebagai ceritera dari tanah arab, semata-mata karena latarnya adalah tanah Hijjaz dan Najd serta kehidupan suku-suku penggembala. Itu saja. Dan tentu tak semua yang Arab itu Islami.

Nizami sendiri memberi ending kisahnya dengan mimpi seorang kawan bernama Zayd setelah kematian kedua kekasih, bahwa Majnun dan Layla sedang bergandeng mesra di atas singgasana surga. “Permadani surga”, tulisnya, “terhampar di dekat sungai kecil yang mengalir di bawah singgasana itu, dilengkapi dengan hidangan nikmat dan cahaya berkilauan.” Alangkah indahnya, betapa manisnya. Surga yang mereka huni, digambarkan oleh Nizami sebagaimana Al-Quran melukiskan.

Masalahnya jika kita baca keseluruhan kisah, amat terasa kesan ‘tempel-menempel’ yang dilakukan Nizami – atau mungkin pencerita sebelumnya – terhadap cerita dengan unsur-unsur keislaman. Jika kita seksamai lebih dalam, nilai islaminya sangat dipaksakan. Dan ternyata memang, Layla Majnun aslinya adalah kisah percintaan zaman pagan. Ia muncul sezaman dengan kisah-kisah legendaris Kisra Persia, Anusyirwan.

Jadi semisal kita mengisahkan Layla Majnun yang sudah ‘dibumbui’ pernik islami ini kepada Abu Jahl dan kawan-kawan musyrik Quraisy-nya, mereka akan sangat gesit memotong, “Huh, dongengan orang-orang dahulu.”

Gilalova

Majnun, artinya si gila. Ia tentu belum dipanggil begitu sebelum ketergila-gilaannya pada Layla menyempurna menjadi penyakit gila. Nama aslinya adalah Qais ibn Syed Omri. Cintanya adalah korban gengsi. Ayah Layla merasa terhina ketika Syed Omri mengajukan lamarannya dengan berpanjang lebar membanggakan sukunya. Apalagi kalimat penutupnya berbunyi, “Kami yakin Tuan adalah orang yang arif lagi bijak, dan orang arif tentu takkan membuang tawaran yang sangat berharga…”

Ayah Layla membalas tak kalah sengit dengan menyinggung tanda-tanda gila yang telah nampak pada Qais. “Demi Allah, saya tidak menginginkan orang-orang Arab berbicara bahwa saya menikahkan putriku dengan pemuda gila.” Ketersinggungan masing-masing pun menguadrat tak terelakkan. Lamaran itu gagal. Dan Qais semakin gila. Apalagi setelah Layla dinikahkan dengan lelaki lain. Kegilaan Qais berlipat pangkat. Gilalova, gila karena cinta.

Apa hubungan antara cinta dengan kegilaan? Majalah National Geographic edisi Februari 2006 mengangkat tema utama ‘Love, The Chemical Reaction’. Artikel utama yang disajikan oleh Lauren Slater diberi satu kutipan mencolok, “Love and obsessive disorder could have a similar chemical profile.” Artinya, demikian Slater menjelaskan setengah bercanda, mungkin sulit untuk membicarakan cinta dan penyakit mental secara terpisah.

Cinta ala Romeo dan Juliet yang membuat mereka bunuh diri. Cinta San Pek yang putus asa. Cinta Rara Mendut dan Pronocitro. Semua itu sulit untuk dikatakan bukan penyakit mental. Kesemuanya menggambarkan kegilaan, sesat pikir, dan keputusasaan dari kasih sayang yang lebih agung: kasih sayang Allah.

Tentu saja terkadang kita bisa berkata bahwa kegilaan dalam cinta seperti yang mereka alami terasa agung dan indah. Bukankah menyenangkan dikenang sepanjang masa sebagai para pejuang cinta? Tapi tentu saja jika sekarang Anda mengikuti langkah Qais, Anda tetaplah seorang pengekor, follower, dan follower takkan pernah dikenang. Keindahan cinta Qais memang terlukis di atas kanvas terhalus tapi keindahan tak bisa menjadi pilar yang berdiri sendiri untuk menyangga kesempurnaan manusia. Dalam perbincangan mengenai filsafat nilai, ada tiga nilai kesempurnaan universal. Ada nilai kebenaran (logika), ada nilai kebaikan (etika), dan ada nilai keindahan (estetika). Logika menempati tertib pertama karena kebaikan dan keindahan menjadi absurd, atau setidaknya pincang dan tak utuh tanpa menapak di atas nilai kebenaran.

Ada banyak hal yang ‘tidak benar’ dan tidak etis dibalik indahnya ‘kesetiaan’ cinta ala Layla dan Majnun. Berlebihan dalam mencintai hingga menunjukkan tanda kegilaan. Menggelandang putus asa karena lamaran ditolak dan kekasih menikah dengan lelaki lain. Tetap berhubungan dengan kekasih lama dibelakang suami. Lebih bersedih atas kehilangan kekasih dibanding kematian ayah dan ibu. Dan seterusnya. Apapun alasannya, semua itu-meski disajikan dengan begitu indah dan menyentuh oleh Nizami-‘tidak benar’ dan ‘tidak etis’.

Kisah klasik, bukan masa depan

Kisah Qais dan Romeo adalah kisah klasik yang bukan untuk masa depan. Sebagaimana umumnya karya sastra pada masa itu, bias sosial ekonomi masih ada di sini. Qais adalah putera pemimpin Bani Amir, kabilah paling disegani di Hijjaz dan wibawanya terasa hingga ke padang pasir Najd. Romeo adalah putera Tuan besar Montague yang bermusuhan dengan Tuan besar Capulet, ayah Juliet. Ketika Romeo berkata, “What’s in a name?”, bagi Juliet nama Montague di belakang nama Romeo sangat merisaukan. Nama musuh yang nyata bagi keluarganya.

Kisah semacam Layla Majnun dan Romeo Juliet juga lahir ketika tokoh-tokoh kisah selalu adalah ‘pangeran’ dan ‘puteri’. Tapi dua adikarya ini menjadi istimewa, mungkin lantaran kebanyakan cerita di masa itu ditutup dengan kalimat ‘mereka hidup bahagia selama-lamanya’, sedangkan keduanya ditutup dengan tragedi yang menyembilu hati. Ah, mungkin para bangsawan yang berhak punya kisah cinta legendaris.

Cinta mereka…

Semacam pemujaan dari kejauhan…

Sebuah renungan dalam kebisuan…

Sebentuk pendewaan oleh seorang pemuja rahasia…

-Victor Hugo, Les Miserables-

Di dalam syairnya, Qais mengakui bahwa cintanya adalah penyakit. Mari simak betapa lamat-lamatnya ia yang compang-camping tak terurus berkata dalam kesendirian, kelaparan, kesedihan, dan derita cinta.

Cinta bagai ilham dari langit yang menerobos dada dan bersemayam dalam jiwa

Dan kini kami akan mati karena asmara yang telah melilit seluruh nurani

Katakanlah padaku: pemuda mana yang bebas dari penyakit cinta?

Ada berjuta pemuda duhai Qais, yang akan menjawabmu dengan kepala tegak, “Inilah kami yang bebas dari penyakit cinta, karena kamilah majikannya. Kami bukan budak cinta!” mereka yakin jalan cinta ala Qais dan Romeo sungguh tak cukup dan tak mendaya untuk menghadapi zaman ini sebagai manusia utuh. Mereka yakin ada jalan cinta lain yang lebih layak diikuti. Kalau saja engkau Qais bertanya padaku, di mana pemuda-pemuda itu. Maka aku akan menjawab, “Mereka kini sedang meniti jalan cinta para pejuang!”

Sumber : Jalan cinta para pejuang Oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s