Ali Bin Abi Thalib

Jika Nabi Muhammad SAW adalah kota pengetahuan maka pintu gerbangnya adalah Ali, sang sepupu Rasulullah – yang digelari Asadullah (singa Allah) – yang punya posisi unik dan menonjol sebagai khalifah keempat Islam dan Imam Syiah pertama, serta perintis tasawuf dan ahli hukum Islam terbesar.

Dalam buku manapun yang membicarakan tokoh-tokoh Islam paling berpengaruh, Ali bin Abi Thalib muncul dalam jajaran teratas. Dia tersohor karena karakternya yang tanpa cela, kepribadiannya yang penuh kasih sayang, dan pengabdiannya yang gigih terhadap Islam. Sebagai seorang tokoh terkemuka Islam awal, Ali sangat dihormati sebagai salah satu “al-Khulafa Ar-Rasyidin” (khalifah-khalifah terpercaya atau yang mendapat petunjuk) bersama Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.

Bagi kaum Syiah, Ali termasuk tokoh yang sangat penting. Tanpa kepribadiannya, kharisma, dan ketangguhannya, Syiah tidak akan ada sama sekali. Oleh karena itu ia menempati posisi menonjol dan unik sebagai khalifah Islam keempat dan sebab munculnya kaum Syiah.

Dilahirkan dalam keluarga Bani Hasyim dari suku Quraish di Makkah, Ali bin Abi Thalib merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW. Dia menjadi seorang Muslim sekitar setahun setelah Rasulullah mengumumkan kenabiannya. Ali baru berusia sepuluh tahun waktu itu dan menjadi anak kecil pertama yang memeluk Islam.

Dibesarkan dan dididik oleh Rasulullah, Ali sedari awal menjadi salah satu pendukung utama Rasulullah. Satu ketika, Rasulullah menjamu semua pemimpin Quraish dalam rangka berbagi pesan Islam kepada mereka, tetapi tidak satupun yang memenuhi undangannya, Ali muda berdiri dan mengumumkan bahwa dirinya siap membantu dan mendukung Rasulullah. Keberanian dan keteguhan hatinya memberikan harapan kepada Rasulullah dan membuat malu semua pemimpin terkemuka yang berkumpul di rumah beliau. Seperti yang terjadi, Ali tidak pernah gagal memenuhi janjinya untuk senantiasa berada di sisi Rasulullah. Ali tetap berada di sisi Rasulullah, baik pada masa sulit maupun sukacita; keberhasilan maupun kesedihan.

Tahun 622 M, pihak Quraish memutuskan untuk membunuh Rasulullah, dan Ali secara sukarela menetap di rumah Rasulullah agar beliau bisa menyelinap keluar dari Makkah tanpa jejak bersama sahabatnya Abu Bakar dan meneruskan perjalanan ke Madinah. Tatkala orang-orang Makkah memasuki rumah Rsulullah, mereka terkejut menemukan Ali muda sedang tidur di ranjang beliau. Setelah mengembalikan semua barang orang-orang yang dipercayakan kepada Rasulullah agar tersimpan dengan aman, Ali berangkat ke Madinah dan bergabung bersama Rasulullah.

Tidak bertubuh tinggi, tetapi berotot, sangat energik, dan diberkati dengan perawakan tubuh yang sangat proporsional. Ali juga dikenal bergerak dengan sangat cepat. Dalam sejarah Islam, Ali terkenal sebagai prajurit tangguh yang dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya di medan peperangan.

Tahun 627 M, ketika umat Muslim Madinah terpaksa menggali parit di sekitar kota mati untuk mencegah terjadinya invasi Makkah, seorang ksatria terkenal Arab bernama Abdu Wud berhasil menyeberangi parit dan menantang pasukan Muslim untuk melawannya satu lawan satu. Tak ada yang berani menerima tantangan itu, kecuali Ali. Dia meraih pedang bermata dua kesayangannya yang diberi nama “Dzul Fiqar” dan menghadapi petarung paling piawai di negeri tersebut. dalam beberapa menit, Abdu Wud menyadari bahwa dia menemukan lawan yang sepadan. Tidak lama berselang, Abdu Wud tergeletak di tanah, sementara Ali yang memenangkan pertarungan kembali ke jajaran pasukan Muslim dengan penuh rendah hati. Keberaniannya yang tak kenal takut dan kepiawaiannya di medan perang segera menetapkan reputasinya sebagai salah satu prajurit paling berhasil di kawasan Arab. Sampai-sampai dia mendapat gelar kehormatan Asadullah (Singa Allah) dari Rasulullah sendiri.

Ali tidak hanya dikenal sebagai seorang prajurit dan atlet terkemuka, tetapi juga seorang yang bijaksana dan tekun dalam belajar. Dia dianggap sebagai salah seorang sahabat Rasulullah yang paling pandai. Selain menjadi konsultan hukum yang luar biasa, guru bahasa Arab, dan orator andal, Ali juga mengetahui seluruh isi Al-Quran di luar kepala dan merupakan salah satu sahabat yang menyusun koleksi hadist semasa Rasulullah masih hidup. Ali juga secara luas dianggap sebagai perintis tasawuf (Islam mistik). Kala itu, sebagian besar ordo sufi terkenal menjejakkan afiliasi ruhani mereka secara langsung kepada Rasulullah melalui jalur Ali.

Ali memang menjadi amat terkenal karena kesungguhan belajarnya sampai-sampai Rasulullah pernah menyatakan bahwa dirinya adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintu gerbangnya. Khalifah Abu Bakar dan Umar selalu berkonsultasi dengan Ali berkenaan dengan semua masalah hukum penting sebelum mengeluarkan fatwa. Menurut khalifah Umar, penilaian Ali dalam masalah hukum tidak ada bandingnya. Umar selalu mengatakan, “Ali adalah ahli hukum terbesar dan hakim di antara kita semua.” Ali dan khalifah Abu Bakar tidak diragukan lagi merupakan dua di antara umat Islam yang paling berwawasan setelah Rasulullah.

Saat khalifah Usman dibunuh secara brutal oleh sekelompok pemberontak pada tahun 656 di usia delapan puluh tahun, persatuan dunia Islam hancur. Huru-hara dan histeria menyebar di Madinah. Peristiwa tersebut merupakan periode kritis dalam sejarah Islam tatkala Ali menjadi khalifah keempat.

Sebagaimana para pendahulunya, dia menerima jabatan khalifah dengan perasaan khawatir karena dia menganggapnya sebagai amanat dari Allah dengan beban tanggung jawab yang amat besar. Setelah menjadi khalifah, dia segera menemui sejumlah rintangan, menghadapi pertentangan keras dari kelompok-kelompok pesaing.

Selain itu, dia merasa terjepit di tengah-tengah ketika salah satu kelompok menuntut agar pembunuh khalifah Usman segera ditangkap dan dihukum karena kejahatan keji mereka, sementara para pemberontak terus menimbulkan malapetaka di dalam Negara Islam.

Terdapat kelompok lain yang bersekutu dengan khalifah yang dikenal sebagai “Syia’tu Ali (pendukung Ali). Kelompok ini tidak hanya mendukungnya, tetapi juga mengembangkan pandangan teologis dan tujuan politik mereka sendiri. Alhasil, Syiah menjadi aliran politik dan teologis yang terpisah dalam Islam. Pada saat yang sama, Khawarij (para pembelot) muncul sebagai kelompok politik sempalan. Mereka menganggap semua kelompok lain selain diri mereka sebagai bid’ah dan menyesatkan.

Walaupun terdapat persaingan suku yang membuat rusuh dan faksionalisme politik, khalifah Ali berusaha bekerja sama dengan semua kelompok yang berbeda demi mempertahankan kesatuan dan solidaritas Islam. Ali tahu dirinya tidak bisa membuat satu kesalahan pun pada saat kritis dalam sejarah Islam seperti ini.

Sebagai seorang ahli hukum ternama, khalifah Ali mengerti pentingnya menangkap dan menghukum pembunuh khalifah Usman melebihi orang lain.namun, itu tidak mungkin bisa segera dilakukan mengingat kekacauan dan gangguan yang sedang terjadi di dalam Negara Islam. Prioritas pertama dan yang paling utama bagi khalifah Ali adalah membangun kembali tata krama dan ketertiban di Madinah sebelum dia bisa memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah mendesak lainnya.

Yang membuat keadaan semakin runyam, para pemberontak yang bertanggung jawab atas pembunuhan khalifah Usman beralih beraksi di bawah tanah, dan itu memerlukan sebuah penyelidikan mendalam untuk mengidentifikasi dan menangkap para tersangka. Bila khalifah melakukan kesalahan perhitungan yang serius pada tahapan ini maka para pemberontak dapat menabur benih-benih kekacauan dan gangguan yang lebih mendalam di dalam Negara Islam.

Kemampuan diplomatiknya yang cakap, serta luasnya pengetahuan dan pemahaman tentang Islam, memungkinkan khalifah Ali untuk menegosiasikan jalan melalui semua lika-liku politik. Dan sebagaimana biasanya, prioritas utamanya adalah kesejahteraan rakyatnya dan persatuan umat Islam (komunitas Islam global).

Tidak ada orang yang mampu melintasi jalur yang serumit dan sesulit pada periode sekritis ini dalam sejarah Islam selain khalifah Ali. Dengan keterampilan negosiasi yang cakap dan pemahaman ajaran-ajaran Islam yang mendalam, dia mampu menghindari peperangan di Negara Islam lebih dari satu kali.

Ketika situasi di Madinah tidak bisa ditolerir lagi, khalifah Ali memindahkan kantor pusatnya ke Kufah. Dia mengambil keputusan berani ini dengan tujuan untuk mencegah Madinah menjadi medan pertempuran sebagaimana yang diinginkan para pemberontak. mereka pun menjadi frustasi akibat keputusan Ali ini.

Sebagai seorang jawara Islam sejati, Ali berjuang mati-matian mencegah kaum Muslim untuk memerangi satu sama lain. Sampai-sampai dia menyetujui gencatan senjata dengan musuh-musuhnya yang paling getol demi mencegah perang. Ali lebih memilih dipermalukan secara pribadi ketimbang melihat para Muslim tidak berdosa kehilangan nyawa dan mata pencaharian mereka. Perasaan cinta, kebaikan, dan kemurahan hatinya menjadikannya sebagai sebuah simbol yang kuat dari kebaikan dan kejujuran. Bahkan kalangan yang tidak sejalan dengannya tidak pernah gagal mengagumi ketulusan dan kebijaksanaannya.

Menurut beberapa sejarawan, Muawiyah bin Abi Sufyan – Gubernur Suriah pada masa kekhalifahan Ali dan pemimpin kelompok yang bersikeras menuntut khalifah Ali untuk mengidentifikasi dan menangkap para pembunuh Usman – pernah bertanya kepada Dirar Damrah bin Al-Kinani, salah seorang pembantu dekatnya, untuk mengomentari karakter, moral, dan kemampuan khalifah Ali.

Dirar menjawab, “Dia orang yang memiliki kemauan dan tekad yang kuat. Dia selalu memberikan penilaian yang adil, dan sumber ilmu pengetahuan. Pidatonya penuh dengan kebaikan. Dia membenci kesenangan dunia ini dan menyukai kegelapan malam untuk menangis di hadapan Allah. Pakaiannya sangat sederhana dan suka makan apa adanya. Dia hidup layaknya orang biasa, dan ketika ada orang bertanya kepadanya, dia menjawab dengan penuh kesopanan. Kapanpun kami memintanya untuk menunggu kami yang tertinggal, dia pun menunggu layaknya orang biasa, dan ketika ada orang bertanya kepadanya, dia menjawab dengan penuh kesopanan. Kapanpun kami memintanya untuk menunggu kami yang tertinggal, dia pun menunggu layaknya orang biasa. Meski dia sangat dekat dengan kami karena ketinggian moralnya, terkadang kami segan dengan kemuliaan dan keagungannya karena kedekatannya kepada Allah. Dia selalu menghormati orang saleh dan terpelajar. Dia sangat dekat dengan orang miskin. Dia tidak pernah membiarkan orang berkuasa memanfaatkan kekuasaannya. Orang lemah tak pernah kecewa dengan keadilannya. Aku bersaksi bahwa dalam banyak pertempuran, dia akan senantiasa bangun di malam hari sembari memegangi jenggotnya dan mulai mencucurkan air mata dan menangis di hadapan Allah, seolah-olah berada dalam keadaan huru-hara, seraya berseru, “Wahai dunia! Jangan coba mengkhianatiku. Aku telah lama meninggalkanmu. Tidak memiliki keinginan apa pun bagiku. Aku membencimu. Umurmu pendek, tetapi akhirmu masih panjang dan jalannya penuh dengan bahaya…”

Saat mendengar cerita ini, Muawiyah menangis sampai janggutnya basah. Dia pun mengonfirmasikan kebenaran deskripsi Dirar mengenai kualitas dan sifat Khalifah Ali tersebut.

Di bawah pergolakan pemerintahannya, Ali menghadapi pertentangan tak kenal lelah dari berbagai faksi di dalam Negara Islam. Dia tidak hanya berbicara dengan lawan-lawannya, tetapi juga memohon kepada mereka untuk mengesampingkan perselisihan diantara mereka. Dia hanya akan mengambil tindakan militer saat semua opsi untuk menyelesaikan konflik menemui jalan buntu.

Sesuai sifat alaminya, Khalifah Ali menyukai perdamaian dan keharmonisan; jelas dia tidak suka mengambil tindakan militer terhadap sesama Muslim. Ketika lawan-lawannya bertekad untuk melawannya, dia juga tidak menginginkan bagian ini. Seperti yang terjadi dalam Perang Jamal Shiffin, dia juga cukup berani dan perkasa untuk menegaskan pendiriannya. Ini memberinya pujian besar dari para sahabat Rasulullah terkemuka lainnya yang mendukungnya pada salah satu periode paling berbahaya dalam sejarah Islam.

Pada usia enam puluh tahun, Ali dibunuh secara brutal oleh Abdul Rahman bin Muljam, seorang pengikut sekte Khawarij yang berkhianat. Awalnya, Khawarij mendukung Khalifah Ali, tetapi mereka meninggalkannya setelah Ali bersepakat untuk menyelesaikan perbedaan dengan Muawiyah melalui arbitrase. Khawarij menganggap ini sebagai pengkhianatan sehingga mereka menjadi lawan terkeras Ali. Mereka berencana membunuh Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Suriah), Amr bin Ash (komandan militer Muslim terkenal dan penakluk Mesir), dan Khalifah Ali. Mereka menganggap ketiga orang tersebut sebagai sumber utama kekacauan dan gangguan di Negara Islam.

Dalam pemahaman mereka yang salah atas situasi yang terjadi di Negara Islam saat itu, Khawarij mengira bahwa membunuh ketiga orang itu akan mengakhiri persaingan untuk memperebutkan kekhalifahan. Yang terjadi, mereka hanya berhasil membunuh Khalifah Ali sementara Muawiyah dan Amr berhasil lolos dari upaya serupa. Tindakan mereka tersebut mengakibatkan berakhirnya masa pemerintahan Al-Khulafa Ar-Rasyidin.

Berikut beberapa ucapan dan nasihat Khalifah Ali yang paling indah :

  • “Takutlah kepada Allah dan tidak ada alasan bagimu untuk takut kepada siapapun.”
  • “Seorang mukmin selalu ingat kepada Allah dan dia adalah orang yang penuh dengan pemikiran; orang yang bersyukur dalam kemakmuran dan bersabar dalam kesulitan.”
  • “Jalanilah hidup di dunia, yang ketika kamu mati, orang akan meratapimu, dan selagi kamu hidup, mereka menginginkan kehadiranmu.”
  • “Pengetahuan lebih baik daripada kekayaan karena kamu harus melindungi kekayaanmu sementara pengetahuan akan melindungimu.”
  • “kekayaan dan keserakahan adalah akar dari segala kejahatan dan penyakit.”
  • “Perasaan iri hati memakan kebajikan sebagaimana api melahap bahan bakar.”

Sumber : 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Oleh Muhammad Mojlum Khan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s