Sesadar Sang Penyelam

…sejak aku tiba di lembah airmata ini, bahkan tak bisa kukatakan siapa diriku

-Umar Al-Khayyam-

 Seorang pelancong bersiap menyelam di taman laut Bunaken. Dia telah mempersiapkan segala keperluannya mulai dari pakaian selam, tabung oksigen, sepatu katak, sampai kacamata dan lampu dahi. Untuk ini semua dia sengaja memilih yang terbaik. Kualitas nomor satu. Baju selamnya dibuat dari bahan khusus yang nyaman dipakai, lentur sekaligus kuat. Sepatu kataknya sesuai desain terbaru yang amat memudahkan mobilitas di bawah air. Dan, sorot lampu dahinya mampu menguatkan jarak pandang hingga beberapa meter.

Lalu byurr! Dia masuk ke dalam air dengan punggung terlebih dahulu. Beberapa saat dia berada di kedalaman 10 meter. Dan coba lihat! Ribuan ikan tertebar dalam bentuk, rupa, warna, ukuran, dan jenis yang tak sanggup dihinggakan. Ada yang menyendiri, ada yang berkumpul dalam koloni, ada yang malu-malu, dan ada yang mendekat tanpa takut. Di sekitarnya, tampak beberapa terumbu karang dan aneka ganggang. Segala warna-warni, lebih kaya dari pelangi, menyatu dalam harmoni dan paduan irama yang indah tak terlukiskan. Alangkah agungnya sang Maha Pencipta! “Subhanallah!”, gumamnya seiring syukur di hati. Tetapi beberapa meter di depan sana dilihatnya sesosok tubuh bercelana kolor berkaos oblong berenang riang. “Hebat!”, gumamnya. Menyelam tanpa alat. Mungkin ada sensasinya tersendiri.

Beberapa saat menjelajah, turunlah penyelam kita ke kedlaman 20 meter. Segalanya mulai remang-remang. Lampu dahi mulai menyorot, dan serombongan ikan menyebar ketika dia mendekat, tapi kemudian menyatu lagi sembari menghindar darinya. Warna-warni satwa dan vegetasi mulai berbeda di sini. Tak seceria di atas, namun agung dan berwibawa. “Allahu Akbar!” di tiap lapis lautan, Allah tunjukkan kuasaNya yang menakjubkan. Termasuk, itu dia! Si celana kolor kaos oblong yang melambai-lambaikan tangan ketika ia mengacungkan jempol. “Luar biasa”, gumam penyelam kita. “berenang hingga kedalaman 20 meter!”

Sekarang saatnya tiga puluh meter!. Dan rasa takjubnya kepada Allah bertambah syahdu. Juga kepada orang itu! Si celana kolor dari kaos oblong yang kini tegak di hadapanny, di kedalaman 30 meter! Tak sanggup menahan rasa kagum yang membuncah, ia beranikan bertanya sambil memeluk dan berteriak di telinganya, “Pak, Bapak hebat sekali ya! Luar biasa! Untuk sampai ke kedalaman ini saya harus pakai berbagai macam alat yang sewanya mahal, juga tabung oksigen yang berat banget! Bapak kok bisa sih sampai sini tanpa alat?! Bagi saya, Bapak adalah penyelam terhebat di dunia! Luar biasa!!”

Si bapak menggapai-gapai. Dan dengan tenaga penuh dia berteriak di telinga penyelam kita, namun terdengar lirih seperti sisa-sisa, “Gua tenggelam, Goblokk!!”

 

“…Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami,

Mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat,

Dan mereka mempunyai telinga, tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.

Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

(Q.S Al-A’raaf : 179)

Kesadaran. Mungkin inilah hal pertama yang membedakan seorang penyelam dengan seorang yang tenggelam. Jika seorang yang menyelam disebut ‘sadar’, maka yang tenggelam bisa disebut ‘lalai’.

Kesadaran membuat kita bisa mempersiapkan diri dan perangkat-perangkat untuk menyelami lautan kehidupan ini. Kesadaran adalah anugerah agar kita bisa memilih yang terbaik di antara alat-alat itu, seoptimal kemampuan kita. Kesadaran membuat mata kita terbuka, tubuh lincah bergerak kian kemari, dan semua indera peka untuk merasakan berbagai keindahan hidup ketika mereka yang tenggelam hanya mengutuk, mengumpat, gelagapan, dan kembung kesakitan dalam lautan nikmat Tuhan. Mengapa manusia bisa beriman, beribadah, bersyukur, dan bersabar? Salah satu jawaban termudah adalah, karena dia sadar. Karena dia tidak lalai.

Tetapi sudahkah kita jalani hidup kita dengan sepenuhnya sadar? Seringkali kita terhijab dari pesan-pesan sejati, karena kita silau melihat pemandangan di sekeliling kita. Telinga kita dikalahkan oleh mata. Kita hidup dengan mengikuti trend dan mode. Bukannya tidak boleh, tetapi ketidakmampuan kita mendengar pesan sejati dari Ilahi gara-gara perhatian kita yang berlebihan terhadap banjiran data dan informasi lain itulah yang berpotensi bahaya. Bahkan dalam perilaku beragama pun begitu : kita jadi lebih perhatian pada siapa yang menyampaikan dan semua tindak-tanduknya dibanding pesan itu sendiri. Dan, itu suatu bentuk ketidaksadaran.

Contoh lainnya, diantara kita mungkin pernah menghadiri shalat berjama’ah, ikut takbiratul ihram bersama imam, dan tiba-tiba kita sadar, “Wah sudah salam toh?!” Jasad kita teronggok berjengkang-jengking di Masjid itu, tapi hati kita entah di mana. Ketidaksadaran. Parahnya jika ketidaksadaran itu cukup panjang – padahal hidup ini pendek, dan berujung pada kehadiran malaikat maut. Agaknya saat itu tak ada lagi yang sempat tersadar, “Lho kok jatah hidup saya sudah habis?!”

Visi di jalan cinta para pejuang awal-awal bermodal kesadaran. Sadar bahwa kita manusia akan menuntun kita memanfaatkan berjuta karunia Allah Ta’alaa untuk mengabdi padaNya. Sadar bahwa kita seorang muslim memandu kita untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Sadar bahwa kita seorang mujahid, memantapkan langkah kita di jalan cinta para pejuang.

Sumber : Jalan Cinta Para Pejuang Oleh Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s